The Guru is referred to reverentially as Brahma, the first of the Trinity entrusted with Creation; as Vishnu, the One entrusted with preservation; and as Maheshwara, charged with destruction and dissolution. This description is symbolically correct, as we can see when we analyse the work the Teacher or Guru is expected to carry out. The Guru sows the seeds of virtue, wisdom, and faith in the heart of the pupil. He is therefore Brahma. He is like the farmer who plants saplings in the well-prepared soil of his field. But the farmer does not sit with folded hands thereafter. He takes incessant care to see that the saplings grow well, and he is vigilant to water the growing crops and feed them with fertilisers at the appropriate stages of growth. This is the role of Vishnu. The Guru cannot sit back and silently watch the fate of the pupil after the first few lessons. He has to guide the pupil at every step, foster and encourage good habits, sound reasoning and valid emotions, and act as Vishnu. The Guru also has the duty to warn the pupil when he takes a false step, or develops a bad habit, or entertains a deleterious doubt. Like the farmer who has to be vigilant against the growth of weeds or the upsurge of pests, the Guru too must be ever alert to destroy the pests of vice and the weeds of sloth and unsteadiness.
-- Divine Discourse, Jan 03, 1974
Teachers are the sculptors who shape the rocks into things of beauty and significance, of utility and inspiration.
Guru secara penuh penghormatan disebut sebagai Brahma, yaitu yang pertama dari Trimurti yang bertanggung jawab atas penciptaan; sebagai Vishnu, yang bertanggung jawab atas pemeliharaan; dan sebagai Maheshwara (Shiva), yang bertugas melakukan penghancuran dan peleburan. Gambaran ini benar secara simbolis apabila kita memahami ketika kita menganalisa tugas yang diharapkan dilakukan oleh seorang pengajar atau Guru. Guru menanamkan benih-benih kebajikan, kebijaksanaan, dan keyakinan di dalam hati peserta didiknya. Karena itu, ia adalah Brahma. Ia seperti seorang petani yang menanam bibit di tanah ladangnya yang telah dipersiapkan dengan baik. Namun, setelah menanam bibit, petani tidak kemudian duduk berpangku tangan. Ia terus merawat tanaman agar tumbuh dengan baik, dan ia mengawasi kebutuhan tanaman, menyiraminya, dan memberikan pupuk pada tahap pertumbuhan yang tepat. Ini adalah peran dari Wisnu. Guru tidak dapat berdiam diri dan hanya menyaksikan perjalanan peserta didik setelah memberikan beberapa pelajaran pertama. Ia harus membimbing peserta didik pada setiap langkah, menumbuhkan dan mendorong kebiasaan yang baik, penalaran yang benar, serta mengenali dan menerima perasaan orang lain tanpa menghakimi. Dengan demikian, ia menjalankan peran Wisnu. Guru juga memiliki kewajiban untuk memperingatkan peserta didik ketika ia mengambil langkah yang keliru, mengembangkan kebiasaan buruk, atau memelihara keraguan yang merugikan. Seperti seorang petani yang harus waspada terhadap tumbuhnya gulma dan munculnya hama, seorang Guru juga harus senantiasa waspada untuk melenyapkan hama keburukan serta mencabut gulma kemalasan dan ketidakmantapan dalam diri peserta didik.
-- Divine Discourse, 3 Januari 1974
Para guru adalah pemahat yang membentuk batu-batu menjadi sesuatu yang indah dan bermakna, berguna dan menginspirasi.
No comments:
Post a Comment