Dharma (virtuous conduct) purifies the mind and leads you to God. It creates a taste for the Name and the Form of God. When you love the Name and Form of Krishna, you will naturally respect and obey the command of Krishna, which is found in the Bhagavad-gita. Have the Name on the tongue and the Form in the eye, and the demon called asha (endless desire), will fly from your mind, leaving joy and contentment therein. This kind of constant dwelling on the indwelling God will promote love for all beings in you. You will then see only good in others. You will strive only to do good to others. Now, all things have gone up in value; man alone has become cheap. Endowed with the costly gems of reason, discrimination and detachment, man has allowed them to slip away, and he is beset with dire poverty, as a consequence. He has become cheaper than animals; he is slaughtered in millions without any hesitation, because of the terrific growth of anger, hate and greed; he has forgotten his unity with all men, all beings, and all worlds. The contemplation of that unity alone can establish world peace, social peace and peace in the individual. All other efforts are like pouring sweet-scented rose water on a heap of ash, which is ineffective and foolish.
-- Divine Discourse, Mar 22, 1965
Man is a diamond, not a piece of glass; he has to shine brilliantly after going through the process of "cutting" or samskara (purificatory acts).
Dharma (perilaku yang benar) memurnikan pikiran serta menuntunmu menuju Tuhan. Dharma menumbuhkan kecintaan kepada Nama dan Wujud Tuhan. Ketika engkau mencintai Nama dan Wujud Sri Krishna, engkau secara alami akan menghormati dan menjalankan ajaran-Nya sebagaimana tertuang dalam Bhagavad Gita. Biarkan Nama Tuhan selalu berada di bibir dan Wujud-Nya selalu hadir dalam pandangan batin. Dengan demikian, iblis bernama asha (keinginan yang tidak pernah berakhir) akan meninggalkan pikiran, sehingga hati dipenuhi sukacita dan rasa cukup. Perenungan yang terus-menerus kepada Tuhan yang bersemayam di dalam hati akan menumbuhkan kasih kepada semua makhluk di dalam dirimu. Engkau kemudian akan melihat hanya kebaikan dalam diri orang lain dan terdorong untuk selalu berbuat baik kepada yang lainnya. Saat ini, hampir semua hal mengalami kenaikan nilai. Namun ironisnya, nilai manusia justru semakin merosot. Padahal manusia telah dianugerahi permata yang sangat berharga, yaitu akal budi, kemampuan membedakan yang benar dan salah (viveka), serta sikap tidak melekat (vairagya). Karena mengabaikan anugerah tersebut, sebagai akibatnya manusia jatuh terperangkap ke dalam kemiskinan yang sangat parah. Manusia telah menjadi lebih rendah daripada binatang; manusia dibantai dalam jumlah jutaan tanpa adanya keraguan, disebabkan karena berkembang pesatnya kemarahan, kebencian, dan keserakahan; manusia telah melupakan kesatuannya dengan seluruh umat manusia, seluruh makhluk, bahkan seluruh dunia. Hanya dengan merenungkan dan menyadari kesatuan tersebut, kedamaian dunia, kedamaian masyarakat, dan kedamaian dalam diri dapat terwujud. Segala usaha lain yang mengabaikan kesadaran ini hanyalah seperti menyiramkan air mawar yang harum ke atas tumpukan abu yang mana bersifat tidak berguna dan bodoh.
-- Wacana Swami, 22 Maret 1965
Manusia adalah berlian, bukan pecahan kaca; Ia harus memancarkan kilau cemerlang setelah melalui proses 'pemotongan' atau samskara (proses penyucian).
No comments:
Post a Comment