Sunday, February 7, 2021

Thought for the Day - 4th February 2021 (Thursday)

If you tell your son, when you are actually at home, to reply on the phone saying ‘father is not at home’, you are sowing a poisonous seed, which will become a huge tree. Parents set bad examples uttering falsehood, scandalising others, gambling, drinking, behaving violently, inflicting injury, becoming addicted to night-clubs, movies and drinking parties, and quarrelling at home after arriving home past midnight. How can children, used to such low sights and sounds, learn to become bright, fresh fragrant flowers of the Sanatana Garden of India? Many such parents do not allow their children to join the Bal Vikas Classes, or to attend bhajans and satsangs. They say that religion and God are only for idlers or old senile people, and that the path will lead them on to sanyas (mendicancy), which is a calamity to be avoided! They reverse the very values of life. Parents must correct themselves before they try to correct their children. 



Jika engkau mengatakan pada putramu, ketika engkau benar-benar ada di dalam rumah saat menjawab telpon dengan berkata ‘ayah tidak ada di rumah’, engkau sedang menabur benih beracun, yang nantinya akan tumbuh menjadi sebuah pohon yang sangat besar. Orang tua memberikan teladan yang buruk dengan mengucapkan kebohongan, keburukan orang lain, berjudi, mabuk-mabukkan, bersikap kasar, menyakiti, kecanduan klub malam, nonton film, dan pesta pora serta bertengkar di rumah setelah pulang lewat tengah malam. Bagaimana anak-anak yang biasanya menyaksikan pandangan dan suara yang buruk, belajar untuk menjadi cemerlang, bunga-bunga yang segar dan mewangi di kebun Sanatana India? Banyak orang tua yang seperti itu yang tidak mengizinkan anak-anak mereka bergabung dalam kelas Bal Vikas, atau menghadiri bhajan dan satsang. Mereka berkata bahwa agama dan Tuhan hanya untuk mereka yang malas atau orang tua yang pikun, dan jalan itu akan menuntun mereka pada sanyas (pengemis), yang merupakan sebuah bencana yang harus dihindari! Orang tua yang seperti itu membalikkan nilai-nilai yang penting dari kehidupan. Orang tua harus memperbaiki diri mereka terlebih dahulu sebelum mencoba untuk memperbaiki anak-anak mereka. (Divine Discourse, Jan 6, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 3rd February 2021 (Wednesday)

Learn lessons from the Sun, the Moon, clouds, sea - all are great teachers imparting to us the prime importance of discharging one's duty, without complaint. Trees distribute their fruits and their shade to everyone, even to those who lay the axe with an intention to destroy them! Mountains suffer heat, rain and storm without demur, and are plunged in meditation for ages. Birds do not hoard for years together, the wherewithal for food or shelter; they do not lament for they do not lavish affection on their progeny, more than absolutely necessary for their survival. Nature (Prakriti) is your school, your laboratory, the gateway to liberation, and the panorama of God's manifold majesty. Seek to know the lessons it is ready to teach; all things in Nature are as divine (Brahman) as you are! So, any act is Divine; any work is Divine worship. Build the mansion of your life on the strong foundation of the faith that all this is Brahman. 



Belajarlah hikmah dari matahari, bulan, awan, laut – semuanya adalah guru terbaik dalam menanamkan kepada kita betapa pentingnya menjalankan kewajiban yang dimiliki tanpa mengeluh. Pohon memberikan buahnya dan keteduhan kepada setiap orang, bahkan kepada mereka yang membawa kapak dengan niat untuk merobohkan pohon tersebut! Gunung menderita kepanasan, hujan, dan badai tanpa keberatan, dan tenggelam dalam keadaan meditasi selama berabad-abad. Unggas tidak menimbun selama bertahun-tahun persediaan yang diperlukan untuk makanan atau tempat berlindung; para unggas tidak meratap sedih karena mereka tidak memberikan kasih sayang pada keturunan mereka, lebih dari yang diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka. Alam (Prakriti) adalah sekolah bagimu, laboratorium bagimu, gerbang untuk pembebasan, dan pemandangan indah dari begitu banyak jenis kemuliaan Tuhan. Berusahalah untuk mengetahui pelajaran yang siap untuk diajarkan; semua hal yang ada di alam adalah Tuhan (Brahman) seperti halnya dirimu! Jadi, setiap perbuatan adalah Tuhan; setiap pekerjaan adalah ibadah pada Tuhan. Bangunlah rumah besar hidupmu di atas pondasi kuat dari keyakinan bahwa semuanya ini adalah Brahman. (Divine Discourse, Oct 4, 1970)

-BABA

 

Thought for the Day - 2nd February 2021 (Tuesday)

You are referring to the gift of food as Anna-dana (charity of food). But no one has the authority to give in charity what has been given by God or be proud of it or even to feel that he has given something in charity. God gave rains, God fostered the sapling and God ripened the grain; what right have you to call it yours and give it in charity? It is not dana (charity) that you do; you are only offering gratitude to God; you are sanctifying the grain you have harvested by offering the food prepared out of it to these Narayanas (Gods in human form). Call it Narayana Seva! That will be more correct. Anyway, since you are doing it with love and humility, in the spirit of divine worship, I have come to bless you. Do not cast all responsibility on a committee or a group of enthusiasts; join them wholeheartedly and offer to share the burden. 



Engkau menyebut pemberian makanan sebagai Anna-dana (derma makanan). Namun tidak ada seorangpun yang memiliki kuasa untuk memberi dalam derma apa yang telah diberikan oleh Tuhan atau merasa bangga akan hal ini atau bahkan merasa bahwa telah memberikan sesuatu dalam derma. Tuhan memberikan hujan, Tuhan memelihara pohon muda dan Tuhan mematangkan biji-bijian; apa hakmu dengan menyebutnya adalah milikmu dan memberikannya sebagai derma? Ini bukanlah dana (derma) yang engkau lakukan; engkau hanya mempersembahkan rasa syukur kepada Tuhan; engkau memurnikan biji-bijian yang telah engkau panen dengan mempersembahkan makanan yang dipersiapkan dari semua ini kepada Narayana (Tuhan dalam wujud manusia). Menyebutnya dengan Narayana Seva! Itu menjadi lebih tepat. Bagaimanapun, karena engkau melakukannya dengan cinta-kasih dan kerendahan hati, dalam semangat pemujaan pada Tuhan, Aku datang untuk memberkatimu. Jangan menyerahkan semua tanggung jawab pada panitia, atau kelompok yang semangat melakukannya; bergabunglah dengan mereka sepenuh hati dan tawarkan untuk berbagi beban. (Divine Discourse, Jan 28, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 1st February 2021 (Monday)

Life is like a train journey. Young children have a long way to go, but elders have to alight from the train pretty soon. You must learn to make your journey comfortable and happy. Do not carry heavy unwanted luggage with you. That will make the journey miserable. Do not indulge in fault finding and in picking quarrels with others. Don't desire to have the best things for yourselves only. Share with others around you the good things you are given. Anger, hatred, envy, jealousy - these are the heavy luggage I asked you to avoid taking with you on the journey. I must give the elders and parents some advice. Do not set bad examples for these children to follow. If you are truthful, just, calm under provocation and full of love in all your dealings with others, then children too will grow up in Sathya (truth), Dharma (righteousness), Shanti (peace) and Prema (love). 



Hidup adalah seperti perjalanan naik kereta api. Anak-anak memiliki perjalanan panjang untuk dilalui, namun yang lebih tua harus segera turun dari kereta api. Engkau harus belajar membuat perjalananmu nyaman dan menyenangkan. Jangan membawa barang yang tidak perlu dan berat. Itu akan membuat perjalanan menjadi kesulitan. Jangan mencari kesalahan orang lain dan terlibat pertengkaran dengan yang lain. Jangan memiliki keinginan untuk memiliki hal terbaik hanya untuk dirimu saja. Berbagi dengan orang di sekitarmu hal-hal baik yang engkau dapatkan. Amarah, kebencian, iri hati, kecemburuan - semuanya ini adalah barang berat yang Aku minta untuk ditinggalkan saat melakukan perjalanan. Aku harus memberikan mereka yang sudah tua dan orang tua beberapa nasehat. Jangan memberikan contoh yang tidak baik kepada anak-anak untuk diikuti. Jika engkau jujur, adil, tenang dibawah tekanan, dan penuh cinta-kasih dalam semua urusanmu dengan orang lain, maka anak-anak juga akan tumbuh dalam Sathya (kebenaran), Dharma (kebajikan), Shanti (kedamaian) dan Prema (Kasih). (Divine Discourse, Jan 6, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 31st January 2021 (Sunday)

Render every thought into a flower, worthy to be held in His fingers; render every deed into a fruit, full of the sweet juice of love, fit to be placed in His hand; and render every tear holy and pure, fit to wash His lotus feet. The symbol on the flag at Prasanthi Nilayam is a reminder of this ideal, which you have to put into practice. It is the symbol of victory, achieved by steady endeavour over the diabolic foes of lust and greed, of envy and hate, of malice and conceit. It is the symbol of the silent state of supreme Bliss, won through self-control and self-realisation. Do not judge others, to decide whether they deserve your service. Find out only whether they are distressed; that is enough credential. Do not examine how they behave towards others; they can be certainly transformed by Love. Seva (Service) is for you as sacred as a vow, a sadhana, a spiritual path. 



Jadikan setiap pikiran sebagai sekuntum bunga yang layak dipegang di tangan-Nya; jadikan setiap perbuatan sebagai buah yang penuh dengan rasa manis dari kasih dan layak ditempatkan di tangan-Nya; dan jadikan setiap tetes air mata suci dan murni dan layak untuk membasuh kaki padma-Nya. Simbol dari bendera di Prasanthi Nilayam adalah sebagai pengingat akan ideal ini, yang mana harus engkau jadikan dalam praktik. Ini adalah lambang dari kemenangan yang dicapai dengan usaha yang mantap atas musuh yang kejam yaitu nafsu dan ketamakan, iri hati dan kebencian, kesombongan dan kecongkakan. Ini adalah simbol dari keadaan hening dari kebahagiaan tertinggi, yang didapatkan melalui pengendalian diri dan menyadari Diri yang sejati. Jangan menilai orang lain dan memutuskan apakah mereka layak untuk menerima pelayananmu. Hanya cari tahu apakah mereka dalam keadaan tertekan; itu adalah syarat yang cukup. Jangan menilai bagaimana mereka bertingkah laku kepada yang lainnya; mereka pasti bisa diubah dengan kasih. Seva (pelayanan) bagimu adalah suci seperti halnya sebuah janji, sebuah sadhana dan sebuah jalan spiritual. (Divine Discourse, Feb 19, 1970)

-BABA

 

Thought for the Day - 30th January 2021 (Saturday)

Good ideas have to be accepted and bad ones eschewed. Each idea has to be judged in the Supreme Court of Viveka (Wisdom). And the ruling has to be treated as inviolable. It is in this context that we have to remind ourselves of the prayer of Gandhiji, Sabko sanmati de Bhagwan - "O God, Bestow right understanding on all." Again, the individual born in the lake of society must swim and float in the calm waters, and joining the river of progress, merge in the ocean of grace. Man has to move from the stance of "I" to the position of "We"; this day, we see only the wild dance of ego-stricken individuals, who hate society and behave most unsocially. Water flows from a higher level to the lower levels. God's Grace too is like that. It flows down to those who are bent with humility. So, give up ego, overcome jealousy, and cultivate love. 



Ide-ide yang baik harus diterima dan ide-ide yang buruk harus dihindari. Setiap gagasan harus dinilai di dalam sidang Mahkamah Agung dari Viveka (kebijaksanaan). Dan keputusan harus dijalankan sebagai yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam konteks ini, kita harus mengingatkan diri kita sendiri tentang doa dari Gandhiji, Sabko sanmati de Bhagwan - "O Tuhan, berikan pemahaman yang benar tentang semuanya." Sekali lagi, individu yang lahir dalam danau masyarakat harus berenang dan mengapung di perairan yang tenang, dan bergabung pada sungai kemajuan, menyatu dalam lautan karunia. Manusia harus bergerak dari posisi "aku" ke posisi "kami"; hari ini, kita hanya melihat tarian liar dari individu yang dikuasai oleh ego, yang membenci masyarakat dan bertingkah paling tidak sosial. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Rahmat Tuhan juga seperti itu. Rahmat Tuhan mengalir ke bawah pada mereka yang membungkuk dengan kerendahan hati. Jadi, lepaskan ego, atasi rasa iri hati, dan tingkatkan kasih sayang. (Divine Discourse, Mar 30, 1973)

-BABA

 

Thought for the Day - 29th January 2021 (Friday)

You cannot be fresh and feeling fine, wearing a washed vest under an unwashed shirt; or, an unwashed vest under a washed shirt. Both have to be clean to provide the sense of tingling joy. So too, outer and inner cleanliness have both to be sought and won. In reality, outer cleanliness is but the reflection of the inner achievement. There is a strange glow on the face of a guileless person. Inner cleanliness has its own soap and water - the soap of strong faith and water of constant practice. The true aspirant will have a reverent attitude to the duty he is bound with. He will carry out every task assigned to him as if it is an act of worship by which the Lord will be pleased, through which he can approach the Pedestal of God. Duty is God; Work is worship - that is the motto. Worship is not a uniform to be put on and taken off at stated hours of the day. 



Engkau tidak dapat merasakan segar dan baik-baik saja dengan memakai rompi yang telah dicuci bersamaan dengan pakaian yang tidak dicuci; atau sebuah rompi yang tidak dicuci bersamaan dengan pakaian yang telah dicuci. Keduanya harus bersih untuk memberikan sensasi suka cita. Begitu juga, kebersihan di luar dan di dalam diri harus dicari dan diperoleh, kebersihan di luar diri adalah sebuah pantulan dari pencapaian batin. Ada sebuah cahaya yang berbeda di wajah orang yang tidak berdosa. Kebersihan di dalam diri memiliki sabun dan air tersendiri – sabun berupa keyakinan yang kuat dan air berupa praktik yang terus menerus. Peminat spiritual yang sejati akan memiliki sebuah sikap hormat terhadap kewajiban yang diembannya. Dia akan menjalankan setiap tugas yang diberikan kepadanya seolah-olah itu adalah sebuah kegiatan ibadah dimana Tuhan akan disenangkan, yang mana melalui hal ini dia dapat mendekati tempat duduk Tuhan. Kewajiban adalah Tuhan; kerja adalah ibadah – itu adalah motto. Ibadah bukanlah sebuah seragam yang dipakai dan dilepaskan pada jam-jam tertentu pada hari itu. (Divine Discourse, Feb 19, 1970)

-BABA