Monday, January 16, 2012

Thought for the Day - 16th January 2012 (Monday)

Human birth is granted to a living being as the crown of one’s achievement during many lives. Know that this life is very unsteady; death is always stalking and nobody knows when it will snatch one away. Do not delay in choosing the right goal of life and deciding on the best means of achieving it. Turn away from the outer world and its attractions, to the inner realm of consciousness. This inward journey will be rewarded well with the precious treasure of ecstasy. The sea scatters on the shore only shells and foam. But if one dares to dive into the depths they will be rewarded with coral and pearls. This should be your real mission. If you miss this, you live and die as an animal that has no knowledge of its inner springs of joy. If you discover the inner spring of joy, you will be Aathmaa Raama - happy, content, peaceful and loving. 


Kelahiran sebagai manusia diberikan kepada makhluk hidup sebagai berkat yang dicapai seseorang selama beberapa kali kelahiran. Ketahuilah bahwa hidup ini begitu tidak tentu, kematian selalu mengintai dan tidak ada yang mengetahui kapan kematian akan merenggut seseorang. Janganlah menunda dalam memilih tujuan hidup yang benar dan memutuskan cara terbaik untuk mencapainya. Berbaliklah dari dunia luar dan daya tarik duniawi, menuju alam kesadaran batin. Perjalanan batin ini akan diberkati dengan baik dengan kebahagiaan yang luar biasa. Air laut tercerai-berai menjadi busa. Tetapi jika seseorang berani untuk menyelam ke kedalaman laut, mereka akan dihadihi dengan karang dan mutiara. Ini hendaknya menjadi misimu yang sesungguhnya. Jika engkau melewatkan hal ini, dapat diibaratkan engkau hidup dan mati sebagai hewan yang tidak memiliki pengetahuan tentang sumber kebahagiaan sejati. Jika engkau menemukan sumber kebahagiaan sejati, engkau akan menjadi Aathmaa Raama - bahagia, puas, damai, dan penuh kasih.

-BABA

Sunday, January 15, 2012

Thought for the Day - 15th January 2012 (Sunday)

Think about this: when you are well, no one inquires about your health. But if you are struck with illness or sorrow, you are bombarded with anxious queries. Why this anxiety? Because man’s fundamental nature is to be happy and healthy. Your nature is joy. So when you are happy and healthy, no one is surprised or worried. Grief and sorrow are unnatural, and are the result of a delusion that has overwhelmed one’s nature. If you do a task as an assumed duty, you will find it difficult to put up with the troubles and travails that may come along with it. The task will also induce conceit, or the feeling 'I am the doer’, resulting in exhaustion or elation, disgust or pride. On the other hand when karma (action) is performed as your nature you can have fortitude. 

Renungkanlah hal ini: ketika engkau sehat, tidak ada seorangpun yang menanyakan kesehatanmu. Tetapi jika engkau tertimpa suatu penyakit atau mengalami penderitaan, engkau dihujani dengan berbagai pertanyaan yang mengkhawatirkan. Mengapa ada kekhawatiran seperti ini? Karena sifat dasar manusia adalah untuk menjadi bahagia dan sehat. Sifat sejatimu adalah sukacita. Jadi, ketika engkau bahagia dan sehat, tidak ada yang terkejut atau khawatir. Penderitaan dan kesedihan bukanlah sifat alami manusia, dan merupakan hasil dari khayalannya. Jika engkau melakukan pekerjaan sesuai dengan yang dibebankan padamu, engkau akan menyelesaikan masalah dan menerima dengan tanpa mengeluh kesulitan dan masalah yang dihadapi sepanjang melakukan pekerjaan tersebut. Suatu pekerjaan juga akan menyebabkan kesombongan, atau perasaan 'Aku adalah pelaku', sehingga akan ada kelelahan atau kegembiraan, kebencian atau kebanggaan. Di sisi lain ketika karma (tindakan) yang dilakukan dianggap sebagai sifat sejatimu, engkau akan memiliki ketabahan.

-BABA

Saturday, January 14, 2012

Thought for the Day - 14th January 2012 (Saturday)

Consider the service the Sun (Surya) does to this world! This is within the daily experience of all. The Sun is the source of all life forms on this planet. Without His rays, the earth will be a desolate waste. He draws up into the sky the waters of seas and lakes, and from the clouds showers rain on the crops. He is the Dharmadevatha (God of righteousness), scattering His rays equally on all. The service He does and the happiness He contributes is something no one else can. Despite doing this for millions of years, without any pride, He moves about unattached to the consequences of His energising mission of service. The Sun is thus teaching us that when one is oneself, there will be no exhaustion or elation, disgust or pride. That is, the task of Surya is not something imposed from outside and taken up under compulsion. That is why it is performed systematically, and smoothly. 

Pikirkanlah pelayanan Matahari (Surya) tidak hanya untuk dunia ini! Inilah pengalaman yang kita alami sehari-hari. Matahari adalah sumber dari semua bentuk kehidupan di planet ini. Tanpa sinar-Nya, bumi akan menjadi muram. Matahari membawa air laut dan danau ke langit, air laut tersebut membentuk awan, dan dari awan menjadi hujan yang bisa menyirami tanaman sehingga bisa menghasilkan panen. Dia adalah Dharmadevatha (Dewa kebenaran), sebaran sinar-Nya menyinari semuanya. Pelayanan dan kebahagiaan yang diberikan oleh Matahari, tidak bisa seorangpun yang bisa melakukannya. Meskipun melakukan hal ini selama jutaan tahun, tanpa penghargaan, Dia bergerak karena terikat untuk bergerak karena konsekuensi dari misi pelayanan energi-Nya. Demikianlah Matahari, mengajarkan pada kita bahwa ketika melakukan pelayanan, tidak merasa lelah atau gembira, serta tidak ada kebencian atau kebanggaan. Artinya, tugas Surya adalah bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar dan bukan pula dilakukan di bawah paksaan. Itulah mengapa hal tersebut dilakukan secara sistematis, dan lancar.

-BABA

Friday, January 13, 2012

Thought for the Day - 13th January 2012 (Friday)

The more riches you accumulate the more bound you become and get into more worry, anxiety and fear. There can be no peace of mind for a person burdened by riches. People ignorantly seek this restlessness (ashaanthi) as they do not know where to acquire true peace (Shanthi). An educated person must have the virtue of Shanthi as the first qualification. This implies, not being affected by praise or blame, failure or success. It is the ego that makes one feel glad or sad. Therefore control the ego by extending love to every living being. Ego is lovelessness. A person afflicted with ego cannot rejoice when others are happy, and feel pained when others are miserable. Only a selfless and egoless person can share the happiness of others and take positive steps to alleviate others’ misery. God will ever be on the side of selfless persons and there is nothing that they cannot achieve.

Semakin banyak engkau mengumpulkan kekayaan, maka engkau  akan menjadi lebih terikat, engkau merasakan kecemasan, khawatir, dan ketakutan. Tidak ada kedamaian pikiran bagi seseorang yang terbebani oleh kekayaan. Orang-orang yang bodoh mencari kegelisahan ini (ashaanthi) karena mereka tidak mengetahui di mana mereka mendapatkan kedamaian sejati (Shanthi). Seorang terpelajar harus memiliki Shanthi sebagai kualifikasi yang pertama. Hal ini berarti, tidak terpengaruh oleh pujian atau cemoohan, kegagalan atau kesuksesan. Ini adalah ego yang membuat orang merasa senang atau sedih. Oleh karena itu kendalikanlah ego dengan memperluas cinta-kasih bagi setiap makhluk hidup. Ego tidak mengenal cinta-kasih. Seseorang dengan ego tidak bisa bersukacita ketika orang lain bahagia, dan tidak akan merasakan kesedihan ketika orang lain menderita. Hanya orang yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki ego dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain dan mengambil langkah positif untuk meringankan penderitaan orang lain. Tuhan sesungguhnya berada di sisi orang yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak ada yang mereka tidak bisa capai.

-BABA

Thursday, January 12, 2012

Thought for the Day - 12th January 2012 (Thursday)


The whole world is intimately associated with the Sun God. He is the visible manifestation of the Lord. In India, Sun God (Surya) is considered highly sacred and granted the unique status of a great Guru. Sun is also the source of time. The Sun limits and regulates the number of years each one lives. He performs His duty without thought of reward, and is humble and steady. Imagine the patience with which the Sun puts up with all that extreme heat, and gives sufficient warmth to the human body, every single day. Human beings are so full of activity and intelligence on account of the solar energy that is imbibed. If the Sun is idle even for a moment, the whole world will go cold and dark. The actions of the great is the ideal that the rest have to keep in view. This also shows that all in the world are bound by the obligation of karma (activity).

Seluruh dunia sangat erat berhubungan dengan Dewa Matahari. Ia adalah manifestasi nyata dari Tuhan. Di India, Dewa Matahari (Surya) dianggap sangat sakral dan diberikan status yang unik sebagai seorang Guru besar. Matahari juga merupakan sumber waktu. Matahari membatasi dan mengatur jumlah usia masing-masing kehidupan. Ia melakukan tugas-Nya tanpa memikirkan imbalan, rendah hati, dan melakukan tugasnya secara terus-menerus. Bayangkan Matahari dengan penuh kesabaran memberikan panasnya yang luar biasa pada semuanya, dan memberikan kehangatan yang cukup bagi badan  manusia, setiap hari. Manusia begitu penuh aktivitas dan dengan kecerdasan yang dimilikinya bisa menyimpan energi surya yang di serap. Jika matahari bermalas-malasan (tidak melaksanakan tugasnya), bahkan untuk sesaat, seluruh dunia akan terasa dingin dan gelap. Tindakan yang mulia tersebut adalah suatu teladan, dan hal ini juga menunjukkan bahwa semua di dunia terikat oleh kewajiban karma (aktivitas).
 
-BABA

Wednesday, January 11, 2012

Thought for the Day - 11th January 2012 (Wednesday)


Although the food and habits may be different among nations, the spirit of harmony and unity displayed in sports is a gratifying example to all. It is a distinctive quality of sports that differences are forgotten and persons engage themselves in games in a divine spirit of friendliness and camaraderie. Sports help the players not only to improve their health but also to experience joy. However, one should not be content with realising these benefits alone. Mankind has another body besides the physical. It is the subtle body, otherwise known as the mind. It is equally essential to promote purity of the mind and develop large heartedness. True humanness blossoms only when the body, the mind and the spirit are developed harmoniously. The enthusiasm and effort which you display in sports should also be manifested in the spheres of morality and spirituality.

Meskipun makanan dan kebiasaan mungkin berbeda antara bangsa-bangsa, semangat harmoni/ kerukunan dan kesatuan ditampilkan dalam olahraga adalah contoh yang menyenangkan untuk semuanya. Inilah sifat khas dari olahraga dimana perbedaan dilupakan dan orang-orang yang melibatkan diri dalam permainan dalam semangat ilahi dengan keramahan dan persahabatan. Olahraga membantu para pemain tidak hanya untuk meningkatkan kesehatan mereka tetapi juga untuk mengalami sukacita. Akan tetapi, seseorang tidak boleh puas dengan menyadari manfaat ini sendirian. Manusia memiliki badan lain selain badan fisik. Ini adalah badan halus, atau dikenal sebagai pikiran (mind). Adalah sama pentingnya untuk meningkatkan kemurnian pikiran dan mengembangkan kebesaran hati. Kemanusiaan sejati akan berkembang hanya ketika badan, pikiran, dan jiwa dikembangkan secara harmonis. Antusiasme dan usaha yang menampilkan olahraga juga harus diwujudkan dalam lingkup moralitas dan spiritualitas.
-BABA

Tuesday, January 10, 2012

Thought for the Day - 10th January 2012 (Tuesday)


The impressions of the senses, mind, and intelligence have nothing to do with the Atma (Divine Self), which you really are. The Atma is unaffected by any subject or object or pleasures. To know the Atma as such an entity, unaffected and unattached, is the secret of Jnana (Wisdom). This awareness will guide you in both the outward (Pravritti marga) and inward (Nivritti marga) paths. This knowledge will not block action but will fill it with purpose and meaning. It will build up faith, inspire a moral life and take man to the realm of deliverance along the road of Nishkama Karma, action that is not prompted by desires. For the achievement of liberation, Jnana is the direct road. Therefore, it is incomparably sacred. And naturally, it follows that ignorance is undoubtedly the most despicable. "See the Universal in the particular; see the particular in the Universal - that is the essence of Jnana," declared Krishna in the Geeta.

Pengaruh dari indera, pikiran, dan kecerdasan tidak ada hubungannya dengan Atma, yang sesungguhnya adalah engkau. Atma tidak terpengaruh oleh subjek atau objek atau kesenangan. Untuk mengetahui Atma sebagai suatu kesatuan (entitas), tidak terpengaruh dan tidak terikat, adalah rahasia Jnana (Kebijaksanaan). Kesadaran ini akan menuntun-mu pada kedua jalan yaitu jalan eksternal (Pravritti marga) dan jalan internal (Nivritti marga). Pengetahuan ini tidak akan menghalangi tindakan tetapi akan mengisinya sesuai dengan kegunaan dan maknanya. Hal ini akan membangun keyakinan, menginspirasi kehidupan moral, dan membawa seseorang ke alam pembebasan sepanjang jalan Nishkama Karma, tindakan tanpa ada keinginan untuk mendapatkan hasil. Jnana adalah jalan langsung untuk mencapai pembebasan. Oleh karena itu, jalan ini adalah jalan suci yang tiada bandingannya. Dan tentu saja, maka tidak diragukan lagi bahwa ketidaktahuan/ kebodohan adalah yang paling hina. "Lihatlah yang Universal pada yang partikular; lihatlah yang partikular dalam Universal - inilah inti dari Jnana," demikian sabda Sri Krishna dalam Geeta.

-BABA