Tuesday, July 12, 2016

Thought for the Day - 11th July 2016 (Monday)

Perhaps you think that the devotional singing (Bhajan or Sankerthan) or service (Seva) that you do is all that is required to ‘become a devotee’. No! These are only sanctifying acts that purify your mind. They are actions (Karma) which elevate you and help you spend your time purposefully. They promote detachment from body consciousness and from objective pleasures. It is because you are encouraged to cultivate this attitude and taste the joy of renunciation, you experience happiness in a sacred place like Prasanthi Nilayam. These moments of bliss (Atmic Bliss) never decline or change. Continue to practice these always. When your goal is to serve the Lord and adore your Beloved, every step and act is a spring of joy, and every moment and opportunity becomes a valuable chance!


Mungkin engkau berpikir bahwa melantunkan kidung suci (Bhajan atau Sankeerthan) atau pelayanan (Seva) yang engkau lakukan adalah syarat untuk ‘menjadi bhakta’. Tidak! Keduanya ini hanya tindakan suci yang dapat menyucikan pikiranmu. Keduanya itu adalah perbuatan (Karma) yang mana mengangkat dan membantumu dalam menghabiskan waktu dengan maksud tertentu. Kegiatan itu meningkatkan ketidakterikatan pada kesadaran pada badan dan dari kesenangan yang bersifat objektif. Karena engkau mendorong diri untuk meningkatkan sikap ini dan merasakan suka cita dari ketidakterikatan pada duniawi maka engkau mengalami kebahagiaan di tempat suci seperti Prasanthi Nilayam. Saat-saat berbahagia ini (kebahagiaan Atma) tidak akan pernah berkurang atau berubah. Selalulah untuk tetap melanjutkan melakukan kedua bentuk kegiatan ini. Ketika tujuanmu adalah melayani Tuhan dan memuliakan-Nya maka setiap langkah dan perbuatan adalah sumber dari suka cita dan setiap saat dan kesempatan menjadi sebuah kesempatan yang berharga! (Sathya Sai Speaks, Vol 6, Ch 2, Mar 1966)

-BABA

Sunday, July 10, 2016

Thought for the Day - 10th July 2016 (Sunday)

Service of fellow human beings is more needed than service to the Lord Himself. In fact, such service is equal to the service of God. That is the path of real devotion. For what greater means can there be to please God than pleasing His very own children? The Purusha Sukta speaks of the Divine (Purusha) as having a thousand heads, a thousand eyes and a thousand feet. This is to say, “All are He!”. Though there is the mention of a thousand heads, a thousand eyes and a thousand feet, there is no mention of a thousand hearts! There is only one Heart! The same blood circulates through all the hands, eyes, feet and limbs. When you tend the limb, you are indeed tending the whole body. Similarly, when you serve your fellow beings, you are indeed serving God!


Pelayanan kepada sesama manusia adalah lebih dibutuhkan daripada pelayanan kepada Tuhan itu sendiri. Sejatinya, pelayanan yang seperti itu adalah sama dengan pelayanan kepada Tuhan. Itu adalah jalan pada bhakti yang sejati. Apa cara yang lebih hebat dalam menyenangkan Tuhan daripada menyenangkan anak-anak-Nya sendiri? Dalam Purusha Sukta disebutkan bahwa Tuhan (Purusha) memiliki ribuan kepala, ribuan mata dan kaki. Ini dapat dikatakan bahwa, “Semuanya adalah Beliau!”. Walaupun ada disebutkan tentang ribuan kepala, ribuan mata dan kaki, namun tidak ada disebutkan ribuan hati! Hanya ada satu hati! Darah yang sama yang mengalir melalui semua tangan, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Ketika engkau merawat anggota tubuh maka sebenarnya engkau sedang merawat seluruh tubuh. Sama halnya, ketika engkau melayani sesamamu, engkau sejatinya sedang melayani Tuhan! (Sathya Sai Speaks, Vol 6, Ch 2, Mar 1966)

-BABA

Thought for the Day - 9th July 2016 (Saturday)

The Mahabharata is an ideal text for peace lovers. So long as we are human beings, we cannot understand and follow the actions of Divinity. But we must accept and follow the actions done by God come as a human being. In the present conditions, if we accept and practice the ideals that were demonstrated in the Mahabharata, all countries will certainly prosper. For example, when Krishna went to negotiate peace and was asked by Duryodhana to accept his hospitality, Lord Krishna said that as he has come on a mission, He had no right to accept the hospitality till the mission was completed. So he declined the hospitality offered by Duryodhana and stayed in Vidura’s house. Such code of conduct was being observed in those days even in political negotiations; the moral mettle of our ancients were of a very high order. Thus every action of the Pandavas and of Lord Krishna in Mahabharata is an ideal lesson for us.


Mahabharata adalah sebuah teks yang ideal bagi para pecinta kedamaian. Selama kita sebagai manusia, kita tidak bisa memahami dan mengikuti tindakan dari Tuhan. Namun kita harus menerima dan mengikuti perbuatan yang dilakukan oleh Tuhan yang datang sebagai manusia. Dalam keadaan sekarang, jika kita menerima dan menjalankan ideal yang telah ditunjukkan di dalam Mahabharata, semua bangsa dan Negara pastinya akan sejahtera. Sebagai contoh, ketika Sri Krishna pergi untuk melakukan negosiasi perdamaian dan saat itu Duryodana meminta Sri Krishna untuk menerima keramahtamahannya, namun Sri Krishna berkata bahwa Beliau telah datang untuk sebuah misi, dan Beliau tidak memiliki hak untuk menerima kerahmahtamahan sampai misinya telah selesai. Jadi Beliau menolak tawaran dari Duryodhana dan memilih tinggal di rumah Widura. Tatanan tingkah laku yang seperti itu telah dijalankan pada waktu dulu bahkan di dalam negosiasi politik; nilai moral dari para leluhur kita sangat tinggi sekali. Jadi setiap tindakan dari para Pandava dan Sri Krishna dalam Mahabharata adalah sebuah pelajaran yang ideal bagi kita. (Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 6)

-BABA

Friday, July 8, 2016

Thought for the Day - 8th July 2016 (Friday)

At holy temples such as Tirupati or Bhadrachalam, you find only a stone shaped as an idol. But when the feeling of devotion permeates that stone, it becomes the Supremest Treasure of the human mind. Many waste precious time, debating which path of worship - duty, devotion or wisdom - is superior over another. They are complementary. Teach your mind the secret of transmuting your every act with devotion into sacred worship. Then you will never suffer from disappointment and grief. The Lord is so full of Grace that He will willingly guide and guard every being who surrenders unto Him. To win His Grace, all you must do, is become permeated with righteousness (Dharma) so that your every act is ‘God-worthy’! With the sharp chisel of your intellect, shape your mind into a perfect image of the Lord! Then you will shine with the splendor of Divine. Dedicate yourself to this noble ideal from now!
Di tempat suci seperti Tirupati atau Bhadrachalam, engkau hanya menemukan sebuah bentuk batu (batu yang dibentuk) yang dipuja. Namun ketika perasaan bhakti menembus batu itu, maka batu itu menjadi harta benda yang tertinggi dari pikiran manusia. Banyak yang menyia-nyiakan waktu dalam perdebatan terkait jalan pemujaan – kewajiban, bhakti atau kebijaksanaan – apakah lebih hebat satu dengan yang lainnya. Ketiganya adalah saling melengkapi. Ajarkan pikiranmu rahasia dari mengubah setiap tindakanmu dengan bhakti menuju pada ibadah yang suci. Kemudian engkau tidak akan pernah menderita dari rasa kecewa dan kesedihan. Tuhan penuh dengan rahmat dimana Beliau akan dengan senang hati menuntun dan menjaga setiap makhluk yang berserah diri kepada-Nya. Untuk bisa mendapatkan rahmat-Nya, yang harus engkau lakukan adalah dapat diresapi dengan kebajikan (Dharma) sehingga setiap perbuatanmu adalah ‘Layak bagi Tuhan’! Dengan pahat tajam dari intelekmu maka bentuklah pikiranmu menjadi sebuah wujud Tuhan yang sempurna! Kemudian engkau akan bersinar dengan cahaya illahi. Dedikasikan dirimu sendiri pada ideal yang luhur ini dari sekarang! (Divine Discourse, Sathya Sai Speaks, Vol 6, Jan 14, 1966)

-BABA

Thought for the Day - 7th July 2016 (Thursday)

All the lessons that great saints teach are merely like guideposts. The best that a guidepost can do is to tell you that if you travel in that way, you will reach this particular destination; and if you travel along another path, you will reach a different place. The actual ups and downs along a specific path will be understood only by the people who undertake that journey. One can speak about a million things, but you cannot experience wisdom merely by speaking and not practicing what you preach. Today, hatred, injustice, and fear have filled all our lives. Youth have abundant energy and capacity to remove these evil forces. They should make an effort to understand the sacred ideals from our scriptures. The spirit of nobility and sacrifice which pervaded the lives of ancients is contained in the blood flowing in you! Be prepared to believe in and fully practice what you hear from noble saints and set an example.


Semua pesan atau pelajaran yang diajarkan oleh guru-guru suci hanyalah sebagai tonggak penunjuk jalan. Yang terbaik yang bisa dilakukan oleh penunjuk jalan adalah mengatakan kepadamu bahwa jika engkau menempuh perjalanan di jalan itu maka engkau akan mencapai tujuan tertentu; dan jika berjalan di jalan yang lain maka engkau akan mencapai tujuan yang lainnya. Naik dan turunnya jalan di sepanjang perjalanan hanya akan dapat dimengerti oleh mereka yang melakukan perjalanan. Seseorang dapat berbicara begitu banyak hal, namun engkau tidak akan dapat mengalami kebijaksanaan hanya dengan berbicara dan bukannya menjalankan apa yang engkau katakan. Saat sekarang, kebencian, ketidakadilan, dan ketakutan telah mengisi seluruh hidup kita. Pemuda memiliki energi yang sangat besar dan kapasitas untuk melepaskan kekuatan jahat ini. Pemuda harus melakukan sebuah usaha untuk mengerti ideal yang suci dari kitab suci kita. Jiwa dari kemuliaan dan pengorbanan yang ada dalam hidup leluhur kita juga terkandung dalam darah yang mengalir dalam dirimu! Bersiaplah untuk percaya dan sepenuhnya menjalankan apa yang engkau dengar dari guru suci dan menjadi teladan. (Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 6.)
-BABA


Thursday, July 7, 2016

Thought for the Day - 6th July 2016 (Wednesday)

The tree of life is a tree of delusion, with all its branches, leaves and flowers. You can realise it as such, when you do all acts as dedicated offerings to God. See Him as the sap through every cell, as the Sun warming and building every little plant. See Him in all, worship Him through all, for He is all! Engage in activity, but fill it with devotion: It is devotion that sanctifies! A piece of a paper is almost trash, but if it is a certificate you have earned, you value and treasure it, don’t you? It even becomes a passport for your promotion in life! So also it is the intent and thought (Bhava) behind your actions that matter, not the outward pomp and show (Bahya). Work, Worship and Wisdom are complementary, not contradictory! Do not separate them! Work is like your feet, Worship is your hands and Wisdom is your head. All the three must co-operate throughout your life!


Pohon kehidupan adalah pohon khayalan dengan semua dahan, daun dan bunganya. Engkau dapat menyadarinya pada hakekatnya, ketika engkau mengerjakan semua perbuatan sebagai persembahan kepada Tuhan. Melihat-Nya sebagai cairan tubuh yang melalui setiap sel, sebagai hangatnya mentari dan membangun setiap tumbuhan kecil. Lihatlah Beliau dalam semuanya. Memuja-Nya melalui semuanya dan karena Beliau adalah semuanya! Jalankan kegiatan namun isilah kegiatan itu dengan bhakti: karena bhakti yang menyucikan! Secarik kertas hampir pasti adalah sampah, namun jika kertas itu adalah sertifikat yang engkau telah dapatkan maka engkau menghargainya, bukan? Secarik kertas ini bahkan menjadi sebuah paspor bagi kemajuan di dalam hidup! Jadi begitu juga adalah maksud dan pikiran (Bhava) dibalik perbuatanmu yang penting dan bukan pamer keluar (Bahya). Bekerja, ibadah dan kebijaksanaan adalah melengkapi dan bukan bertentangan! Jangan memisahkan mereka! Bekerja adalah seperti kakimu, ibadah adalah tanganmu, dan kebijaksanaan adalah kepalamu. Ketiga-tiganya harus saling bekerjasama sepanjang hidupmu! (Divine Discourse Jan 14, 1966)

-BABA

Thought for the Day - 5th July 2016 (Tuesday)

We generally think that the Gita consists of certain teachings which will help us and teach us renunciation, and take us along the spiritual path. This is not the correct way of understanding. We should recognise that the Gita gives us teachings which will help us to run our daily lives and meet the situations which we come across. Krishna established the truth that our spiritual life and our daily worldly life are not two distinct compartments. He demonstrated that our daily life is something intimately connected with spiritual life. He showed the need for harmony and connection between one's thoughts, words and deeds. He proclaimed that in order that one may have good thoughts, the mind is very important. In order that one may communicate these thoughts to the world, word is very important. In order to put this into action, one’s deeds are equally important.


Kita pada umumnya berpikir bahwa Gita terdiri dari ajaran yang akan membantu dan mengajarkan kita dalam melepaskan keterikatan dan membawa kita pada jalan spiritual. Ini bukanlah pemahaman yang benar. Kita seharusnya menyadari bahwa Gita memberikan kita ajaran yang akan membantu kita untuk menjalani hidup sehari-hari dan menghadapi situasi yang kita temui. Krishna menegakkan kebenaran bahwa kehidupan spiritual kita dan kehidupan sehari-hari kita bukanlah dua bagian yang berbeda. Beliau memperlihatkan bahwa kehidupan kita sehari-hari adalah sangat dekat hubungannya dengan kehidupan spiritual. Sri Krishna memperlihatkan akan perlunya ada sebuah keharmonisan dan hubungan diantara pikiran, perkataan, dan perbuatan seseorang. Beliau menyatakan bahwa dalam upaya seseorang dapat memiliki gagasan yang baik maka pikiran adalah sangat penting. Dalam upaya agar seseorang dapat mengkomunikasikan kata-kata ini pada dunia, maka perkataan adalah sangat penting. Dalam upaya untuk menjadikannya sebuah tindakan maka perbuatan seseorang sama pentingnya. (Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 6)

-BABA