Sunday, January 19, 2020

Thought for the Day - 14th January 2020 (Tuesday)

The festival of Sankranti is arriving in all its beauty and splendour. This day is no ordinary day. It marks the beginning of the sacred Uttarayana (northward journey of the Sun). It confers on us plenty, prosperity and helps us develop virtues and undertake sacred activities. You can conquer the entire world when your thoughts are noble. When you fill your heart with worldly thoughts and feelings, you will not be able to practice your innate divine qualities. Hiranyaksha, Hiranyakasipu, Duryodhana and Kamsa were by no means ordinary. Though they were very strong in their body and mind, they became weak as they were immersed in worldly feelings. Do not fill your heart with worldly feelings. Every individual is endowed with mighty power and intelligence. Develop virtues, noble thoughts and sterling character and you will accomplish great heights! 



Perayaan Sankranti akan segera datang dengan semua keindahan dan kemuliaannya. Hari ini bukanlah hari yang biasa. Hari ini adalah menandai awal dari Uttarayana yang suci (perjalanan matahari ke arah utara). Hal ini memberikan kita begitu banyak, kesejahteraan dan membantu kita mengembangkan sifat-sifat baik serta menjalankan aktifitas yang suci. Engkau dapat menaklukkan seluruh dunia ketika pikiran-pikiranmu mulia. Ketika hatimu diliputi dengan pikiran serta perasaan duniawi, engkau tidak akan mampu menjalankan sifat-sifat keilahian yang menjadi kualitas bawaanmu. Hiranyaksha, Hiranyakasipu, Duryodhana, dan Kamsa sama sekali bukan orang biasa. Walaupun mereka sangat kuat secara fisik dan pikiran, mereka menjadi lemah ketika mereka tenggelam dalam perasaan duniawi. Jangan mengisi hatimu dengan perasaan-perasaan duniawi. Setiap individu diberkati dengan kekuatan dan kecerdasan yang sangat besar. Kembangkan sifat-sifat mulia, pikiran yang luhur, dan karakter yang sejati maka engkau akan mencapai tingkat yang tertinggi! (Divine Discourse, Jan 14, 2003)

-BABA

Thought for the Day - 13th January 2020 (Monday)

Concentrate on the love of God. Although one’s mother, father and preceptor are to be adored as divine beings, they are not God. God should be worshipped as mother, father, preceptor, kinsman, and friend. They all dwell in their respective abodes, but God dwells in your heart. Love the Lord who resides in your heart. All other objects of love are impermanent. By developing love, one sees the Divine in all beings. It is like wearing coloured glasses. If you see the world through the glasses of love, you will see love everywhere. The glasses and vision must be in harmony, and only with love, you can see loveliness in the world. It is through love that noble qualities such as kindness, compassion and empathy are fostered. Embodiments of Love! You are carrying on a variety of spiritual exercises (sadhanas). God does not seek your sadhana. Nor does He seek your devotion. He seeks only your love. 


Pusatkan perhatian pada kasih Tuhan. Walaupun ibu, ayah, dan guru dimuliakan sebagai Tuhan, mereka bukanlah Tuhan. Tuhan seharusnya dipuja sebagai ibu, ayah, guru, kerabat, dan sahabat. Mereka semuanya ini tinggal di tempat mereka masing-masing, namun Tuhan bersemayam di dalam hatimu. Kasihi Tuhan yang bersemayam di dalam hatimu. Semua objek yang lainnya dari kasih adalah bersifat tidak kekal. Dengan mengembangkan kasih, seseorang melihat Tuhan di dalam semua makhluk. Ini adalah seperti memakai kaca mata yang berwarna. Jika engkau melihat dunia melalui kaca mata cinta kasih, engkau akan melihat cinta kasih ada dimana-mana. Kaca mata dan pandangan harus ada dalam kesatuan, dan hanya dengan kasih, engkau dapat melihat kasih sayang di dunia. Adalah melalui kasih dimana sifat-sifat yang mulia seperti kebaikan, welas asih, dan empati dikembangkan. Perwujudan kasih! Engkau sedang melakukan berbagai jenis latihan spiritual (sadhana). Tuhan tidak mencari Sadhanamu. Dan tidak juga bhaktimu. Tuhan hanya mencari kasihmu. (Divine Discourse, July 9, 1998)

-BABA

Thought for the Day - 12th January 2020 (Sunday)

Once Vivekananda went to Swami Ramakrishna Paramahamsa and asked him, “Have you seen God?” “Yes”, said Sri Ramakrishna. “In what form?”, asked Vivekananda. Ramakrishna replied, “I am seeing Him just as I am seeing you”. “Why then, am I unable to see Him?” Ramakrishna explained that if he yearned for God with the same intensity with which he was yearning for many other things, he too would experience God. Ramakrishna said that people shed tears for relations, wealth and many other aspects, but how many shed tears for God? Ramakrishna advised Vivekananda to yearn for God with all his heart and soul. God is then bound to manifest Himself to him. If you are keen to experience the Divine, you must devote yourself to the Divine. People undertake various troubles to achieve wealth, relations, position, and power. If they devote a small fraction of that time to thoughts of God, they would definitely experience freedom from the fear of death. 


Sekali Vivekananda mengunjungi Swami Ramakrishna Paramahamsa dan bertanya kepadanya, “Apakah guru pernah melihat Tuhan?” “Iya”, jawab Sri Ramakrishna. “Dalam wujud apa?”, tanya Vivekananda. Ramakrishna menjawab, “aku sedang melihat-Nya sama seperti aku sedang melihatmu”. “Kalau begitu, mengapa saya tidak mampu melihat-Nya?” Ramakrishna menjelaskan bahwa jika engkau merindukan Tuhan sama besarnya dengan engkau merindukan banyak hal yang lainnya, maka engkau juga akan mengalami Tuhan. Ramakrishna berkata bahwa manusia meneteskan air mata untuk hubungan, kekayaan dan banyak aspek yang lainnya, namun berapa banyak air mata untuk Tuhan? Ramakrishna menasihatkan Vivekananda untuk merindukan Tuhan dengan sepenuh hati dan jiwa. Tuhan kemudian terikat untuk mewujudkan diri-Nya sendiri kepadanya. Jika engkau benar-benar ingin mengalami Tuhan, engkau harus mengabdikan dirimu sendiri pada Tuhan. Manusia memikul berbagai jenis masalah untuk mencapai kekayaan, hubungan, jabatan, dan kekuasaan. Jika mereka mengabdikan sedikit saja waktu untuk memikirkan Tuhan, mereka pastinya akan mengalami kebebasan dari ketakutan akan kematian. (Divine Discourse, July 9, 1998)

-BABA

Thought for the Day - 11th January 2020 (Saturday)

Students! You have performed a variety of gymnastic feats. You have distinguished yourselves in a variety of games and sports. Although these games have a value of their own in the physical plane, there is something greater than all the health benefits. It is this message: Life is a game, play it! You must learn to treat life itself as a big game. To achieve a good name and success in this game, you have to cultivate good habits. Good thoughts, good speech and good actions are the disciplines required in this game. When so much practice and effort are required to achieve success in games like tennis, how much more effort is needed to succeed in the game of life! In this game, if you wish to achieve a good name, uphold your ideals, and realise the Divine. You have to observe in your daily life, right thinking, right conduct and right attitude! 


Para pelajar! Engkau telah memperlihatkan berbagai jenis prestasi dalam senam. Engkau telah membedakan dirimu sendiri dalam berbagai jenis olahraga dan permainan. Walaupun permainan-permainan ini memiliki sebuah nilai mereka sendiri dalam bidang fisik, ada sesuatu yang lebih besar daripada semua keuntungan kesehatan yang didapat. Ini adalah pesannya: Hidup adalah sebuah permainan, mainkanlah! Engkau harus belajar untuk memperlakukan kehidupan itu sendiri sebagai sebuah permainan besar. Untuk mendapatkan sebuah nama baik dan berhasil dalam permainan ini, engkau harus meningkatkan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Pemikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik adalah disiplin yang diperlukan dalam permainan ini. Ketika begitu banyak latihan dan usaha yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan dalam permainan seperti tenis, berapa banyak usaha lagi yang diperlukan untuk dapat berhasil dalam permainan kehidupan! Dalam permainan ini, jika engkau ingin mendapatkan nama baik, junjung tinggi idealmu dan sadari ketuhanan. Engkau harus memperhatikan dalam kehidupanmu sehari-hari, pemikiran yang benar, tingkah laku yang benar dan sikap yang benar! (Divine Discourse, Jan 14, 1992)

-BABA

Thought for the Day - 10th January 2020 (Friday)

“Eating” doesn’t mean placing food on the tongue and tasting it; it is worthwhile only when food is chewed, swallowed, digested, assimilated into blood stream, and transformed into muscle and bone, into strength and vigour. So too, spiritual understanding must permeate and invigorate all moments of life. It must be expressed through all the organs and senses (karmendriyas and jnanendriyas). One must pace up steadily and reach this high stage. Mere accumulation of learning is not spiritual wisdom (jnana). Only good conduct (sat-guna) is spiritual wisdom. In order that one might do selfless service, a little eating (bhoga) has to be gone through. Such eating is part of the sacrifice (yajna). To make this body-machine function, the fuel of food has to be used. Food is not sacrifice, but it makes sacrifice possible. Therefore, eating food must not be laughed at as catering to greed or as feeding of the stomach. It must be understood as part of worship. 


“Makan” tidak berarti menempatkan makanan di lidah dan merasakannya; makan menjadi berfaedah hanya ketika makanan dikunyah, ditelan, dicerna, diserap ke dalam aliran darah dan diedarkan pada otot dan tulang, menjadi kekuatan dan tenaga. Begitu juga, pemahaman spiritual harus diresapi serta memperkuat seluruh bagian kehidupan. Spiritual harus diungkapkan melalui seluruh organ dan indria (karmendriya dan jnanendriya). Seseorang harus melangkah dengan mantap dan mencapai tahapan yang tertinggi ini. Akumulasi pembelajaran saja bukanlah kebijaksanaan spiritual (jnana). Hanya tingkah laku yang baik (sat-guna) adalah kebijaksanaan spiritual. Dalam upaya seseorang dapat melakukan pelayanan tanpa mementingkan diri sendiri, sedikit makan (bhoga) harus dilakukan. Makan seperti itu adalah bagian dari korban suci (yajna). Untuk membuat mesin tubuh ini berfungsi maka bahan bakar berupa makanan harus digunakan. Makanan bukanlah pengorbanan, namun memungkinkan pengorbanan. Maka dari itu, menikmati makanan harusnya tidak dipandang rendah seperti menyediakan makanan bagi ketamakan atau sebagai memberi makan bagi perut. Ini harus dipahami sebagai bagian dari ibadah. (Prema Vahini, Ch 12)

-BABA

Thought for the Day - 9th January 2020 (Thursday)

A time may come when you become tired and weak, then pray thus: “Lord, things have gone beyond my capacity. I feel further effort is too great a strain. Give me strength, O Lord!” Initially, God stands at a distance, watching one’s effort, like the teacher who stands apart when students answer an exam. Then, when one sheds attachment to sensual pleasures (bhoga) and takes to good deeds and selfless service, God comes nearer. Like Sun God (Surya-narayana), He waits outside the closed door. Like the servant doesn’t announce his presence or bang on the door but simply waits, knowing his employer’s preferences, God too waits! When the master opens the door just a little, the sun rushes in and promptly drives darkness out from within. Similarly, when God’s help is requested, He immediately presents Himself with extended hands to help. So what you need is only the discrimination (viveka) to pray and the spiritual wisdom (jnana) to remember Him. 


Ada keadaan muncul ketika engkau menjadi capai dan lemah, maka berdoalah seperti ini: “Tuhan, keadaan ini telah melewati kemampuan saya. Saya merasa usaha lebih lanjut terasa sangat berat. Berikanlah saya kekuatan, O Tuhan!”pada awalnya, Tuhan berdiri di kejauhan, memperhatikan usaha yang dilakukan seseorang, seperti halnya guru yang berdiri kejauhan ketika murid-murid menjawab ujian. Kemudian, ketika seseorang melepaskan keterikatan pada kesenangan sensual (bhoga) dan melakukan perbuatan baik serta pelayanan yang tidak mementingkan diri sendiri, Tuhan datang semakin mendekat. Seperti halnya Dewa Surya (Surya-narayana), Beliau menunggu di luar pintu yang tertutup. Seperti halnya pelayan yang mengetahui hak majikannya dan batasan mereka, dia tidak mengatakan kehadirannya atau menggedor pintu namun hanya menunggu, begitu juga dengan Tuhan! Ketika majikan membukakan pintu sedikit saja, maka matahari segera masuk dan dengan segera menghilangkan kegelapan di dalam. Sama halnya, ketika memohon bantuan Tuhan, Tuhan dengan segera menghadirkan diri-Nya dengan uluran tangan untuk membantu. Jadi, apa yang engkau perlu lakukan adalah hanya diskriminasi (viveka) untuk berdoa dan kebijaksanaan spiritual (jnana) untuk mengingat-Nya. (Prema Vahini, Ch 11)

-BABA

Thought for the Day - 8th January 2020 (Wednesday)

Diversities in attitudes and practices are natural and should be welcomed; there is no need for one over-all, ironclad, hard faith. Rivalry amongst those following different paths cannot bring peace and prosperity to any country. Without the freedom to adopt faith, world cannot progress. India taught that a small group can never command the inexhaustible resources of the world. For the effective functioning of the community it is necessary to divide the work of the community among sections of the people and allot each the task of contributing its share to the common good. This facilitated diversity and mutuality. Diversities were approved for the practical application of spiritual powers and potentialities, therefore there is no need for factionalism and fights. There is an entrancing sense of mystery which, if explored, will enable you to visualize the One that underlies the many. Hence ancient texts proclaim, “One alone exists; wise describe it in manifold ways” (Ekam sat, viprah bahudha vadanti)! 


Keragaman dalam sikap dan praktik adalah alami dan harus disambut; tidak perlu bagi seseorang untuk keyakinan yang keras dan kuat. Persaingan di antara mereka yang mengikuti jalan yang berbeda tidak dapat membawa kedamaian dan kemakmuran ke negara mana pun. Tanpa kebebasan untuk menggunakan keyakinan, dunia tidak akan maju. India mengajarkan bahwa sekelompok kecil tidak akan pernah bisa menguasai sumber daya dunia yang tidak ada habisnya. Untuk berfungsinya masyarakat secara efektif, adalah perlu untuk membagi pekerjaan masyarakat di antara bagian-bagian masyarakat dan membagikan masing-masing tugas untuk menyumbangkan bagiannya untuk kebaikan bersama. Ini memfasilitasi keragaman dan kebersamaan. Keragaman disetujui untuk penerapan praktis kekuatan dan potensi spiritual, oleh karena itu tidak perlu untuk faksionalisme (kecenderungan untuk berfraksi) dan perkelahian. Ada rasa misteri memikat yang jika dieksplorasi, akan memungkinkan engkau untuk memvisualisasikan Dia yang mendasari banyak orang. Karena itu teks-teks kuno menyatakan, “Hanya ada satu; orang bijak menggambarkannya dengan berbagai cara ”(Ekam sat, viprah bahudha vadanti)! (Sathya Sai Vahini, Ch 5)

-BABA