Sai’s philosophy does not lie in encouraging devotees to sit in a corner, control their breath, and go on uttering, "Soham! Soham! Soham!" "Oh, sadhaka! Arise! Gird up your loins! Plunge into social service!" This is the Sai message. No room should be given for laziness and indifference. Controlling your senses, you should take to social service. A life not dedicated to service is like a dark temple. It is the abode of evil spirits. Only the light of seva can illumine the spiritual aspirant. Therefore, embark upon service to your fellow men without any expectation of reward. Do not waste your time in profitless talk. Of what avail is it to mouth expressions such as: The Lord is all-knowing, omnipresent, and omnipotent? You clap your hands when these epithets are used, deriving pleasure from simply hearing them. How many act according to the word they speak? There must be harmony between what is said and what is done. All spiritual exercises like japa and dhyana, are efforts to control the mind and prepare it for the journey to the Divine. Knowing the way is not enough. The path must be traversed to reach the destination. That journey is service to society. This service must be done with the awareness that the Divine dwells in every heart, in every individual, and in every living thing.
-- Divine Discourse Nov 17, 1985
Service to society is the highest good. It adds to the joy of life and enhances its savour like salt.
Filsafat Sai bukanlah mengajarkan para bhakta untuk hanya duduk menyendiri di suatu sudut, mengendalikan napas, lalu terus-menerus mengucapkan, "Soham! Soham! Soham!" ("aku adalah Dia"). Pesan Sai justru adalah: "wahai pencari spiritual! Bangkitlah! Bersiaplah lahir dan batin! Terjunlah ke dalam pelayanan kepada masyarakat!" Tidak boleh ada ruang bagi kemalasan ataupun sikap acuh tak acuh. Kendalikanlah indriamu, engkau harus mengambil kesempatan untuk pelayanan sosial. Hidup yang tidak dipersembahkan bagi pelayanan bagaikan sebuah tempat suci yang gelap. Kegelapan itu menjadi tempat bersemayamnya energi-energi jahat. Hanya cahaya seva (pelayanan tanpa pamrih) yang mampu menerangi kehidupan seorang pencari spiritual. Karena itu, layanilah sesama manusia tanpa mengharapkan balasan apa pun. Jangan menghabiskan waktu dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat. Apa gunanya terus mengucapkan bahwa Tuhan Mahatahu, Mahahadir, dan Mahakuasa jika semua itu hanya berhenti sebagai kata-kata? Engkau bertepuk tangan ketika mendengar sifat-sifat Tuhan disebutkan, mendapatkan kesenangan hanya dengan mendengarkannya. Namun, berapa banyak yang benar-benar berbuat sesuai dengan kata-kata yang mereka ucapkan? Harus ada keselarasan antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan. Seluruh latihan spiritual seperti japa (pengulangan Nama Tuhan) dan dhyana (meditasi) pada dasarnya adalah usaha untuk mengendalikan pikiran dan mempersiapkannya untuk perjalanan menuju Tuhan. Namun, mengetahui jalan saja tidaklah cukup. Jalan itu harus dilalui untuk mencapai tujuan. Perjalanan itu adalah pelayanan pada masyarakat. Pelayanan ini harus dilakukan dengan kesadaran bahwa Tuhan berdiam di dalam setiap hati, setiap manusia, dan setiap makhluk hidup.
-- Wacana Swami, 17 November 1985
Pelayanan kepada masyarakat adalah kebajikan yang tertinggi. Pelayanan menambah sukacita dalam hidup dan memberi cita rasa pada kehidupan, sebagaimana garam memberi rasa pada makanan
No comments:
Post a Comment