Thursday, July 7, 2016

Thought for the Day - 4th July 2016 (Monday)

Consider this example. They bring a large number of oranges in a lorry and dump them in a factory. When the oranges are brought in, some of them are green, some yellow, some ripe, some overripe, and so on. From all these oranges, they extract the juice and bottle it under a trade name. Once the juice is extracted and put in a bottle, you no longer see the different forms of the oranges which were present before. One can not say which part of the juice comes from which orange. Similarly, when all of us have merged ourselves in Divinity, we will not quarrel over individual forms and names. We will only see the one common aspect of divinity (Brahman) shining in everyone.


Bayangkanlah contoh ini. Mereka membawa banyak buah jeruk dalam truk besar dan mengeluarkan semuanya di pabrik. Ketika semua jeruk itu dibawa masuk, beberapa jeruk berwarna hijau, beberapa berwarna kuning, beberapa masak, beberapa terlalu masak, dsb. Dari semua jeruk ini menghasilkan jus atau sarinya dan menaruhnya di dalam botol serta diberikan nama. Saat jeruk sudah disarikan dan ditaruh di dalam botol, maka engkau tidak dapat lagi melihat wujud yang berbeda dari jeruk yang sebelumnya ada. Seseorang tidak akan dapat mengatakan yang mana jus berasal dari jeruk yang mana. Sama halnya, ketika semua dari kita telah menyatukan diri kita sendiri dalam keillahian, kita tidak akan bertengkar atas nama bentuk dan nama individu. Kita hanya melihat satu aspek keillahian yang sama yang bersinar dalam diri setiap orang. (Summer Showers in Brindavan 1974, Vol 1, Ch 5)

-BABA

Monday, July 4, 2016

Thought for the Day - 3rd July 2016 (Sunday)

From the four Vedas, our ancients have picked up four very special statements (Mahavakhyas) and taught their meaning to us. These four are Prajnanam Brahma, Ayam Atma Brahma, Tat Tvam Asi and Aham Brahmasmi.These statements imply that Brahman (Divine) is synonymous to Prajnana (Knowledge), and that the Atma (Soul) is Brahman, and that Brahman is yourself. In these we will be able to see that in the dissolved state everything is one and the same. In this state of dissolution all bad and good, things that are attractive and things that are not attractive, appear as one and the same. All things look as if they are one and the same. The difference between names and forms is not distinguishable. In this state one can only experience bliss. Simply because one does not perceive light within, the individual should not say that there is no Brahman within. In everyone this capacity to shine is present as Prajnana.


Dari empat Weda, para leluhur kita telah mengambil empat pernyataan yang sangat spesial (Mahavakhyas) dan mengajarkan artinya kepada kita. Keempat pernyataan itu adalah Prajnanam Brahma, Ayam Atma Brahma, Tat Tvam Asi, dan Aham Brahmasmi. Pernyataan ini menyatakan secara tidak langsung bahwa Brahman (Tuhan) adalah sama dengan Prajnana (pengetahuan), dan bahwa Atma (jiwa) adalah Brahman, dan Brahman itu adalah dirimu sendiri. Dalam bagian ini kita akan mampu melihat bahwa dalam keadaan larut segala sesuatu adalah satu dan sama. Dalam tahap pelarutan ini semua kebaikan dan keburukan, sesuatu yang menarik dan tidak menarik, muncul sebagai satu dan sama. Segala sesuatu kelihatan sebagai satu dan sama. Perbedaan antara nama dan wujud tidak dapat dibedakan lagi. Dalam keadaan ini seseorang hanya dapat mengalami kebahagiaan. Sederhananya karena seseorang tidak menerima cahaya di dalam diri, seseorang seharusnya tidak mengatakan bahwa tidak ada Brahman di dalam diri. Dalam diri setiap orang kapasitas untuk bersinar hadir dalam Prajnana. (Summer Showers in Brindavan 1974, Vol 1, Ch 5)

-BABA

Saturday, July 2, 2016

Thought for the Day - 2nd July 2016 (Saturday)

Before the start of the Mahabharata war, at the advice of Lord Krishna, Yudhishthira and his brothers, went up to Bhishma, touched his feet, and said, “Grandfather, ever since we lost our father, you looked after us and brought us up; unfortunately, today we have to fight with you. Please give us permission for this battle.” Bhishma was very much moved that even under those terrifying conditions of battle, Yudhishthira was doing his duty and came all the way to seek his permission. Bhishma embraced him and said, “Even in the battlefield, you are observing dharma and it gives me great pleasure. You will be victorious in this battle because you are acting according to Dharma. Those who protect righteousness (dharma) will in turn be protected by dharma.” Such is the highest order of regulatory conduct taught by Lord Krishna; ponder over this and wonder if we, as human beings, are observing appropriate rules and code of conduct.

Sebelum mulai perang Mahabharata, atas nasihat dari Sri Krishna, maka Yudhishthira dan semua adiknya pergi menemui Bhishma, menyentuh kakinya dan berkata, “Kakek, sejak awal kita kehilangan ayah kami, kakek yang telah menjaga kami semuanya dan juga membesarkan kami; namun sialnya, hari ini kami harus berperang melawan kakek. Tolong izinkan kami untuk melakukan peperangan ini.” Bhishma merasa sangat tersentuh karena walaupun dalam keadaan yang sangat mengerikan dari peperangan, Yudhishthira telah menjalankan kewajibannya dan datang untuk meminta restunya. Bhishma memeluknya dan berkata, “Bahkan dalam medan perang, engkau masih mematuhi dharma dan ini yang memberikan kakek kesenangan yang sungguh luar biasa. Engkau akan menang dalam perang ini karena engkau sedang berbuat sesuai dengan dharma. Bagi mereka yang melindungi kebajikan (dharma) akan kembali dilindungi oleh dharma.” Itulah perintah tertinggi tentang aturan tingkah laku yang diajarkan oleh Sri Krishna; mempertimbangkan akan hal ini dan ingin tahu jika kita sebagai manusia mematuhi aturan yang sesuai dan juga aturan dalam tingkah laku. (Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 6)

-BABA

Friday, July 1, 2016

Thought for the Day - 1st July 2016 (Friday)

God is one, but each individual can and must create a form for themselves according to their taste. When salt is in the sea, it is not distinct from the sea. It is a part of the ocean. This salty taste is a quality present in the entire ocean. Do we have to drink and taste the entire ocean to experience this saltiness? One drop of water suffices to tell us that the ocean water is salty. Similarly even if you experience a small part of the aspect of Divine (Brahman) present within your heart, you can understand the divine. There are many tube lights in a home, and we think they are different. Indeed the light coming from each tube light is different, but the current that flows through all the tube lights is the same. All human beings in this world are like tube lights, and God, in the form of Shaktipata (spiritual energy), shines in all human tube lights.


Tuhan adalah satu, namun setiap individu dapat dan harus menciptakan sebuah bentuk bagi diri mereka sendiri sesuai dengan selera mereka. Ketika garam ada di laut, maka garam tidak berbeda dari lautan dan merupakan bagian dari lautan. Rasa asin ini adalah sebuah sifat yang ada di seluruh lautan.  Apakah kita harus meminum dan merasakan seluruh lautan untuk bisa merasakan rasa asin? Satu tetes air sudah cukup untuk mengatakan kepada kita bahwa air laut rasanya asin. Sama halnya walaupun jika engkau mengalami sebuah bagian kecil dari aspek Tuhan (Brahman) yang hadir di dalam hatimu, engkau dapat memahami keillahian. Ada banyak bola lampu di dalam rumah, dan kita berpikir bahwa semua bola lampu itu adalah berbeda. Sejatinya cahaya yang keluar dari setiap bola lampu itu adalah berbeda, namun arus yang mengaliri semua bola lampu itu adalah sama. Semua umat manusia di dunia ini adalah seperti bola lampu dan Tuhan dalam wujud Shaktipata (energi spiritual), bersinar di bola lampu manusia. (Summer Showers in Brindavan 1974, Vol 1, Ch 5)

-BABA

Thursday, June 30, 2016

Thought for the Day - 30th June 2016 (Thursday)

The five elements that constitute the earth are also controlled by certain laws. Even the infinite ocean moves under certain laws and regulations. In order to get this limitation in the worldly plane, some discipline is necessary. In the context of the whole world, man’s life is only a part. Therefore man’s life has to be regulated. Whether it is for love, for hatred, or for anger, some regulation is necessary. For doing any kind of work in this world, there should be some order and discipline. Any work that you may do without discipline, will not yield good results. That which rules the world is the rule of law. What is required to control oneself and put oneself under the rule of law, is discipline. This control of oneself is like tapas or penance. A life, in which there is no discipline and control, will fail and fall one day or the other. One must recognise the truth that there should be controls on, and limits to, human nature.
Lima unsur yang menyusun bumi juga dikendalikan oleh beberapa hukum tertentu. Bahkan lautan yang luas bergerak oleh beberapa hukum dan aturan tertentu. Dalam upaya untuk mendapatkan pembatasan di dunia, beberapa disiplin diperlukan. Dalam konteks seluruh dunia, kehidupan manusia hanyalah sebuah bagian. Maka dari itu kehidupan manusia harus diatur. Apakah ini untuk kasih, untuk kebencian atau untuk amarah, beberapa aturan diperlukan. Untuk melakukan pekerjaan apapun di dunia ini, harus ada beberapa tata tertib dan disiplin. Pekerjaan apapun yang engkau lakukan tanpa dengan disiplin maka tidak akan menghasilkan hasil yang baik. Yang mengatur dunia adalah aturan hukum. Apa yang diperlukan untuk mengendalikan seseorang dan menempatkannya dibawah aturan hukum adalah disiplin. Pengendalian diri ini adalah seperti tapa atau penebusan dosa. Sebuah kehidupan yang tidak ada disiplin dan kontrol, akan gagal dan jatuh pada satu atau di lain hari. Seseorang harus menyadari kebenaran bahwa seharusnya ada pengendalian dan batas pada sifat manusia. (Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 6)

-BABA

Thought for the Day - 29th June 2016 (Wednesday)

When we use the words ‘freedom of choice’ with respect to the spiritual path, we use these words only with regard to our understanding of the Divine. God is limitless; and one can have the freedom to have one’s own image of God, and yet enjoy the limitless aspect of God. The cloth may be different but the basic material, namely the thread which makes the cloth of different kinds, is the same. Ornaments are all different, but the gold which goes into making the ornaments is the same. The colour of the cattle may vary, but the milk is the same. The flowers may be of different types, but the worship for which they are used is one and the same. Human beings have missed this essential point and this is a result of their ignorance. People have submitted themselves to great many difficulties because of such ignorance. God is one, but each individual should be able to create a form for oneself according to one’s taste.


Ketika kita menggunakan kata-kata ‘kebebasan pilihan’ berkenaan dengan jalan spiritual, kita menggunakan kata-kata ini hanya dengan pemahaman kita tentang Tuhan. Tuhan adalah tidak terbatas; dan seseorang dapat memiliki kebebasan untuk memiliki gambaran Tuhan dan pada waktunya menikmati aspek Tuhan yang tidak terbatas. Pakaian mungkin saja berbeda namun bahan dasarnya yaitu benang yang membuat pakaian yang berbagai jenis adalah sama. Perhiasan semuanya adalah berbeda, namun emas yang dipakai untuk membuat perhiasan itu adalah sama. Warna dari ternak mungkin berbeda-beda namun susunya adalah sama. Bunga mungkin ada berbagai jenis, namun pemujaan yang menggunakan bunga adalah sama dan satu. Manusia telah kehilangan point yang mendasar ini dan ini adalah hasil kebodohan mereka. Manusia telah menyerahkan diri mereka sendiri ke dalam banyak kesulitan yang besar karena kebodohan itu. Tuhan adalah satu, namun setiap individu seharusnya mampu menciptakan sebuah wujud untuk dirinya sesuai dengan seleranya sendiri. (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan 1974, Vol 1, Ch 5)

-BABA

Tuesday, June 28, 2016

Thought for the Day - 28th June 2016 (Tuesday)

You must all make up your minds to have unwavering faith and a steadfast vision. This is an attempt which you should make. Anyhow you have caught on to something; having caught on to it, keep holding on without leaving it. Anyhow you have desired for something; having desired thus, until the desire is fulfilled, do not leave. Anyhow you have asked for something; having asked for it, until it is given, do not give up. Anyhow you have thought of something; having thought about it, until it is realised, do not go away. Not able to bear any more, He should come to your rescue. Or you will have to keep asking until you lose your consciousness. That is all. Until then, do not change your mind. That is the right path, but to give up your determination is not the right path. Whatever obstacles may come in your way, if you do not bend and have firm faith, then we can build up a Krishna (God’s) army.


Engkau semua harus membentuk pikiranmu agar memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan dan pandangan yang kokoh. Ini adalah sebuah usaha yang engkau harus lakukan. Ketika engkau telah mengejar sesuatu; karena telah mengejarnya, tetap pegang tanpa melepaskannya. Ketika engkau telah menginginkan sesuatu; jangan lepaskan sampai keinginan itu tercapai. Ketika engkau telah meminta sesuatu; jangan menyerah sampai permintaan itu dikabulkan. Ketika engkau telah memikirkan sesuatu; tetap pikirkan sampai hal itu dan jangan pergi sampai hal itu terealisasi. Ketika engkau tidak tahan lagi maka Tuhan akan datang menyelamatkanmu. Atau engkau harus tetap meminta sampai engkau kehilangan kesadaranmu. Itulah semuanya. Sampai pada akhirnya, jangan mengubah pikiranmu. Itu adalah jalan yang benar, namun dengan menyerah akan keteguhan hatimu bukan jalan yang benar. Apapun halangan yang merintangi jalanmu, jika engkau tidak mengubah jalanmu dan tetap memiliki keyakinan yang mantap, kemudian kita dapat membangkitkan kekuatan Krishna (Tuhan). (Divine Discourse, Summer Roses On Blue Mountains, 1976, Ch 4)

-BABA