Tuesday, December 17, 2019

Thought for the Day - 13th December 2019 (Friday)

Tat Twam Asi – You are the embodiment of the Atma. This is the highest and holiest Mahavakya or divine axiom. You are that indestructible fruit and its inner essence. You are that Atma Tatwa, the Atmic principle which is different from the body and is blemishless. It is for the sake of this Atmic principle alone that you are given this body. You, the Atma, is always steady. Have you come with the body as a vehicle to destroy yourself? Surely not. You are here to exercise authority over the body to thereby promote welfare of the world. The body has to be utilised for this mahat tatwa – great purpose. This body is meant for performing actions; it is a mere implement and instrument gifted by God. Once its intended purpose is served, it is needed no more. Until you have realised your true self, the body has to be protected by all means. 


Tat Twam Asi – engkau adalah perwujudan dari Atma. Ini adalah pernyataan Tuhan (Mahavakya) yang tertinggi dan paling suci. Engkau adalah buah yang tidak dapat dihancurkan dan intisari yang ada di dalamnya. Engkau adalah Atma Tatwa, prinsip Atma yang berbeda dari tubuh dan tidak ternoda. Adalah hanya untuk tujuan prinsip Atma ini bahwa engkau diberikan tubuh. Engkau, sang Atma, yang selalu tidak tergoyahkan. Apakah engkau datang dengan tubuh sebagai sarana untuk menghancurkan dirimu sendiri? Pastinya tidak. Engkau ada disini untuk menggunakan otoritas atas tubuh untuk meningkatkan kesejahteraan dunia. Tubuh harus digunakan untuk maha tatwa ini– tujuan yang sangat besar. Tubuh ini adalah sarana untuk menjalankan perbuatan; tubuh hanyalah alat dan sarana yang diberikan oleh Tuhan. Setelah tujuan yang dimaksudkan tercapai, tubuh ini tidak diperlukan lagi. Sampai engkau menyadari dirimu yang sejati, tubuh harus dilindungi dengan segala cara. (Prema Vahini, Chap 4)

-BABA

Thursday, December 12, 2019

Thought for the Day - 12th December 2019 (Thursday)

It is not wrong to love children. But parents should learn how to love them. Whenever the children go astray, wittingly or unwittingly, parents should hasten to correct their faults and bring them to the righteous path. The obligations of parents do not end with providing food, schooling and knowledge on worldly matters. Children should also be provided with right values. They should not be made to think that the acquisition of wealth is the be-all and end-all of life. Wealth does not accompany one when they leave the world. Wealth is necessary only for meeting one's essential needs. Too much wealth is an embarrassment like an oversized shoe. Too little of it is likely to be painful, like a tight-fitting shoe. So it is desirable to have only that amount of wealth that is adequate for one's basic needs. It is deplorable that in the mad pursuit of money, people are forgetting or compromising human virtues. 


Adalah tidak salah untuk mencintai anak-anak. Namun orang tua seharusnya belajar bagaimana mencintai mereka. Kapanpun anak-anak menjadi nakal, sengaja atau tidak sengaja, orang tua harus segera memperbaiki kesalahan mereka dan membawa mereka ke jalan kebajikan. Kewajiban dari orang tua tidak selesai hanya dengan menyediakan makanan, menyekolahkan dan pengetahuan tentang duniawi saja. Anak-anak seharusnya juga disediakan dengan nilai-nilai yang benar. Mereka seharusnya tidak dibuat berpikir bahwa pengumpulan kekayaan adalah yang paling penting dalam hidup. Kekayaan tidak menemani mereka ketika mereka meninggalkan dunia. Kekayaan adalah perlu hanya untuk memenuhi kebutuhan seseorang. Terlalu banyak kekayaan adalah sebuah keadaan memalukan seperti sepatu yang kebesaran. Sangat sedikit memiliki kekayaan juga menyakitkan, seperti sepatu yang kekecilan. Jadi, kekayaan diperlukan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seseorang. Sangat disayangkan bahwa dalam pengejaran kekayaan yang menggila, orang-orang melupakan atau melonggarkan kebajikan manusia. (Divine Discourse, Feb 5, 1984)

-BABA

Thought for the Day - 11th December 2019 (Wednesday)

Man does not live long. However in this short span of life he has the ability to experience divine bliss. Two people might appear ostensibly made of the same mould. Their limbs might look alike. Nevertheless, one could turn out to be an angel and another a beast. What is the reason for this? Looking at their behaviour, it is hard to believe that both of them belong to the same community. Therefore, primarily behaviour is important for man. Each and every moment, human life may superficially appear to be simple but truly it is not so; there is a great meaning inherent in it. The entire life is a great act of sacrifice or yajna karma. If the sleep that one enjoys after offering all the experiences of the day to the Lord in a spirit of surrender, is not Samadhi then what else is it? Because of the all pervasive feeling of “I am the Body”, man, without discrimination, explores various ways to boost his physical being. Therefore, instead of thinking day and night about the body, preserve it only for the purpose of serving all living beings with Trikarana shuddhi - purity of thought, word and deed, so that you can realize the Higher Self, as you are not the body but the Atma. 


Manusia tidak hidup lama. Bagaimanapun juga dalam rentang hidup yang pendek ini, manusia memiliki kemampuan untuk mengalami kebahagiaan Dewata. Dua orang mungkin kelihatan seolah-olah terbuat dari cetakan yang sama. Anggota badan mereka mungkin kelihatan sama. Meskipun demikian, seseorang dapat berubah menjadi malaikat dan yang lainnya menjadi binatang buas. Apakah alasan untuk ini? Melihat pada tingkah laku mereka, adalah sulit dapat dipercaya bahwa keduanya dari mereka berasal dari komunitas yang sama. Maka dari itu, perilaku adalah penting bagi manusia. Setiap saat, kehidupan manusia mungkin kelihatan dangkal namun sesungguhnya tidaklah demikian; ada makna yang sungguh luar biasa yang melekat di dalamnya. Seluruh hidup adalah sebuah tindakan pengorbanan yang hebat atau yajna karma. Jika tidur yang seseorang nikmati setelah mempersembahkan semua pengalaman hari itu kepada Tuhan dalam semangat berserah diri, kalau ini bukan Samadhi lantas apakah ini? Karena semua perasaan yang meresapi “aku adalah tubuh”, manusia tanpa kemampuan membedakan, mengeksplorasi berbagai cara untuk meningkatkan fisiknya. Maka dari itu, daripada berpikir siang dan malam tentang tubuh, pelihara tubuh hanya untuk tujuan melayani semua makhluk hidup dengan Trikarana shuddhi – kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan, sehingga engkau dapat menyadari Diri yang Sejati, bahwa engkau bukanlah badan namun sang Atma. (Prema Vahini, Chap 4)

-BABA

Thought for the Day - 10th December 2019 (Tuesday)

People have faith in the results given by scientists of the calculation of planetary distances and sizes. But they hesitate when confronted with conclusions arrived at by investigators who have seen and shown, experienced and enjoyed the Truths by going into the inner space and inner regions of the Spirit. It is unreasonable willfulness that makes people stick to the beliefs they have accepted as unchallengeable. As the statement goes, “The subterranean fire can be grasped in the palm and the sky can be contacted as a concrete entity; but one can never refine the mind of an obtuse and obstinate person." For one can awaken a person who sleeps; one can make a person who is not asleep to rise and move; but one can never awaken a fellow who pretends to be asleep. Willfully avoiding the illumination of knowledge is a sin against spirituality. Our students must welcome light at all times and from all quarters. 


Orang-orang memiliki keyakinan pada hasil yang diberikan oleh ilmuwan tentang kalkulasi jarak dan ukuran dari planet. Namun mereka menjadi ragu ketika dihadapkan dengan kesimpulan yang didapat oleh para penjelajah yang telah melihat dan menunjukkan, mengalami, dan menikmati kebenaran dengan masuk ke dalam ruang batin dan ruang jiwa. Merupakan kesengajaan yang tidak masuk akal dengan membuat orang-orang tetap berpegang pada keyakinan yang mereka terima sebagai hal yang tidak dapat ditentang. Sebagaimana pernyataan ini berbunyi, “api dibawah tanah dapat digenggam dengan telapak tangan dan langit dapat disentuh sebagai sebuah entitas yang nyata; namun seseorang tidak akan pernah bisa memperbaiki pikiran orang yang bodoh dan keras kepala." Karena seseorang dapat membangunkan orang yang tidur; seseorang dapat membuat orang yang tidak tidur untuk bangun dan bergerak; namun seseorang tidak akan pernah bisa membangunkan orang yang pura-pura tidur. Dengan sengaja menghindari penerangan pengetahuan adalah dosa terhadap spiritual. Para murid-murid kita harus menerima cahaya sepanjang waktu dan dari semua penjuru. (Divine Discourse, Dec 1, 1982, Anantapur Campus)

-BABA

Monday, December 9, 2019

Thought for the Day - 9th December 2019 (Monday)

One must take up work, that is of some use to the world. Move into the villages and help to keep them clean. Instruct the women of the village in the basic principles of child-health, child-care and child-training. When health fails, people become despondent and even desperate. When health prevails, vitality pervades both mind and body. By the process of loving service, you can become the promoters of much joy. Do not consider any act of service as demeaning. Sweeping the streets, for example, is not below your dignity. Do you not sweep the floor of your home? Do you not scrub and wash off dirt? When you undertake such tasks, the villagers will also gladly share in them. Why be ashamed to be good? The ridicule that may be cast on you has been the reward of many saints. It will soon fade away. 


Seseorang harus bekerja, itu adalah berguna bagi dunia. Pergilah ke desa dan bantu mereka tetap bersih. Ajari para wanita di desa dalam prinsip-prinsip dasar kesehatan anak, perawatan anak, dan pelatihan anak. Ketika jatuh sakit, maka orang-orang menjadi sangat sedih dan putus asa. Ketika kesehatan terjaga, vitalitas meliputi pikiran dan tubuh. Melalui proses pelayanan dengan kasih, engkau dapat menjadi promotor dari suka cita yang besar. Jangan menganggap pelayanan apapun sebagai hal yang rendahan. Sebagai contoh, menyapu jalanan bukanlah ada di bawah harga dirimu. Apakah engkau tidak menyapu lantai rumahmu? Apakah engkau tidak menggosok dan membersihkan kotoran? Ketika engkau melakukan kegiatan seperti itu, para penduduk desa juga dengan senang hati berbagi di dalamnya. Mengapa harus menjadi malu untuk menjadi baik? Cemoohan yang dilemparkan kepadamu telah menjadi hadiah bagi para orang-orang suci. Semua cemoohan itu akan segera menghilang. (Divine Discourse, Dec 1, 1982, Anantapur Campus)

-BABA

Sunday, December 8, 2019

Thought for the Day - 8th December 2019 (Sunday)

As our vision, so is the creation. Will not the colour of creation change based on the colour of glasses we wear? There have been and there are great masters now too who demonstrate to man the great heights one can attain, and also reveal the great power that is latent in the human body. Mind of man is often wasted wandering on things outside, criticising others and similar such activities. When one is always engaged in seeing faults in others, how can one attain ekagrata or one-pointedness? Ask yourself this question: When many valorous and great ones, who have physical bodies just like me, have attained such exalted status, why should my position be anything less? What do I gain in finding faults of others? I have to search within myself for my own faults and keep my mind under control – Making this firm resolve is the first step in spiritual practice. 


Sebagaimana pandangan kita maka begitulah ciptaan. Tidakkah warna ciptaan berubah sesuai dengan warna kacamata yang kita pakai? Telah ada para guru suci yang hebat sekarang juga yang memperlihatkan kepada manusia ketinggian yang begitu tinggi yang seseorang dapat capai, dan juga mengungkapkan kekuatan yang luar biasa yang tersembunyi di dalam tubuh manusia. Pikiran manusia sering disia-siakan untuk mengejar hal-hal di luar diri, mengritik yang lainnya dan kegiatan yang sama seperti itu. Ketika seseorang selalu terlibat dalam mencari kesalahan orang lain, bagaimana dia bisa mencapai ekagrata atau keterpusatan perhatian? Tanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan ini: ketika banyak orang yang gagah dan hebat, yang memiliki tubuh fisik seperti halnya diriku, telah mencapai status yang begitu mengagungkan, mengapa posisiku harus kurang seperti dari itu? Apa yang aku dapatkan dalam mencari kesalahan orang lain? Aku harus mencari kesalahanku pada diriku sendiri dan tetap mengendalikan pikiran – membuat tekad yang teguh adalah langkah awal dalam latihan spiritual. (Prema Vahini, Ch 3)

-BABA

Thought for the Day - 7th December 2019 (Saturday)

To battle against the tendency of body identification and to win the grace of God, spiritual exercises such as philosophical inquiry (Tatwa Vicharana), mind and sense control (sama-dama) and other six-fold spiritual disciplines (shat-sampatti) have been laid down. Their practice will ensure the purification of the consciousness; it will then become like a clean mirror that can reflect any object, and the Atma will stand revealed clearly. For the attainment of the highest wisdom (jnana-siddhi), cleansing of the consciousness (chitta-suddhi) is the royal path. For the pure in heart, this is easy to achieve. This is the central truth of the Bharatiya search for the ultimate reality (Paramartha). This is the very vital breath of the teaching. 


Untuk melawan kecenderungan identifikasi tubuh dan untuk mendapatkan karunia Tuhan, latihan spiritual seperti penyelidikan filosofi (Tatwa Vicharana), pengendalian pikiran dan indera (sama-dama) dan enam bentuk disiplin spiritual (shat-sampatti) telah ditunjukkan. Menjalankan latihan spiritual itu memastikan pemurnian kesadaran; dan ini akan menjadi seperti cermin bersih yang dapat memantulkan objek apapun juga, dan Atma akan dapat diungkapkan dengan jelas. Untuk mencapai kebijaksanaan yang tertinggi (jnana-siddhi), membersihkan kesadaran (chitta-suddhi) adalah jalan yang utama. Bagi yang murni hatinya, ini adalah gampang untuk dicapai. Ini adalah kebenaran utama dari pencarian Bharatiya untuk kenyataan yang tertinggi (Paramartha). Ini adalah nafas hidup yang paling dari ajaran. (Sathya Sai Vahini, Ch 1)

-BABA