Sat-chit-ananda is manifest in man as supreme bliss—the Divine bliss. This bliss is present in man as his spiritual essence. Man has no need to go after trivial pleasures when he has this eternal bliss within himself. He will experience this bliss when he gets rid of the attachment to the body born out of delusion and ignorance. Sakkubai was one who had realised this truth and was in continuous contemplation of the Lord’s name. Recognising the intensity of her devotion, Krishna assumed her form and sent her to Pandharipur. You can see the greatness of Bhagawan’s love for the devotee. Assuming the devotee’s form, the Lord performed all her domestic chores and enabled her to go to Pandharipur. God sees to it that the devotee is not exposed to calumny. He saw to it that no one pointed the finger of criticism at Sakkubai for her absence from the house. He himself assumed the form of Sakkubai and did all the household work. Sakkubai went to Pandharipur and merged in the Lord there. The power of faith is incalculable. With faith, any difficult task can be carried out. This truth cannot be understood in worldly affairs. It must be recognised that chanting the name of the Lord is highly sacred and efficacious. It serves to remove the impurities in a person. It promotes good and sacred thoughts.
-- Divine Discourse, Feb 26, 1998
If you win the grace of the Lord, even the decrees of destiny can be overcome.
Sat-Chit-Ananda termanifestasi dalam diri manusia sebagai kebahagiaan tertinggi, yaitu kebahagiaan ilahi. Kebahagiaan ini telah ada dalam diri setiap manusia sebagai hakikat spiritualnya. Karena itu, manusia sebenarnya tidak perlu mengejar kesenangan-kesenangan duniawi yang bersifat sementara, ketika ia memiliki kebahagiaan yang kekal telah ada di dalam dirinya sendiri. Manusia akan mengalami kebahagiaan ini ketika ketika seseorang mampu melepaskan keterikatan pada tubuh, yang muncul akibat khayalan dan ketidaktahuan. Salah seorang yang telah menyadari kebenaran ini adalah Sakkubai. Ia senantiasa menghayati dan mengingat Nama Tuhan tanpa henti. Melihat ketulusan dan kedalaman bhaktinya, Sri Krishna mengambil rupa Sakkubai dan mengizinkannya pergi ke Pandharipur untuk beribadah. Dari kisah ini tampak betapa agungnya kasih Tuhan kepada seorang bhakta. Demi memenuhi kerinduan Sakkubai kepada Tuhan, Sri Krishna sendiri mengambil wujudnya, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangganya, dan membiarkannya pergi melakukan perjalanan suci ke Pandharipur. Tuhan juga memastikan bahwa bhakta-Nya tidak menjadi sasaran celaan. Tidak seorang pun menyadari bahwa Sakkubai sedang berada di Pandharipur, sehingga tidak ada yang menyalahkannya karena meninggalkan rumah. Tuhan sendirilah yang menjalankan semua tugas rumah tangga dalam wujud Sakkubai. Sesampainya di Pandharipur, Sakkubai akhirnya menyatu dengan Tuhan. Kisah ini menunjukkan bahwa kekuatan keyakinan tidak dapat diukur. Dengan keyakinan yang teguh, bahkan tugas yang tampaknya paling sulit pun dapat diselesaikan. Kebenaran ini tidak dapat dipahami hanya melalui cara pandang duniawi. Penting untuk disadari bahwa mengucapkan dan mengingat Nama Tuhan adalah praktik yang sangat suci dan penuh daya spiritual. Nama Tuhan mampu membersihkan kekotoran batin dalam diri seseorang serta menumbuhkan pikiran-pikiran yang baik, murni, dan suci.
-- Wacana Swami, 26 Februari 1998
Jika engkau mendapatkan karunia Tuhan, bahkan ketentuan takdir pun dapat diatasi.
No comments:
Post a Comment