Man means he who marches from the status of Self to the All-inclusive Self, from Atma to Paramatma. Towards the success of that march, all Nature can provide advice and guidance until the very end. The real Guru one must rely upon is Nature, saturated with God. God does not teach us directly; He teaches us through Nature which surrounds us. When we teach Om to children, we pronounce it loud and at the same time write the letter ‘Om’ on a slate. God has written ‘Om’ on every speck of Nature; that is the slate from which we have to learn of Him. So, do not renounce the world or condemn Nature. Do not restrict the God of the Universe to any one name and form. Love all names and forms. Expand your letter world-wide. Just consider; when boiled dal (lentil) is served for lunch, if it has less salt, you set it aside. We take such great care about a moment’s sensation on the tongue. Well, when we have to spend 70 or 80 years of life on earth, imagine the care we must take to see that we realise the purpose of life. Virtue is the salt of life. Love is the highest virtue: Develop love by sharing it. Revere the Universe as your Guru. That is the message I wish to give you on this Guru Poornima.
-- Divine Discourse, Jul 17, 1981
There is no need to wander in search of a Guru (preceptor). Learn lessons from every living being, everything that you find around you.
Manusia adalah ia yang sedang menempuh perjalanan dari kesadaran akan Diri Sejati menuju kesadaran Yang Mahameliputi, dari Atma menuju Paramatma. Dalam usaha mencapai keberhasilan dalam perjalanan menuju tujuan itu, seluruh alam semesta dapat menjadi pemberi nasihat dan pembimbing hingga akhir. Guru sejati yang patut kita andalkan adalah alam semesta, karena alam dipenuhi oleh kehadiran Tuhan. Tuhan tidak mengajar kita secara langsung; Tuhan mengajar kita melalui alam yang mengelilingi kita. Ketika kita mengajarkan huruf Om kepada anak-anak, kita mengucapkannya dengan suara lantang sambil menuliskannya di atas batu tulis. Demikian pula, Tuhan telah "menuliskan" Om pada setiap bagian dari Alam; Alam inilah batu tulis tempat kita belajar mengenal-Nya. Karena itu, janganlah meninggalkan dunia atau mencela alam. Jangan pula membatasi Tuhan semesta alam hanya pada satu nama atau satu bentuk. Cintailah semua nama dan semua bentuk-Nya. Perluaskan kasihmu hingga mencakup seluruh dunia. Renungkanlah sebuah contoh sederhana. Ketika hidangan dal (sup lentil) disajikan saat makan siang, jika garamnya kurang, kita segera menyisihkannya. Betapa besar perhatian kita terhadap kenikmatan sesaat di lidah. Jika kita harus menghabiskan 70 atau 80 tahun hidup di bumi, bayangkan betapa besarnya perhatian yang harus kita berikan agar kita menyadari tujuan hidup ini. Kebajikan adalah garam kehidupan. Dan kasih adalah kebajikan yang tertinggi: kembangkan kasih dengan membaginya. Hormatilah seluruh alam semesta sebagai Gurumu. Itulah pesan yang ingin Kusampaikan kepadamu pada hari suci Guru Purnima.
-- Wacana Swami, 17 Juli 1981
Tidak perlu mengembara ke mana-mana untuk mencari seorang Guru. Belajarlah dari setiap makhluk hidup dan dari segala sesuatu yang engkau temui di sekelilingmu.
No comments:
Post a Comment