If you take the love of the Gopis (milkmaids of Brindavan), you may ask for what purpose did they love Krishna. They had no concern for worldly things. They were concerned only with the spiritual quest. Anyone looking at the Gopis’ conduct from a worldly point of view might regard their actions as improper. Likewise, Prahlada’s love for the Divine was not understood by those who judged him from a worldly point of view. Would Prahlada have been able to bear with indifference all the tortures to which he was subjected if he were a worldly person? He went through ordeals as a child which no man could have endured. When the king’s minions goaded him with spears, he prayed to the Lord and praised His glories without shedding a tear or showing any sign of fear. If his devotion had been concerned with worldly desires, should he not have shed tears? Should he not have displayed fear, being a mere child? He did not do so because Lord Narayana was installed in his heart. The Lord’s name was ever on his tongue. The Narayana consciousness filled his entire being from head to foot. Because of this, none of the pains inflicted on him by physical instruments affected him at all. With his thoughts centred on God, the pains of the world did not affect him.
-- Divine Discourse, Jul 14, 1984
Few can understand the ways in which devotion manifests itself among the lovers of God. Human relations come and go; the association with God is eternal.
Jika engkau melihat kasih para Gopi (para penggembala susu perempuan di Brindavan), engkau mungkin bertanya: apa tujuan mereka mencintai Krishna? Mereka tidak memiliki kepentingan terhadap hal-hal duniawi. Perhatian mereka semata-mata tertuju pada pencarian spiritual. Siapapun yang menilai perilaku para Gopi hanya dari sudut pandang duniawi mungkin menganggap tindakan mereka tidak pantas. Demikian pula, kasih Prahlada kepada Tuhan tidak dapat dipahami oleh mereka yang menilainya hanya berdasarkan pandangan duniawi. Apakah Prahlada akan mampu menghadapi semua penyiksaan yang ditimpakan kepadanya dengan ketenangan dan ketidakpedulian seandainya ia adalah seorang yang hanya terikat pada kehidupan duniawi? Sebagai seorang anak, ia menghadapi berbagai penderitaan yang mungkin tidak mampu ditanggung oleh orang dewasa sekalipun. Ketika para prajurit raja menusuk dan mengancamnya dengan tombak, ia justru berdoa kepada Tuhan dan memuji kemuliaan-Nya tanpa meneteskan air mata atau menunjukkan sedikit pun rasa takut. Jika baktinya kepada Tuhan didorong oleh keinginan-keinginan duniawi, bukankah seharusnya ia menangis? Bukankah sebagai seorang anak kecil ia seharusnya menunjukkan rasa takut? Prahlada tidak melakukannya karena Tuhan Narayana telah bersemayam di dalam hatinya. Nama Narayana senantiasa berada di bibirnya. Kesadaran akan Narayana memenuhi seluruh keberadaannya, dari kepala hingga kaki. Karena itulah, penderitaan yang ditimbulkan oleh berbagai perlakuan fisik sama sekali tidak mampu menggoyahkan dirinya. Pikirannya terpusat kepada Tuhan, sehingga penderitaan duniawi tidak mampu memengaruhinya.
-- Divine Discourse, 14 Juli 1984
Hanya sedikit orang yang mampu memahami bagaimana bhakti terwujud diantara para pencinta Tuhan. Hubungan antarmanusia datang dan pergi; hubungan dengan Tuhan bersifat kekal.
No comments:
Post a Comment