Monday, February 15, 2021

Thought for the Day - 11th February 2021 (Thursday)

You may have the best of vegetables, you may be the most capable cook, but if the copper vessel in which you prepare the vegetable soup is not tinned, the concoction you cook will be highly poisonous! So ‘tin’ your heart with satya, dharma, shanti and prema (truth, right conduct, peace and divine love), it will then become a vessel fit for repeating holy name or symbols, meditation, religious vows, pilgrimage, ritualistic worship and other dishes that you prepare in it. It is an uphill task: to reform one's tendencies and character. One may study all text-books of spiritual practice, all scriptures, and may even lecture for hours on them; but one will slip into error when temptation confronts. Like land that is parched, the heart may appear to be free from any crop of evil but when the first showers fall, the seeds and roots underneath the soil change the waste into a carpet of green! 



Engkau mungkin memiliki sayur-sayuran yang terbaik, engkau mungkin adalah koki yang paling berkompeten, namun jika peralatan memasak yang engkau persiapkan untuk memasak sup sayur tidak dilapisi timah, maka adonan yang engkau masak pastinya akan sangat beracun! Jadi ‘lapisi’ hatimu dengan Satya, Dharma, Shanti, dan Prema (kebenaran, kebajikan, kedamaian, dan kasih Tuhan), maka hatimu kemudian akan menjadi wadah yang pantas untuk mengulang-ulang nama atau simbol suci Tuhan, meditasi, tirakat agama, ritual pemujaan, dan berbagai bentuk ibadah yang engkau akan lakukan di dalam hati. Ini adalah sebuah tugas yang sulit dilakukan: untuk merubah kecenderungan dan karakter seseorang. Seseorang mungkin mempelajari semua buku-buku petunjuk spiritual, semua naskah suci, dan bahkan memberikan ceramah berjam-jam tentang petunjuk spiritual; namun seseorang akan terpeleset ke dalam kesalahan ketika godaan menggoda. Seperti tanah yang kering, hati yang kelihatan bebas dari tanaman kejahatan namun ketika hujan pertama jatuh, maka benih dan akar yang ada di bawah tanah merubah sampah menjadi hamparan hijau! (Divine Discourse, Jan 13, 1965)

-BABA

 

Thought for the Day - 10th February 2021 (Wednesday)

Prayer for some benefit or gain should not be addressed to God. For, it means that God waits until He is asked! Surrender to Him; He will deal with you as He feels best and it would be the best for you. God does not dole out grace in proportion to the praise He receives! When you pray for a thing from God, you run the risk of condemning Him, if for some reason the prayer is not answered the way you wanted it to be, or as quickly as you wanted it to be! This contingency arises because you feel that God is an outsider, staying in some heaven or holy spot, far away from you. God is in you, God is in every word of yours, in every deed and in every thought. Speak, do and think as it befits Him. Do the duty that He has allotted to the best of your ability, and to the satisfaction of your conscience. That is the most rewarding puja (worship). 



Doa untuk mendapatkan keuntungan seharusnya tidak ditujukan kepada Tuhan, karena, hal ini berarti bahwa Tuhan menunggu sampai Tuhan diminta! Berserahlah kepada Tuhan; Tuhan akan memberikanmu perhatian sebagaimana Tuhan merasa yang terbaik dan ini akan menjadi yang terbaik bagimu. Tuhan tidak membagikan karunia terkait dengan jumlah pujian yang Tuhan terima! Ketika engkau berdoa memohon sesuatu pada Tuhan, engkau memiliki kecenderungan akan menyalahkan Tuhan, jika karena beberapa alasan doa tersebut tidak terkabulkan seperti apa yang engkau inginkan, atau secepat yang engkau harapkan! Kemungkinan ini muncul karena engkau merasa bahwa Tuhan adalah orang luar, tinggal di surga atau di tempat suci, sangat jauh dari dirimu. Tuhan ada di dalam dirimu, Tuhan ada dalam setiap perkataan yang engkau ucapkan, dalam setiap perbuatan yang engkau lakukan, dan dalam setiap pemikiran. Berbicara, berbuat, dan berpikir dimana semuanya itu sesuai dengan Tuhan. Kerjakan kewajiban yang telah Tuhan berikan kepadamu dengan kemampuanmu yang terbaik, dan untuk kepuasan hati nuranimu. Itu adalah puja atau sembahyang yang paling memuaskan. (Divine Discourse, April 1973)

-BABA

 

Thought for the Day - 9th February 2021 (Tuesday)

Man prides that he knows everything but when asked about himself, he hangs his head in shame. Man knows the news of every land, but he is ignorant of the nuisance he is to himself and others. He is moving in darkness but yearning for Ananda (bliss). He does not know the means of securing Ananda through prayer, selfless service, study of spiritual texts, meditation and silence. He has no faith that he is Ananda and that Ananda is his own nature. He is blown off by calamity; for he has no strength to withstand that blow. Faith in the God within is the toughest shield against the thrusts of fate. Nests laboriously built by birds are torn away by storms; fragrant petals of flowers are felled by rain. Defeat and victory are the obverse and reverse of the same coin! When you welcome one, you have willy-nilly to welcome the other too! Forbearance, compassion and incorruptible virtue are the three pillars of a happy life. 



Manusia merasa bangga bahwa ia mengetahui segalanya namun ketika ditanyakan tentang dirinya sendiri, dia menggantungkan kepalanya dalam rasa malu. Manusia mengetahui berita dari setiap tempat, namun dia tidak tahu tentang gangguan yang diperbuatnya untuk dirinya dan orang lain. Manusia berjalan dalam kegelapan namun merindukan untuk mendapatkan Ananda (kebahagiaan). Manusia tidak mengetahui sarana untuk mendapatkan Ananda melalui doa, pelayanan tanpa pamrih, mempelajari naskah-naskah suci, meditasi, dan keheningan. Manusia tidak memiliki keyakinan bahwa dia sendiri adalah Ananda dan Ananda itu adalah sifatnya sendiri. Manusia diterpa bencana karena manusia tidak memiliki kekuatan untuk menahan serangan itu. Keyakinan pada Tuhan di dalam diri adalah perisai paling tangguh dalam menghadapi dorongan dari keadaan itu. Sarang yang dibuat oleh burung dengan susah payah dihancurkan oleh badai; kelopak bunga yang wangi dirobohkan oleh hujan. Kekalahan dan kemenangan adalah dua sisi dari koin yang sama! Ketika engkau menyambut salah satunya maka engkau mau tidak mau harus menyambut yang lainnya juga! Ketabahan, welas asih, dan sifat luhur yang tidak bisa disuap adalah tiga pilar dari hidup bahagia. (Divine Discourse, Apr 1973)

-BABA

 

Monday, February 8, 2021

Thought for the Day - 8th February 2021 (Monday)

Education is not to be taken as a process of filling an empty sack and pouring out its contents, making its sack empty again. It is not the head that has to be filled through education, it is the heart that has to be cleansed, expanded and illumined. Education is for life, not a living. The sign of the educated man is the humility, that he has not been able to know the vast unknown that still remains to be explored. The educated man must realise that he has more obligations than privileges, more duties than rights. He has to serve the society amidst which he is placed and the heritage that has been handed over by forefathers. He should be delighted to serve and not desire to dominate. For, service is divine; service makes life worthwhile. Service is the best way to use one’s skills, intelligence, strength and resources. 



Pendidikan bukanlah sebagai sebuah proses dalam mengisi karung kosong dan kemudian mengeluarkan isinya kembali, membuat karung itu kosong kembali. Ini bukanlah kepala yang harus diisi melalui pendidikan namun adalah hati yang harus dibersihkan, dikembangkan, dan diterangi. Pendidikan adalah untuk hidup dan bukan untuk mencari nafkah. Tanda dari seseorang yang berpendidikan adalah kerendahan hati, bahwa ia belum mampu mengetahui hal yang tidak diketahui yang begitu luas yang masih perlu untuk diungkapkan. Manusia yang berpendidikan harus menyadari bahwa ia memiliki lebih banyak kewajiban daripada hak istimewa, lebih banyak kewajiban daripada hak. Dia yang berpendidikan harus melayani masyarakat dimana dia ditempatkan dan warisan yang telah diserahkan oleh nenek moyang. Dia harus penuh kebahagiaan dalam melayani dan tidak ingin mendominasi. Karena, pelayanan adalah Tuhan; pelayanan membuat hidup menjadi berharga. Pelayanan adalah cara terbaik untuk menggunakan keahlian, kecerdasan, kekuatan, dan sumber daya seseorang! (Divine Discourse, Apr 01, 1973)

-BABA

 

Thought for the Day - 7th February 2021 (Sunday)

Our culture has upheld strength of mind and purity of thought, which are translated into beneficial resolutions and desires, as the essential requisites of a progressive human being. The mystery and splendour of God can be grasped only by a pure mind and a clear vision. That’s why the Lord granted a new eye to Arjuna so that he might not be confounded by His Glory. A resolution adopted by the mind is like a stone thrown into a Sarovara or lake. It produces ripples that affect the entire face and unsettles equanimity. A bad thought desecrates the individual as well as the community. Misery is infectious; your impurity can pollute too. A good sankalpa (resolution) sets up a series of such thoughts, each contributing its quota to the process of purification and strengthening. Bharatiya culture insists on purity of Sankalpa because, like a flagrant flower in the hand, it will spread its beneficial influence on others and through others! 



Kebudayaan kita telah menopang kekuatan pikiran dan kemurnian gagasan, yang diterjemahkan ke dalam resolusi dan keinginan yang bermanfaat, sebagai kebutuhan mendasar dari kemajuan manusia. Misteri dan kemegahan Tuhan hanya dapat dipahami oleh pikiran yang murni dan pandangan yang jelas. Itulah sebabnya mengapa Tuhan menganugerahkan sebuah pandangan baru kepada Arjuna sehingga Arjuna tidak tercengang oleh kemuliaan Tuhan. Sebuah resolusi yang diambil oleh pikiran adalah seperti sebongkah batu yang dilempar ke dalam Sarovara atau danau. Lemparan batu itu akan menghasilkan riak yang mempengaruhi seluruh bentuk dan mengganggu ketenangan. Sebuah gagasan yang buruk menodai seseorang dan juga masyarakat. Penderitaan itu bersifat menular; ketidaksucianmu dapat mencemari juga. Sebuah sankalpa (resolusi) yang baik akan menyusun serangkaian gagasan-gagasan yang seperti itu, setiap gagasan itu memberikan sumbangsih bagiannya pada proses pemurnian dan penguatan. Kebudayaan Bharatiya menekankan pada kesucian dari Sankalpa karena seperti halnya bunga yang wangi ditangan, maka wanginya akan menyebar memberikan pengaruh yang bermanfaat pada yang lain dan melalui orang lain! (Divine Discourse, Mar 30, 1973)

-BABA

 

Sunday, February 7, 2021

Thought for the Day - 6th February 2021 (Saturday)

While trying to get the best out of nature's gifts, you must first be equipped with humility and simplicity; otherwise, you will only be dragged along into ruin, through many unfulfilled desires. Ravana desired Nature (Mother Sita was found as a child in a furrow of ploughed land) but he had not chastened himself enough through the sadhana of seeking God; that is why he met his downfall. Desire leads to anger, when it is foiled; anger weakens the body. It impairs the digestive system and chases one fast into old age. Remember, when Prema (Divine selfless Love) is installed in the heart, jealousy, hatred and untruth will find no place there. Do not seek Prema from others when you refuse Prema to others. This is not one-way traffic! Live in Prema, live with Prema, move with Prema, speak with Prema, think with Prema, and act with Prema. This is the best and the most fruitful Sadhana (spiritual effort). 



Saat mencoba untuk mendapatkan yang terbaik dari anugerah alam, engkau pertama harus melengkapi dirimu dengan kerendahan hati dan kesederhanaan; kalau tidak, engkau hanya akan terseret ke dalam kehancuran melalui banyak keinginan yang tidak terpenuhi. Rahwana menginginkan Alam (Ibu Sita ditemukan sebagai seorang anak dari sebidang tanah yang dibajak) namun Rahwana tidak mendisiplinkan dirinya melalui sadhana dalam pencarian Tuhan; itulah sebabnya mengapa Rahwana mendapatkan kehancurannya. Keinginan menuntun pada amarah, ketika keinginan tidak tercapai; amarah melemahkan tubuh. Amarah melemahkan sistem pencernaan dan membuat seseorang menjadi cepat menua. Ingatlah, ketika Prema (cinta-kasih Tuhan yang tanpa mementingkan diri) ditaruh di dalam hati, maka iri hati, kebencian, dan ketidakbenaran tidak akan menemukan tempat disana. Jangan mencari Prema dari orang lain ketika engkau menolak memberikan prema untuk orang lain. Ini bukan keadaan satu arah! Hiduplah dalam Prema, hidup dengan prema, bergerak dengan prema, berbicara dengan prema, berpikir dengan prema, dan bertindak dengan prema. Ini adalah Sadhana (usaha spiritual) yang terbaik dan sangat bermanfaat. (Divine Discourse, Mar 30, 1973)

-BABA

 

Thought for the Day - 5th February 2021 (Friday)

You sit before the idol, light the incense and offer praise as you worship, but you do not try to grasp the significance of the Divine that you see in the idol. Inquire into the will of God, discover the commands of God, guess what will please Him most, and regulate your life accordingly. Do not get caught in the sticky tangles of outer Nature. Do not harden your heart through greed and hate. Soften it with Love. Cleanse it through pure habits of living and thinking. Use it as the shrine, wherein you install your God. Be happy that you have within you the source of power, wisdom and joy. Announce that you are unconquerable and free, that you cannot be tempted or frightened into wrong. So long as a trace of 'I-am-the-body' consciousness persists in you, you have to yourself search for God; you have to approach the mirror, the mirror will not proceed towards you, to show you, as you really are! 



Engkau duduk di depan arca, menghidupkan dupa dan mempersembahkan pujian saat engkau berdoa, namun engkau tidak mencoba untuk mendapatkan arti dari Tuhan yang engkau lihat pada wujud arca. Menyelidiki yang menjadi kehendak Tuhan, menemukan perintah dari Tuhan, mencari tahu apa yang paling menyenangkan Tuhan, dan mengatur hidupmu sesuai dengan hal itu. Jangan menjadi terjebak dalam ikatan kusut dari alam luar. Jangan mengeraskan hatimu melalui ketamakan dan kebencian, lembutkan hatimu dengan kasih. Bersihkan hatimu melalui kebiasaan hidup dan berpikir yang suci. Gunakan itu sebagai tempat suci, dimana engkau menempatkan Tuhanmu. Berbahagialah bahwa engkau memiliki sumber kekuatan, kebijaksanaan, dan suka cita di dalam diri. Umumkan bahwa engkau tidak terkalahkan dan bebas, bahwa engkau tidak bisa digoda atau ditakuti untuk berbuat salah. Selama jejak kesadaran ‘aku adalah badan' ada di dalam dirimu, maka engkau harus mencari Tuhan; engkau harus mendekati cermin, karena cermin tidak bergerak mendekatimu,untuk memperlihatkan dirimu yang sejati! (Divine Discourse, Jan 14, 1970)

-BABA