Tuesday, August 16, 2016

Thought for the Day - 15th August 2016 (Monday)

Embodiments of Love! If our nation were to make progress, there should be complete unity amongst all its people. Our great leaders made great sacrifices and secured freedom for us. While we have attained Independence, unity has not been achieved. What is the use of freedom without unity? There is hatred everywhere. If this kind of disunity persists, how can hard-won freedom be safeguarded? People are not treading the right path. You must adopt the path of complete unity, so that every citizen (Bharatiya) must be able to say proudly, “This is my beloved country; this is my mother tongue and my religion.” You should also uphold the reputation and traditions of your family. There are many who chant the sweet name of Lord Rama, but is there anyone who actually practices the virtues Lord Rama represented? Lord Rama said, “Mother and motherland are greater than even paradise” (Janani Janma Bhumishcha Swargadapi Gariyasi). You must recognise and live by this truth.


Perwujudan kasih! Jika bangsa kita ingin adanya kemajuan, maka harus ada persatuan yang utuh diantara semua warga negaranya. Pemimpin kita telah membuat pengorbanan yang sungguh luar biasa dan mendapatkan kebebasan bagi kita. Ketika kita sudah mendapatkan kemerdekaan, persatuan belum juga dapat dicapai. Apakah gunanya kemerdekaan tanpa adanya persatuan? Ada kebencian dimana-mana. Jika ketidakharmonisan ini tetap ada, bagaimana bisa kemerdekaan yang diraih dengan susah payah dapat dijaga? Manusia tidak menapaki jalan yang benar. Engkau harus mengambil jalan yang membentuk persatuan seutuhnya sehingga setiap warga Negara harus mampu dengan bangga mengatakan, “Ini adalah Negara yang saya cintai; ini adalah bahasa ibu dan agama saya.” Engkau seharusnya juga menjaga reputasi dan tradisi dari keluargamu. Ada banyak orang yang melantunkan nama suci Sri Rama, namun apakah ada yang sunguh-sungguh menjalankan kemuliaan dari Sri Rama? Sri Rama berkata, “Ibu dan ibu pertiwi adalah lebih hebat daripada surga” (Janani Janma Bhumishcha Swargadapi Gariyasi). Engkau harus menyadari dan hidup dengan kebenaran ini. (Divine Discourse, Nov 23, 2000)

-BABA

Monday, August 15, 2016

Thought for the Day - 14th August 2016 (Sunday)

Neither sorrow nor pleasure can ever be permanent for anyone. All that we do, good or bad, knowingly or unknowingly, will produce results. So it is necessary for us to do good so that the consequences will also be good. When a child is born out of a mother’s womb, the infant does not come out with a garland or a gold chain. However the child does come out with its invisible chain of ‘Karma’ – the result of all the actions (karma) that one has done in their previous births. But that ornament is invisible. To help us live this life well and in order to not have a chain of bad reactions around our neck when we are born in our next life, it is necessary for us to recognise, as a primary lesson, that we should do good deeds in our daily lives. Hence practice, ‘Do good, Be good, and See good.’ That alone will take you to God!


Bukan penderitaan dan juga kesenangan yang bersifat kekal bagi siapapun juga. Semua yang kita lakukan, baik atau buruk, secara sadar atau tidak sadar, akan menghasilkan sebuah akibat. Jadi sangat perlu bagi kita untuk melakukan yang baik sehingga akibatnya juga akan baik. Ketika seorang anak lahir dari rahim ibu, bayi tersebut tidak lahir dengan memakai sebuah kalung bunga atau kalung emas. Bagaimanapun juga anak itu lahir dengan kalung karma yang tidak terlihat – yaitu hasil dari semua perbuatan (karma) yang seseorang lakukan di kehidupannya yang lalu. Namun perhiasan itu adalah tidak terlihat. Untuk membantu kita hidup dalam kehidupan ini dengan baik dan dalam upaya untuk tidak memiliki kalung berupa reaksi yang buruk di sekitar leher kita ketika kita lahir di kehidupan yang akan datang, adalah perlu bagi kita untuk menyadarinya sebagai pelajaran yang pertama yaitu kita seharusnya melakukan perbuatan yang baik di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu jalankanlah, ‘berbuat yang baik, menjadi baik dan melihat yang baik.” Hanya inilah yang akan membawamu kepada Tuhan! (Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 8)

-BABA

Thought for the Day - 13th Augustus 2016 (Saturday)

The Vedas have given us four Mahavakyas: (1) That thou art (Tat Twam Asi), (2) Constant integrated awareness is Divinity (Prajnanam Brahma), (3) I am Divine (Aham Brahmasmi) and (4) The soul is Divine (Ayam Atma Brahma). All of you know these statements and are constantly chanting these words but are not putting them into practice. Mere chanting without action is pure exhibitionism. You say, all are divine (Brahman), but hate others. This is sheer hypocrisy. If you have aversion to any individual, quietly keep away from them. Do not hate them; try to develop love for them. Do not criticize or hate anybody. This is My message for you today. This is the course to be adopted by you. I love everyone. I have no dislike for anyone. All are My devotees, friends and children. To Me, all are one. This universe is a big book. Your inner conscience (Antaratma) is your Guru. God is your best friend.

Weda telah memberikan kepada kita empat Mahavakya: (1) Aku adalah engkau (Tat Twam Asi), (2) Kesadaran terpadu yang constant adalah keillahian (Prajnanam Brahma), (3) Aku adalah Tuhan (Aham Brahmasmi) dan (4) Jiwa adalah Tuhan (Ayam Atma Brahma). Semua darimu mengetahui pernyataan ini dan secara constant mengulang-ulang kata-kata ini namun tidak menjalankannya dalam tindakan. Hanya dengan mengulang saja tanpa melakukan dalam tindakan hanyalah sebuah pamer saja. Engkau mengatakan bahwa semuanya adalah Tuhan (Brahman), namun membenci yang lainnya. Ini hanyalah kemunafikan saja. Jika engkau memiliki hal yang tidak disukai pada siapapun juga maka secara tenang menjauhlah darinya. Jangan membenci mereka; cobalah mengembangkan kasih kepada mereka. Jangan mengritik atau membenci siapaun juga. Ini adalah pesan-Ku untukmu hari ini. Ini adalah jalan yang harus engkau jalani. Aku mengasihi setiap orang. Aku tidak memiliki rasa tidak suka kepada siapapun juga. Semuanya adalah bhakta, sahabat dan anak-anak-Ku. Bagi-Ku semuanya adalah satu. Alam semesta ini adalah sebuah buku besar. Kesadaran di dalam dirimu (Antaratma) adalah sebagi Gurumu. Tuhan adalah sahabat terbaikmu. (Divine Discourse, Nov 23, 2000)

-BABA

Friday, August 12, 2016

Thought for the Day - 11th & 12th August 2016

Date: Thursday, August 11, 2016
THOUGHT FOR THE DAY
God has many names and forms but Divinity is one. Scholars refer to the ‘One Truth’ with many names (Ekam Sath Viprah Bahudha Vadanti). Realising this truth, respect all, love all and give joy to all. Then you become God! When you recognise the fact that Divinity in all is the same, there would be no sense of duality. You may think that it is very difficult, but it is extremely simple. Your inability to recognise this truth is due to the fault of your vision and not the Creator. Correct your faulty vision and perception; see the unity in diversity. In this world, there is a constant strife between good and evil. Many people are jealous of others and subject them to slander. But do not attach any importance to such criticism. Praise and abuse are common to mankind. Several noble people faced similar difficulties and overcame these with fortitude. Live in truth and love, no harm will come to you.
Tuhan memiliki banyak nama dan wujud namun keillahian adalah satu. Para sarjana mengacu pada “Satu Kebenaran” dengan banyak nama (Ekam Sath Viprah Bahudha Vadanti). Menyadari kebenaran ini, menghormati semuanya, mengasihi semuanya, dan memberikan suka cita pada semuanya. Kemudian engkau menjadi Tuhan! Ketika engkau menyadari kenyataan bahwa keillahian dalam semuanya adalah sama maka tidak akan ada lagi perasaan dualitas. Engkau mungkin berpikir bahwa ini sangatlah sulit, namun ini sangatlah sederhana sekali. Ketidakmampuanmu dalam menyadari kebenaran ini disebabkan oleh kesalahan dalam pandanganmu dan bukan pada sang pencipta. Perbaiki cacat cela pada pandangan dan penglihatanmu; lihatlah kesatuan dalam keanekaragaman. Di dunia ini, ada sebuah perselisihan yang terus menerus diantara kebaikan dan kejahatan. Banyak orang merasa cemburu pada yang lain dan memberikan fitnah kepada mereka. Namun jangan memberikan perhatian pada krtikan seperti itu. Pujian dan makian adalah hal umum bagi manusia. Beberapa orang yang mulia menghadapi kesulitan yang sama dan mengatasinya dengan ketabahan. Hiduplah dalam kebenaran dan kasih sayang maka tidak ada kekerasan yang dapat datang mendekatimu. (Divine Discourse, Nov 23, 2000)
-BABA
Date: Friday, August 12, 2016
THOUGHT FOR THE DAY
All creation that you see emanates from the Lord. That the great variety that we see around us is coming only as a result of the change in our own qualities (Gunas) is a truth that is asserted by the sacred texts. You are sometimes very happy, sometimes afraid, and at other times courageous. These changes come about in quick succession and in a casual way. The main reason for all these changes is the change that comes in our own mental attitude. These are manifestations of one’s own qualities. Man has three distinct qualities or gunas - satwa, tamo, and rajo gunas. If these are mixed in a balanced manner, there will be no drastic change in one’s nature. Sunlight is composed of seven different colours. When these colours are mixed in appropriate proportions, there will be no change, and the Sun will shine in its natural colour. On the other hand, if there is an imbalance in the manner in which these colours are mixed, then you will find that some special colours show themselves.

Semua ciptaan yang engkau lihat berasal dari Tuhan. Begitu banyak jenis yang kita lihat di sekitar kita hanya muncul sebagai hasil dari perubahan dari sifat (guna) dalam diri kita sendiri dan ini adalah sebuah kebenaran yang dinyatakan dalam naskah suci. Engkau kadang-kadang senang, kadang-kadang takut dan di lain waktu merasa berani. Perubahan-perubahan ini muncul dalam rangkaian yang cepat dan dalam cara yang biasa saja. Alasan utama dari semua perubahan ini adalah perubahan yang muncul dalam sikap mental kita sendiri. Semuanya ini adalah perwujudan dari sifat kita sendiri. Manusia memiliki tiga sifat (guna) yang berbeda yaitu - satwa, tamo, dan rajo guna. Jika ketiganya ini bercampur dalam keseimbangan maka tidak akan ada perubahan yang bersifat drastis dalam sifat seseorang. Sinar matahari disusun oleh tujuh warna yang berbeda. Ketika warna-warna ini bercampur dalam kadar yang sesuai maka tidak akan ada perubahan dan matahari akan bersinar dengan warnanya yang alami. Sebaliknya, jika terjadi ketidakseimbangan dalam campuran warna itu maka engkau akan menemukan beberapa warna spesial menunjukkan warnanya sendiri. (Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 9)
-BABA

Wednesday, August 10, 2016

Thought for the Day - 10th August 2016 (Wednesday)

Once the Atma is cognised, you will find that all is really One. This is the goal prescribed by the scriptures of this land. But the children of this sacred land have neglected it and are today struggling in the quagmires and cesspools of faction and fear. When the four bulls that grazed in the jungle were united and watchful of each other's safety (for they felt they were all one) the tiger dared not approach them; but, when discord broke them and created out of the ‘one’, four separate individuals, they were attacked one by one, and devoured by the tiger. That is the fate of those who feel separate. Know that though vyaktis (individuals) may be separate, the shakti (power) is one; that Shakti is the Paramatmatattva (principle of the supreme Atma). This is the message that I bring. This message surely is hitha (beneficial), though it may not be priya (pleasing). A patient must take medicines and follow the restrictions that doctors recommend; they cannot eat and live as they please during illness. The doctor knows best and must be obeyed to regain health.


Saat Atma dikenali maka engkau akan mendapatkan bahwa semua sejatinya adalah satu. Ini adalah tujuan yang dijabarkan oleh naskah suci dari negeri ini. Namun putra dan negeri ini telah mengabaikannya dan hari ini sedang berjuang dalam keadaan yang sulit dan jahat dari faksi dan ketakutan. Ketika empat banteng yang merumput di dalam hutan bersatu dan waspada terhadap keselamatan satu dengan yang lainnya (karena mereka merasa bahwa mereka adalah satu) maka harimau tidak berani mendekati mereka; namun, ketika perselisihan mulai terjadi serta memecah mereka menjadi individu yang terpisah dan akhirnya mereka diserang satu per satu dilahap oleh harimau. Itulah nasib dari mereka yang merasa terpisah. Ketahuilah bahwa walaupun vyakti (individual) mungkin terpisah namun shakti (kekuatan) adalah satu; Shakti itu adalah Paramatmatattva (prinsip dari Atma yang tertinggi). Ini adalah pesan yang Aku bawa. Pesan ini pastinya adalah hitha (bermanfaat), walaupun ini mungkin tidak menyenangkan (priya). Seorang pasien harus minum obat dan mengikuti pembatasan yang diberikan oleh dokter; pasien tidak bisa makan dan hidup seperti yang mereka sukai selama mereka masih sakit. Dokter mengetahui yang terbaik dan harus diikuti untuk bisa kembali sehat. (Divine Discourse, March 16, 1966)

-BABA

Tuesday, August 9, 2016

Thought for the Day - 9th August 2016 (Tuesday)

You cannot attain sukham through sukham (that is, happiness through comforts). The joy of release can be won only through travails and trials. Through intense pain a woman achieves the bliss of motherhood. Through toil, the coveted grain is earned by the farmer from the field. Through long days and nights of steady study, a student passes in the examination and earns a coveted degree. Deprive yourselves of luxury and even comfort; detach yourselves from that which you hold dear and near out of sheer ignorance of what is most dear and near to yourself; pine, struggle, strive ceaselessly - and then you are blessed with the inexpressible Bliss of merger with the Universal, of Sakshathkara. It is grief that makes joy worthwhile and a precious possession; it is the pitch-dark night that prompts the seeker of light; it is death, that lends zest to life.


Engkau tidak bisa mencapai sukham melalui sukham (yaitu mencapai kesenangan melalui kenyamanan). Suka cita bisa didapatkan melalui usaha dan percobaan. Melalui rasa sakit yang hebat maka seorang wanita mendapatkan kebahagiaan sebagai ibu. Melalui kerja keras, butir padi yang sangat diinginkan bisa didapat oleh petani di sawah. Melalui belajar siang dan malam dengan tekun maka seorang pelajar bisa lulus dalam ujian dan mendapatkan gelar sarjana yang sangat didambakannya. Melepaskan dirimu dari kemewahan dan bahkan kenyamanan; melepaskan dirimu dari yang sangat engkau sayangi disebabkan oleh kebodohan yang besar tentang apa yang paling engkau sayangi bagi dirimu sendiri; hasrat yang kuat, berjuang, berusaha keras terus menerus – dan kemudian engkau akan diberkati dengan kebahagiaan yang tidak terlukiskan dalam penyatuan dengan alam semesta, dari Sakshathkara. Adalah kesedihan yang membuat suka cita bermanfaat dan sebuah harta yang berharga; adalah karena malam yang gelap maka mendorong seseorang mencari cahaya; adalah kematian yang memberikan gairah hidup. - Divine Discourse, March 16, 1966

-BABA

Thought for the Day - 8th August 2016 (Monday)

When Pandavas were preparing to go to the forest, Dharmaraja called Draupadi, asked her to sit by his side and said, “Owing to personal differences between us and Kauravas, a situation has arisen by which we must live in the forest for 12 years and one year in incognito. Men will bear the difficulties somehow, why don’t you remain here and take care of old Dhritarashtra and Gandhari?” The Pandavas had asked Draupadi to take care of the two main people who were cruel and in fact were responsible for their having to go to the forest. This is a very great quality in the Pandavas, and we must learn a lesson from this conduct. The moral here is that whatever has to happen in one’s life will happen, but to take such inevitable events and use them to promote hatred is incorrect; it is not good human character. The misfortunes, troubles and pain we experience are not arising externally, nor are they God given. They are the result of our own actions. It is only as a result of one’s own weakness, that one blames someone else for one’s troubles and misfortunes. This is not a right attitude.


Ketika para Pandawa sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke dalam hutan, Dharmaraja memanggil Draupadi dan memintanya untuk duduk di sampingnya dan berkata, “Oleh karena perbedaan kepribadian diantara kita dan para Kaurawa maka situasi ini telah muncul dimana kita harus tinggal di dalam hutan selama 12 tahun dan satu tahun dalam penyamaran. Bagaimanapun manusia akan menghadapi kesulitan, mengapa engkau tidak tinggal disini dan merawat Dhritarashtra dan Gandhari yang sudah tua?” Para Pandawa telah meminta kepada Draupadi untuk merawat dua orang yang kejam dan sejatinya yang harus bertanggung jawab atas keadaan mereka pergi ke dalam hutan. Ini adalah kualitas yang sangat baik dalam diri para Pandawa dan kita harus belajar sebuah pelajaran dari hal ini. Moralitas yang ada disini adalah apapun yang harus terjadi dalam kehidupan seseorang namun menggunakan kejadian yang tidak dapat terelakkan dan menggunakan untuk meningkatkan kebencian adalah tidak benar; ini bukan karakter manusia yang baik. Kesialan, masalah, dan rasa sakit yang kita alami adalah tidak muncul dari luar dan tidak juga Tuhan yang memberikannya. Semuanya itu adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Hanya merupakan tanda dari kelemahan seseorang maka ia akan menyalahkan orang lain atas masalah dan kesialan yang didapatkannya. Ini bukan sikap yang benar. (Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 8)
-BABA