Sunday, January 19, 2020

Thought for the Day - 7th January 2020 (Tuesday)

Members of Sevadal! First and foremost, cultivate love in your heart. Whomsoever you come across, talk to them with love. Draw all those who are in trouble close to you. Then God will shower His love on you. How can you receive the love of God if you do not love your fellow beings? If you want to become deserving of God’s love, then first and foremost you should become deserving of the love of your fellow beings. God will help you if you help others. Help ever, hurt never. Never cause trouble to anyone. Love everyone. Lead your life with goodness of heart. Your heart should melt with free flowing love. Dear ones! You are not different from Me; I am in you and you are in Me. As I love you, you should also love one and all. You can achieve greatness only when you develop and share pure love from within. This is the service you must render. 


Para anggota dari Sevadal! Pertama dan utama, tingkatkan cinta kasih di dalam hatimu. Siapapun yang engkau temui, berbicaralah pada mereka dengan kasih. Bawalah semua mereka yang kesusahan dekat denganmu. Kemudian Tuhan akan mencurahkan kasih-Nya kepadamu. Bagaimana engkau dapat menerima kasih Tuhan jika engkau tidak menyayangi sesamamu? Jika engkau ingin menjadi layak untuk kasih Tuhan, maka pertama dan utama engkau seharusnya menjadi layak untuk kasih dari sesamamu. Tuhan akan membantumu jika engkau membantu yang lainnya. Selalulah menolong, jangan pernah menyakiti. Jangan pernah menjadi penyebab masalah bagi siapapun juga. Kasihi semuanya. Jalani hidupmu dengan kebaikan di dalam hati. Hatimu seharusnya mencair dengan aliran kasih yang bebas. Engkau yang terkasih! Engkau tidaklah berbeda dengan-Ku; Aku ada di dalam dirimu dan engkau ada di dalam diri-Ku. Sebagaimana Aku mengasihimu, engkau seharusnya juga mengasihi semuanya. Engkau dapat mencapai hal yang luar biasa hanya ketika engkau mengembangkan dan berbagi kasih yang suci dari dalam diri. Ini adalah pelayanan yang harus engkau lakukan. (Divine Discourse, Jan 27, 2007)

-BABA

Monday, January 6, 2020

Thought for the Day - 6th January 2020 (Monday)

Our Upanishads teach us the paths of karma, upasana, and jnana yogas. The essence of karma yoga (path of action) is to perform all actions with dedication as an offering to the Lord, for His pleasure. Upasana yoga (path of worship) is loving God wholeheartedly with harmony and purity in thought, word, and deed (trikarana suddhi). It is not true upasana if you love God merely to achieve your worldly desires. Devotion should be love for love’s sake. The followers of jnana yoga (path of wisdom) should consider the whole universe as manifestation of God. Firm faith that Divinity resides in all beings in the form of Atma is called Jnana. If you wonder how Ekatwa (Oneness) exists with so many different forms, names, different kinds of behaviour, different doctrines, etc., consider the fathomless ocean with infinite waves. Each wave is unique and different from the other in its size and shape, but are all different manifestations of one and the same water, and are also not different from the ocean. 


Di dalam Upanishad mengajarkan kita jalan-jalan karma, upasana, dan jnana yoga. Intisari dari karma yoga (jalan perbuatan) adalah melaksanakan semua perbuatan dengan dedikasi sebagai sebuah persembahan kepada Tuhan dan untuk kesenangan Tuhan. Upasana yoga (jalan pemujaan) adalah mencintai Tuhan sepenuh hati dengan keharmonisan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan (trikarana suddhi). Bukanlah sebuah upasana yang sejati jika engkau mencintai Tuhan hanya dengan tujuan memenuhi keinginan duniawimu. Bhakti seharusnya adalah kasih demi untuk kasih. Para pengikut jnana yoga (jalan kebijaksanaan) seharusnya menganggap seluruh alam semesta sebagai manifestasi dari Tuhan. Keyakinan yang mantap bahwa Tuhan bersemayam di dalam semua makhluk dalam wujud Atma disebut dengan Jnana. Jika engkau ingin tahu bagaimana Ekatwa (kesatuan) ada dengan begitu banyak perbedaan wujud, nama, perbedaan tingkah laku, dsb, lihatlah lautan yang tidak dapat diukur dengan gelombang yang tidak terbatas. Setiap gelombang adalah unik dan berbeda dari gelombang yang lainnya dalam ukuran dan bentuk, namun semua adalah manifestasi berbeda dari satu dan air yang sama, dan juga tidak berbeda dari lautan. (Summer Showers 1990, Ch 16)

-BABA

Sunday, January 5, 2020

Thought for the Day - 5th January 2020 (Sunday)

Till the time mother has strength, she nourishes her children. The children should nourish their mother in the same way. God has given us human birth to nourish and nurture each other. What for are relations like brothers and sisters? Not merely for the sake of division of property and wealth. These relations are for developing love and sharing it with each other. Real relations are those who share love with each other. Some people express great love for others, but do not show the same love towards their mother and father in their own homes. First and foremost, we should love our parents and then, everyone else. Remember we should not limit our love to our friends and relatives alone; we should love all. Only then God will shower His love on us. When we see an injured person on the road, we should not show indifference towards them. Howsoever urgent may be the work we are attending to, we should do our bit to alleviate their suffering. Then God will manifest before us and fill our hearts with love. 


Sepanjang ibu memiliki kekuatan maka ibu memelihara anak-anaknya. Anak-anak seharusnya menjaga ibu mereka dengan cara yang sama. Tuhan telah memberikan kita kelahiran sebagai manusia untuk menjaga dan memelihara satu sama lain. Apa tujuan hubungan dari saudara? Bukan hanya untuk berbagi kekayaan. Hubungan ini adalah untuk mengembangkan kasih dan berbagi kasih satu dengan yang lainnya. Hubungan yang sejati adalah mereka yang berbagi kasih dengan yang lainnya. Beberapa orang mengungkapkan kasih yang besar yang lainnya, namun tidak memperlihatkan kasih yang sama kepada ibu dan ayah mereka di dalam rumah sendiri. Pertama dan utama, kita seharusnya mencintai orang tua kita sendiri baru kemudian setiap orang yang lainnya. Ingatlah kita seharusnya tidak membatasi kasih kita pada teman-teman dan kerabat kita saja; kita seharusnya mengasihi semuanya. Hanya demikian Tuhan akan mencurahkan kasih-Nya kepada kita. Ketika kita melihat orang terluka di jalan, kita seharusnya tidak memperlihatkan sikap acuh pada mereka. Betapapun mendesaknya pekerjaan yang harus kita lakukan, kita harus melakukan sedikit untuk meringankan penderitaan mereka. Kemudian Tuhan akan hadir di depan kita dan mengisi hati kita dengan kasih. (Divine Discourse, Jan 27, 2007)

-BABA

Thought for the Day - 4th January 2020 (Saturday)

When you look at everyone around you with love, God will also look at you with love. In whatever situation you may be, you should never show anger, jealousy, hypocrisy or pomp. Do not treat others with anger or hatred. By experiencing your selfless love, others also will also grow in love. When you treat others with love, they will also return that love in thoughts and words towards you. On the other hand, if you choose to be angry with them, they will also behave angrily with you. You should not create distance between one another by your talk or conduct. Draw everybody close to you with love. Then all of you will become united. Each one of you will also attain proximity with God. God is the embodiment of love. He protects the entire mankind by His love. Hence, embodiments of love, develop selfless love in you, more and more! 


Ketika engkau melihat pada setiap orang dengan cinta kasih, Tuhan juga akan melihatmu dengan kasih. Dalam situasi apapun juga yang engkau hadapi, engkau seharusnya tidak pernah memperlihatkan amarah, cemburu, munafik, atau kesombongan. Jangan memperlakukan orang lain dengan amarah atau kebencian. Dengan mengalami kasihmu yang tidak mementingkan diri sendiri, orang lain juga akan tumbuh dalam kasih. Ketika engkau memperlakukan orang lain dengan kasih, mereka juga akan mengembalikan kasih itu dalam pikiran dan perkataan kepada dirimu. Sebaliknya, jika engkau memilih untuk marah kepada mereka, mereka juga akan bersikap marah kepadamu. Engkau seharusnya tidak menciptakan jarak diantara satu orang dengan yang lainnya dengan perkataan dan tingkah lakumu. Tariklah setiap orang dekat denganmu dengan kasih. Kemudian semua darimu akan menjadi satu. Setiap orang darimu juga akan mencapai kedekatan dengan Tuhan. Tuhan adalah perwujudan dari kasih, Tuhan melindungi seluruh umat manusia dengan kasih-Nya. Karena itu, perwujudan kasih, kembangkan kasih yang tanpa mementingkan diri sendiri di dalam dirimu, semakin besar dan semakin besar! (Divine Discourse, Jan 27, 2007)

-BABA

Thought for the Day - 3rd January 2020 (Friday)

When you perform an activity (kriya) as an offering to the Lord, your good, the higher good, and the highest good (swartha, parartha, and paramaartha) - all become one. First, I and you become we. Next, we and He become unified. The individual soul (the ‘I’ or jiva) should accomplish identity first with the creation (prakriti or ‘you’) and then with the Supreme Spirit (He or Paramatma). This journey is the significance of chanting the mantra Om Tat Sat. Today, yesterday and tomorrow, Om Tat Sat, is, was, and will be. ‘He’ and ‘I’ and the spiritual practice (sadhana) is also always there. Just as the sun is inseparable and is never apart from its rays, under no circumstances should any aspirant be without their spiritual practice. It is only when spiritual aspirants adhere to their spiritual disciplines in such an incessant manner that they can be said to be one with Om. 


Ketika engkau melakukan sebuah kegiatan (kriya) sebagai persembahan kepada Tuhan, kebaikanmu, kebaikan yang lebih tinggi, dan kebaikan yang tertinggi (swartha, parartha, dan paramartha) – semuanya menjadi satu. Pertama, aku dan kamu menjadi kita. Kemudian, kita dan Dia (Tuhan) menjadi satu. Jiwa individu (‘aku’ atau jiva) harus mencapai persamaan dengan ciptaan atau alam semesta (prakriti atau‘kamu’) dan kemudian dengan jiwa yang tertinggi (Dia atau Paramatma). Perjalanan ini adalah penting untuk melantunkan mantra Om Tat Sat. Hari ini, kemarin, dan besok, Om Tat Sat, adalah selalu ada. ‘Dia’ dan ‘aku’ dan latihan spiritual (sadhana) juga selalu ada. Seperti halnya matahari yang tidak terpisahkan dan tidak pernah terpisah dengan sinarnya, dalam keadaan apapun juga peminat spiritual seharusnya tidak boleh tanpa latihan spiritual. Hanya ketika peminat spiritual mematuhi disiplin spiritual mereka sedemikian rupa tanpa henti maka mereka dapat dikatakan menjadi manunggal dengan Om. (Prema Vahini, Ch 1)

-BABA

Friday, January 3, 2020

Thought for the Day - 2nd January 2010 (Thursday)

In this worldly life love is manifesting in several forms such as the love between mother and son, husband and wife, and between relatives. This love, based on physical relationships, arises out of selfish motives and self-interest. But the love of the Divine is devoid of any trace of self-interest. It is love for the sake of love alone. This is called Bhakti (devotion). One characteristic of this love is to give, not receive. Secondly, love knows no fear. Thirdly, it is love for love's sake and not for selfish motives. All these three angles of love jointly connote Prapatti (Surrender). When one revels in this attitude of Prapatti, one experiences the bliss of the Divine. For this, the prime requisite is Kshama (forgiveness and forbearance). Only a person who has this attitude of Kshama can be considered to be endowed with sacred love. 


Dalam kehidupan duniawi ini kasih diwujudkan dalam berbagai bentuk seperti kasih diantara ibu dan anak, kasih diantara suami dan istri dan kasih diantara para kerabat. Kasih ini, berdasarkan pada hubungan fisik, muncul dari motif yang mementingkan diri sendiri dan kepentingan diri. Namun kasih Tuhan adalah tanpa adanya jejak akan kepentingan diri. Ini adalah kasih untuk kepentingan kasih saja. Ini disebut dengan Bhakti. Satu karakteristik dari kasih ini adalah memberi dan tidak menerima. Yang kedua adalah kasih tidak mengenal rasa takut. Yang ketiga adalah kasih ada untuk kepentingan kasih dan bukan untuk niat mementingkan diri sendiri. Semua ketiga sudut kasih ini secara bersama-sama mengandung arti Prapatti (berserah diri). Ketika seseorang bergembira dalam sikap ini yaitu Prapatti, seseorang mengalami kebahagiaan Tuhan. Untuk hal ini, syarat yang utama adalah Kshama (memaafkan dan ketabahan). Hanya seseorang yang memiliki sikap Kshama dapat dianggap diberkati dengan kasih yang suci. (Divine Discourse, Jan 1, 1994)

-BABA

Thought for the Day - 1st January 2020 (Wednesday)

On this New Year day, you should resolve that you will start every day with love, spend the day with love, fill the day with love, and end the day with love. People are afraid what would happen this year, and whether it would be a better year than the last. It is not the particular year that matters. Cultivate good thoughts, speak good words and do good deeds with the broad view that everyone in the world should be happy. Give up your evil thoughts and evil qualities as they are the cause for all sufferings in the world. Whatever work you do, keeping God as your guide and saviour, will surely yield success. God is your only true friend. He is always with you, in you and beside you. You must wish for everyone to be happy. Everyone must fill their hearts with pure love. Then the country and the world will prosper and everyone will be happy! 


Pada hari Tahun Baru ini, engkau harus menetapkan bahwa engkau akan memulai setiap hari dengan cinta-kasih, melewatkan hari dengan cinta-kasih, mengisi hari dengan cinta-kasih, dan mengakhiri hari dengan cinta-kasih. Orang-orang takut apa yang akan terjadi tahun ini, dan apakah itu akan menjadi tahun yang lebih baik daripada tahun yang terakhir. Bukan tahun tertentu yang penting. Kembangkan pikiran yang baik, ucapkan kata-kata yang baik, dan lakukan perbuatan yang baik dengan pandangan luas bahwa setiap orang di dunia harus bahagia. Tinggalkan pikiran buruk dan sifat-sifat burukmu karena itulah penyebab semua penderitaan di dunia. Apa pun pekerjaan yang engkau lakukan, jadikanlah Tuhan sebagai penuntun dan penyelamatmu, yang pasti akan menghasilkan kesuksesan. Tuhan adalah satu-satunya teman sejatimu. Beliau selalu bersamamu, di dalam dirimu dan di sampingmu. Engkau harus mengharapkan semua orang berbahagia. Setiap orang harus mengisi hati mereka dengan cinta-kasih yang murni. Maka negara dan dunia akan makmur dan semua orang akan berbahagia! (Divine Discourse, Jan 1, 1994)

-BABA