The sages of India gave up the paths of superficial pomp and temporary security; they sought to gain inner peace and lasting joy. They discovered that these can be gained only by drawing the sap of life through the roots of one’s own inner reality called Atma (soul). Though this lesson, which was revealed to them by God, is repeated, elaborated and propagated all these centuries by countless scholars, poets and speakers, very few accept it as the basis of life. The insect on the wing is snapped up by the frog’s leaping tongue; the frog is caught unawares by the jaws of the snake; the snake is killed by the peacock; the peacock is killed by the hunter. One living thing is food for another; death lies in wait at every turn of day and night. Man is stalked ceaselessly by death; it may pounce any moment on its prey. He is not conscious of this companion; he has not learned how to meet him and rob him of the fruits of his exploit. The Atma does not die; only the body dies. When man knows this, death loses his sting; death is not feared; death is but a welcome voyage into the known harbour.
-- Divine Discourse Feb 23, 1968
Be always full of joy so that when death calls, you can quit with a light laugh, and not whimper in grief
Para resi India meninggalkan jalan kemegahan yang bersifat dangkal dan keamanan yang bersifat sementara; mereka mencari untuk mendapatkan kedamaian batin dan kebahagiaan yang abadi. Mereka menemukan bahwa keduanya hanya dapat diperoleh dengan menyerap sumber kehidupan melalui akar dari realitas batin seseorang sendiri, yang disebut Atma atau jiwa. Meskipun ajaran ini, yang disingkapkan kepada mereka oleh Tuhan, telah diulang, dijelaskan, dan disebarluaskan selama berabad-abad oleh begitu banyak cendekiawan, penyair, dan pembicara, sangat sedikit orang yang benar-benar menerimanya sebagai landasan hidup. Serangga yang terbang di udara dapat disambar oleh lidah katak yang melompat; katak itu kemudian dapat ditangkap tanpa disadarinya oleh rahang seekor ular; ular tersebut dapat dibunuh oleh burung merak; burung merak itu kemudian dapat dibunuh oleh seorang pemburu. Satu makhluk hidup menjadi makanan bagi makhluk hidup lainnya; kematian menanti pada setiap saat, baik siang maupun malam. Manusia terus-menerus telah dikuntit oleh kematian; kematian dapat datang dan mengambil hidupnya kapan saja. Namun, manusia tidak menyadari keberadaan “pendamping” ini; manusia belum belajar bagaimana menghadapinya dan merampas hasil dari keberhasilannya. Atma tidak mengalami kematian; hanya tubuh yang mati. Ketika manusia memahami hal ini, kematian kehilangan daya sengatnya; kematian tidak lagi ditakuti; kematian dipandang sebagai perjalanan yang disambut menuju pelabuhan yang telah dikenal.
-- Divine Discourse 23 Februari 1968
Selalulah penuh dengan suka cita, sehingga ketika kematian memanggil, engkau dapat meninggalkan dunia ini dengan senyum ringan, bukan dengan ratapan penuh kesedihan.
No comments:
Post a Comment