There are two truths that must be accepted by every pilgrim or devotee: (1) Devotion has to be full, free, and comprehensive. (2) Divinity must be conceived as full, free, and comprehensive. On the other hand, devotion today is almost always only ‘part-time’. That is to say, whenever disease, defeat, or disappointment happen to assail you, you turn to God and pray for His Grace; but when you are happy, prosperous, healthy, and in good shape, you ignore God and claim that they are all due to your own abilities and achievements. God is ignored in sunshine; He is wanted only when there is night. Devotion must persist and flourish, unaffected by time, place or circumstance. God too has to be experienced in His fullness, and the Ananda of that experience should be made one’s permanent possession. It is impossible to experience God and also talk about Him. Words like Sarvajna (all-knowing) and Sarvavyapi (all-pervasive) are used by people since elders and saints have used them from ancient times; it is impossible for anyone to have the fullest and the most comprehensive experience of these qualities of the Divine, and also speak about that experience.
-- Divine Discourse Aug 30, 1974
Sincere devotion, unshaken faith—they can never fail to earn Grace.
Ada dua kebenaran yang harus diterima oleh setiap peziarah atau bhakta: (1) Bhakti haruslah utuh, bebas, dan menyeluruh. (2) Ketuhanan harus dipahami sebagai sesuatu yang utuh, bebas, dan menyeluruh. Sebaliknya, bhakti pada hari ini hampir selalu hanya bersifat “paruh waktu”. Artinya, ketika penyakit, kekalahan, atau kekecewaan datang menimpa, kita berpaling kepada Tuhan dan berdoa memohon Anugerah-Nya; namun, ketika kita bahagia, sejahtera, sehat, dan berada dalam keadaan baik, kita mengabaikan Tuhan dan menganggap bahwa semua itu merupakan hasil dari kemampuan dan pencapaian kita sendiri. Tuhan diabaikan saat matahari bersinar; Tuhan dicari hanya ketika saat gelap dan malam. Bhakti harus tetap teguh dan berkembang, tanpa dipengaruhi oleh waktu, tempat, ataupun keadaan. Demikian pula, Tuhan harus dialami dalam kepenuhan-Nya, dan Ananda yang diperoleh dari pengalaman tersebut, hendaknya menjadi milik seseorang secara permanen. Tidak mungkin mengalami Tuhan dan membicarakan tentang Tuhan. Kata-kata seperti Sarvajna (Yang Mahatahu) dan Sarvavyapi (Yang Mahahadir dan meliputi segala sesuatu) digunakan oleh manusia karena para sesepuh dan orang-orang suci telah menggunakannya sejak zaman dahulu; adalah mustahil bagi siapapun untuk memperoleh pengalaman yang sepenuhnya utuh dan menyeluruh mengenai sifat-sifat Ketuhanan tersebut, dan juga membicarakan pengalaman itu.
-- Divine Discourse 30 Agustus 1974
Ketulusan bhakti dan keteguhan keyakinan -- tidak akan pernah gagal memperoleh Anugerah Tuhan.
No comments:
Post a Comment