Today, though in outward appearance people are human, in inner impulse they are sub-human or rakshasa; he who has no danam (charity or sacrifice) in him is called a danava (demon). Deva and danava (divine and demonic) are mixed in the human make-up, and now, the danava rules the roost. Therefore, man has lost his glow, power, and splendour; he must win them again by sadhana. So, make yourselves pure by incessant striving. The partaking of the amruta (nectar) created by Me is only the first step in this process for you: it does not mean much if you do not take the second step and the third and march on towards self-realisation. You must have faith in the discipline laid down in Sanatana Dharma and in the ultimate, divine basis of all creation. Get convinced that the world can give you only fleeting joy, and grief is but the obverse of joy. Strive now, from this very moment, for time is rushing like a swift torrent. Develop the joy that will not decline, the joy that will ever be full. Be true to yourself. Be bold, be sincere. The only reality is the twin-bird on the tree, the jivatma (individual soul) that tastes the fruits and suffers, and the Paramatma (supreme soul) that sits unmoved and merely looks on.
-- Divine Discourse, Dec 28, 1960
Take up the name and dwell upon its sweetness; imbibe it and roll it on your tongue, taste its essence, contemplate on its magnificence, make it a part of yourself, and grow strong in spiritual joy. That is what pleases Me
Saat ini, meskipun secara lahiriah manusia tampak sebagai manusia, dalam dorongan batinnya banyak yang masih berada pada tingkat yang lebih rendah, bahkan bersifat rakshasa; seseorang yang tidak memiliki danam (amal, pengorbanan, atau kemurahan hati) disebut danava (iblis). Dalam diri manusia terdapat unsur deva (ketuhanan) dan danava (iblis), tetapi saat ini unsur danava sering kali lebih dominan. Maka dari itu, manusia kehilangan cahaya, kekuatan, dan kemuliaan yang sebenarnya dimilikinya; semua itu harus diperoleh kembali melalui sadhana (latihan spiritual). Oleh karena itu, sucikanlah dirimu melalui usaha yang terus-menerus. Menerima Amruta yang diciptakan oleh-Ku hanyalah langkah pertama dalam perjalanan ini bagimu: hal itu tidak akan banyak berarti jika engkau tidak melanjutkan ke langkah kedua, ketiga, dan seterusnya menuju realisasi diri sejati. Engkau harus memiliki keyakinan terhadap disiplin yang diajarkan dalam Sanatana Dharma dan terhadap dasar ilahi tertinggi yang menjadi sumber seluruh ciptaan. Yakinkan dirimu bahwa dunia hanya dapat memberikan suka cita yang sementara, dan di balik setiap kesenangan selalu ada kemungkinan munculnya kesedihan. Karena itu, mulailah berjuang sejak saat ini juga, sebab waktu mengalir deras seperti arus sungai yang tak pernah berhenti. Kembangkanlah suka cita yang tidak akan memudar, suka cita yang selalu penuh. Jadilah setia pada dirimu sendiri. Jadilah berani. Jadilah tulus. Satu-satunya kenyataan sejati adalah dua burung yang berada pada satu pohon: jivatm (jiwa individu) yang memetik buah, merasakan manis dan pahitnya kehidupan, serta mengalami suka dan duka; dan Paramatma (Jiwa Tertinggi) yang tetap tenang, tidak terpengaruh, hanya menyaksikan semuanya.
-- Wacana Swami, 28 Desember 1960
Lantunkanlah Nama Tuhan dan resapilah rasa manis-Nya; hayati Nama itu, biarkan bergulir di lidahmu, nikmati intisari-Nya, renungkan keagungan-Nya, jadikan Nama Tuhan bagian dari dirimu, dan bertumbuhlah dalam sukacita spiritual. Itulah yang menyenangkan-Ku.
No comments:
Post a Comment