Tuesday, August 24, 2010

Thought for the Day - 24th August 2010 (Tuesday)


Since the Vedas and Shastras (scriptures) were won by penance and travail by sages and seers who were interested in the welfare of humanity and the liberation of man, they are the greatest repositories of Hitha (beneficence). They advise that man must regulate his 'outer-look' and develop the 'inner-look'; the inner reality is the foundation on which the outer reality is built. It is like the steering wheel inside the car which directs the outer wheels. Know that the basic reality is God. Become aware of it and stay in that awareness always. Whatever be the stress and the storm, do not waver from that faith.

Semenjak Weda dan Shastras (kitab suci) yang telah didapatkan melalui tapa dan penderitaan oleh orang-orang bijak dan orang-orang yang tertarik pada kesejahteraan umat manusia dan pembebasan manusia, Weda dan Shastras merupakan gudang terbesar Hitha (kebaikan). Weda dan Shastras menyarankan bahwa manusia harus mengatur ‘pandangan luar’ mereka dan mengembangkan 'pandangan ke dalam (batin)'; yaitu realitas batin yang merupakan fondasi yang akan membangun realitas luar. Hal ini diibaratkan roda kemudi di dalam mobil yang mengarahkan roda luar mobil. Ketahuilah bahwa realitas dasar adalah Tuhan. Sadarilah kebenaran ini dan selalulah tetap dalam kesadaran ini. Apapun tekanan dan badai yang dihadapi, janganlah ragu-ragu dengan keyakinan tersebut.

-BABA

Monday, August 23, 2010

Thought for the Day - 23rd August 2010 (Monday)


Desire and bondage to the objects desired and the plans to secure them are attributes of the Jeevis (individualized selves), not of the Self or Atma resident in the body. The sense of “me” and “mine” and the emotions of lust and anger originate in the body-mind complex. Only when this complex is conquered and outgrown can true virtue emanate and manifest. The sense of “doer” and “enjoyer”, of being an agent might appear to affect the Atma, but they are not part of the genuine nature of the Atma. Things get mirrored and produce images, but the mirror is not tarnished or even affected thereby. It remains as clear as it was. Every Jeevi has these as genuine, basic attributes: purity, serenity, and joy. Every individual is ebullient with these qualities.


Keinginan dan keterikatan pada objek yang diinginkan dan rencana-rencana untuk mengamankannya merupakan sifat dari Jeevis (diri individual), bukan dari Atma yang mendiami tubuh ini. Perasaan "aku" dan "milikku" serta keinginan yang sangat kuat dan amarah berasal dari pikiran yang kompleks. Hanya ketika hal ini dapat ditaklukkan dan diatasi, maka kebajikan sejati akan muncul dan menjelma dalam diri. Perasaan "pelaku" dan "penikmat", muncul untuk mempengaruhi Atma, tetapi bukanlah merupakan sifat sejati dari Atma. Diibaratkan seperti cermin yang dapat menghasilkan gambar, tetapi cermin itu tidak ternodai atau bahkan tidak terpengaruh olehnya. Setiap Jeevi memiliki sifat sejati ini, yang merupakan sifat dasar yaitu: kemurnian, ketenangan, dan kegembiraan. Setiap individu bersemangat dengan sifat-sifat ini.

-BABA

Sunday, August 22, 2010

Thought for the Day - 22nd August 2010 (Sunday)


Imitation can never become culture. You may wear royal robes and act the role; but can you, as a result of this imitation, become a king? A donkey clothed in tiger skin does not become a tiger. Imitation is a sign of cowardice. It cannot further one’s progress. In fact the tendency to imitate leads you down, step by step, into frightful shape. You must endeavour to uplift yourselves. You must be proud that you are devotees of the Lord. You must be proud of your ancestors. You should not imitate others and copy their attitudes. However, you may imbibe the good in them.

Tiruan tidak pernah bisa menjadi kebudayaan. Engkau dapat mengenakan jubah kerajaan dan berperan sebagai raja, tetapi dapatkah engkau menjadi raja karenanya? Seekor keledai yang memakai kulit harimau tidak akan menjadi harimau. Tiruan adalah tanda pengecut. Hal ini selanjutnya tidak dapat membuat kemajuan seseorang. Kecenderungan untuk meniru menyebabkan engkau jatuh perlahan-lahan ke dalam situasi yang menakutkan. Engkau harus berusaha untuk mengangkat dirimu sendiri. Engkau harus bangga bahwa engkau adalah bhakta Tuhan. Engkau seharusnya bangga pada leluhurmu. Engkau seharusnya tidak meniru orang lain serta meniru sikap mereka. Namun, engkau dapat menyerap hal-hal baik dari mereka.

-BABA

Saturday, August 21, 2010

Thought for the Day - 21st August 2010 (Friday)


Your forefathers achieved prosperity, peace and joy and succeeded in attaining their goals through faith alone. If you lose faith, you are certain to fall. For, faith is the very breath of life. When there is no breath, one becomes a Shavam (corpse). With the breath of faith, you become Shivam (Divine), the same as the Lord Himself. Faith can endow you with all forms of power and render you Poorna (full and complete). For, Atma, by its very nature, is self-sufficient and full. No other Sadhana (spiritual exercise) is needed to realise that state. Paripoornatha (purity and self-sufficiency) is also your true nature. Impurity and insufficiency are alien to mankind. You should not ignore or forget this fact. Real education must arouse this faith and infuse the awareness of this fullness in every activity. This is the essential aim, the core of the right type of education.

Kakek moyangmu telah mencapai kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan dan berhasil dalam mencapai tujuan mereka hanya melalui keyakinan. Jika engkau kehilangan keyakinan, engkau pasti akan jatuh. Karena, keyakinan adalah napas kehidupan. Ketika tidak ada napas, seseorang menjadi Shavam (mayat). Dengan napas keyakinan, engkau menjadi Shivam (Tuhan), sama seperti Tuhan sendiri. Keyakinan dapat memberikanmu segala bentuk kekuatan dan membuatmu menjadi Poorna (sempurna). Untuk, Atma, pada hakikatnya sifat sejatinya, adalah sempurna. Tidak ada Sadhana (latihan spiritual) yang lain yang diperlukan untuk menyadarinya. Paripoornatha (kemurnian dan kesempurnaan) juga merupakan sifat sejatimu. Ketidakmurnian dan kekurangan adalah sesuatu yang bertentangan bagi umat manusia. Engkau tidak boleh mengabaikan atau melupakan kenyataan ini. Pendidikan sejati harus membangkitkan keyakinan dan menanamkan kesadaran ini penuh pada setiap aktivitas. Ini adalah tujuan penting, inti dari type pendidikan yang sejati.

-BABA

Friday, August 20, 2010

Thought for the Day - 20th August 2010 (Friday)


The stage of equanimity is essential for spiritual progress. It can be gained only when the Buddhi (intellect) is cleansed of the blot of deluding attachments and involvements. Without that serenity, the intellect cannot proceed on the trail of Brahman (God). Why? The term ‘virtue’ is only another name for the ‘intelligence’ that follows the promptings of the Atma, the Self that is your Reality. Only one who has such virtue can win awareness of Atma. And, once awareness is gained, you will no longer be caught in delusion or desire.

Tahap ketenangan sangat penting bagi kemajuan spiritual. Hal ini dapat diperoleh hanya jika Buddhi (intelek) dibersihkan dari noda ilusi keterikatan dan kekusutan dunia. Tanpa ketenangan itu, intelek tidak dapat melanjutkan jejak Brahman (Tuhan). Mengapa? Istilah 'kebajikan' hanyalah nama lain untuk 'akal budi' yang mengikuti Atma, yang merupakan Kebenaran sejati. Hanya seseorang yang memiliki kebajikan seperti itulah yang bisa memenangkan kesadaran Atma. Dan, sekali kesadaran itu telah diperoleh, engkau tidak akan lagi terjebak dalam khayalan atau keinginan duniawi.

-BABA

Thursday, August 19, 2010

Thought for the Day - 19th August 2010 (Thursday)


Not even the tiniest event can happen unless willed by the Lord. Be fully convinced of this. He is the Suthradhari, the holder of the strings that move the puppets and make them act their roles; but He seats Himself among the spectators and pretends He is unaware of the plot or story or cast. The characters cannot deviate a dot from His directions. His Will guides and determines every single movement and gesture. The varying emotions affect the hearts of those who witness the play; but they do not cause a ruffle in the heart of the Suthradhari. He decides what this person should say or that person should do and He prompts in them the appropriate words and deeds.

Tidak ada kejadian sekecil apa pun yang dapat terjadi kecuali jika dikehendaki oleh Tuhan. Yakinlah sepenuhnya tentang hal ini. Beliau adalah Suthradhari (sutradara), yang menggerakkan wayang-wayang dan membuat mereka bertindak sesuai dengan peran mereka, tetapi Beliau sendiri juga duduk di antara para penonton dan Beliau berpura-pura tidak menyadari alur atau cerita atau para pelakunya. Karakter tidak bisa menyimpang setitikpun dari petunjuk-Nya. Kehendak Beliau memandu dan menentukan setiap gerakan. Berbagai emosi mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikan permainan tersebut, tetapi mereka tidak mengganggu hati Sang Suthradhari. Beliau memutuskan apa yang seharusnya dikatakan atau dilakukan oleh seseorang dan Beliau-lah yang menyebabkan mereka berkata-kata dan berbuat yang sesuai dengan peran mereka.

-BABA

Wednesday, August 18, 2010

Thought for the Day - 18th August 2010 (Wednesday)



If you condemn yourself, day and night as petty and weak, you can never accomplish anything. If you think that you are luckless and low, thereby you become luckless and low. Instead, when you cultivate the awareness that you are a spark of God; that you have as your reality Divinity Itself, then you can really become Divine, and you can have command over all powers. “Yad Bhaavam, Thad Bhavathi” (As you feel, so you become). It is how you feel that matter s the most. That is the basis for all that you are. Have faith in the Atma, the Divine Self that you really are! This is a must for every one of you!

Jika engkau menyalahkan dirimu sendiri, siang dan malam sebagai orang yang rendah dan lemah, engkau tidak akan pernah bisa mencapai apapun. Jika engkau berpikir bahwa engkau adalah orang yang tak beruntung dan rendah, maka engkau akan menjadi orang yang tak beruntung dan rendah. Sebaliknya, ketika engkau menanamkan kesadaran bahwa engkau adalah percikan Tuhan; bahwa engkau memiliki kesadaran Tuhan dalam dirimu, maka engkau benar-benar bisa menjadi Tuhan, dan engkau dapat memiliki segala kekuatan. "Yad Bhaavam, Thad Bhavathi" (seperti apa yang engkau pikirkan, maka seperti itulah jadinya). Ini adalah bagaimana engkau merasakan sesuatu, yang merupakan dasar dari semuanya yaitu dirimu sendiri. Milikilah keyakinan pada Atma, Tuhan itu sendiri yang adalah dirimu sendiri! Hal ini adalah kewajiban setiap orang!

-BABA