God is all-powerful; God is everywhere; God is all-knowing. To adore such a formidable, limitless Principle, man spends a few minutes out of the 24 hours before an idol or image or picture! It is indeed ridiculous; it is practically futile. Adore Him so long as you have breath, so long as you are conscious. Have no other thought than God, no other aim than knowing His command, no other activity than translating that command into action. That is what is meant by surrender. Render yourself unto Him. When you intend to go on a journey, you hand over the keys of your car to the chauffeur and sit in comfort and security in the back seat, forgetting the possible troubles on the way. You have surrendered your life into the hands of that man, his intelligence, alertness, and skill. Some men do not fully surrender; they are too egoistic for that! They interrupt him every minute with tips, hints, and suggestions about driving; with questions and doubts regarding the condition of the car or the road! Be steady, have faith, and reach the goal safely. Life is the car, your heart is the key. God is the Sarathi (chauffeur). Surrender to Him and be rid of further bother: Travel safe and arrive happy.
-- Divine Discourse Feb 23, 1971
So long as there is this distinction in the mind of the individual between God and ‘I’, this cannot be accepted as complete surrender.
Tuhan Mahakuasa; Tuhan ada dimana-mana; Tuhan Mahatahu. Untuk memuja prinsip Tuhan yang Maha besar dan tidak terbatas, manusia hanya meluangkan beberapa menit dari 24 jam di depan arca atau gambar perwujudan suci Tuhan! Hal ini benar-benar konyol; dan praktis tidak ada gunanya. Pujalah Tuhan selama engkau bernafas, selama engkau sadar. Jangan memikirkan yang lain selain Tuhan, jangan memiliki tujuan lain selain mengenal kehendak-Nya, dan tidak ada aktivitas lain selain menerjemahkan perintah-Nya ke dalam tindakan. Itulah makna dari penyerahan diri sejati. Serahkan dirimu kepada-Nya. Ketika engkau berhasrat melakukan perjalanan, engkau menyerahkan kunci mobilmu kepada sopir dan duduk dengan nyaman dan aman di kursi belakang, melupakan kemungkinan masalah di perjalanan. Engkau telah menyerahkan hidupmu di tangan sopir tersebut dengan mempercayai kecerdasan, kewaspadaan, dan keterampilannya. Namun, beberapa orang tidak sepenuhnya berserah diri; mereka terlalu egois untuk itu! Merepa menyela dalam setiap menit dengan memberikan petunjuk, saran, dan nasihat tentang cara mengemudikan mobil; dengan pertanyaan dan keraguan mengenai kondisi mobil atau jalan! Karena itu, jadilah teguh, miliki keyakinan, dan sampai pada tujuan dengan selamat. Hidup adalah seperti mobil, hatimu adalah kuncinya. Tuhan adalah sebagai sopirnya (sarathi). Berserah diri pada Tuhan dan dan bebaskan diri dari segala kesulitan: selamat jalan dan sampai di tujuan dengan bahagia.
-- Divine Discourse 23 Februari 1971
Selama masih ada perbedaan dalam pikiran antara Tuhan dan 'aku', hal ini belum bisa disebut sebagai penyerahan diri yang sempurna.
No comments:
Post a Comment