There are three kinds of knowledge: bookish knowledge, discriminative knowledge, and practical knowledge. Bookish knowledge is superficial. Discriminative knowledge enables us to know what is real and what is unreal. Practical knowledge is experiential knowledge. Practical knowledge starts with discriminative knowledge. A small amount of experiential knowledge is sufficient. As long as we are dependent on the external world, we cannot have experiential knowledge. Once, a traveller was carrying a bundle of food on his head. He walked a short distance. As the bundle was a burden on him, he could not walk far. On the way, he came across a river. He sat down on its bank, opened his bundle and ate all the food. As long as the food was outside, it was a burden. Was it still a burden after it reached his stomach? No. As the food entered his body, he gained strength. Besides, he was relieved of his burden too. External knowledge is superficial and burdensome; internal knowledge is experiential knowledge. What is the use of studying a lot without knowing who you are? Modern education leads only to argumentation, not to total wisdom. What is the use of acquiring education which cannot lead you to immortality? Acquire the knowledge that will make you immortal.
-- Divine Discourse, May 04, 1997
The heart of the individual, who makes an attempt to put into practice the good things he has listened to, becomes the temple of God.
Ada tiga jenis pengetahuan, yaitu: pengetahuan dari buku, pengetahuan dari kemampuan membedakan, dan pengetahuan praktis. Pengetahuan dari buku adalah bersifat dangkal. Pengetahuan dari kemampuan membedakan memungkinkan kita untuk mengetahui apa yang sejati dan apa yang tidak sejati. Pengetahuan praktis adalah pengetahuan dari pengalaman. Pengetahuan praktis selalu berawal dari kemampuan membedakan. Sedikit pengetahuan berdasarkan pengalaman sudah cukup. Selama kita bergantung pada dunia luar, kita tidak dapat memiliki pengetahuan berdasarkan pengalaman. Suatu ketika, ada seorang pengembara yang membawa sebungkus makanan di atas kepalanya. Ia berjalan beberapa saat, tetapi semakin lama beban itu terasa berat sehingga ia tidak mampu berjalan jauh. Ketika sampai di tepi sungai, ia duduk, membuka bungkus makanannya, lalu memakannya. Selama makanan itu masih berada di luar tubuhnya, makanan tersebut hanyalah beban. Apakah makanan tersebut masih menjadi beban ketika setelah masuk ke dalam perutnya? Tidak. Saat makanan tersebut masuk ke dalam tubuhnya, makanan itu berubah menjadi tenaga yang menguatkannya. Selain itu, beban yang selama ini dipikulnya pun terbebas darinya. Pengetahuan eksternal bersifat dangkal dan memberatkan; pengetahuan internal adalah pengetahuan berdasarkan pengalaman. Apa gunanya mempelajari begitu banyak hal tanpa mengenal siapa dirimu yang sejati? Pendidikan modern hanya menuntun pada perdebatan, bukan kebijaksanaan sejati. Apa manfaat pendidikan jika tidak mampu membawa dirimu menuju pada keabadian? Karena itu, carilah pengetahuan yang membuatmu abadi.
-- Wacana Swami, 04 Mei 1997
Hati seseorang yang berusaha mempraktikkan hal-hal baik yang telah didengarnya akan menjadi bait suci tempat Tuhan bersemayam.
No comments:
Post a Comment