Friday, January 6, 2012

Thought for the Day - 6th January 2012 (Friday)


Does the airplane stay on above, denouncing the earth below? Those who have earned the right to travel in it cannot fly towards it! Therefore, to take them in, it has to come down at the places where they gather by previous arrangement, and then soar into the sky with them. So too, the spiritually evolved (Jnanis) who have no desire or urge to do Karma, come down and help those who would not make progress otherwise. The right way to perform action is to identify every aspect of the universe with the Universal Being and dedicate all acts unto Him. Always remember that one who is bound by the Deha-atma buddhi (the false idea that he is just this body and nothing more) can never win the game of life; one must acquire the Brahma-Atma-Buddhi (the awareness that he is Divine) to be sure of victory.

Apakah pesawat terus tinggal di atas, mencela bumi yang ada di bawah? Orang-orang yang telah mendapatkan hak untuk bepergian di dalamnya tidak bisa terbang ke arah itu! Oleh karena itu, untuk membawa mereka ke dalamnya, mereka harus turun di tempat mereka berkumpul dengan pengaturan sebelumnya, dan kemudian melambung ke langit dengan pesawat tersebut. Demikian juga, para Jnanis yaitu mereka yang tidak memiliki keinginan atau dorongan untuk melakukan Karma, turun dan membantu mereka (yang lainnya), jika mereka tidak membuat kemajuan spiritual. Cara yang tepat untuk melakukan tindakan adalah dengan mengidentifikasi setiap aspek alam semesta dengan Yang Universal dan mendedikasikan semua tindakan kepada-Nya. Ingatlah selalu bahwa orang yang terikat pada Deha-atma buddhi (gagasan yang keliru bahwa dia hanya badan ini dan tidak lebih) tidak pernah bisa memenangkan permainan kehidupan, seseorang harus mendapatkan Brahma-Atma-Buddhi (kesadaran bahwa ia adalah Ilahi) untuk benar-benar mencapai kemenangan.
-BABA

Thursday, January 5, 2012

Thought for the Day - 5th January 2011 (Thursday)


Pranayama is the practice (sadhana) by which you hold your breath (prana). Its significance may be understood when we recognise that there are five different vital airs namely, prana, apana, vyana, udana and samana. The process by which these vital airs are controlled is called Pranayama and this gives inner vision. In Pranayama the three different kinds of stages are Rechaka (exhaling), Puraka (inhaling) and Kumbhaka (holding breath). Through Rechaka and Puraka one is able to get control over the various vital airs and take them in. Holding the airs (breath) during the process is kumbhaka. Along with this, Prathyahara, should be observed to attain bliss. The organs and the mind always wish to look at and concern themselves with the external objects. The mind develops sensuous desires by looking at them. As a result of these desires, the mind becomes impure. Prathyahara consists in turning the mind inwards and away from the external objects.

Pranayama adalah praktek (sadhana) yang mana engkau menahan nafas (prana). Signifikansinya dapat dipahami ketika kita menyadari bahwa ada Pancaprana yaitu, prana, apana, vyana, udana, dan samana. Proses yang mana vital airs (udara vital) dikendalikan disebut Pranayama dan ini memberikan penglihatan batin. Dalam Pranayama, ada tiga macam tahapan yaitu Rechaka (menghembuskan napas), Puraka (menghirup napas) dan Kumbhaka (menahan napas). Melalui Rechaka dan Puraka seseorang bisa mengontrol berbagai vital airs dan membawanya masuk. Menahan napas selama proses ini disebut dengan Kumbhaka. Seiring dengan ini, Prathyahara, harus diamati untuk mencapai kebahagiaan sejati. Organ-organ dan pikiran selalu ingin melihat dan menyibukkan diri dengan objek-objek eksternal. Pikiran mengembangkan keinginan sensual dengan melihat mereka. Sebagai hasil dari keinginan-keinginan tersebut, pikiran menjadi tidak murni. Prathyahara terdiri dari memusatkan pikiran dan menjauh dari objek-objek eksternal.
-BABA

Tuesday, January 3, 2012

Thought for the Day - 3rd January 2012 (Tuesday)


Many children are wayward and vile today, since they have no other examples to follow. Unfortunately, parents, teachers and leaders are inflaming the passions of young minds and encouraging them onto inappropriate actions. Along with Bala Vikas, elders too must experience Vikas (flowering or development), and lead exemplary lives of simplicity, sincerity, and steady spiritual discipline. Children do not say one thing and do the opposite. They are very straight forward and innocent. Everyone should imbibe this nature from them, for elders have strayed far from that ideal. Instead of saying a hundred things, it is better to do one thing properly. Sanctify your life by doing selfless work. For the person who talks a lot, there is no time for work. Instead of wasting time in your words, use your time in service to mankind which is service to God, all the while repeating the name of the Lord.

Saat ini, banyak anak yang tidak patuh dan memiliki sifat buruk, karena mereka tidak memiliki contoh dari orang lain yang diikutinya. Sayangnya, orang tua, guru dan pemimpin yang mengobarkan keinginan besar pada pikiran para muda dan mendorong mereka pada tindakan yang tidak pantas. Beserta dengan Bala Vikas, para orang tua juga harus mengalami Vikas (berbunga atau berkembang), dan mengarahkan kehidupan yang sederhana, tulus, dan memiliki disiplin spiritual yang mantap. Anak-anak tidak mengatakan satu hal dan melakukan yang sebaliknya. Mereka lurus ke depan dan polos. Setiap orang harus menyerap sifat ini dari anak-anak, karena orang tua telah menyimpang jauh dari ideal itu. Daripada mengatakan seratus hal, lebih baik untuk melakukan satu hal dengan benar. Sucikanlah hidupmu dengan melakukan pekerjaan tanpa pamrih. Bagi orang yang banyak bicara, tidak ada waktu untuk bekerja. Daripada membuang-buang waktu dalam kata-katamu, gunakanlah waktumu dalam pelayanan kepada umat manusia yang melayani Tuhan, sambil melantunkan nama Tuhan.
-BABA

Monday, January 2, 2012

Thought for the Day - 2nd January 2012 (Monday)


You may wonder why liberated ones (Jnanis) should still do Karma (action). Well, people usually follow the ideal set by those in higher levels. Their acts form the basis of Right Conduct (Dharma). If Jnanis are inactive, how are ordinary mortals to save themselves? They will have no guide and will lose themselves in the easy paths of sensory pleasures. The duty of the wise is to foster the right and practice it before others, so that they too may be prompted to follow, drawn by the hope of becoming as contented and as joyful as the jnanis. The wise have to do and get done, see and show, so that the rest might be persuaded to follow the example set by them. The sun and the moon carry on their routine tasks; wind and fire have to perform their duties without demur. Hence, each one should perform one’s task without fail and with care.

Engkau mungkin heran mengapa orang yang telah bebas (Jnanis) masih harus melakukan karma (tindakan). Orang-orang biasanya mengikuti set yang ideal oleh mereka di tingkat yang lebih tinggi. Tindakan mereka membentuk dasar Perilaku yang Benar (Dharma). Jika para Jnanis in-aktif bagaimana manusia biasa bisa menyelamatkan diri mereka sendiri? Mereka tidak akan memiliki panduan dan akan kehilangan diri mereka dalam jalan mudah kesenangan sensoris. Tugas orang bijak adalah menjaga kebenaran dan mempraktekkannya terlebih dahulu, sehingga yang lainnya juga akan mengikuti. Para bijaksana harus melakukannya, melihat dan menunjukkan, sehingga yang lainnya diyakinkan untuk mengikuti contoh yang telah mereka laksanakan. Matahari dan bulan melaksanakan tugas-tugas rutin mereka, angin dan api melakukan tugas mereka tanpa keberatan. Oleh karena itu, masing-masing harus melakukan tugasnya dengan baik dan penuh perhatian.
-BABA

Sunday, January 1, 2012

Thought for the Day - 1st January 2012 (Sunday)

The relationship between the worker and the employer should be like that between the heart and the body. Both are bound intimately with each other; they depend on each other for their very existence. Love and affection have to govern the relationship between the two, not hatred or envy. Work in the spirit of love; it will lead you to worship. That is to say, work without any regard to the proportion of benefit you derive from it. Work, since it is your duty; work since you love to work, since that is the way you can offer God the gratitude for the skills endowed upon you. This kind of work leads you to wisdom, which is the recognition of the Divine in every being. May the New Year grant you mental peace and may your life's ideal of self-realisation be fulfilled. May all comforts and contentment be added unto you. This is My blessing.

Hubungan antara pekerja dan majikan hendaknya seperti jantung dengan badan. Keduanya terikat erat satu sama lain, mereka bergantung satu sama lain untuk keberadaan mereka. Cinta dan kasih sayang harus mengatur hubungan antara keduanya, bukan benci atau iri hati. Bekerjalah dengan semangat cinta-kasih; hal itu akan mengarahkanmu pada pemujaan. Artinya, bekerja dengan tanpa memperhatikan keuntungan yang di dapat dari hal tersebut. Bekerjalah, karena itu adalah kewajibanmu; bekerjalah karena engkau menyukai pekerjaan tersebut, karena itu adalah caramu untuk mengucapkan rasa syukur pada Tuhan atas keterampilan yang telah diberkati-Nya. Pekerjaan semacam ini mengarahkanmu pada kebijaksanaan, yang mana menyadari bahwa Tuhan berada dalam setiap makhluk. Semoga Tahun Baru memberikan engkau kedamaian dan semoga engkau mencapai kehidupan yang ideal. Semoga semua kesenangan dan kepuasan akan ditambahkan padamu. Inilah berkat-Ku.
-BABA