Friday, July 31, 2026

Thought for the Day - 31st July 2026 (Friday)



Where there is the feeling of absence, the truth of presence is also there. Here is a small example. Is Sai Baba present on the stage or not? If you say He is present, what is the basis of your saying that? You see His form and say that He is present. Suppose, I go inside after giving this discourse. If somebody then asks you, “Is Sai Baba there on the stage?”, you say, “He is not there”. What does this mean? This means that Sai Baba is there, but He is not present on the stage. If Sai Baba does not exist, then the question of His being present or absent does not arise at all. In the same way, people deny or accept the existence of God because He is there. It is only because God does exist that people deny His existence. If really there is no God, how can the word ‘God’ exist? Just now it was said, ‘There is God’. The first part of the sentence is ‘There is’ which denotes the truth about God’s existence. When we say ‘There is’, then the next question is who is there? It is God. Some people say, ‘There is no God’. The first part of this sentence is also ‘There is’ which denotes the truth about the existence of God; ‘no God’ is only the next part of the sentence. Even this negative sentence, ‘There is no God’ begins with the positive assertion ‘There is’. 


-- Divine Discourse, Jul 07, 1996

A mother cannot love her own children if she does not have faith that they are her children. Man can experience the all-pervading principle of love and derive bliss therefrom only when he has faith. 


Di mana ada perasaan bahwa sesuatu itu ‘tidak ada’, di situ sesungguhnya juga terkandung kebenaran bahwa sesuatu itu ‘hadir’. Perhatikan contoh sederhana berikut. Apakah Sai Baba hadir di atas panggung atau tidak? Jika engkau menjawab, "Ya, Beliau hadir di atas panggung," apa dasar dari jawaban itu? Engkau melihat wujud-Nya, sehingga mengatakan bahwa Beliau hadir. Sekarang bayangkan, Aku masuk ke dalam ruangan setelah memberikan wacana. Lalu seseorang bertanya kepadamu, "Apakah Sai Baba masih berada di atas panggung?" Engkau tentu akan menjawab, "Beliau tidak ada di atas panggung." Apakah artinya itu? Hal ini berarti bahwa Sai Baba ada, tetapi tidak hadir di atas panggung. Jika Sai Baba sama sekali tidak ada, maka pertanyaan tentang hadir atau tidak hadir tidak akan pernah muncul. Demikian pula halnya, orang-orang menyangkal atau menerima keberadaan Tuhan karena Tuhan memang ada. Hanya karena Tuhan itu ada maka orang-orang menyangkal keberadaan-Nya. Jika Tuhan benar-benar tidak ada, lantas bagaimana bisa kata ‘Tuhan’ itu muncul? Baru saja dikatakan, ‘ada Tuhan’ – there is God. Bagian pertama dari kalimat itu adalah ‘ada’ (there is), yang menegaskan kebenaran tentang keberadaan Tuhan. Ketika kita mengatakan ‘Ada’, kemudian muncul pertanyaan, ‘Siapakah yang ada?’ Jawabannya adalah Tuhan. Beberapa orang berkata, ‘Tidak ada Tuhan’ (there is no God). Dalam kalimat ini juga terdapat kata ‘ada’ (there is) yang mana tetap menyatakan konsep keberadaan Tuhan; sedangkan penyangkalan baru muncul pada bagian berikutnya yaitu ‘no God’. Bahkan kalimat penyangkalan atau negatif ini yaitu ‘Tidak ada Tuhan’ – there is no God diawali dengan pernyataan positif yaitu ‘ada’ (there is). 


-- Wacana Swami, 07 Juli 1996

Seorang ibu tidak mungkin mengasihi anak-anaknya jika ia tidak memiliki keyakinan bahwa mereka adalah anak-anaknya. Manusia hanya dapat mengalami kasih yang meliputi seluruh alam semesta dan memperoleh kebahagiaan darinya apabila ia memiliki keyakinan.

Thursday, July 30, 2026

Thought for the Day - 30th July 2026 (Thursday)



Embodiments of Love! God is the source and sustenance for all creation. No one can question why God acts in a particular fashion. He is the Supreme Lord of the universe and He can act according to His divine will. But whatever He does is only for the good of the world. For example, one cannot find a place or time without air; though air is not visible, one can experience it. Every act in this world, even the smallest one, is happening as per the divine will. A particular act of God may bring you some inconvenience or sorrow. That is at your individual level. But, in God’s creation, there is nothing like sorrow. Whatever God does is for the welfare of humanity. Some people feel depressed and wail as to why God gave them troubles and sorrows. God does not differentiate or cause trouble to anyone. Sorrows and difficulties are only your feelings. Everything in God’s creation is meant to provide happiness and convenience to the living beings. That is why I repeatedly emphasise, whether you are in sorrow or enjoying happiness, always think that everything is for your own good. One has to develop a firm conviction that whatever God does is for one’s own good and not for putting one in trouble


-- Divine Discourse, Oct 17, 2004

You should consider that whatever happens to you is for your own good. If you have this full faith, there is no room for fear in your life


Perwujudan kasih! Tuhan adalah sumber dan penopang dari semua ciptaan. Tidak seorang pun berhak mempertanyakan mengapa Tuhan bertindak dengan cara tertentu. Tuhan adalah Penguasa Tertinggi alam semesta, dan Tuhan dapat melakukan perbuatan sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, apa pun yang dilakukan Tuhan selalu hanya bertujuan untuk kebaikan dunia. Sebagai contoh, seseorang tidak bisa menemukan sebuah tempat atau waktu tanpa adanya udara; walaupun udara bersifat tidak bisa dilihat, namun seseorang dapat merasakan keberadaan udara tersebut. Setiap peristiwa di alam semesta, bahkan yang tampaknya paling kecil sekalipun, berlangsung sesuai dengan Kehendak Tuhan. Suatu peristiwa yang diizinkan Tuhan tampak membawa kesulitan, ketidaknyamanan, atau kesedihan bagimu. Namun, itu hanyalah terjadi pada level individu. Dalam tatanan ciptaan Tuhan, sesungguhnya tidak ada yang disebut dengan penderitaan. Apa pun yang dilakukan Tuhan adalah untuk kesejahteraan umat manusia. Beberapa orang merasa sedih dan meratap mengapa Tuhan memberikan mereka cobaan dan penderitaan. Sesungguhnya, Tuhan tidak pernah membeda-bedakan ataupun menyebabkan masalah kepada siapapun juga. Penderitaan dan kesulitan hanyalah ada dalam perasaanmu saja. Segala yang ada dalam ciptaan Tuhan dimaksudkan untuk mendatangkan kebahagiaan dan kenyamanan pada semua makhluk hidup. Oleh karena itu, Aku berulang kali menegaskan bahwa apakah engkau sedang mengalami kesedihan ataupun menikmati kebahagiaan, tetaplah memandang bahwa semua yang terjadi adalah demi kebaikanmu sendiri. Seseorang harus mengembangkan keyakinan yang teguh bahwa apapun yang Tuhan lakukan adalah untuk kebaikanmu, bukan untuk mencelakakan atau menyulitkanmu. 


-- Wacana Swami, 17 Oktober 2004

Engkau harus memandang bahwa apa pun yang terjadi dalam hidupmu adalah untuk kebaikanmu sendiri. Jika engkau memiliki keyakinan yang penuh seperti itu, maka tidak akan ada lagi ruang bagi rasa takut dalam hidupmu.

Wednesday, July 29, 2026

Thought for the Day - 29th July 2026 (Wednesday)



Man means he who marches from the status of Self to the All-inclusive Self, from Atma to Paramatma. Towards the success of that march, all Nature can provide advice and guidance until the very end. The real Guru one must rely upon is Nature, saturated with God. God does not teach us directly; He teaches us through Nature which surrounds us. When we teach Om to children, we pronounce it loud and at the same time write the letter ‘Om’ on a slate. God has written ‘Om’ on every speck of Nature; that is the slate from which we have to learn of Him. So, do not renounce the world or condemn Nature. Do not restrict the God of the Universe to any one name and form. Love all names and forms. Expand your letter world-wide. Just consider; when boiled dal (lentil) is served for lunch, if it has less salt, you set it aside. We take such great care about a moment’s sensation on the tongue. Well, when we have to spend 70 or 80 years of life on earth, imagine the care we must take to see that we realise the purpose of life. Virtue is the salt of life. Love is the highest virtue: Develop love by sharing it. Revere the Universe as your Guru. That is the message I wish to give you on this Guru Poornima.


-- Divine Discourse, Jul 17, 1981

There is no need to wander in search of a Guru (preceptor). Learn lessons from every living being, everything that you find around you.


Manusia adalah ia yang sedang menempuh perjalanan dari kesadaran akan Diri Sejati menuju kesadaran Yang Mahameliputi, dari Atma menuju Paramatma. Dalam usaha mencapai keberhasilan dalam perjalanan menuju tujuan itu, seluruh alam semesta dapat menjadi pemberi nasihat dan pembimbing hingga akhir. Guru sejati yang patut kita andalkan adalah alam semesta, karena alam dipenuhi oleh kehadiran Tuhan. Tuhan tidak mengajar kita secara langsung; Tuhan mengajar kita melalui alam yang mengelilingi kita. Ketika kita mengajarkan huruf Om kepada anak-anak, kita mengucapkannya dengan suara lantang sambil menuliskannya di atas batu tulis. Demikian pula, Tuhan telah "menuliskan" Om pada setiap bagian dari Alam; Alam inilah batu tulis tempat kita belajar mengenal-Nya. Karena itu, janganlah meninggalkan dunia atau mencela alam. Jangan pula membatasi Tuhan semesta alam hanya pada satu nama atau satu bentuk. Cintailah semua nama dan semua bentuk-Nya. Perluaskan kasihmu hingga mencakup seluruh dunia. Renungkanlah sebuah contoh sederhana. Ketika hidangan dal (sup lentil) disajikan saat makan siang, jika garamnya kurang, kita segera menyisihkannya. Betapa besar perhatian kita terhadap kenikmatan sesaat di lidah. Jika kita harus menghabiskan 70 atau 80 tahun hidup di bumi, bayangkan betapa besarnya perhatian yang harus kita berikan agar kita menyadari tujuan hidup ini. Kebajikan adalah garam kehidupan. Dan kasih adalah kebajikan yang tertinggi: kembangkan kasih dengan membaginya. Hormatilah seluruh alam semesta sebagai Gurumu. Itulah pesan yang ingin Kusampaikan kepadamu pada hari suci Guru Purnima.


-- Wacana Swami, 17 Juli 1981

Tidak perlu mengembara ke mana-mana untuk mencari seorang Guru. Belajarlah dari setiap makhluk hidup dan dari segala sesuatu yang engkau temui di sekelilingmu.

Tuesday, July 28, 2026

Thought for the Day - 28th July 2026 (Tuesday)



Electricity is found everywhere in nature; but it can be collected, stored and utilised only through certain contrivances designed by man. The spiritual Atma-shakti (inner divine power) that is also everywhere is stored in a body and passed through the thin wires or nerves, it illumines and directs activity. These activities have to be oriented towards ananda (supreme bliss), and not attachments to temporary pleasures. The Life Principle that flows as intelligence through every cell and nerve is also a reflection of the Atma. That which is born has also to die; coming implies going. That which has no birth has no death either. The Atma has no birth, no death, nor can you say It spreads or grows, or weakens. It has no history. ‘It is’, that is all that can be said about It. It is ever Intelligence, ever Bliss. There is the urge to desire a thing; that is named ichchha-shakti—but, it too is a derivative of the Atma-shakti, the Divine that is your core. Realise it as such and do not demean it by desiring deleterious objects. Desire, so sublimated, is the basis of prema (Love). It is the fruit of the tree of God-ward directed ichchaa-shakti. The fruit has the bitter rind (maya) and the hard seeds (the perception of diversity); these have to be discarded, and the sweetness tasted. That sweet juice is the ananda the Atma confers.


-- Divine Discourse, Dec 23, 1971

Like the ashes hiding the fire in burning charcoal, the delusion regarding the body is covering the Atma.


Listrik sesungguhnya ada di mana-mana di alam semesta; namun, listrik hanya dapat dikumpulkan, disimpan, dan dimanfaatkan melalui alat-alat yang dirancang dengan tepat oleh manusia. Demikian pula, Atma-shakti (kekuatan ilahi yang ada dalam diri) memenuhi seluruh alam semesta juga tersimpan di dalam tubuh dan mengalir melalui jaringan saraf yang halus, memberi penerangan dan mengarahkan aktivitas. Seluruh aktivitas itu harus diarahkan menuju ananda (kebahagiaan tertinggi), dan bukan kepada keterikatan pada kenikmatan bersifat sementara. Prinsip Kehidupan yang mengalir sebagai kecerdasan ke setiap sel dan setiap saraf juga merupakan pantulan dari Atma. Segala sesuatu yang lahir pasti akan mati; setiap kedatangan pasti diikuti oleh kepergian. Tetapi, apa yang tidak pernah lahir juga tidak akan pernah mati. Atma tidak memiliki kelahiran maupun kematian, engkau juga tidak bisa mengatakan bahwa Atma menyebar, tumbuh, atau melemah. Atma tidak memiliki sejarah. Satu-satunya yang dapat dikatakan tentang Atma adalah: "Atma itu ada." Atma adalah kecerdasan dan kebahagiaan yang abadi. Di dalam diri manusia terdapat dorongan untuk menginginkan sesuatu; dan itu disebut ichchha-shakti - namun, ichchha-shakti juga merupakan pancaran dari Atma-shakti, yaitu Keilahian yang menjadi inti keberadaanmu. Karena itu, sadarilah asal-usul kehendakmu yang Ilahi dan jangan merendahkannya dengan menginginkan hal-hal yang merusak. Ketika keinginan dimurnikan dan diarahkan kepada Tuhan, maka akan menjadi dasar dari prema (kasih). Prema adalah buah dari pohon ichchha-shakti yang diarahkan kepada Tuhan. Namun, seperti buah yang memiliki kulit pahit maya (ilusi), dan biji yang keras (pandangan yang melihat keberagaman); kulit dan biji itu harus disingkirkan agar kita dapat menikmati sari buahnya yang manis. Rasa manis itulah ananda, kebahagiaan sejati yang dianugerahkan oleh Atma.


-- Wacana Swami, 23 Desember 1971

Seperti abu yang menutupi api di dalam bara yang masih menyala, demikian pula delusi bahwa diri ini hanyalah tubuh telah menutupi cahaya Atma. 

Monday, July 27, 2026

Thought for the Day - 27th July 2026 (Monday)



You may wonder if there is a way to escape from the consequences of karma. Yes, it is possible for those who earn the grace of God. Once you become the recipient of God’s grace, you will not be affected by karma-phalam (consequences of actions). Hence, you should strive to earn divine grace. Scholars say it is impossible to escape karma. What they say is true to a certain extent. But once you earn Divine grace, even if you have to experience the consequences of karma, you will not feel the pain. Take, for instance, a bottle containing medicine. You find the expiry date mentioned on the bottle. After the expiry date, the medicine will lose its potency. Likewise, God’s grace will make the karma-phalam ‘expire’, i.e., it nullifies the effects of karma. Hence, it is possible to escape from the consequences of karma. Man should cultivate necessary strength and willpower to deserve divine grace. You will be free from the shackles of karma once you earn divine grace.


-- Divine Discourse, Jul 21, 2005

Grace takes away the malignity of the Karma you have to undergo.


Engkau mungkin bertanya-tanya jika ada cara untuk melepaskan diri dari akibat karma. Iya, adalah mungkin bagi mereka yang mendapatkan rahmat Tuhan. sekali sengkau menjadi penerima dari rahmat Tuhan, maka engkau tidak akan terpengaruh dari karma-phalam (konsekuensi dari perbuatan). Karena itu, engkau harus berusaha untuk bisa mendapatkan rahmat Tuhan. Para cendekiawan berkata adalah tidak mungkin untuk terlepas dari belenggu karma. Apa yang mereka sampaikan adalah benar pada sampai batas tertentu. Namun sekali engkau mendapatkan rahmat Tuhan, bahkan jika engkau harus mengalami konsekuensi atau buah dari karma, engkau tidak akan merasakan rasa sakitnya. Ambillah ini sebagai contoh, sebuah botol menyimpan obat di dalamnya. Engkau bisa melihat tanggal kadaluarsa yang tertera pada botol tersebut. Setelah melewati tanggal kadaluarsa maka obat yang tersimpan dalam botol tersebut akan kehilangan khasiatnya. Sama halnya dengan rahmat Tuhan akan membuat karma-phalam ‘menjadi kadaluarsa’ atau kehilangan kekuatannya dengan meniadakan akibat dari karma. Karena itu, adalah memungkinkan untuk melepaskan diri dari konsekuensi dari karma. Manusia harus meningkatkan kekuatan dan kemauan yang diperlukan untuk layak mendapatkan rahmat Tuhan. engkau akan terbebaskan dari belenggu karma saat engkau mendapatkan rahmat Tuhan. 


-- Wacana Swami, 21 Juli 2005

Rahmat Tuhan menghilangkan keburukan Karma yang harus engkau jalani.

Saturday, July 25, 2026

Thought for the Day - 25th July 2026 (Saturday)



Sat-chit-ananda is manifest in man as supreme bliss—the Divine bliss. This bliss is present in man as his spiritual essence. Man has no need to go after trivial pleasures when he has this eternal bliss within himself. He will experience this bliss when he gets rid of the attachment to the body born out of delusion and ignorance. Sakkubai was one who had realised this truth and was in continuous contemplation of the Lord’s name. Recognising the intensity of her devotion, Krishna assumed her form and sent her to Pandharipur. You can see the greatness of Bhagawan’s love for the devotee. Assuming the devotee’s form, the Lord performed all her domestic chores and enabled her to go to Pandharipur. God sees to it that the devotee is not exposed to calumny. He saw to it that no one pointed the finger of criticism at Sakkubai for her absence from the house. He himself assumed the form of Sakkubai and did all the household work. Sakkubai went to Pandharipur and merged in the Lord there. The power of faith is incalculable. With faith, any difficult task can be carried out. This truth cannot be understood in worldly affairs. It must be recognised that chanting the name of the Lord is highly sacred and efficacious. It serves to remove the impurities in a person. It promotes good and sacred thoughts.


-- Divine Discourse, Feb 26, 1998

If you win the grace of the Lord, even the decrees of destiny can be overcome.


Sat-Chit-Ananda termanifestasi dalam diri manusia sebagai kebahagiaan tertinggi, yaitu kebahagiaan ilahi. Kebahagiaan ini telah ada dalam diri setiap manusia sebagai hakikat spiritualnya. Karena itu, manusia sebenarnya tidak perlu mengejar kesenangan-kesenangan duniawi yang bersifat sementara, ketika ia memiliki kebahagiaan yang kekal telah ada di dalam dirinya sendiri. Manusia akan mengalami kebahagiaan ini ketika ketika seseorang mampu melepaskan keterikatan pada tubuh, yang muncul akibat khayalan dan ketidaktahuan. Salah seorang yang telah menyadari kebenaran ini adalah Sakkubai. Ia senantiasa menghayati dan mengingat Nama Tuhan tanpa henti. Melihat ketulusan dan kedalaman bhaktinya, Sri Krishna mengambil rupa Sakkubai dan mengizinkannya pergi ke Pandharipur untuk beribadah. Dari kisah ini tampak betapa agungnya kasih Tuhan kepada seorang bhakta. Demi memenuhi kerinduan Sakkubai kepada Tuhan, Sri Krishna sendiri mengambil wujudnya, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangganya, dan membiarkannya pergi melakukan perjalanan suci ke Pandharipur. Tuhan juga memastikan bahwa bhakta-Nya tidak menjadi sasaran celaan. Tidak seorang pun menyadari bahwa Sakkubai sedang berada di Pandharipur, sehingga tidak ada yang menyalahkannya karena meninggalkan rumah. Tuhan sendirilah yang menjalankan semua tugas rumah tangga dalam wujud Sakkubai. Sesampainya di Pandharipur, Sakkubai akhirnya menyatu dengan Tuhan. Kisah ini menunjukkan bahwa kekuatan keyakinan tidak dapat diukur. Dengan keyakinan yang teguh, bahkan tugas yang tampaknya paling sulit pun dapat diselesaikan. Kebenaran ini tidak dapat dipahami hanya melalui cara pandang duniawi. Penting untuk disadari bahwa mengucapkan dan mengingat Nama Tuhan adalah praktik yang sangat suci dan penuh daya spiritual. Nama Tuhan mampu membersihkan kekotoran batin dalam diri seseorang serta menumbuhkan pikiran-pikiran yang baik, murni, dan suci. 


-- Wacana Swami, 26 Februari 1998

Jika engkau mendapatkan karunia Tuhan, bahkan ketentuan takdir pun dapat diatasi.

Friday, July 24, 2026

Thought for the Day - 24th July 2026 (Friday)



Everyone should be filled with the feeling that the Divine dwells in his heart - that the heart is Divinity itself - that the mind should be filled with godly thoughts as it symbolises Vishnu. No mean thoughts should be allowed to enter the mind. The mind should not be allowed to go astray. Brahma is said to have emerged from the navel of Vishnu. He symbolises speech. When the trinity is seen as a symbol of the Divine qualities in man, man will discover the Divinity within him. There is no need to seek the Divine outside one’s self. It is futile to go on pilgrimage. The scientists are committing the same mistake. They are exploring outer space, but are making no effort to explore the heart within. The devotees are going from one mutt to another. Of what avail is it? The Divine resides in your heart. Seek Him within you. God is omnipresent. God is in every one. All of you are Divine. Do not harm anyone. Develop such qualities. It is disingenuous on the part of people to plead that in their busy preoccupations they have no time to think of God. Persons who waste their time watching T.V. or playing cards in clubs cannot pretend that they cannot spare a few moments for God. Make proper use of time. Time is Divine. Dedicate every activity to God.


-- Divine Discourse, Apr 08, 1997

Man must dedicate his thoughts, words and deeds to God, and surrender to His Will. Then only is this animal entitled to become a Man, in whom the Divine is enshrined.


Setiap orang hendaknya diliputi dengan perasaan bahwa Tuhan bersemayam di dalam hatinya – bahkan hati itu adalah Tuhan sendiri – pikiran itu harus diliputi dengan pemikiran yang luhur dan suci karena pikiran itu adalah melambangkan aspek dari Wisnu. Tidak ada pemikiran yang jahat diijinkan memasuki pikiran. Pikiran seharusnya tidak dibiarkan menjadi berkeliaran tanpa kendali dan tersesat. Brahma disebutkan muncul dari pusar Wisnu. Brahma melambangkan aspek ucapan atau perkataan. Ketika tri murti ini dipahami sebagai simbol dari kualitas di dalam diri manusia, maka manusia akan menemukan keilahian di dalam dirinya. Karena itu tidak perlu mencari Tuhan di luar diri. Tidak ada gunanya melakukan perjalanan suci. Para ilmuwan saat sekarang sedang melakukan kesalahan yang sama. Mereka sedang melakukan eksplorasi atau menjelajahi luar angkasa, namun mereka tidak melakukan usaha apapun untuk melakukan eksplorasi pada hati mereka sendiri. Para bhakta berpindah dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya. Apa manfaat yang didapat jika kenyataannya Tuhan yang dicari sesungguhnya sudah berada di dalam hati? Carilah Tuhan di dalam dirimu. Tuhan hadir dimana-mana. Tuhan ada dalam diri setiap orang. Semua dari dirimu pada hakikatnya adalah perwujudan keilahian. Jangan menyakiti siapapun juga. Kembangkan kualitas yang seperti itu. Tidaklah tepat jika seseorang beralasan bahwa kesibukan hidup membuatnya tidak memiliki waktu untuk mengingat Tuhan. Mereka yang menyia-nyiakan hidup mereka dengan menonton TV, atau bermain kartu di klub tentu tidak dapat mengatakan bahwa ia tidak sanggup meluangkan beberapa saat untuk Tuhan. Gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya. Waktu adalah perwujudan Tuhan. Karena itu, persembahkan setiap tindakan kepada Tuhan. 


-- Wacana Swami, 08 April 1997

Manusia harus mendedikasikan pemikiran, perkataan dan perbuatannya kepada Tuhan, dan berserah pada kehendak-Nya. Hanya dengan demikian, manusia dapat melampaui sifat-sifat kebinatangannya dan menjadi manusia sejati, yang di dalam dirinya bersemayam Keilahian. 

Thursday, July 23, 2026

Thought for the Day - 23rd July 2026 (Thursday)





Today, though in outward appearance people are human, in inner impulse they are sub-human or rakshasa; he who has no danam (charity or sacrifice) in him is called a danava (demon). Deva and danava (divine and demonic) are mixed in the human make-up, and now, the danava rules the roost. Therefore, man has lost his glow, power, and splendour; he must win them again by sadhana. So, make yourselves pure by incessant striving. The partaking of the amruta (nectar) created by Me is only the first step in this process for you: it does not mean much if you do not take the second step and the third and march on towards self-realisation. You must have faith in the discipline laid down in Sanatana Dharma and in the ultimate, divine basis of all creation. Get convinced that the world can give you only fleeting joy, and grief is but the obverse of joy. Strive now, from this very moment, for time is rushing like a swift torrent. Develop the joy that will not decline, the joy that will ever be full. Be true to yourself. Be bold, be sincere. The only reality is the twin-bird on the tree, the jivatma (individual soul) that tastes the fruits and suffers, and the Paramatma (supreme soul) that sits unmoved and merely looks on.


-- Divine Discourse, Dec 28, 1960

Take up the name and dwell upon its sweetness; imbibe it and roll it on your tongue, taste its essence, contemplate on its magnificence, make it a part of yourself, and grow strong in spiritual joy. That is what pleases Me


Saat ini, meskipun secara lahiriah manusia tampak sebagai manusia, dalam dorongan batinnya banyak yang masih berada pada tingkat yang lebih rendah, bahkan bersifat rakshasa; seseorang yang tidak memiliki danam (amal, pengorbanan, atau kemurahan hati) disebut danava (iblis). Dalam diri manusia terdapat unsur deva (ketuhanan) dan danava (iblis), tetapi saat ini unsur danava sering kali lebih dominan. Maka dari itu, manusia kehilangan cahaya, kekuatan, dan kemuliaan yang sebenarnya dimilikinya; semua itu harus diperoleh kembali melalui sadhana (latihan spiritual). Oleh karena itu, sucikanlah dirimu melalui usaha yang terus-menerus. Menerima Amruta yang diciptakan oleh-Ku hanyalah langkah pertama dalam perjalanan ini bagimu: hal itu tidak akan banyak berarti jika engkau tidak melanjutkan ke langkah kedua, ketiga, dan seterusnya menuju realisasi diri sejati. Engkau harus memiliki keyakinan terhadap disiplin yang diajarkan dalam Sanatana Dharma dan terhadap dasar ilahi tertinggi yang menjadi sumber seluruh ciptaan. Yakinkan dirimu bahwa dunia hanya dapat memberikan suka cita yang sementara, dan di balik setiap kesenangan selalu ada kemungkinan munculnya kesedihan. Karena itu, mulailah berjuang sejak saat ini juga, sebab waktu mengalir deras seperti arus sungai yang tak pernah berhenti. Kembangkanlah suka cita yang tidak akan memudar, suka cita yang selalu penuh. Jadilah setia pada dirimu sendiri. Jadilah berani. Jadilah tulus. Satu-satunya kenyataan sejati adalah dua burung yang berada pada satu pohon: jivatm  (jiwa individu) yang memetik buah, merasakan manis dan pahitnya kehidupan, serta mengalami suka dan duka; dan Paramatma (Jiwa Tertinggi) yang tetap tenang, tidak terpengaruh, hanya menyaksikan semuanya.


-- Wacana Swami, 28 Desember 1960

Lantunkanlah Nama Tuhan dan resapilah rasa manis-Nya; hayati Nama itu, biarkan bergulir di lidahmu, nikmati intisari-Nya, renungkan keagungan-Nya, jadikan Nama Tuhan bagian dari dirimu, dan bertumbuhlah dalam sukacita spiritual. Itulah yang menyenangkan-Ku.

Wednesday, July 22, 2026

Thought for the Day - 22nd July 2026 (Wednesday)





The word shanti is pronounced three times at the end of every prayer, ritual, or offering. What is the meaning behind this? The first shanti means: ‘May we enjoy peace for the body.’ It means that the body should not get heated by feelings of jealousy, hatred, attachments, and the like. Whatever news you receive about any event, you should receive it with calmness and serenity. The second shanti pertains to the mind. You should not get worked up when someone says something about you which is not true. Simply dismiss it as something which does not concern you. If you get angry or irritated, you are losing your peace of mind! You should say to yourself: ‘Why should I lose my peace of mind just because someone says something about me which is not true?’ Resolve to stick to your truth and be true to your own nature. The third shanti refers to peace of the soul. This peace must be realised through love. This world must be brought back on to the rails and it is love and peace alone which can achieve this! Fill your thoughts, actions, emotions with love, truth and peace. There may be people who may hate us, but love them too!


-- Divine Discourse, Dec 09, 1985

We desire peace, but we keep doing things which, far from giving peace, cause anxiety and worry.


Kata "Shanti" (damai) diucapkan tiga kali pada akhir setiap doa, ritual, atau upacara suci. Apa makna dari pengulangan ini? Pengucapan shanti yang pertama berarti: ‘Semoga kita menikmati kedamaian pada fisik.’ Ini mengandung makna bahwa tubuh seharusnya terbebaskan dari perasaan cemburu, kebencian, kemelekatan, dan sejenisnya. Apapun berita atau informasi yang engkau terima terkait kejadian apapun juga, engkau harus menerimanya dengan ketenangan hati. Pengucapan shanti yang kedua berkaitan dengan pikiran. Engkau seharusnya tidak menjadi emosi ketika seseorang mengatakan sesuatu tentang dirimu yang mana tidak benar. Abaikan saja hal itu sebagai sesuatu yang tidak menyangkut dirimu. Jika engkau menjadi marah atau tersinggung, engkau akan kehilangan kedamaian pikiranmu! Engkau harus mengatakan pada dirimu: ‘Mengapa aku harus kehilangan kedamaian diriku hanya karena seseorang mengatakan sesuatu tentang diriku yang tidak benar?’ Bertekadlah untuk tetap berpegang pada kebenaranmu dan jujur pada jati dirimu sendiri. Pengucapan shanti yang ketiga mengacu pada kedamaian jiwa. Kedamaian ini harus disadari melalui kasih. Dunia ini harus dikembalikan ke jalur yang benar dan hanya kasih serta kedamaian yang dapat mewujudkannya! Isilah pikiran, tindakan, emosimu dengan kasih, kebenaran dan kedamaian. Mungkin ada orang yang membenci kita, tetapi tetap kasihi mereka! 


-- Wacana Swami, 09 Desember 1985

Kita menginginkan kedamaian, namun kita tetap melakukan hal-hal yang bukannya memberikan kedamaian, malah menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran.

Tuesday, July 21, 2026

Thought for the Day - 21st July 2026 (Tuesday)



 

There are three kinds of knowledge: bookish knowledge, discriminative knowledge, and practical knowledge. Bookish knowledge is superficial. Discriminative knowledge enables us to know what is real and what is unreal. Practical knowledge is experiential knowledge. Practical knowledge starts with discriminative knowledge. A small amount of experiential knowledge is sufficient. As long as we are dependent on the external world, we cannot have experiential knowledge. Once, a traveller was carrying a bundle of food on his head. He walked a short distance. As the bundle was a burden on him, he could not walk far. On the way, he came across a river. He sat down on its bank, opened his bundle and ate all the food. As long as the food was outside, it was a burden. Was it still a burden after it reached his stomach? No. As the food entered his body, he gained strength. Besides, he was relieved of his burden too. External knowledge is superficial and burdensome; internal knowledge is experiential knowledge. What is the use of studying a lot without knowing who you are? Modern education leads only to argumentation, not to total wisdom. What is the use of acquiring education which cannot lead you to immortality? Acquire the knowledge that will make you immortal.


-- Divine Discourse, May 04, 1997

The heart of the individual, who makes an attempt to put into practice the good things he has listened to, becomes the temple of God.


Ada tiga jenis pengetahuan, yaitu: pengetahuan dari buku, pengetahuan dari kemampuan membedakan, dan pengetahuan praktis. Pengetahuan dari buku adalah bersifat dangkal. Pengetahuan dari kemampuan membedakan memungkinkan kita untuk mengetahui apa yang sejati dan apa yang tidak sejati. Pengetahuan praktis adalah pengetahuan dari pengalaman.  Pengetahuan praktis selalu berawal dari kemampuan membedakan. Sedikit pengetahuan berdasarkan pengalaman sudah cukup. Selama kita bergantung pada dunia luar, kita tidak dapat memiliki pengetahuan berdasarkan pengalaman. Suatu ketika, ada seorang pengembara yang membawa sebungkus makanan di atas kepalanya. Ia berjalan beberapa saat, tetapi semakin lama beban itu terasa berat sehingga ia tidak mampu berjalan jauh. Ketika sampai di tepi sungai, ia duduk, membuka bungkus makanannya, lalu memakannya. Selama makanan itu masih berada di luar tubuhnya, makanan tersebut hanyalah beban. Apakah makanan tersebut masih menjadi beban ketika setelah masuk ke dalam perutnya? Tidak. Saat makanan tersebut masuk ke dalam tubuhnya, makanan itu berubah menjadi tenaga yang menguatkannya. Selain itu, beban yang selama ini dipikulnya pun terbebas darinya. Pengetahuan eksternal bersifat dangkal dan memberatkan; pengetahuan internal adalah pengetahuan berdasarkan pengalaman. Apa gunanya mempelajari begitu banyak hal tanpa mengenal siapa dirimu yang sejati? Pendidikan modern hanya menuntun pada perdebatan, bukan kebijaksanaan sejati. Apa manfaat pendidikan jika tidak mampu membawa dirimu menuju pada keabadian? Karena itu, carilah pengetahuan yang membuatmu abadi.


-- Wacana Swami, 04 Mei 1997

Hati seseorang yang berusaha mempraktikkan hal-hal baik yang telah didengarnya akan menjadi bait suci tempat Tuhan bersemayam.

Sunday, July 19, 2026

Thought for the Day - 19th July 2026 (Sunday)



Dharma (virtuous conduct) purifies the mind and leads you to God. It creates a taste for the Name and the Form of God. When you love the Name and Form of Krishna, you will naturally respect and obey the command of Krishna, which is found in the Bhagavad-gita. Have the Name on the tongue and the Form in the eye, and the demon called asha (endless desire), will fly from your mind, leaving joy and contentment therein. This kind of constant dwelling on the indwelling God will promote love for all beings in you. You will then see only good in others. You will strive only to do good to others. Now, all things have gone up in value; man alone has become cheap. Endowed with the costly gems of reason, discrimination and detachment, man has allowed them to slip away, and he is beset with dire poverty, as a consequence. He has become cheaper than animals; he is slaughtered in millions without any hesitation, because of the terrific growth of anger, hate and greed; he has forgotten his unity with all men, all beings, and all worlds. The contemplation of that unity alone can establish world peace, social peace and peace in the individual. All other efforts are like pouring sweet-scented rose water on a heap of ash, which is ineffective and foolish.


-- Divine Discourse, Mar 22, 1965

Man is a diamond, not a piece of glass; he has to shine brilliantly after going through the process of "cutting" or samskara (purificatory acts).


Dharma (perilaku yang benar) memurnikan pikiran serta menuntunmu menuju Tuhan. Dharma menumbuhkan kecintaan kepada Nama dan Wujud Tuhan. Ketika engkau mencintai Nama dan Wujud Sri Krishna, engkau secara alami akan menghormati dan menjalankan ajaran-Nya sebagaimana tertuang dalam Bhagavad Gita. Biarkan Nama Tuhan selalu berada di bibir dan Wujud-Nya selalu hadir dalam pandangan batin. Dengan demikian, iblis bernama asha (keinginan yang tidak pernah berakhir) akan meninggalkan pikiran, sehingga hati dipenuhi sukacita dan rasa cukup. Perenungan yang terus-menerus kepada Tuhan yang bersemayam di dalam hati akan menumbuhkan kasih kepada semua makhluk di dalam dirimu. Engkau kemudian akan melihat hanya kebaikan dalam diri orang lain dan terdorong untuk selalu berbuat baik kepada yang lainnya. Saat ini, hampir semua hal mengalami kenaikan nilai. Namun ironisnya, nilai manusia justru semakin merosot. Padahal manusia telah dianugerahi permata yang sangat berharga, yaitu akal budi, kemampuan membedakan yang benar dan salah (viveka), serta sikap tidak melekat (vairagya). Karena mengabaikan anugerah tersebut, sebagai akibatnya manusia jatuh terperangkap ke dalam kemiskinan yang sangat parah. Manusia telah menjadi lebih rendah daripada binatang; manusia dibantai dalam jumlah jutaan tanpa adanya keraguan, disebabkan karena berkembang pesatnya kemarahan, kebencian, dan keserakahan; manusia telah melupakan kesatuannya dengan seluruh umat manusia, seluruh makhluk, bahkan seluruh dunia. Hanya dengan merenungkan dan menyadari kesatuan tersebut, kedamaian dunia, kedamaian masyarakat, dan kedamaian dalam diri dapat terwujud. Segala usaha lain yang mengabaikan kesadaran ini hanyalah seperti menyiramkan air mawar yang harum ke atas tumpukan abu yang mana bersifat tidak berguna dan bodoh.


-- Wacana Swami, 22 Maret 1965

Manusia adalah berlian, bukan pecahan kaca; Ia harus memancarkan kilau cemerlang setelah melalui proses 'pemotongan' atau samskara (proses penyucian).

Saturday, July 18, 2026

Thought for the Day - 18th July 2026 (Saturday)



There are so many people in this world who have all the comforts and conveniences, yet they lack peace and have some fear or the other every moment. What is the reason? Can the external comforts and conveniences give peace to man? Can he attain peace by wealth, gold and other worldly possessions? If wealth and worldly possessions could give peace, then how is it that even rich men are in the grip of unrest? In spite of all comforts and conveniences, man today is unable to experience peace because he is filled with evil thoughts. One will be filled with fear and anxiety when a snake enters one’s house. Such being the case, how can man attain peace when the venomous snakes of raga and dwesha have entered his heart? It is impossible to attain permanent peace so long as man does not give up these two. Many people have power, authority and wealth. In spite of all this, they are unable to enjoy peace. They are subjected to unrest because they lack the willpower and capacity to control their evil qualities. Therefore, first of all, man should see to it that evil qualities and evil thoughts do not enter his heart.


-- Divine Discourse, Jul 26, 1996

Control over the senses is the golden way to get rid of evil tendencies clinging to the body consciousness.


Ada begitu banyak orang di dunia ini yang memiliki segala kenyamanan dan kemudahan hidup, namun tetap tidak memiliki kedamaian dan setiap saat dihantui rasa takut. Mengapa demikian? Dapatkah kenyamanan lahiriah memberikan kedamaian kepada manusia? Dapatkah manusia mendapatkan kedamaian dengan kekayaan, emas, dan berbagai harta dunia? Jika kekayaan dan harta dunia benar-benar dapat memberikan kedamaian, mengapa banyak orang kaya justru hidup dalam kecemasan? Terlepas dari semua kenyamanan, manusia hari ini tidak mampu mengalami kedamaian, karena manusia diliputi dengan pikiran-pikiran yang jahat. Seseorang akan diliputi dengan ketakutan dan kecemasan ketika seekor ular berbisa memasuki rumahnya. Demikian pula, bagaimana manusia bisa mendapatkan kedamaian ketika ular berbisa berupa raga (kemelekatan) dan dwesha (kebencian) memasuki hatinya? Adalah mustahil untuk mendapatkan kedamaian selama manusia tidak melepaskan kemelekatan dan kebencian. Banyak orang memiliki kekuasaan, jabatan, dan kekayaan, terlepas dari semuanya itu mereka belum mampu menikmati kedamaian. Mereka mengalami keresahan karena mereka kurang memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengendalikan sifat-sifat jahat mereka. Maka dari itu, yang pertama dan paling penting adalah manusia harus memastikan bahwa sifat-sifat jahat dan pikiran-pikiran jahat tidak memasuki hatinya.


-- Wacana Swami, 26 Juli 1996

Pengendalian indria adalah jalan emas untuk membebaskan diri dari kecenderungan-kecenderungan buruk yang melekat pada kesadaran jasmani.


Friday, July 17, 2026

Thought for the Day - 17th July 2026 (Friday)




You cannot be indifferent to the state of the environment in which you live. One who wishes to dig a well for pure water will choose a spot far from polluted or saline areas. If you want to achieve peace, you must see that the atmosphere around you is conducive to peace. This means that you must cultivate the feeling that your individual peace is intimately related to the peace of the world. It was out of realisation of this profound truth that the ancients prescribed the universal prayer: “Lokah Samastah Sukhino Bhavantu” (May all the people in all the worlds be happy). It is only when we strive for world peace can we ensure our own individual peace. The mark of a genuinely godly person is that he strives not only for his peace, happiness, and bliss, but also for the peace, prosperity, and happiness of the world as a whole. Faith and Love are the two primary requisites for leading a godly life. These two are as important for man as the two wings for a bird or the wheels for a chariot.


-- Divine Discourse, Apr 10, 1986

If society is not in good shape, how can individuals be well? Individual welfare is based on social well-being.


Engkau tidak dapat bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungan tempat engkau hidup. Seseorang yang ingin menggali sumur untuk mendapatkan air yang bersih tentu tidak akan memilih tempat yang tercemar atau mengandung air asin. Demikian pula, jika engkau ingin memperoleh kedamaian, engkau harus memastikan bahwa lingkungan di sekitarmu juga mendukung tumbuhnya kedamaian. Artinya, bahwa engkau harus memupuk perasaan bahwa kedamaian pribadimu sangat erat kaitannya dengan kedamaian dunia. Karena memahami kebenaran inilah, para resi India sejak dahulu mengajarkan doa universal: "Lokah Samastah Sukhino Bhavantu" (semoga semua makhluk di seluruh alam semesta berbahagia). Hanya ketika kita berusaha menghadirkan kedamaian bagi dunia, kedamaian sejati dalam diri kita pun akan terwujud. Ciri seseorang yang benar-benar hidup dalam nilai-nilai ketuhanan bukanlah hanya mencari kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan bagi dirinya sendiri, melainkan juga berupaya menghadirkan kedamaian, kemakmuran, dan kebahagiaan bagi seluruh dunia. Untuk menjalani kehidupan yang ilahi, ada dua syarat utama yaitu: keyakinan dan kasih. Keduanya sama pentingnya seperti dua sayap bagi seekor burung atau dua roda pada sebuah kereta. 


-- Wacana Swami, 10 April 1986

Jika masyarakat tidak berada dalam keadaan yang baik, bagaimana mungkin individu dapat hidup dengan baik? Kesejahteraan individu bertumpu pada kesejahteraan masyarakat.

Wednesday, July 15, 2026

Thought for the Day - 15th July 2026 (Wednesday)



Man today is leading a life beset with fear and unrest because there is no harmony between his thoughts and words. Everyone wants peace and spends his time and energy to attain it. But nobody is making any enquiry as to what peace really means, where it is available, and what is the way to attain it. First of all, one has to question oneself whether one wants worldly peace or inner peace. Worldly peace is temporary and comes and goes. But man is deluded to think that it is real peace. He is unable to understand what the nature of peace is, what its power is, and how sublime it is. The state of freedom from attachment and hatred is real peace. Where there is raga (attachment) and dwesha (hatred), there can be no peace. What is Prasanthi (supreme peace)? ‘Pra’ means to blossom. Therefore, the blossoming of inner peace in a state devoid of hatred and attachment is Prasanthi. It is, in fact, the manifestation of inner peace. But is there anyone in this world who has experienced this Prasanthi? When you enquire about this, you will realise that it is very difficult for ordinary mortals to experience supreme peace devoid of hatred and attachment. Peace cannot be acquired from outside; it has to be manifested from within.


-- Divine Discourse, Jul 26, 1996

The body confers peace on the mind through righteousness.


Manusia hari ini menjalani hidup yang dipenuhi rasa takut dan kegelisahan karena tidak ada keselarasan antara pikiran dan perkataannya. Semua orang mendambakan kedamaian dan menghabiskan waktu dan energinya untuk mendapatkannya. Namun, tidak ada seorangpun yang bertanya: apa sebenarnya kedamaian itu? Di mana kedamaian dapat ditemukan? Bagaimana cara mencapainya? Pertama-tama, setiap orang harus bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah saya mencari kedamaian duniawi atau kedamaian batin? Kedamaian duniawi bersifat sementara yaitu datang dan pergi. Sayangnya, manusia keliru dengan menganggap ketenangan sementara ini sebagai kedamaian sejati. Akibatnya, manusia tidak mampu memahami hakikat kedamaian yang sebenarnya, kekuatannya, maupun keluhurannya. Kedamaian sejati adalah keadaan batin yang bebas dari keterikatan dan kebencian. Selama hati masih dipenuhi oleh keterikatan (raga) dan kebencian (dwesha), kedamaian tidak akan pernah hadir. Lalu, apakah arti Prasanthi (Kedamaian Tertinggi)? Kata "Pra" berarti mekar. Maka Prasanthi adalah mekarnya kedamaian batin yang muncul ketika hati telah terbebas dari keterikatan dan kebencian. Sejatinya Prasanthi adalah perwujudan kedamaian yang mekar dari dalam diri. Namun, apakah ada siapapun juga di dunia ini yang telah mengalami prasanthi ini? Jika engkau merenungkannya, engkau akan menyadari bahwa sangat sulit bagi orang biasa untuk mengalami kedamaian tertinggi yang bebas dari kebencian dan keterikatan. Kedamaian tidak bisa diperoleh dari luar; kedamaian harus diwujudkan dari dalam diri.


-- Wacana Swami, 26 Juli 1996

Tubuh akan membawa kedamaian bagi pikiran melalui kebajikan

Tuesday, July 14, 2026

Thought for the Day - 14th July 2026 (Tuesday)



Nothing in the world man-made can equal the glory, grandeur, and majesty of God. Can any high-powered bulb equal the matchless brilliance of the Sun? Can any pump in the world supply as much water as delivered by a heavy downpour? Can any fan in the world give coolness as given by the Wind-God? The gifts of God are abundant, bountiful, and beyond comparison. We pay tax for all facilities provided to us. We pay water tax to the municipality, which provides water. We pay tax to the Electricity Department for providing power. But what taxes are we paying to the great Lord who provides us with endless power, light, and wind? When we pay tax to different departments for services provided, is it not our duty to pay the tax of gratitude to God? We do not show any gratitude to God who has gifted us five elements which never get depleted. In fact, it should be our foremost duty to show our gratitude to God, who gives us so much in endless abundance. It is the absence of such gratitude that is the cause of agitation and confusion in the world today.


-- Divine Discourse May 20, 1996

Do not criticise or abuse anyone. You should be grateful to all because everyone helps you in some way or the other.


Tidak ada satu pun ciptaan manusia di dunia ini yang dapat menyamai kemuliaan, keagungan, dan kebesaran Tuhan. Dapatkah sebuah lampu listrik, betapapun terang cahayanya, dapat menyamai kecemerlangan sinar matahari? Dapatkah pompa air mana pun mampu mengalirkan air sebanyak hujan deras yang diturunkan dari langit? Dapatkah kipas angin sehebat apa pun dapat memberikan kesejukan seperti yang diberikan oleh Dewa Angin? Semua karunia Tuhan diberikan dalam jumlah yang melimpah, tanpa batas, dan tidak ada bandingannya. Kita membayar pajak untuk semua fasilitas yang disediakan bagi kita. Kita membayar rekening air kepada perusahaan air minum. Kita membayar pajak kepada penyedia perusahaan listrik yang menyediakan energi. Namun, apa jenis pajak yang kita bayarkan kepada Tuhan yang maha Kuasa yang menganugerahkan cahaya matahari, udara, air, dan energi secara terus menerus? Jika kita membayar pajak kepada berbagai institusi atas pelayanan yang disediakan, bukankah merupakan kewajiban kita untuk mempersembahkan "pajak berupa rasa syukur" kepada Tuhan? Sayangnya, kita tidak memperlihatkan rasa syukur kepada Tuhan yang telah menganugerahkan lima unsur alam yang tidak pernah habis. Sesungguhnya, ini seharusnya menjadi kewajiban utama kita untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan yang terus-menerus memberikan segala sesuatu dengan kelimpahan yang tiada habisnya. Hilangnya rasa syukur inilah yang menjadi salah satu penyebab kegelisahan, kekacauan, dan kebingungan di dunia saat ini.


-- Wacana Swami, 20 Mei 1996

Jangan mengkritik atau mencela siapa pun. Bersyukurlah kepada semua orang, karena setiap orang, dengan caranya masing-masing, telah membantu kehidupanmu.

Monday, July 13, 2026

Thought for the Day - 13th July 2026 (Monday)



Sai’s philosophy does not lie in encouraging devotees to sit in a corner, control their breath, and go on uttering, "Soham! Soham! Soham!" "Oh, sadhaka! Arise! Gird up your loins! Plunge into social service!" This is the Sai message. No room should be given for laziness and indifference. Controlling your senses, you should take to social service. A life not dedicated to service is like a dark temple. It is the abode of evil spirits. Only the light of seva can illumine the spiritual aspirant. Therefore, embark upon service to your fellow men without any expectation of reward. Do not waste your time in profitless talk. Of what avail is it to mouth expressions such as: The Lord is all-knowing, omnipresent, and omnipotent? You clap your hands when these epithets are used, deriving pleasure from simply hearing them. How many act according to the word they speak? There must be harmony between what is said and what is done. All spiritual exercises like japa and dhyana, are efforts to control the mind and prepare it for the journey to the Divine. Knowing the way is not enough. The path must be traversed to reach the destination. That journey is service to society. This service must be done with the awareness that the Divine dwells in every heart, in every individual, and in every living thing.


-- Divine Discourse Nov 17, 1985

Service to society is the highest good. It adds to the joy of life and enhances its savour like salt.


Filsafat Sai bukanlah mengajarkan para bhakta untuk hanya duduk menyendiri di suatu sudut, mengendalikan napas, lalu terus-menerus mengucapkan, "Soham! Soham! Soham!" ("aku adalah Dia"). Pesan Sai justru adalah: "wahai pencari spiritual! Bangkitlah! Bersiaplah lahir dan batin! Terjunlah ke dalam pelayanan kepada masyarakat!" Tidak boleh ada ruang bagi kemalasan ataupun sikap acuh tak acuh. Kendalikanlah indriamu, engkau harus mengambil kesempatan untuk pelayanan sosial. Hidup yang tidak dipersembahkan bagi pelayanan bagaikan sebuah tempat suci yang gelap. Kegelapan itu menjadi tempat bersemayamnya energi-energi jahat. Hanya cahaya seva (pelayanan tanpa pamrih) yang mampu menerangi kehidupan seorang pencari spiritual. Karena itu, layanilah sesama manusia tanpa mengharapkan balasan apa pun. Jangan menghabiskan waktu dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat. Apa gunanya terus mengucapkan bahwa Tuhan Mahatahu, Mahahadir, dan Mahakuasa jika semua itu hanya berhenti sebagai kata-kata? Engkau bertepuk tangan ketika mendengar sifat-sifat Tuhan disebutkan, mendapatkan kesenangan hanya dengan mendengarkannya. Namun, berapa banyak yang benar-benar berbuat sesuai dengan kata-kata yang mereka ucapkan? Harus ada keselarasan antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan. Seluruh latihan spiritual seperti japa (pengulangan Nama Tuhan) dan dhyana (meditasi) pada dasarnya adalah usaha untuk mengendalikan pikiran dan mempersiapkannya untuk perjalanan menuju Tuhan. Namun, mengetahui jalan saja tidaklah cukup. Jalan itu harus dilalui untuk mencapai tujuan. Perjalanan itu adalah pelayanan pada masyarakat. Pelayanan ini harus dilakukan dengan kesadaran bahwa Tuhan berdiam di dalam setiap hati, setiap manusia, dan setiap makhluk hidup.


-- Wacana Swami, 17 November 1985

Pelayanan kepada masyarakat adalah kebajikan yang tertinggi. Pelayanan menambah sukacita dalam hidup dan memberi cita rasa pada kehidupan, sebagaimana garam memberi rasa pada makanan

Sunday, July 12, 2026

Thought for the Day - 12th July 2026 (Sunday)





A great painter once came to a Prince and offered to do a fresco on the palace wall; behind him came another, who declared that he would paint on the wall opposite, whatever painting the first one drew, even if a curtain hid it from view and even if he was not told the subject of the fresco! Both were commissioned to the tasks they had accepted. The second man finished his work at the very moment, the first one announced that he had completed the task! The Prince arrived in the hall, where a thick curtain partitioned off the two artists and their paintings. He saw the fresco and admired it very much. Then he ordered that the curtain be removed, and lo, on the wall facing the fresco, there was an exact duplicate of the picture that the first man had so laboriously painted! Exact... because what he had done was polishing the wall and making it a fine big mirror! Make your hearts too clean and pure and smooth, so that the Glory of the Lord might be reflected therein, so that the Lord might see His own image thereon.


-- Maha Shivaratri, Feb 1963

The heart is the mirror, and love is the chemical. When you coat this chemical of love on the mirror of your heart, you will attain the vision of God immediately.


Seorang pelukis terkenal datang kepada seorang pangeran dan menawarkan diri untuk melukis sebuah lukisan dinding di salah satu dinding istana; tak lama kemudian datang seorang pelukis lain yang berkata bahwa ia akan "melukis" apa pun yang dibuat oleh pelukis pertama pada dinding yang berhadapan, meskipun sebuah tirai menutupi pandangannya dan tanpa diberi tahu apa isi lukisan tersebut. Kedua pelukis ditugaskan untuk menjalankan tugas yang telah mereka terima. Pelukis kedua menyelesaikan pekerjaannya tepat pada saat pelukis pertama mengumumkan bahwa ia telah menyelesaikan tugasnya! Sang Pangeran tiba di aula, di mana sebuah tirai tebal memisahkan kedua seniman dan lukisan mereka. Pangeran melihat lukisan dinding itu dan sangat mengaguminya. Kemudian ia memerintahkan agar tirai diturunkan, dan lihatlah, pada dinding yang berhadapan tampak gambar yang sama persis dengan lukisan pertama! Tepat sekali... karena yang pelukis kedua lakukan adalah memoles dinding dan menjadikannya cermin besar yang bening! Demikian pula hati manusia. Bersihkan, sucikan, dan haluskan hatimu, sehingga kemuliaan Tuhan dapat terpantul di dalamnya, sehingga Tuhan seolah melihat pantulan Diri-Nya sendiri di dalam hatimu.


-- Maha Shivaratri, Februari 1963

Hati adalah cermin, dan kasih adalah zat pembersih. Ketika engkau melapisi zat pembersih kasih ini pada cermin hatimu, maka engkau akan segera memperoleh penglihatan akan Tuhan.

Saturday, July 11, 2026

Thought for the Day - 11th July 2026 (Saturday)



Many people come to Me distraught and pray, “Swami! I have no peace. Give me peace”. But peace cannot be got from the outer world; it must be sought in the heart. Wicked desires breed misery; beneficial desires result in joy. The removal of desire ensures peace. When desire after desire multiplies in the mind, how can peace be gained? After bhajan and meditation, you repeat Shanti (peace) thrice, praying for physical, mental, and spiritual peace. But the awareness of the Atma being the reality of all can alone confer Shanti. A single mango seed is planted; the tree yields thousands of fruits, and in every fruit, you find the seed! The same Atma is in every being! The Lord is the seed that is manifested as thousands of seeds. “Ekoham (I am one) Bahushyaam (I shall become many)”, said the Lord. When we posit differences and distinctions due to ignorance of this fact, we are afflicted by fear, and peace disappears. When man doubts and disbelieves brother man, how can peace prevail? 


-- Divine Discourse, Apr 05, 1981

When awareness of God dawns in all its splendour, every worldly, sensual desire is reduced to ashes in the flames of that awareness. 


Banyak orang datang kepada-Ku dengan hati yang gelisah dan berdoa, “Swami, saya tidak memiliki kedamaian. Berikanlah saya kedamaian.” Namun, kedamaian tidak dapat diperoleh dari dunia luar. Kedamaian harus ditemukan di dalam hati. Keinginan yang jahat melahirkan penderitaan, sedangkan keinginan yang baik membawa suka cita. Menghilangkan keinginan memastikan adanya kedamaian. Selama keinginan terus bertambah dalam pikiran, bagaimana mungkin kedamaian dapat dirasakan? Setelah bhajan dan meditasi, engkau mengucapkan Shanti sebanyak tiga kali sebagai doa untuk kedamaian jasmani, kedamaian pikiran, dan kedamaian spiritual. Namun, kedamaian hanya dapat diperoleh ketika seseorang menyadari bahwa Atma adalah hakikat yang sama di dalam semua makhluk. Sebuah biji mangga ditanam; dari satu biji tumbuh sebuah pohon yang menghasilkan ribuan buah, dan dalam setiap buah terdapat kembali sebuah biji. Demikian pula, Atma yang satu hadir di dalam setiap makhluk! Tuhan adalah Benih Ilahi yang memanifestasikan diri dalam bentuk yang tak terhitung jumlahnya. Karena itu Tuhan berkata, "Ekoham (Aku adalah Yang Satu) Bahusyam (Aku menjadi banyak)." Ketika manusia, karena ketidaktahuan, melihat perbedaan, membangun sekat, dan merasa terpisah dari orang lain, muncullah rasa takut. Bersamaan dengan itu, kedamaian pun menghilang. Selama manusia saling meragukan dan tidak lagi mempercayai sesamanya, bagaimana kedamaian dapat terwujud.


-- Wejangan Sai, 05 April 1981

Ketika kesadaran akan Tuhan bersinar dengan sepenuhnya, seluruh keinginan duniawi dan kenikmatan indria akan hangus menjadi abu dalam nyala kesadaran itu.

Friday, July 10, 2026

Thought for the Day - 10th July 2026 (Friday)



Do not grieve that the Lord is testing you and putting you to the ordeal of undergoing them. For it is only when you are tested that you can assure yourself of success or become aware of your limitations. You can then concentrate on the subjects in which you are deficient and pay more intensive attention, so that you can pass in them too, when tested again. Many grieve: “It is said darshanam papanashanam (the holy vision of the deity leads to destruction of sin); well, I have had darshan not once but many times, yet, my evil fate has not left me and I am suffering even more than formerly.” True, they have come and have had darshan and they have sown fresh seeds secured from this place, seeds of Prema (Love), Shraddha (Faith), Bhakti (Devotion), Satsanga (Good company), Sarveshwara-chinta (Thoughts of God), Namasmarana (Remembering God’s Name), etc., and they have learnt the art of intensive cultivation and soil-preparation. They have now sown the seeds in the well-prepared fields of the cleansed hearts. Now, until the new harvest comes in, they have to consume the grain already stored in previous harvests. The troubles and anxieties are the crop collected in previous harvests; so do not grieve, and lose heart. 


-- Divine Discourse, Feb 1963

Difficulties may come in succession like mountains, but they will disappear like snow if Divine Grace is there.


Jangan bersedih karena merasa Tuhan sedang menguji atau menempatkanmu dalam berbagai kesulitan. Justru melalui ujian, engkau dapat mengetahui apakah engkau sudah berhasil atau menjadi sadar pada keterbatasanmu. Setelah mengetahui kekurangan itu, engkau dapat memberi perhatian lebih pada bagian yang masih lemah, sehingga ketika ujian datang kembali, engkau mampu melaluinya dengan lebih baik. Banyak orang mengeluh, “Dikatakan bahwa darshanam papanashanam, yaitu darshan suci kepada Tuhan dapat menghancurkan dosa. Saya sudah berkali-kali memperoleh darshan, tetapi nasib buruk saya belum berubah. Bahkan penderitaan saya terasa semakin berat daripada sebelumnya.” Memang benar bahwa mereka telah datang dan memperoleh darshan dan mereka juga telah menerima benih-benih baru dari tempat ini: benih berupa prema atau kasih, shraddha atau keyakinan, bhakti atau pengabdian, satsanga atau pergaulan yang baik, sarveshwara-chinta atau pikiran yang tertuju kepada Tuhan, namasmarana atau pengingatan Nama Tuhan, dan berbagai nilai spiritual lainnya. Mereka juga telah belajar cara mengolah tanah dan menanam benih dengan sungguh-sungguh. Benih-benih itu kini ditanam di ladang hati yang telah dipersiapkan dan dibersihkan. Namun, sebelum masa panen tiba dan dapat dinikmati, seseorang masih harus menggunakan persediaan hasil panen sebelumnya. Kesulitan, kecemasan, dan penderitaan yang dialami saat ini diibaratkan sebagai hasil panen dari benih-benih masa lalu. Karena itu, jangan bersedih dan jangan kehilangan keteguhan hati. 


-- Wejangan Sai, Februari 1963

Kesulitan dapat datang bertubi-tubi seperti gunung, tetapi akan lenyap seperti salju apabila ada rahmat Tuhan.

Thursday, July 9, 2026

Thought for the Day - 9th July 2026 (Thursday)



If you mix sugar with the wheat flour or the rice flour and prepare some kind of sweet, you will get the sweet taste of such a preparation in your mouth. Although there is no inherent sweetness in either the rice or the wheat, the sugar gives the sweetness. In the same manner, when Vishnutvam (Omnipresence of Divinity) is contemplated as being present even in a lifeless thing, even that thing appears to us as a divine entity filled with that sweetness. Although the sweets which we prepare and eat have many different forms and names, the fact is that all of them contain one common thing, and that is sugar. So too, we must also realise that in this world, while there are so many individuals with different forms and names, the one common thing that is present in all of them is this Vishnutvam or the omnipresent Atma. This principle is the reason individuals have love for each other, and there are various forms of relationships and affection between people. It is necessary for every individual to recognise the sweetness of this principle of divine omnipresence in all. You should realise this by your own effort, or by listening to what the elders tell you, or by having darshana, sparshana, and sambhashana, i.e. by seeing, touching, and hearing great people. 


-- Divine Discourse, Jun 01, 1973

When we experience oneness in all things, it means we have achieved Prajnanam or supreme consciousness.


Jika engkau mencampur gula ke dalam tepung gandum atau tepung beras, lalu diolah menjadi berbagai jenis makanan manis, engkau akan merasakan manisnya makanan tersebut di mulutmu. Tepung beras maupun tepung gandum pada dasarnya tidak memiliki rasa manis, gula memberikan rasa manis itu. Sama halnya, ketika Vishnutvam (kehadiran Tuhan yang meliputi segala sesuatu) direnungkan hadir bahkan dalam benda mati, benda itu pun akan terlihat bagi kita sebagai bagian dari entitas Ilahi yang dipenuhi kehadiran Ilahi. Walaupun makanan manis yang kita buat dan makan memiliki banyak bentuk dan nama, pada kenyatannya, semuanya memiliki satu unsur yang sama, yaitu gula. Begitu pula, kita juga harus menyadari bahwa di dunia ini dipenuhi banyak individu dengan bentuk dan nama yang berbeda. Akan tetapi, ada satu prinsip yang sama dalam setiap diri, yaitu Vishnutvam atau Atma yang hadir di mana-mana. Prinsip Atma yang sama inilah yang memungkinkan manusia saling mengasihi, membangun hubungan, dan merasakan kedekatan satu sama lain. Karena itu, setiap orang perlu menyadari “manisnya” kehadiran Tuhan yang ada dalam semua makhluk. Engkau harus menyadari hal ini melalui usaha pribadimu, atau dengan mendengarkan nasihat para sesepuh, atau melalui darshana, sparshana, dan sambhashana, yaitu melihat, menyentuh, serta mendengarkan ajaran dari orang-orang suci dan bijaksana.


-- Wejangan Sai, 01 Juni 1973

Ketika kita mengalami kesatuan dalam segala sesuatu, itu berarti kita telah mencapai prajnanam, yaitu kesadaran tertinggi.

Wednesday, July 8, 2026

Thought for the Day - 8th July 2026 (Wednesday)



The educated man fights for his rights, without regard to the duties to be discharged. The man who neglects his duties will lose his rights as well. Rights and duties are inseparably interrelated. Love is the connecting link between the two. The faithful ones in the spiritual realm crave for joy, peace and comfort without striving to realise how they can be obtained. We do not want God nor do we cultivate devotion. But we want God to shower Shanti and Ananda (peace and Divine bliss) on us. If we want peace, we should conduct our life on lines conducive to peace. How can a person, pursuing evil and unrighteous ways, ever obtain peace, truth and joy? Can we have the belch of a gourd by eating a mango? As are the deeds, so are the rewards. As the motives, so are the gifts of God. Hence, our motives should be sublime, and deeds should be righteous. 


-- Divine Discourse, Nov 22, 1984

Purity of mind is as essential for enjoying Divine Bliss as purity of body is essential for bodily health.


Orang terdidik memperjuangkan haknya tanpa memikirkan kewajiban yang harus dijalankan. Padahal, orang yang mengabaikan kewajibannya pada akhirnya juga kehilangan haknya. Hak dan kewajiban tidak dapat dipisahkan. Kasih menjadi penghubung antara keduanya. Dalam kehidupan spiritual, banyak orang beriman menginginkan sukacita, kedamaian, dan kenyamanan, tetapi tidak berusaha memahami bagaimana semua itu dapat diperoleh. Kita tidak sungguh-sungguh menginginkan Tuhan dan tidak membangun bhakti, tetapi kita ingin Tuhan mencurahkan shanti dan Ananda kepada kita. Jika ingin memperoleh kedamaian, kita harus menjalani hidup dengan cara yang menumbuhkan kedamaian. Bagaimana mungkin seseorang yang memilih jalan buruk dan tidak benar dapat memperoleh kedamaian, kebenaran, dan suka cita? Apakah mungkin seseorang makan mangga lalu mengharapkan bersendawa aroma labu? Sebagaimana perbuatannya maka demikian pula buahnya. Sebagaimana niat, demikian pula anugerah Tuhan yang dapat dialami. Karena itu, niat kita harus luhur dan perbuatan kita harus benar.


-- Wejangan Sai, 22 November 1984

Kemurnian pikiran adalah mendasar untuk mengalami kebahagiaan Ilahi sebagaimana kebersihan tubuh penting bagi kesehatan jasmani.

Tuesday, July 7, 2026

Thought for the Day - 7th July 2026 (Tuesday)



The knowledge that the students acquire in schools and colleges is only information-oriented. Mere bookish knowledge is not of great importance. Expansion of love is very important. Your thoughts have to be purified. Only pure hearts comprehend God. Intellectual reasoning does not help you to realise God. Pure thought is another name for pure life. Love is God. God has no form except love. I wish that you all install the love principle in the deep recesses of your heart. Love is your prana (life). It is enough if you have love. Love redeems all. Love wards off all suffering, hardships, pains, and agonies. Love is nectarous in form. You are amritaputrah (children of immortality), not anritaputrah (children of untruth). Do not weaken yourself by considering yourself as children of untruth. Feel that you are amritaputra. Then the tree of love will grow in your heart and give you the fruit of Atmic bliss. Do not be attached to the body. Get rid of body attachment. You must realise the principle of Atma. 


-- Divine Discourse, Jan 27, 2004

The Self (Atma) and Love are not different from each other. The Self is Love and Love is Self. 


Pengetahuan yang diperoleh para pelajar di sekolah dan perguruan tinggi sering kali hanya berorientasi pada informasi. Hanya sebatas pengetahuan dari buku saja bukanlah hal yang terlalu penting. Yang jauh lebih penting adalah memperluas kasih. Pikiranmu harus dimurnikan. Hanya hati yang murni mampu mengenal Tuhan. Penalaran intelektual semata tidak cukup membantumu untuk menyadari Tuhan. Pikiran yang murni adalah nama lain dari kehidupan yang murni. Kasih adalah Tuhan. Tuhan tidak memiliki wujud selain kasih. Karena itu, Aku berharap bahwa engkau semuanya menanamkan prinsip kasih sedalam-dalamnya di dalam hatimu. Kasih adalah prana, yaitu daya hidupmu. Jika engkau memiliki kasih, itu sudah cukup. Kasih menyelamatkan semuanya. Kasih menolong manusia menghadapi penderitaan, kesulitan, rasa sakit, dan kepedihan. Kasih memiliki sifat seperti amrita, yaitu nektar keabadian. Engkau adalah amritaputrah, anak-anak keabadian, bukan anritaputrah, anak-anak ketidakbenaran. Jangan melemahkan dirimu dengan menganggap diri sebagai anak-anak dari dari ketidakbenaran. Sadari bahwa dirimu adalah amritaputra. Kemudian pohon kasih akan bertumbuh di hatimu dan memberikanmu buah kebahagiaan Atma. Jangan melekat pada tubuh. Lepaskan keterikatan berlebihan pada tubuh. Engkau harus menyadari prinsip Atma.


-- Wejangan Sai, 27 Januari 2004

Diri Sejati (Atma) dan kasih bukanlah dua hal yang berbeda. Diri Sejati adalah kasih, dan kasih adalah Diri Sejati.

Monday, July 6, 2026

Thought for the Day - 6th July 2026 (Monday)




Always think that God is present in this temple of body, and whatever you do is an offering to Him. It is only when you develop such sacred feelings will your body and the antahkarana (inner instruments) be sanctified. Therefore, transform your dehabhimana (body attachment) into Atmabhimana (attachment to the Self). This is the real sadhana. Without developing Atmabhimana, there is no point in doing any other sadhana. People say, we are doing bhajans. Till you attain the state of Atmabhimana, all such spiritual practices are essential. When you plant a sapling of a good-quality mango tree, after some time, it gives unripe mangoes. So long as the mangoes are not ripe, they taste sour. Only when they become ripe do they become sweet and tasty. Likewise, when you attain the ripe stage in your sadhana, you develop Atmic feelings. Till you attain such a state of blessedness, continue to discharge your duties without forgetting your goal. Always remind yourself that you have to reach this goal. Gradually, detach yourself from the body and develop attachment to the Self. Only then can you experience eternal bliss. Pursue this path of truth and wisdom and immerse yourself in divine bliss. 


-- Divine Discourse, Aug 31, 1996

He is a blessed one who can transform his body attachment (dehabhimana) into attachment to God (Daivabhimana).


Selalulah memikirkan bahwa Tuhan hadir di dalam tempat suci tubuh ini, dan apa pun yang engkau lakukan adalah persembahan kepada-Nya. Hanya ketika engkau mengembangkan perasaan suci seperti ini, tubuh dan antahkarana yaitu perangkat batin akan menjadi suci. Karena itu, ubahlah dehabhimanamu yaitu keterikatan pada tubuh, menjadi Atmabhimana, yaitu kesadaran pada Diri Sejati adalah Atma. Inilah sadhana yang sesungguhnya. Tanpa mengembangkan Atmabhimana, tidak ada gunanya melakukan sadhana yang lain. Orang-orang berkata, “Kami melakukan bhajan.” Sebelum engkau mencapai tahapan kesadaran Atma, maka semua latihan spiritual seperti itu adalah bersifat mendasar. Seperti pohon mangga unggul yang baru ditanam, pada waktunya ia akan menghasilkan buah muda. Selama buah itu belum matang, rasanya masam. Setelah matang, buah itu menjadi manis dan nikmat. Demikian pula, ketika engkau mencapai tahapan matang dalam sadhana, engkau mengembangkan perasaan Atma. Sebelum mencapai keadaan penuh rahmat itu, teruslah menjalankan kewajiban tanpa melupakan tujuanmu. Ingatkan dirimu setiap hari bahwa engkau harus mencapai tujuan ini. Secara bertahap, kurangi keterikatan pada tubuh dan kembangkan keterikatan kepada Atma. Hanya dengan cara itu Anda dapat mengalami kebahagiaan yang kekal. Tempuhlah jalan kebenaran dan kebijaksanaan ini, lalu tenggelamlah dalam kebahagiaan Ilahi.


-- Wejangan Sai, Aug 31, 1996

Berbahagialah orang yang mampu mengubah keterikatan pada tubuhnya (dehabhimana) menjadi keterikatan kepada Tuhan (Daivabhimana).