Monday, September 13, 2010

Thought for the Day - 13th September 2010 (Monday)


The Gita warns that any insult or injury or even neglect directed against any living being is an act that insults, injures or neglects the Divine. “Sarva Jeeva Thiraskaaram Keshavam Prathigachchathi.” The Gita clearly says, “Sunee chaiva svapaakecha, pandithaah sama darshinah.” That is to say, the learned man who has acquired humility through Vidya (knowledge) must deal with equal compassion and consideration all living beings alike. Uniform compassion shown in this manner transforms itself into uniform welfare for the recipients. Wishing well for all is the sign of one who has earned Vidya. The narrow vision that is limited to one community must be given up. Bhaarathiya culture thus emphasises the highest truth, the broadest vision.

Gita memperingatkan bahwa setiap penghinaan atau penderitaan atau bahkan kelalaian yang ditujukan terhadap setiap makhluk hidup merupakan tindakan yang menghina, melukai atau mengabaikan Tuhan. "Sarva Jeeva Thiraskaaram Keshavam Prathigachchathi". Gita dengan jelas mengatakan, "Sunee chaiva svapaakecha, pandithaah sama darshinah" artinya, orang terpelajar yang memiliki kerendahan hati yang diperoleh melalui Vidya (pengetahuan) harus memiliki kasih sayang dan perhatian yang sama terhadap semua makhluk hidup. Kasih sayang yang sama yang ditunjukkan dengan cara ini mengubahnya menjadi kesejahteraan yang sama bagi penerimanya. Mengharapkan yang baik untuk semuanya adalah tanda dari orang yang telah menerima Vidya. Pandangan sempit yang terbatas pada satu komunitas harus disingkirkan. Budaya Bhaarathiya menekankan kebenaran tertinggi, yaitu pandangan yang lebih luas.

-BABA

Sunday, September 12, 2010

Thought for the Day - 12th September 2010 (Sunday)


The genuine characteristics, the Swaroopa Lakshana, never undergoes change. It abides in all. The form, name, time or space may suffer change; but the core of truth, the Swaroopa Lakshana, will not change. That core is denoted as Asthi (existence), Bhathi (luminescence) and Priyam (attractiveness) in Vedanta texts. Existence is the unchanging truth. It may change its form and name, in time and space, but the ‘is-ness’ is genuine. It makes itself known as existing, through the native characteristic of Prakasha (luminosity) or capacity to attract our awareness and confer knowledge. We can know it because it has luminescence; all things we know have this innate characteristic. Each thing also has the characteristic of likeability, the capacity to invoke attachment and love as a result of usability. The above three together are the nature of God.

Lakshana Swaroopa, sifat sejati yang khas, tidak pernah mengalami perubahan. Ia ada dalam semuanya. Wujud, nama, waktu atau ruang bisa mengalami perubahan; tetapi inti kebenaran, Lakshana Swaroopa, tidak akan berubah. Dalam teks-teks Vedanta, inti tersebut dilambangkan sebagai Asthi (keberadaan), Bhathi (luminesensi) dan Priyam (daya tarik). Keberadaan adalah kebenaran yang tidak mengalami perubahan. Bentuk dan nama, dalam ruang dan waktu, mungkin dapat mengalami perubahan tetapi 'is-ness' adalah sejati. Itulah yang membuatnya dikenal sebagai yang ada, melalui sifat sejati, Prakasha (luminositas) atau kapasitas untuk menarik kesadaran kita dan memberikan pengetahuan. Kita bisa mengetahuinya karena hal tersebut memiliki luminesensi; kita tahu segala sesuatu memiliki karakteristik bawaan ini. Setiap hal juga memiliki sifat yang menyenangkan, kapasitas untuk menimbulkan keterikatan dan cinta-kasih sebagai akibat dari penggunaannya. Ketiga hal tersebut merupakan sifat Tuhan.

-BABA

Saturday, September 11, 2010

Thought for the Day - 11th September 2010 (Saturday)


Ganapathi is the embodiment of Buddhi (intellect) and Jnana (wisdom). Truth emerges out of wisdom and ultimately leads to Ananda (bliss). This is the teaching of Ganapathi. You are under the false impression that today is the birthday of Vinayaka, but He has neither birth nor death. He has neither beginning nor end. He is the eternal witness. All the festivals of Bhaarath are suffused with deep inner meaning. They are highly sacred. Festivals are not just meant for preparing delicious items and consuming them. They are meant to remind us of Divinity. On festival days, you decorate your houses with buntings of green leaves and you also wear new clothes, discarding the old ones. Likewise, you should give up your old bad habits and cultivate new and sacred ideas.

Ganapathi merupakan perwujudan dari Buddhi (intelek) dan Jnana (kebijaksanaan). Kebenaran muncul dari kebijaksanaan dan akhirnya mengarah ke Ananda (kebahagiaan sejati). Ini adalah ajaran Ganapathi. Engkau berada di bawah anggapan yang keliru bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Vinayaka, tetapi Beliau tidak mengalami kelahiran maupun kematian. Beliau tidak memiliki awal maupun akhir. Beliau adalah saksi abadi. Semua perayaan-perayaan Bhaarath diliputi dengan makna batin yang mendalam. Perayaan tersebut sangat suci. Perayaan tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk mempersiapkan makanan yang lezat dan kemudian menikmatinya. Perayaan dimaksudkan untuk mengingatkan kita akan Ketuhanan. Pada hari-hari perayaan, engkau menghiasi rumahmu dengan bendera-bendera daun hijau dan engkau juga memakai baju baru, menyingkirkan baju yang lama. Demikian juga, engkau harus melepaskan kebiasaan burukmu dan menanamkan gagasan-gagasan yang baru dan suci.

-BABA

Friday, September 10, 2010

Thought for the Day - 10th September 2010 (Friday)


If you seek Vidya (knowledge), you must possess kindness, compassion and love towards all living beings. Kindness to all beings should be your very nature. If it is absent, you become a boor. Vidya means, more than anything else, the quality of compassion towards all living beings. If you bear ill-will against any being, your education has no meaning. The advice given in the Gita, “Adweshta Sarva Bhoothanam,” (with no ill-will towards any being), conveys the same message. Love and compassion must not be limited to mankind only. They must embrace every living being.

Jika engkau mencari Vidya (pengetahuan), engkau harus memiliki kebaikan, kasih sayang dan cinta-kasih terhadap semua makhluk. Kebaikan untuk semua makhluk seharusnya menjadi sifat sejatimu. Jika tidak, engkau akan menjadi orang yang tidak beradab. Vidya berarti lebih dari apa pun, memiliki sifat belas kasihan terhadap semua makhluk. Jika engkau memiliki perasaan benci terhadap makhluk apa saja, pendidikan yang engkau dapatkan tidak ada artinya. Nasehat yang diberikan dalam Gita, "Adweshta Sarva Bhoothanam," (dengan tidak menyakiti makhluk apapun), menyampaikan pesan yang sama. Cinta-kasih dan belas kasihan tidak harus dibatasi hanya untuk umat manusia. Cinta-kasih harus merangkul setiap makhluk hidup.

-BABA

Thursday, September 9, 2010

Thought for the Day - 9th September 2010 (Thursday)


Every being has its own Dharma or innate specialty or individuality or special characteristics. This rule applies equally to blades of grass and the stars. The cosmos is not one continuous flux. It progresses persistently towards achieving a totality in the qualities and circumstances. But if you are too immersed in the all-pervasive delusion, you cannot elevate yourself. When in delusion, you are not aware of the path of peace and harmony in the world. You will also not be able to hold on to the good and avoid the bad, and establish yourself in the righteous path. However, you can transform yourself from the present status through self effort and discrimination. The moral forces permeating the cosmos will certainly promote your achievement!


Setiap manusia memiliki Dharma sendiri atau sifat bawaan yang khusus atau individualitas atau karakteristik khusus. Aturan ini juga berlaku sama bagi bumi dan langit. Alam semesta bukanlah satu-satunya yang mengalami perubahan secara terus-menerus. Hal ini berlangsung terus-menerus untuk mencapai totalitas dalam kualitas dan keadaan. Tetapi jika engkau terlalu terbenam dalam khayalan, engkau tidak dapat mengangkat dirimu sendiri. Ketika berada dalam khayalan, engkau tidak menyadari jalan menuju kedamaian dan keselarasan di dunia. Engkau juga tidak akan mampu berpegang pada yang baik dan menghindari yang buruk, serta menentukan dirimu di jalan yang benar. Namun, engkau dapat mengubah dirimu dari status sekarang ini melalui usaha sendiri dan kemampuan membedakan. Kekuatan moral menembus alam semesta pasti akan meningkatkan pencapaianmu!

-BABA

Wednesday, September 8, 2010

Thought for the Day - 8th September 2010 (Wednesday)


Every educated person and student must cultivate simplicity and must discard ostentation. If they are addicted to ostentation, they lose their genuine nature or individuality. Even if a person is a master of all sciences or famous as a great intellectual, he is certain to be counted out of scholars and pundits if he has no humility and discipline in his dealings with others. They may win respect for some time but that attitude will decline pretty soon. Alertness to serve and simplicity alone will earn honour. When one gives up ostentation, one can get permanent respect from people. Real education imparts a spirit of renunciation, a dislike for ostentation, and the yearning for serving others.

Setiap siswa dan orang yang berpendidikan harus memupuk kesederhanaan dan harus menyingkirkan kesombongan. Jika kesombongan sudah melekat, mereka akan kehilangan sifat sejati mereka atau bersifat individualitas. Bahkan jika seseorang menguasai semua ilmu pengetahuan atau menjadi orang terkenal sebagai seorang pemikir besar, ia tentu tidak akan dimasukkan dalam hitungan para sarjana dan cendekiawan jika ia tidak memiliki kerendahan hati dan disiplin dalam bertingkah laku dengan orang lain. Mereka mungkin dihormati beberapa saat, tetapi sikap tersebut akan segera menurun. Hanya dengan melayani dan kesederhanaan seseorang akan dihargai. Ketika seseorang melepaskan kesombongan, ia bisa mendapatkan rasa hormat permanen dari orang-orang. Pendidikan sejati mengajarkan agar kita tidak mementingkan diri sendiri, tidak sombong, dan memiliki kerinduan untuk melayani orang lain.

-BABA

Tuesday, September 7, 2010

Thought for the Day - 7th September 2010 (Tuesday)


One may be subjected to calumny, insult and dishonour; one may be plunged into poverty or pain; but the person who has surrendered to the Will of God will welcome each of these gladly and bear it with equanimity. The Lord will never give up His children. Those devoted to God have to be patient and calm, under the most poignant provocation. The fact is, the pious and the God-fearing are those who are most visited by travails and troubles: in order to teach mankind these great truths, Krishna enacted the drama in Mahabharatha, with the Pandavas as the cast. Every incident in their lives is but a scene in His Play.

Orang bisa menjadi sasaran fitnah, penghinaan dan tidak dihargai, mereka mungkin jatuh ke dalam kemiskinan atau penderitaan, tetapi bagi mereka yang telah pasrah total kepada Kehendak Tuhan akan menyambutnya dengan senang hati dan menanggung semua itu dengan sikap yang tenang. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Mereka yang mengabdikan diri (Bhakta) kepada Tuhan harus sabar dan tenang, walaupun berada di bawah kesedihan yang mendalam. Kenyataannya adalah, orang-orang yang beriman dan takut pada Tuhan adalah mereka yang sering mendapatkan penderitaan dan masalah: untuk mengajarkan manusia akan kebenaran ini, Sri Krishna telah memerankan drama dalam Mahabharatha, dengan Pandawa sebagai pemainnya. Setiap kejadian dalam hidup mereka hanyalah sebuah adegan dalam Permainannya-Nya.

-BABA