Wednesday, September 23, 2026

Thought for the Day - 23rd September 2026 (Wednesday)



The scriptures declare that the Divine descends to the earth in human form to allay the sufferings of those who are sick of body or of mind. Man today seeks to have a vision of the Supra-human Transcendental Being. This is sheer folly because as long as one has the feeling that he is a human being, he can aspire to see God only in human form and is not entitled to see His transcendental form. When one transcends the sense of his humanness, he acquires the privilege to envision the Transcendental Divinity. That is the reason why Rama and Krishna came as Avatars in human form. To claim that when you close your eyes and meditate, you see an effulgent light is only a delusion. There are innumerable things that are not visible to your naked eyes and which are beyond your ken. How do you expect to see them or know them? You know only the human form. So, at the outset, try to understand humanness. You must understand the Life Principle that animates the human. From the Life Principle (Jiva Tatva), you should seek to enquire into the nature of the Divine (Para Tatva).


-- Divine Discourse Jun 26, 1994

To understand Divinity, which is beyond the human level, man should also rise to that state which is beyond the human level.


Naskah-naskah suci menyatakan bahwa Tuhan hadir berinkarnasi ke dunia dalam wujud manusia untuk meredakan penderitaan pada mereka yang sakit secara jasmani maupun pikiran. Manusia pada saat sekarang mencari untuk mendapatkan pandangan wujud Transendental yang melampaui manusia. Hal ini merupakan kekeliruan karena selama seseorang masih memiliki perasaan bahwa ia adalah manusia, maka ia hanya dapat berharap untuk melihat Tuhan dalam wujud manusia dan belum memiliki kapasitas untuk melihat wujud-Nya yang transendental. Ketika seseorang mampu melampaui kesadaran kemanusiaannya, ia memperoleh keistimewaan untuk membayangkan Keilahian Transendental. Itulah sebabnya mengapa Rama dan Krishna hadir sebagai Avatar dalam wujud manusia. Untuk menyatakan bahwa ketika engkau memejamkan mata dan bermeditasi, engkau melihat cahaya yang sangat terang hanyalah sebuah khayalan. Ada begitu banyak hal yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani dan berada di luar jangkauan pengetahuanmu. Bagaimana engkau dapat berharap untuk melihat atau mengetahuinya? Engkau hanya mengetahui wujud manusia. Oleh karena itu, pertama-tama berusahalah memahami hakikat kemanusiaan. Engkau harus memahami prinsip hidup yang menghidupkan manusia. Dari pemahaman terhadap prinsip hidup _(Jiva Tatva)_, engkau hendaknya menyelidiki dan memahami hakikat Tuhan (Para Tatva).


-- Divine Discourse 26 Juni 1994

Untuk memahami keilahian yang melampuai tingkat manusia, manusia juga harus harus bangkit menuju keadaan yang melampaui tingkat kemanusiaannya.

Tuesday, September 22, 2026

Thought for the Day - 22nd September 2026 (Tuesday)



People feel distressed when someone among their kinsfolk is ill. If such is the affection they bear towards relations who are associated with them for brief periods, how much more love should one have towards the eternal Lord? One should regard love for God as the greatest treasure one can have. When you love God, you will have love towards all because the Divine is in everyone. Therefore, bear in mind: Love all; serve all. The best way to serve God is to love all and serve all. Your devotion will get diluted if you entertain differences between people. Devotion to Rama or Krishna becomes meaningless if you do not practise their teachings. The worship of the Lord should be accompanied by leading a godly life. Only then can bliss be experienced. Today, people carry on a routine reading of scriptural texts like the Gita or the Bible. This serves no purpose unless they lead pure and sacred lives. They should fill their hearts with the love of God and share that love with others.


-- Divine Discourse Aug 21, 1994

Redeem your lives through love. Let love become your life-breath and the sole goal of your life.


Orang-orang merasa sangat sedih ketika seseorang dari kalangan keluarga atau kerabat mereka jatuh sakit. Jika demikian kasih sayang yang mereka miliki terhadap orang-orang yang hanya untuk sementara waktu hadir dalam hidup mereka, betapa jauh lebih besar seharusnya kasih sayang yang mereka miliki kepada Tuhan Yang Kekal? Seseorang harus memandang kasih sayang kepada Tuhan sebagai harta terbesar yang seseorang dapat dimiliki. Ketika engkau mencintai Tuhan, engkau akan memiliki cinta kepada semua orang, karena Yang Ilahi hadir di dalam diri setiap orang. Oleh karena itu, tanamkan dalam pikiran: Kasihi semua; layani semua. Cara terbaik untuk melayani Tuhan adalah mengasihi semua dan melayani semua. Bhaktimu akan menjadi lemah apabila engkau masih memelihara perbedaan-perbedaan di antara manusia. Pengabdian kepada Rama atau Krishna menjadi tidak bermakna apabila engkau tidak mempraktikkan ajaran-ajaran-Nya. Pemujaan kepada Tuhan harus disertai dengan menjalani kehidupan yang berlandaskan sifat-sifat Ilahi. Hanya dengan demikian seseorang dapat mengalami kebahagiaan. Saat ini, orang-orang secara rutin membaca kitab-kitab suci seperti Bhagavad Gita atau Alkitab. Kegiatan tersebut tidak akan membawa manfaat apabila mereka tidak menjalani kehidupan yang murni dan suci. Mereka hendaknya memenuhi hati dengan kasih kepada Tuhan dan membagikan kasih tersebut kepada orang lain.


-- Divine Discourse 21 Agustus 1994

Murnikan Hidupmu melalui kasih. Jadikan kasih sebagai napas hidupmu dan satu-satunya tujuan dalam hidupmu.

Monday, September 21, 2026

Thought for the Day - 21st September 2026 (Monday)



Constant contemplation on the form of the Lord and frequent repetition of the Lord’s name are the means by which the heart is filled with the love of God. When there is this love, the devotee is filled with inexpressible ecstasy. It was out of such ecstasy that Kulasekhara Alwar, the royal saint, exclaimed: “Oh Lord! People talk of moksha (liberation) as the means of redeeming life and getting rid of birth and death. I do not ask for such redemption. I shall be content with loving you and serving you in countless lives. Allow me to love You and serve You – that is the only blessing I seek from You and not moksha.” The universe is permeated with love. It is the embodiment of Vishnu. There is nothing in the cosmos, no place in it where He is not present. To regard the Universe as a manifestation of God and to experience it as such is real devotion. Sage Narada was the supreme exponent of this doctrine. He observed: Tyago bhavati, tripto bhavati, atmaramo bhavati - The lover of God renounces everything; he is supremely content. He is immersed in the bliss of the Self. Endow me with such love, Oh Lord!


-- Divine Discourse Jan 19, 1986

For the realisation of the Supreme (Paramartha), Bhakti (devotion) is the royal road.


Perenungan terus-menerus pada wujud Tuhan dan secara teratur melakukan pengulangan nama Tuhan merupakan sarana yang memenuhi hati dengan kasih kepada Tuhan. Ketika ada kasih seperti ini, seorang bhakta dipenuhi oleh kebahagiaan dan kegembiraan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dalam keadaan kegembiraan seperti itulah Kulasekhara Alwar, seorang raja yang menjadi santo agung, berseru: “Oh Tuhan! Orang-orang berbicara tentang moksha (pembebasan) sebagai sarana untuk menyelamatkan hidup dan membebaskan diri dari kelahiran dan kematian. Aku tidak meminta penyelamatan seperti itu. Aku akan merasa bersyukur dengan dapat mencintai-Mu dan melayani-Mu dalam kehidupan yang tak terhitung jumlahnya. Izinkanlah aku mencintai-Mu dan melayani-Mu --itulah satu-satunya anugerah yang aku mohon dari-Mu, bukan moksha.” Seluruh alam semesta diliputi dengan kasih. Alam semesta merupakan perwujudan Vishnu. Tidak ada sesuatu pun di alam semesta, tidak ada tempat di dalamnya, di mana Vishnu tidak hadir. Memandang alam semesta sebagai manifestasi Tuhan dan mengalaminya demikian merupakan bhakti yang sejati. Resi Narada adalah tokoh utama yang mengajarkan prinsip ini. Narada menyatakan -- Tyago bhavati, tripto bhavati, atmaramo bhavati. "Pencinta Tuhan melepaskan segala sesuatu; ia mencapai kepuasan yang sempurna. Ia larut dalam kebahagiaan Sang Diri (Atma). Oh Tuhan, Anugerahkanlah diriku dengan kasih seperti itu!


-- Divine Discourse 19 Januari 1986

Bhakti (pengabdian) sebagai jalan utama menuju Realisasi Tertinggi (Paramartha)

Sunday, September 20, 2026

Thought for the Day - 20th September 2026 (Sunday)



Embodiments of love! Senses are like life principles for every man. Once you rein in your senses, your life will be peaceful. You should not only avoid evil talk, but should also talk less. Your speech should be short and sweet. Sages like Valmiki, Vyasa, and great devotees like Potana composed sacred texts and sanctified their lives. Emulate their ideals and make your life exemplary. Read sacred texts composed by such noble souls. Today, people read books which pollute the mind. It is a very bad practice. Be it reading, writing, seeing, or talking, let everything be good. Do not commit any mistake knowingly. You can experience Divinity in humanity by putting the senses to proper use. One can visualise the Divine manifestations and become Divine himself only through sacred use of the senses.


-- Divine Discourse Jul 05, 2001

True spiritual sadhana lies in controlling one’s senses. Without sense control, all spiritual sadhana will prove futile.


Perwujudan kasih! Indria-indria merupakan seperti prinsip hidup bagi setiap manusia. Ketika engkau mampu mengendalikan indriamu, maka hidupmu akan menjadi damai. Engkau tidak hanya menghindari pembicaraan yang buruk, tetapi juga kurangi berbicara. Perkataanmu hendaknya singkat, sederhana, dan manis. Para resi seperti Valmiki dan Vyasa, serta bhakta agung seperti Potana, telah menggubah kitab-kitab suci dan dengan demikian menyucikan kehidupan mereka. Teladanilah ideal-ideal mereka dan jadikan kehidupanmu sebagai kehidupan yang patut diteladani. Bacalah kitab-kitab suci yang ditulis oleh jiwa-jiwa mulia tersebut. Hari ini, orang-orang membaca buku-buku yang justru mencemari pikiran. Ini merupakan kebiasaan yang sangat buruk. Baik dalam membaca, menulis, melihat, maupun berbicara, hendaknya segala sesuatunya adalah baik. Jangan melakukan kesalahan dengan sengaja. Engkau dapat mengalami keilahian dalam diri umat manusia dengan menggunakan indria-indria secara tepat. Seseorang dapat melihat berbagai manifestasi Tuhan dan akhirnya menjadi Ilahi melalui penggunaan indria-indria secara suci.


-- Divine Discourse 5 Juli 2001

Sadhana spiritual yang sejati terletak pada pengendalian indria. Tanpa pengendalian indria, seluruh praktik sadhana spiritual akan menjadi sia-sia.

Saturday, September 19, 2026

Thought for the Day - 19th September 2026 (Saturday)



The heart of the devotee flows with love of the Lord through constant remembrance and recitation of His name. Out of this stream of love, devotion emerges. One who is nourished by the nectar of bhakti will have no desire for anything else. To be unaffected by joy or sorrow, gain or loss, praise or blame, and to remain steadfast and unwavering in faith - this is the hallmark of true devotion. Affection, attachment, and desire are natural qualities in man. When these qualities are directed towards God and when one is continuously engaged in good deeds, these qualities acquire purity and sacredness. Then a man becomes not only a great soul but can become divine. The devotee is ever conscious that the universe is a manifestation of the Divine and is permeated by the Divine. His life is based on the recognition of the immanence of God in everything. This state of mind is called Prema Advaitam (unity in Love). Through this love, the devotee experiences his oneness with the Divine. Enjoying the bliss of this experience, the devotee does not even desire moksha. Unremitting love of the Lord is everything for him. Such devotion is known as Ananya-bhakti.


-- Divine Discourse Jan 19, 1986

Devotion is the panacea for all ills. There is no Veda or Shastra superior to devotion. Divine love encompasses all sacred acts.


Hati dari bhakta mengalir dengan kasih kepada Tuhan melalui pengenangan yang terus-menerus dan pengulangan nama suci Tuhan. Dari aliran kasih inilah munculnya bhakti. Seseorang yang telah memperoleh nutrisi dari nektar bhakti tidak lagi memiliki keinginan terhadap hal-hal lainnya. Untuk menjadi tidak terpengaruh oleh suka maupun duka, keuntungan maupun kerugian, pujian maupun celaan, serta tetap teguh dan tidak tergoyahkan dalam keyakinan – ini adalah tanda dari bhakti yang sejati. Kasih sayang, keterikatan, dan keinginan merupakan sifat-sifat yang secara alami terdapat dalam diri manusia. Ketika sifat-sifat tersebut diarahkan kepada Tuhan dan seseorang terus-menerus terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang baik, maka sifat-sifat itu menjadi murni dan suci. Dengan demikian, manusia bukan hanya menjadi jiwa yang luhur, tetapi bahkan dapat mencapai keadaan Ilahi. Bhakta senantiasa menyadari bahwa alam semesta merupakan manifestasi dari Tuhan dan diliputi oleh Tuhan. Kehidupannya didasarkan pada pengakuan bahwa Tuhan hadir dan bersemayam dalam segala sesuatu. Keadaan pikiran seperti ini disebut Prema Advaitam, yaitu kesatuan dalam kasih. Melalui kasih ini, bhakta mengalami kesatuannya dengan Tuhan. Karena menikmati kebahagiaan dari pengalaman ini, bhakta bahkan tidak lagi menginginkan moksha, yaitu pembebasan. Kasih yang tidak pernah terputus kepada Tuhan adalah segalanya baginya. Pengabdian seperti itu yang dikenal sebagai Ananya-bhakti.


-- Divine Discourse 19 Januari 1986

Bhakti adalah obat bagi segala penyakit. Tidak ada Veda maupun Shastra yang lebih tinggi daripada bhakti. Kasih Tuhan mencakup seluruh perbuatan yang suci.

Friday, September 18, 2026

Thought for the Day - 18th September 2026 (Friday)



Bhakti (devotion) denotes a feeling of friendship coupled with awe. For one who is a creature of the gunas (satva, rajas, tamas), to understand what transcends the gunas, an attitude of humility and reverence is required. “Bhaja Sevayam” (worship the Divine through Seva). Bhakti calls for utilising the mind, speech, and body, and the three gunas, to worship the Lord. Devotion and love are inseparable and interdependent. Bhakti is the means to salvation. Love is the expression of bhakti. Narada declared that worshipping the Lord with boundless love is bhakti. Vyasa held that performing worship with love and adoration is bhakti. Garga Rishi declared that serving the Lord with purity of mind, speech, and body is bhakti. Yajnavalkya held that true bhakti consists in controlling the mind, turning it inwards, and enjoying the bliss of communion with the Divine. Another view of bhakti is the concentration of the mind on God and experiencing oneness with the Divine. Although many sages have expressed different views about the nature of bhakti, the basic characteristic of devotion is love.


-- Divine Discourse Oct 08, 1986

Among all forms of sadhana (spiritual pratices), Bhakti (devotion) is the easiest and holiest


Bhakti (pengabdian) menunjukkan perasaan persahabatan yang disertai dengan rasa kagum. Bagi manusia yang merupakan makhluk yang masih berada dalam pengaruh guna, yaitu sattva, rajas, dan tamas, diperlukan sikap rendah hati dan penuh penghormatan untuk dapat memahami sesuatu yang melampaui ketiga guna tersebut. “Bhaja Sevayam” berarti memuja Tuhan melalui Seva atau pelayanan. Bhakti menuntut penggunaan pikiran, perkataan, dan tubuh, serta ketiga guna, untuk memuja Tuhan. Bhakti dan kasih tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan. Bhakti merupakan sarana untuk menuju pembebasan. Kasih merupakan ungkapan dari Bhakti. Narada menyatakan bahwa memuja Tuhan dengan kasih yang tidak terbatas adalah Bhakti. Vyasa menyatakan bahwa melakukan pemujaan dengan kasih dan penghormatan adalah Bhakti. Resi Garga menyatakan bahwa melayani Tuhan dengan kesucian pikiran, perkataan, dan tubuh adalah Bhakti. Yajnavalkya berpandangan bahwa Bhakti yang sejati terdapat dalam mengendalikan pikiran, mengarahkannya ke dalam diri, dan menikmati kebahagiaan yang muncul dari penyatuan dengan Tuhan. Pandangan lain mengenai Bhakti adalah memusatkan pikiran kepada Tuhan dan mengalami kesatuan dengan Tuhan. Meskipun banyak resi memberikan pandangan yang berbeda mengenai hakikat Bhakti, karakteristik dasar dari Bhakti adalah kasih.


-- Divine Discourse 8 Oktober 1986

Di antara semua bentuk sadhana (praktik spiritual), Bhakti adalah jalan yang paling mudah dan paling suci.

Thursday, September 17, 2026

Thought for the Day - 17th September 2026 (Thursday)



What is the aim of human life? What is a man’s duty? It is to discover this truth that God has endowed man with a body to render help to others - Paropakarartham idam shareeram. We live in a society, depending on it for our needs. But, forgetting what they owe to society, people lead selfish and self-centred lives. Service to society is the primary karma (duty). Concern for the welfare of all is bhakti (devotion). “Let all people be happy.” Awareness of this feeling is jnana (true knowledge). Without recognising the duty to serve society, without concern for the welfare of society, how can the all-encompassing desire for the happiness of all, which is devotion, arise in anyone? These three are intimately related like a flower, tender fruit, and ripe fruit. The fruit of devotion confers the wisdom which eliminates differences. Devotion is a fragment of the Divine. Without devotion, awareness of the Divine cannot be experienced. Equally, devotion without consciousness of the Divine can only breed ahamkara (egoism).


-- Divine Discourse Aug 21, 1994

You are all caskets of divine love; share it, spread it. Express that love in acts of service, words of sympathy, and thoughts of compassion.


Apakah tujuan hidup manusia? Apa kewajiban manusia? Tujuan hidup manusia adalah menemukan kebenaran bahwa Tuhan telah menganugerahkan tubuh kepada manusia untuk memberikan pertolongan kepada orang lain: Paropakarartham idam shareeram. Kita hidup dalam masyarakat dan bergantung pada masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan kita. Namun, dengan melupakan apa yang menjadi kewajibannya kepada masyarakat, manusia justru menjalani kehidupan yang egoistis dan berpusat pada kepentingan diri sendiri. Pelayanan kepada masyarakat adalah Karma (kewajiban) yang utama. Kepedulian terhadap kesejahteraan semua orang adalah Bhakti (pengabdian). “Semoga semua manusia berbahagia.” Kesadaran akan perasaan dan prinsip tersebut merupakan Jnana (pengetahuan sejati). Tanpa menyadari kewajiban untuk melayani masyarakat, dan tanpa kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat, bagaimana mungkin dalam diri seseorang dapat tumbuh keinginan yang mencakup semua makhluk untuk mencapai kebahagiaan bagi semuanya, yang merupakan wujud dari Bhakti? Ketiga hal ini saling berkaitan erat, seperti bunga, buah yang masih muda, dan buah yang telah matang. Buah dari Bhakti memberikan Jnana, yaitu kebijaksanaan yang menghapuskan perbedaan. Bhakti merupakan bagian dari Tuhan. Tanpa Bhakti, kesadaran akan Tuhan tidak dapat dialami. Sama halnya, Bhakti tanpa kesadaran akan Tuhan hanya dapat melahirkan Ahamkara (egoisme).


-- Divine Discourse 21 Agustus 1994

Engkau semua adalah wadah-wadah kasih Tuhan; bagikanlah kasih itu dan sebarkanlah. Wujudkan kasih tersebut melalui tindakan pelayanan, perkataan yang penuh simpati, dan pikiran yang penuh welas asih.

Wednesday, September 16, 2026

Thought for the Day - 16th September 2026 (Wednesday)



The sages of India gave up the paths of superficial pomp and temporary security; they sought to gain inner peace and lasting joy. They discovered that these can be gained only by drawing the sap of life through the roots of one’s own inner reality called Atma (soul). Though this lesson, which was revealed to them by God, is repeated, elaborated and propagated all these centuries by countless scholars, poets and speakers, very few accept it as the basis of life. The insect on the wing is snapped up by the frog’s leaping tongue; the frog is caught unawares by the jaws of the snake; the snake is killed by the peacock; the peacock is killed by the hunter. One living thing is food for another; death lies in wait at every turn of day and night. Man is stalked ceaselessly by death; it may pounce any moment on its prey. He is not conscious of this companion; he has not learned how to meet him and rob him of the fruits of his exploit. The Atma does not die; only the body dies. When man knows this, death loses his sting; death is not feared; death is but a welcome voyage into the known harbour.


-- Divine Discourse Feb 23, 1968

Be always full of joy so that when death calls, you can quit with a light laugh, and not whimper in grief 


Para resi India meninggalkan jalan kemegahan yang bersifat dangkal dan keamanan yang bersifat sementara; mereka mencari untuk mendapatkan kedamaian batin dan kebahagiaan yang abadi. Mereka menemukan bahwa keduanya hanya dapat diperoleh dengan menyerap sumber kehidupan melalui akar dari realitas batin seseorang sendiri, yang disebut Atma atau jiwa. Meskipun ajaran ini, yang disingkapkan kepada mereka oleh Tuhan, telah diulang, dijelaskan, dan disebarluaskan selama berabad-abad oleh begitu banyak cendekiawan, penyair, dan pembicara, sangat sedikit orang yang benar-benar menerimanya sebagai landasan hidup. Serangga yang terbang di udara dapat disambar oleh lidah katak yang melompat; katak itu kemudian dapat ditangkap tanpa disadarinya oleh rahang seekor ular; ular tersebut dapat dibunuh oleh burung merak; burung merak itu kemudian dapat dibunuh oleh seorang pemburu. Satu makhluk hidup menjadi makanan bagi makhluk hidup lainnya; kematian menanti pada setiap saat, baik siang maupun malam. Manusia terus-menerus telah dikuntit oleh kematian; kematian dapat datang dan mengambil hidupnya kapan saja. Namun, manusia tidak menyadari keberadaan “pendamping” ini; manusia belum belajar bagaimana menghadapinya dan merampas hasil dari keberhasilannya. Atma tidak mengalami kematian; hanya tubuh yang mati. Ketika manusia memahami hal ini, kematian kehilangan daya sengatnya; kematian tidak lagi ditakuti; kematian dipandang sebagai perjalanan yang disambut menuju pelabuhan yang telah dikenal.


-- Divine Discourse 23 Februari 1968

Selalulah penuh dengan suka cita, sehingga ketika kematian memanggil, engkau dapat meninggalkan dunia ini dengan senyum ringan, bukan dengan ratapan penuh kesedihan.

Tuesday, September 15, 2026

Thought for the Day - 15th September 2026 (Tuesday)



Active workers (of the Sri Sathya Sai Seva Organisations) should have no feeling of arrogance or ostentation in carrying on their activities. They must be broad-minded, completely free from selfish concerns, and must develop love towards all. Active workers are the spinal cord of the Sai Organisation. They should understand what human qualities are and practise them in their life. Without having the right attitude, service done demonstratively in a spirit of self-conceit is a travesty of service. They should rid themselves of the sense of “mine” and “thine”. Preoccupation with one’s own welfare and happiness is the bane of the dualistic mentality. It breeds discontent and sorrow. Feelings of attachment and aversion sully the mind, and only through service can such a mind be purified. External observances like bathing several times a day and smearing vibhuti all over and mouthing mantras mechanically will not serve to cleanse the mind of impurities. These are only outward shows, with nothing spiritual about them.


-- Divine Discourse Nov 19, 1987

Men must outgrow their selfish tendencies and learn to regard the whole of mankind as one family. That is true service. 


Para pekerja aktif dalam Organisasi Sri Sathya Sai Seva hendaknya tidak memiliki perasaan sombong ataupun keinginan untuk memamerkan kegiatan yang mereka lakukan. Mereka harus berpikiran luas, sepenuhnya bebas dari kepentingan pribadi, dan harus mengembangkan kasih kepada semua orang. Para pekerja aktif merupakan tulang punggung Organisasi Sai. Mereka harus memahami apa yang dimaksud dengan kualitas-kualitas manusia dan mempraktikkannya dalam kehidupan mereka sendiri. Tanpa memiliki sikap yang benar, pelayanan yang dilakukan secara demonstratif dan didorong oleh kesombongan diri merupakan penyimpangan dari makna pelayanan yang sebenarnya. Mereka harus membebaskan diri dari perasaan “milikku” dan “milikmu”. Terlalu sibuk memikirkan kesejahteraan dan kesenangan diri sendiri merupakan kelemahan dari mentalitas yang dualistis. Hal tersebut melahirkan ketidakpuasan dan penderitaan. Perasaan keterikatan dan penolakan mengotori pikiran, dan hanya melalui pelayanan pikiran seperti itu dapat dimurnikan. Praktik-praktik lahiriah seperti mandi berkali-kali dalam sehari, mengoleskan vibhuti ke seluruh tubuh, atau mengucapkan mantra secara mekanis tidak akan mampu membersihkan pikiran dari segala kekotoran. Semua itu hanyalah penampilan lahiriah, tanpa makna spiritual apabila tidak disertai transformasi batin.


-- Divine Discourse 19 November 1987

Manusia harus melampaui kecenderungan egoistisnya dan belajar memandang seluruh umat manusia sebagai satu keluarga. Itulah pelayanan yang sejati.  

Sunday, September 13, 2026

Thought for the Day - 13th September 2026 (Sunday)


 

What is the esoteric meaning of Ganesha's elephant head? The elephant is noted for its acute intelligence. Ganesha's elephant head symbolises sharpness of intellect and the highest power of discrimination. Because of the purity of his intellect, Vinayaka is also called the giver of Buddhi (intellect).  Once, Vyasa embarked upon writing the Mahabharata. Because of the immensity of the task of writing down millions of verses, Vyasa sought the help of Brihaspati, the preceptor of the Devas, for a suitable scribe. Brihaspati told Vyasa that none but Vinayaka could carry out the work. Vyasa appealed to Vinayaka for aid. Vyasa stipulated that everything that was written should be understood by the scribe. Ganesha, in his turn, laid down a condition that Vyasa should not pause in dictating the verses so that the stylus with which he would be inscribing the verses on the palm leaves should have no rest. Vinayaka could write down the entire Mahabharata because he was the embodiment of all knowledge. Vyasa could accomplish his prodigious task with Ganesha's aid.


-- Divine Discourse Sep 04, 1989

Vinayaka always appears serene and calm. By his grace, the devotee must seek to achieve similar equanimity, whatever may be the ups and downs in life


Apakah makna esoteris dari kepala gajah pada Ganesha? Gajah dikenal memiliki kecerdasan yang tajam. Kepala gajah pada Ganesha melambangkan ketajaman intelek dan kemampuan membedakan (discrimination) yang tertinggi. Karena kemurnian inteleknya, Vinayaka juga disebut sebagai pemberi Buddhi (intelek). Pada suatu ketika, Vyasa mulai menulis Mahabharata. Karena begitu besarnya tugas untuk menuliskan jutaan bait, Vyasa meminta bantuan Brihaspati, guru para Dewa, untuk mencari seorang juru tulis yang tepat. Brihaspati mengatakan kepada Vyasa bahwa tidak ada seorang pun selain Vinayaka yang mampu melaksanakan tugas tersebut. Vyasa kemudian memohon bantuan Vinayaka. Vyasa menetapkan suatu syarat: setiap bait yang dituliskan harus terlebih dahulu dipahami oleh sang juru tulis. Ganesha, pada gilirannya, menetapkan syarat bahwa Vyasa tidak boleh berhenti sejenak pun ketika mendiktekan bait-bait tersebut, sehingga pena yang digunakannya untuk menuliskan bait pada daun lontar tidak boleh berhenti. Vinayaka mampu menuliskan seluruh Mahabharata karena ia adalah perwujudan seluruh pengetahuan. Dengan bantuan Ganesha, Vyasa berhasil menyelesaikan tugasnya yang luar biasa besar tersebut.


-- Divine Discourse 4 September 1989

Vinayaka senantiasa tampil dalam keadaan tenang dan damai. Dengan anugerah-Nya, seorang bhakta hendaknya berusaha mencapai ketenangan batin yang serupa, apa pun pasang surut yang terjadi dalam kehidupan.

Saturday, September 12, 2026

Thought for the Day - 12st September 2026 (Saturday)



One should be prepared to serve others rather than choose to be served by them. Moreover, there is nothing meritorious in serving those who are high above us. For one thing, they can command the services of attendants. Rendering service to those who are in the same position as ourselves is not commendable. Service should be rendered to those who are worse off than ourselves and who are neglected by the world. There are three levels of people in the world. At the highest level are those who may be placed in the category of Lakshmi Narayana. Those who are in the same stage as ourselves are in the category of Ashwatha Narayana. Those who are poorer than ourselves may be described as Daridra Narayana. There is no need to render service to one who is Lakshmi Narayana, as there will be servants to take care of him. Ashwatha Narayana is the type of person who is filled with endless desires and is never contented, whatever his accomplishments or earnings. Service to such a person is unnecessary. It is the weak, the destitute, and the helpless who need to be served. Even in rendering service to such persons, there should be no feeling that we are serving ‘others’. We should feel that we are serving the Lord Narayana who dwells in them.


-- Divine Discourse Nov 19, 1987

When service is rendered in a total spirit of dedication, with concentration of thought, word, and deed, the heart gets sanctified.


Seseorang harus siap melayani orang lain daripada memilih untuk dilayani oleh mereka. Selain itu, tidak ada nilai kebajikan dalam melayani mereka yang kedudukannya jauh lebih tinggi daripada kita. Salah satu alasannya adalah karena mereka dapat memerintahkan para pelayan untuk melayani diri mereka. Melakukan pelayanan pada mereka kedudukan yang sama dengan kita juga tidaklah terlalu patut dipuji. Pelayanan seharusnya diberikan kepada mereka yang keadaannya lebih buruk daripada kita dan yang terabaikan oleh dunia. Ada tiga level manusia di dunia. Pada level tertinggi adalah mereka yang dapat ditempatkan dalam kategori Lakshmi Narayana. Mereka yang berada pada tingkatan yang sama dengan kita termasuk dalam kategori Ashwatha Narayana. Sedangkan mereka yang lebih miskin daripada kita dapat disebut Daridra Narayana. Tidak ada kebutuhan untuk memberikan pelayanan kepada seseorang yang termasuk Lakshmi Narayana, karena akan ada pelayan yang merawatnya. Ashwatha Narayana adalah jenis orang yang dipenuhi oleh keinginan yang tidak pernah berakhir dan tidak pernah merasa puas, apa pun pencapaian maupun penghasilannya. Melayani orang seperti itu tidaklah diperlukan. Mereka yang lemah, terlantar, dan tidak berdaya yang membutuhkan pelayanan. Namun, bahkan ketika memberikan pelayanan kepada mereka, jangan sampai muncul perasaan bahwa kita sedang melayani ‘orang lain’. Kita harus merasakan bahwa kita sedang melayani Tuhan Narayana yang bersemayam di dalam diri mereka.


-- Divine Discourse 19 November 1987

Ketika pelayanan dilakukan dengan semangat pengabdian sepenuhnya, dengan pikiran, perkataan, dan tindakan yang terpusat, hati menjadi disucikan.

Friday, September 11, 2026

Thought for the Day - 11th September 2026 (Friday)



In the devotion of Bharatiyas, we sometimes find situations bordering on the absurd. But spiritual feelings and love are the undercurrents even in this seemingly senseless behaviour. A student prays to God to do well in exams. A man prays to God to win a court case. Why go that far? People pray even to secure a seat in a bus! In this way, Bharatiyas depend on God for everything, from the smallest to the biggest things. This may be called divine madness. Some call it foolishness. Whatever anyone may say, each is entitled to their own hunger, their own faith, their own kind of madness. No one has the right to deny another’s faith. But certain foundations are necessary even for faith. The presence of the groom doesn’t mean that the marriage is done. Having money does not imply that you can run a business. Some additional know-how is required. You cannot be considered a writer by knowing the alphabet. Only the one who understands the meanings of words can be an author. Similarly, you cannot recognise God with worldly knowledge. Spiritual knowledge is essential. To acquire it, inquire into the Truth.


-- Summer Showers, May 20, 1995

Have faith; do not allow it to shake because someone else has no faith


Dalam bhakti dari masyarakat Bharat, kita terkadang menemukan keadaan yang mendekati sesuatu yang tidak masuk akal. Namun, di balik perilaku yang tampaknya tidak masuk akal itu, sebenarnya terdapat perasaan spiritual dan kasih yang menjadi arus yang mendasarinya. Seorang siswa berdoa kepada Tuhan agar memperoleh hasil yang bagus dalam ujian. Seseorang berdoa kepada Tuhan agar memenangkan perkara di pengadilan. Mengapa harus sampai sejauh itu? Orang-orang bahkan berdoa agar mendapatkan tempat duduk di dalam bus! Dengan cara demikian, masyarakat Bharat menggantungkan diri kepada Tuhan dalam segala hal, mulai dari persoalan yang paling kecil hingga yang paling besar. Hal ini dapat disebut sebagai “kegilaan Ilahi”. Sebagian orang mungkin menyebutnya kebodohan. Apa pun yang dikatakan orang lain, setiap orang berhak memiliki rasa lapar spiritualnya sendiri, keyakinannya sendiri, dan bentuk “kegilaannya” sendiri. Tidak seorang pun berhak menyangkal keyakinan orang lain. Namun, bahkan keyakinan pun memerlukan landasan tertentu. Kehadiran seorang pengantin pria tidak berarti bahwa pernikahan telah terlaksana. Memiliki uang tidak berarti bahwa seseorang otomatis mampu menjalankan sebuah bisnis. Masih diperlukan pengetahuan dan keterampilan tambahan. Demikian pula, seseorang tidak dapat disebut sebagai penulis hanya karena mengetahui abjad. Hanya orang yang memahami makna kata-kata yang dapat menjadi seorang pengarang. Sama halnya, engkau tidak bisa menyadari Tuhan dengan pengetahuan duniwai. Pengetahuan spiritual adalah bersifat mendasar. Untuk bisa mendapatkan pengetahuan spiritual ini, selidikilah ke dalam Kebenaran.


-- Summer Showers, 20 Mei 1995

Milikilah keyakinan; jangan biarkan keyakinan menjadi goyah karena orang lain tidak memiliki keyakinan

Thursday, September 10, 2026

Thought for the Day - 10th September 2026 (Thursday)



Man is an amalgam of humanity, animality, and Divinity. It is a tragedy if he cannot get rid of the animality; it is a greater tragedy if he cannot cultivate his Divinity. Contemplation of the Rama and Krishna Avatars and their leelas (Divine plays) and mahimas (miracle powers) is the surest method of cultivating the Divine in man. Before every incarnation, two collaborators for the task on which the incarnation comes also appear - the Mayashakti (deluding power) and Yogashakti (power of communion with the Divine). Maya comes as the elder sister to warn the wicked; Yoga comes as the elder brother to enthuse and keep constant company. Maya thrust Kamsa deeper and deeper into perdition, so that his downfall would be more terrible and educative. But, in this Kali age, the wicked have to be reformed and reconstructed through love and compassion. That is why this Avatar has come unarmed. It has come with the message of love. The only weapon, which can transform the vile and the vicious, is the Name of the Lord uttered with Love.


-- Divine Discourse, Jul 28, 1967

The Divine Name is redolent with Divine Glory; so when it is turned over in the mind, it transmutes it into an instrument for liberation from delusion. 


Manusia merupakan perpaduan antara kemanusiaan, sifat kebinatangan, dan sifat ketuhanan. Sungguh merupakan sebuah tragedi apabila manusia tidak mampu melenyapkan sifat kebinatangan; menjadi tragedi yang lebih besar apabila manusia tidak mampu mengembangkan sifat ketuhanannya. Merenungkan Avatar Rama dan Krishna, serta leela atau permainan Ilahi dan mahima atau kemahakuasaan-Nya, merupakan salah satu cara yang paling pasti untuk mengembangkan sifat ketuhanan yang ada dalam diri manusia. Sebelum setiap kehadiran Avatar, dua kekuatan yang membantu pelaksanaan tugas Avatar juga muncul, yaitu Mayashakti (kekuatan yang memperdaya manusia, dan Yogashakti (kekuatan yang menghubungkan manusia dengan Yang Ilahi). Maya hadir sebagai kakak perempuan untuk memperingatkan orang-orang jahat; sedangkan Yoga hadir sebagai kakak laki-laki untuk memberikan semangat dan senantiasa mendampingi. Maya mendorong Kamsa semakin dalam dan semakin dalam menuju kehancuran, sehingga kejatuhannya menjadi lebih dahsyat sekaligus memberikan pelajaran. Namun, pada zaman Kali Yuga, orang-orang jahat harus diperbaiki dan dibentuk kembali melalui kasih dan welas asih. Itulah sebabnya Avatar ini datang tanpa senjata. Ia datang membawa pesan kasih. Satu-satunya senjata yang mampu mengubah yang keji dan jahat adalah Nama Tuhan yang diucapkan dengan penuh kasih.


-- Divine Discourse, 28 Juli 1967

Nama Tuhan mengandung kemuliaan Tuhan; oleh karena itu, ketika Nama Tuhan terus diulang dan direnungkan dalam pikiran, ia mengubah pikiran tersebut menjadi sarana untuk membebaskan diri dari belenggu ilusi. 

Wednesday, September 9, 2026

Thought for the Day - 9th September 2026 (Wednesday)



Rendering service selflessly with a compassionate heart is alone true service. One is bound to attain the abode of peace if he serves in a friendly spirit. This is the truth (Telugu Poem). Embodiments of the Divine Atma! You have to recognise that life is meant for selfless service and not to be lived for selfish purposes. Only through such service can the oneness of mankind be experienced. Unselfish service is the sheet-anchor of karma yoga (Divine dedication through action). The basis of yoga is disciplining the mind and the body through selfless service. Society honours only such persons who serve society. Such persons earn the grace of God. Every individual has to realise the paramount importance of selfless service. The spirit of service should be coupled with readiness for sacrifice. Only then can it be called selfless service, free from any taint of self-interest. Such service is like salt that lends savour to life. Universal love sustains life by its nourishment. Love is the life-breath of man. Magnanimity of spirit lends fragrance to life.


-- Divine Discourse, Nov 19, 1987

However eminent a person may be, he must realise that the main purpose of life is to render dedicated service to one’s fellow men. 


Memberikan pelayanan tanpa pamrih dengan hati yang penuh welas asih adalah satu-satunya pelayanan yang sejati. Seseorang pasti mencapai kediaman kedamaian apabila ia melayani dengan semangat persahabatan. Inilah kebenaran (Puisi dalam bahasa Telugu). Perwujudan Atma Ilahi! Engkau harus menyadari bahwa hidup dimaksudkan untuk pelayanan tanpa pamrih, bukan untuk hidup yang dijalani demi kepentingan diri sendiri. Hanya melalui pelayanan seperti inilah kesatuan umat manusia dapat dialami. Pelayanan tanpa pamrih merupakan landasan utama Karma Yoga (pengabdian kepada Tuhan melalui tindakan). Dasar dari yoga adalah mendisiplinkan pikiran dan tubuh melalui pelayanan tanpa pamrih. Masyarakat hanya menghormati orang-orang yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Orang-orang seperti itu memperoleh anugerah Tuhan. Setiap individu harus menyadari betapa pentingnya pelayanan tanpa pamrih. Semangat melayani harus disertai dengan kesiapan untuk berkorban. Hanya dengan demikian pelayanan tersebut dapat disebut pelayanan tanpa pamrih, yang terbebas dari segala kepentingan pribadi. Pelayanan seperti itu bagaikan garam yang memberikan rasa pada kehidupan. Kasih universal menopang kehidupan melalui kekuatannya yang memelihara dan menghidupi. Kasih adalah napas hidup manusia. Kelapangan hati memberikan keharuman pada hidup.


-- Divine Discourse, 19 November 1987

Betapapun terkenalnya seseorang, ia harus menyadari bahwa tujuan utama hidup adalah memberikan pelayanan penuh pengabdian kepada sesama manusia.

Monday, September 7, 2026

Thought for the Day - 7th September 2026 (Monday)

     


If you take the love of the Gopis (milkmaids of Brindavan), you may ask for what purpose did they love Krishna. They had no concern for worldly things. They were concerned only with the spiritual quest. Anyone looking at the Gopis’ conduct from a worldly point of view might regard their actions as improper. Likewise, Prahlada’s love for the Divine was not understood by those who judged him from a worldly point of view. Would Prahlada have been able to bear with indifference all the tortures to which he was subjected if he were a worldly person? He went through ordeals as a child which no man could have endured. When the king’s minions goaded him with spears, he prayed to the Lord and praised His glories without shedding a tear or showing any sign of fear. If his devotion had been concerned with worldly desires, should he not have shed tears? Should he not have displayed fear, being a mere child? He did not do so because Lord Narayana was installed in his heart. The Lord’s name was ever on his tongue. The Narayana consciousness filled his entire being from head to foot. Because of this, none of the pains inflicted on him by physical instruments affected him at all. With his thoughts centred on God, the pains of the world did not affect him. 


-- Divine Discourse, Jul 14, 1984

Few can understand the ways in which devotion manifests itself among the lovers of God. Human relations come and go; the association with God is eternal.


Jika engkau melihat kasih para Gopi (para penggembala susu perempuan di Brindavan), engkau mungkin bertanya: apa tujuan mereka mencintai Krishna? Mereka tidak memiliki kepentingan terhadap hal-hal duniawi. Perhatian mereka semata-mata tertuju pada pencarian spiritual. Siapapun yang menilai perilaku para Gopi hanya dari sudut pandang duniawi mungkin menganggap tindakan mereka tidak pantas. Demikian pula, kasih Prahlada kepada Tuhan tidak dapat dipahami oleh mereka yang menilainya hanya berdasarkan pandangan duniawi. Apakah Prahlada akan mampu menghadapi semua penyiksaan yang ditimpakan kepadanya dengan ketenangan dan ketidakpedulian seandainya ia adalah seorang yang hanya terikat pada kehidupan duniawi? Sebagai seorang anak, ia menghadapi berbagai penderitaan yang mungkin tidak mampu ditanggung oleh orang dewasa sekalipun. Ketika para prajurit raja menusuk dan mengancamnya dengan tombak, ia justru berdoa kepada Tuhan dan memuji kemuliaan-Nya tanpa meneteskan air mata atau menunjukkan sedikit pun rasa takut. Jika baktinya kepada Tuhan didorong oleh keinginan-keinginan duniawi, bukankah seharusnya ia menangis? Bukankah sebagai seorang anak kecil ia seharusnya menunjukkan rasa takut? Prahlada tidak melakukannya karena Tuhan Narayana telah bersemayam di dalam hatinya. Nama Narayana senantiasa berada di bibirnya. Kesadaran akan Narayana memenuhi seluruh keberadaannya, dari kepala hingga kaki. Karena itulah, penderitaan yang ditimbulkan oleh berbagai perlakuan fisik sama sekali tidak mampu menggoyahkan dirinya. Pikirannya terpusat kepada Tuhan, sehingga penderitaan duniawi tidak mampu memengaruhinya.


-- Divine Discourse, 14 Juli 1984

Hanya sedikit orang yang mampu memahami bagaimana bhakti terwujud diantara para pencinta Tuhan. Hubungan antarmanusia datang dan pergi; hubungan dengan Tuhan bersifat kekal.

Sunday, September 6, 2026

Thought for the Day - 6th September 2026 (Sunday)



Books are not intended merely to be read. Sacred scriptures like the Quran, the Bible, the Upanishads, the Zend Avesta, the Granth Saheb, and others are worshipped in shrines today. But no attempt is made to live up to their teachings. People are forgetting the purposes for which these sacred books came into existence. By mere study of books, no change can take place in our lives. What is studied must be put into practice. Knowledge that is not put into practice is like food that is not digested. When you want to digest food, you have to chew it well and take it in an easily digestible form. This means that it is not enough to browse through a book, but one must study it deeply, reflect on its contents, and absorb its meaning so that one can practice what one has learned. That is why all religious books have emphasised the doctrine of action. In such a context, there is no purpose in indulging in intellectual speculation without putting knowledge into practice.


-- Divine Discourse, Jul 14, 1984

Revere not the volume (Grantha), but the matter expounded therein. Install it not on the altar, but in the heart.


Buku tidak dimaksudkan hanya untuk dibaca. Kitab-kitab suci seperti Al-Qur’an, Alkitab, Upanishad, Zend Avesta, Granth Sahib, dan kitab-kitab suci lainnya kini bahkan ditempatkan dan dihormati di tempat-tempat ibadah. Namun, tidak ada upaya untuk menjalankan ajaran yang terkandung di dalamnya. Manusia mulai melupakan tujuan mengapa kitab-kitab suci tersebut hadir. Hanya dengan membaca dan mempelajari buku, tidak serta-merta terjadi perubahan dalam kehidupan kita. Apa yang dipelajari harus diwujudkan dalam tindakan. Pengetahuan yang tidak dipraktikkan ibarat makanan yang tidak dicerna. Ketika engkau ingin mencerna makanan, engkau harus mengunyahnya dengan baik dan mengonsumsinya dalam bentuk yang mudah dicerna. Demikian pula dengan pengetahuan adalah tidak cukup hanya membuka dan membaca sekilas sebuah buku, namun seseorang harus mempelajarinya secara mendalam, merenungkan isinya, serta menyerap maknanya, sehingga seseorang dapat mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Itulah sebabnya mengapa semua kitab keagamaan menekankan ajaran tentang tindakan dan pelaksanaan. Dalam konteks ini, tidak ada gunanya terlibat dalam spekulasi intelektual semata jika pengetahuan yang diperoleh tidak diwujudkan dalam praktik. 


-- Divine Discourse, 14 Juli 1984

Janganlah hanya memuliakan kitabnya (Grantha), tetapi hayatilah ajaran yang dijelaskan di dalamnya. Jangan menempatkannya hanya di atas altar, tetapi tempatkanlah ajarannya di dalam hati.

Saturday, September 5, 2026

Thought for the Day - 5th September 2026 (Saturday)



The Guru is referred to reverentially as Brahma, the first of the Trinity entrusted with Creation; as Vishnu, the One entrusted with preservation; and as Maheshwara, charged with destruction and dissolution. This description is symbolically correct, as we can see when we analyse the work the Teacher or Guru is expected to carry out. The Guru sows the seeds of virtue, wisdom, and faith in the heart of the pupil. He is therefore Brahma. He is like the farmer who plants saplings in the well-prepared soil of his field. But the farmer does not sit with folded hands thereafter. He takes incessant care to see that the saplings grow well, and he is vigilant to water the growing crops and feed them with fertilisers at the appropriate stages of growth. This is the role of Vishnu. The Guru cannot sit back and silently watch the fate of the pupil after the first few lessons. He has to guide the pupil at every step, foster and encourage good habits, sound reasoning and valid emotions, and act as Vishnu. The Guru also has the duty to warn the pupil when he takes a false step, or develops a bad habit, or entertains a deleterious doubt. Like the farmer who has to be vigilant against the growth of weeds or the upsurge of pests, the Guru too must be ever alert to destroy the pests of vice and the weeds of sloth and unsteadiness.


-- Divine Discourse, Jan 03, 1974

Teachers are the sculptors who shape the rocks into things of beauty and significance, of utility and inspiration. 


Guru secara penuh penghormatan disebut sebagai Brahma, yaitu yang pertama dari Trimurti yang bertanggung jawab atas penciptaan; sebagai Vishnu, yang bertanggung jawab atas pemeliharaan; dan sebagai Maheshwara (Shiva), yang bertugas melakukan penghancuran dan peleburan. Gambaran ini benar secara simbolis apabila kita memahami ketika kita menganalisa tugas yang diharapkan dilakukan oleh seorang pengajar atau Guru. Guru menanamkan benih-benih kebajikan, kebijaksanaan, dan keyakinan di dalam hati peserta didiknya. Karena itu, ia adalah Brahma. Ia seperti seorang petani yang menanam bibit di tanah ladangnya yang telah dipersiapkan dengan baik. Namun, setelah menanam bibit, petani tidak kemudian duduk berpangku tangan. Ia terus merawat tanaman agar tumbuh dengan baik, dan ia mengawasi kebutuhan tanaman, menyiraminya, dan memberikan pupuk pada tahap pertumbuhan yang tepat. Ini adalah peran dari Wisnu. Guru tidak dapat berdiam diri dan hanya menyaksikan perjalanan peserta didik setelah memberikan beberapa pelajaran pertama. Ia harus membimbing peserta didik pada setiap langkah, menumbuhkan dan mendorong kebiasaan yang baik, penalaran yang benar, serta mengenali dan menerima perasaan orang lain tanpa menghakimi. Dengan demikian, ia menjalankan peran Wisnu. Guru juga memiliki kewajiban untuk memperingatkan peserta didik ketika ia mengambil langkah yang keliru, mengembangkan kebiasaan buruk, atau memelihara keraguan yang merugikan. Seperti seorang petani yang harus waspada terhadap tumbuhnya gulma dan munculnya hama, seorang Guru juga harus senantiasa waspada untuk melenyapkan hama keburukan serta mencabut gulma kemalasan dan ketidakmantapan dalam diri peserta didik.


-- Divine Discourse, 3 Januari 1974

Para guru adalah pemahat yang membentuk batu-batu menjadi sesuatu yang indah dan bermakna, berguna dan menginspirasi.

Friday, September 4, 2026

Thought for the Day - 4th September 2026 (Friday)



Among devotional disciplines, installing a picture or idol of the Lord in the home and adoring it, is the least valuable. The celebration of Krishna Janmashtami should not be confined to special worship and extra dishes for lunch. People do this to attract the grace of Krishna. But that grace can be won only by the observance of the teachings of Krishna. They will not be conferred on pride and pompous display. Adoring Krishna and avoiding His teachings is a sacrilege. You can give up the adoration; nevertheless, you can earn grace if you sincerely attempt to proceed on the path He has marked out. Krishna was the embodiment of love. Hence, love is the virtue He appreciates most. Love has to turn into concrete acts of compassion. Cultivate compassion and develop sympathetic understanding until you reach the goal of merging in the Embodiment of Love, Krishna. There are many among you who are engaged in sadhana. What is the basic purpose of sadhana? Each exercise of the sadhaka (spiritual aspirant) is a stream that moves on to the sea of grace. Believe that the love that prompts you to serve and sympathise is a spark of the love of God.


-- Divine Discourse, Aug 14, 1979

Repeat the name Krishna in your mind every moment of your life. You will find it sweeter than sugar or honey; indeed, it will taste more delicious than ambrosia.


Di antara berbagai disiplin spiritual, memasang gambar atau arca Tuhan di rumah dan memujanya, merupakan bentuk yang paling sederhana. Perayaan Krishna Janmashtami hendaknya tidak dibatasi hanya pada melakukan pemujaan khusus dan menyiapkan hidangan tambahan untuk makan siang. Orang-orang melakukan ini untuk menarik anugerah Krishna. Namun, anugerah tersebut hanya dapat diperoleh dengan menjalankan ajaran-ajaran Krishna. Anugerah Tuhan tidak diberikan kepada kesombongan dan pertunjukan kemegahan yang berlebihan. Memuja Krishna tetapi mengabaikan ajaran-Nya merupakan penistaan. Engkau bahkan dapat meninggalkan ritual pemujaan; namun, engkau dapat memperoleh anugerah-Nya jika engkau dengan tulus berusaha berjalan di jalan yang telah ditunjukkan-Nya. Krishna adalah perwujudan kasih. Karena itu, kasih merupakan kualitas luhur yang paling dihargai-Nya. Kasih harus diwujudkan dalam tindakan nyata berupa welas asih. Tumbuhkanlah welas asih dan kembangkanlah pengertian yang penuh simpatik sampai akhirnya engkau mencapai tujuan, yaitu menyatu dengan Sang Perwujudan Kasih, Krishna. Ada banyak di antara dirimu yang sedang menjalankan sadhana atau latihan spiritual. Apakah tujuan mendasar dari sadhana? Setiap latihan yang dilakukan oleh seorang sadhaka atau pencari spiritual merupakan aliran yang terus mengalir menuju samudra anugerah Tuhan. Percayalah bahwa kasih yang mendorongmu untuk melayani dan turut merasakan penderitaan orang lain merupakan percikan dari kasih Tuhan.


-- Divine Discourse, 14 Agustus 1979

Lantunkan berulang kali nama Krishna dalam pikiranmu setiap saat sepanjang hidupmu. Engkau akan merasakan bahwa nama-Nya lebih manis daripada gula atau madu; bahkan, rasanya akan lebih nikmat daripada amrita, minuman keabadian.

Thursday, September 3, 2026

Thought for the Day - 3rd September 2026 (Thursday)



Krishna’ is derived from the root ‘Krish’, which means (1) to attract, (2) to plough and cultivate, and (3) the Divine principle beyond time, space and causation. Krishna, like all Avatars, attracts not only seekers, saints and sages but the simple, the innocent and the good. He also draws the curious, the critics, the sceptics and those who suffer from atheism. He draws them towards Himself by the irresistible charm of His person, by His invincible look, His voice, His flute, His counsel and His undaunted heroism. He is ever in a state of Bliss, spreading harmony, melody and beauty around Him. He sings everywhere—in the peaceful pasture and lands of Brindavan and in the blood-soaked battlefield of Kurukshetra. He holds the flute in His hand in one place, and He wields the whip in the other. But what emerges is meaningful and moving music, either Venuganam or Bhagawad Gita! Ganam and Gita both mean song! Why does He attract all to His Presence? To plough the heart, prepare it for receiving the shower of grace, to grow the seeds of love, weed it of all evil thoughts which smother the crops of joy and to enable it to gather the harvest of wisdom. That wisdom finds its fulfilment in Krishna Himself, for Krishna also means the Pure Essence, the Supreme Principle, the Sat-chit-ananda.

- Divine Discourse Aug 31, 1972

The Avatar lights the flame of Realisation in each; and the age-old ignorance is destroyed in an instant.



Nama ‘Krishna’ berasal dari akar kata ‘Krish’, yang memiliki beberapa makna: (1) menarik, (2) membajak dan mengolah, serta (3) prinsip Ilahi yang melampaui waktu, ruang, dan sebab-akibat. Seperti halnya semua Awatara, Krishna bukan hanya menarik bagi para pencari kebenaran, orang suci, dan para bijak, tetapi juga mereka yang sederhana, polos, dan baik hati. Ia juga menarik orang-orang yang penuh rasa ingin tahu, para pengkritik, kaum skeptis, bahkan mereka yang tidak mempercayai Tuhan. Ia menarik mereka kepada-Nya melalui pesona pribadi-Nya yang begitu kuat, tatapan-Nya yang tak terkalahkan, suara-Nya, seruling-Nya, nasihat-Nya, serta keberanian-Nya yang tak tergoyahkan. Ia senantiasa berada dalam keadaan Ananda, kebahagiaan Ilahi, dan memancarkan keharmonisan, melodi, serta keindahan di sekeliling-Nya. Ia bernyanyi di mana-mana, di padang rumput Brindavan yang damai maupun di medan perang Kurukshetra yang penuh pertumpahan darah. Di satu tempat Ia memegang seruling di tangan-Nya, sementara di tempat lain Ia mengayunkan cambuk. Namun, dari keduanya lahir musik yang penuh makna dan menyentuh hati, apakah itu Venuganam maupun Bhagawad Gita! Ganam dan Gita sama-sama berarti nyanyian. Mengapa Ia menarik semua orang kepada-Nya? Untuk mengolah hati, mempersiapkannya agar mampu menerima curahan rahmat; menumbuhkan benih-benih cinta; mencabut segala pikiran buruk yang menghambat tumbuhnya kebahagiaan; dan memungkinkan kita memetik panen kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu menemukan kesempurnaannya dalam diri Krishna sendiri, karena Krishna juga berarti Hakikat Murni, Prinsip Tertinggi, Sat-Chit-Ananda — Kebenaran, Kesadaran, dan Kebahagiaan Sejati.


— Wacana Ilahi, 31 Agustus 1972

Avatar menyalakan api kesadaran dalam diri setiap manusia; dan ketidaktahuan yang telah ada sejak dahulu pun dapat lenyap dalam sekejap.

Tuesday, September 1, 2026

Thought for the Day - 1st September 2026 (Tuesday)



Krishna demonstrated that if you practise the sadhana of the constant presence of God, you are bound to achieve victory. Take Him as the charioteer; He will steer you through the heaviest odds. He has no favourites or rivals. Like fire, He spreads warmth to all who are near Him. If you do not feel the warmth, do not blame Him: blame yourself that you are far from Him. Look at Bhishma! He prayed to the very Krishna who had vowed to kill him; he prayed that Krishna should grant him a vision of His divine splendour! That is true bhakti (devotion), real jnana (wisdom)! He had the faith and the vision, and Krishna blessed him. Hiranyakashipu said, “He is nowhere” and so, He was nowhere for him; Prahlada asserted, “He is everywhere”, and He appeared from the pillar to prove him true. God did not have to run into the pillar in order to come out of it, to respond to the challenge of the father. He was there all along, just as in everything else. He had only to make Himself visible! I too am like that; if you accept Me and say, “yes”, I too respond and say, “Yes, yes, yes”! If you deny and say, “No”, I also echo, “No”. Come, examine, experience, and have faith; that is the method of utilising Me.



- Divine Discourse, Nov 23, 1964

Just as we have to adopt a particular path to get butter out of milk, we have to adopt a path called sadhana, to experience Divinity and have a vision of the Lord.


Krishna menunjukkan bahwa jika engkau mempraktikkan sadhana berupa kesadaran yang terus-menerus akan kehadiran Tuhan, engkau pasti akan meraih kemenangan. Jadikanlah Dia sebagai kusirmu; Dia akan menuntunmu melewati berbagai tantangan yang paling berat sekalipun. Dia tidak memiliki orang yang diistimewakan maupun yang dimusuhi. Bagaikan api, Dia memancarkan kehangatan kepada siapapun yang berada di dekat-Nya. Jika engkau tidak merasakan kehangatan itu, jangan menyalahkan-Nya; lihatlah ke dalam dirimu sendiri dan sadari bahwa engkau mungkin berada jauh dari-Nya. Lihatlah Bhishma! Ia berdoa kepada Krishna yang bahkan telah berikrar untuk membunuhnya. Ia berdoa agar Krishna berkenan menganugerahinya penglihatan akan kemuliaan Ilahi-Nya. Itulah bhakti (pengabdian) yang sejati, dan jnana (kebijaksanaan) yang sesungguhnya. Bhishma memiliki keyakinan dan penglihatan batin, dan Krishna memberkatinya. Hiranyakashipu berkata, “Dia tidak ada dimanapun,” dan karena itu, baginya Tuhan seolah-olah tidak ada dimanapun. Prahlada menegaskan, “Dia ada dimana-mana,” dan Tuhan muncul dari sebuah tiang untuk membuktikan kebenaran perkataannya. Sesungguhnya, Tuhan tidak perlu masuk ke dalam tiang terlebih dahulu agar dapat keluar darinya untuk menjawab tantangan sang ayah. Dia telah ada disana sejak semula, sebagaimana Dia hadir dalam segala sesuatu. Dia hanya perlu menampakkan diri. Aku pun demikian. Jika engkau menerima-Ku dan berkata, “Ya,” Aku pun akan menjawab, “Ya, ya, ya!” Jika engkau menyangkal dan berkata, “Tidak,” Aku pun akan menggemakan, “Tidak.” Datanglah, selidiki, alami, dan milikilah keyakinan. Itulah cara untuk memanfaatkan kehadiran-Ku.


— Wacana Ilahi, 23 November 1964

Sebagaimana kita harus menempuh cara tertentu untuk mendapatkan mentega dari susu, demikian pula kita harus menempuh jalan yang disebut sadhana untuk mengalami Keilahian dan memperoleh penglihatan akan Tuhan.