Wednesday, December 30, 2020

Thought for the Day - 30th December 2020 (Wednesday)

Prahlada never gave up the Name of the Lord even in times of adversities. As he surrendered himself to Lord Narayana completely, he was protected. When he was thrown into the ocean, the waves assumed the form of Lord Narayana. When he was pushed from a mountain top, Lord Narayana held him in His arms, and when he was bitten by venomous snakes, the poison became nectar. Never feel depressed when you are weighed down by difficulties. God will never impose on you ordeals that you cannot bear. Test is the taste of God. Never fear any test. When you purify your heart and surrender yourself to God completely, He manifests instantly. He does not delay even one moment. This was proved in the case of Saint Ramdas too! Vedanta says, Brahmavid Brahmaiva Bhavati - the knower of the Brahman (Divine) becomes Brahman. “As you think, so you become!” If you think of God incessantly, you will assume His form. 



Prahlada tidak pernah melepaskan Nama Tuhan bahkan dalam saat-saat yang sulit. Ketika dia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Dewa Narayana, maka dia dilindungi. Ketika Prahlada dilempar ke dalam lautan, gelombang lautan mengambil bentuk Dewa Narayana. Ketika Prahlada didorong dari puncak gunung, Dewa Narayana memeluknya di tangan-Nya, dan ketika Prahlada digigit oleh ular yang berbisa, racun ular tersebut menjadi nektar. Jangan pernah merasa tertekan ketika engkau terbebani dengan kesulitan. Tuhan tidak akan pernah memberikanmu  cobaan yang tidak dapat engkau tanggung. Test adalah ‘taste’ (rasa) dari Tuhan. Janganlah takut pada ujian apa pun. Ketika engkau memurnikan hatimu dan menyerahkan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan, maka Beliau secara langsung mewujudkan diri-Nya. Beliau tidak akan menunda bahkan sesaat pun. Hal ini juga dibuktikan dalam kasus Guru suci Ramdas! Wedanta mengatakan, Brahmavid Brahmaiva Bhavati - yang mengetahui Brahman (Ilahi) akan menjadi Brahman. "Engkau menjadi seperti apa yang engkau pikirkan!" Jika engkau memikirkan Tuhan tanpa henti, engkau akan mengambil wujud-Nya. (Divine Discourse, Dec 25, 1998)

-BABA

 

Tuesday, December 29, 2020

Thought for the Day - 29th December 2020 (Tuesday)

Embodiments of Love! Everyone is born in this world, by the will of God. Having taken birth as a human being, one has to realise the Divinity within. Every human being is a messenger of God. The primary duty of every individual as a messenger of God, is to practice and propagate the principles of truth, love and peace, to experience the bliss, and to share it with others. The one who propagates the worldly, fleeting and ephemeral cannot be called a messenger of God. One should not waste one’s life in merely eating, drinking and sleeping. In fact, such a life is a blot on human nature itself! One has to overcome difficulties to be successful in life. Every activity should reflect the divine message. You see many people suffering. In what way are you helping them? Give happiness to those who are suffering. Consider your every activity as God’s work. 



Perwujudan kasih! Setiap orang lahir ke dunia ini dengan kehendak dari Tuhan. Dengan lahir sebagai manusia, seseorang harus menyadari kualitas Tuhan di dalam dirinya. Setiap manusia adalah pembawa pesan Tuhan. Kewajiban utama dari setiap individu sebagai pembawa pesan Tuhan adalah menjalankan dan menyebarkan prinsip kebenaran, kasih dan kedamaian untuk bisa mengalami kebahagiaan dan berbagi kebahagiaan dengan yang lainnya. Seseorang yang menyebarkan keduniawian yang bersifat fana dan sementara adalah tidak bisa disebut sebagai pembawa pesan Tuhan. Seseorang seharusnya tidak menyia-nyiakan hidupnya hanya dalam makan, minum, dan tidur. Sejatinya, hidup yang seperti itu adalah sebuah noda dalam sifat manusia itu sendiri! Seseorang harus mengatasi kesulitan agar berhasil dalam hidup. Setiap perbuatan harus mencerminkan pesan-pesan Tuhan. Engkau melihat banyak orang menderita. Bagaimana caramu untuk membantu mereka? Berikan kebahagiaan pada mereka yang menderita. Anggaplah bahwa setiap perbuatanmu sebagai pekerjaan Tuhan. (Divine Discourse, Dec 25, 1998)

-BABA

 

Thought for the Day - 28th December 2020 (Monday)

Hold the rosary over the middle finger, keeping three Guna fingers together. This means that you are now transcending the world of attributes and qualities, of name and form, of multiplicity that is the consequence of all this transformation, and proceeding towards the knowledge of Unity. The Jeevi finger (index finger) now slowly passes each bead towards the thumb (Brahman), touching the tip of the Brahman finger. When the bead passes over, mergence is emphasised with every bead and every breath, for, while the fingers learn and teach the lesson, the tongue too repeats the mantra or the Name, with the pranava (the primal sound of OM). The japamala (rosary) is very useful for beginners in sadhana, but, as you progress, japa (chanting) must become the very breath of your life and so, the rotation of beads becomes a superfluous and cumbersome exercise in which you have no more interest! Always, at all times, in all places, Hari (Lord) is meditated upon. That is the stage the japamala should lead you. 



Pegang rosario/tasbih di atas jari tengah, menyatukan tiga jari Guna. Ini berarti bahwa engkau sekarang melampaui dunia atribut dan kualitas, nama dan bentuk, dari keberagaman yang merupakan konsekuensi dari semua transformasi ini, dan melanjutkan menuju pengetahuan tentang Kesatuan. Jari Jeevi (jari telunjuk) sekarang perlahan melewati setiap manik-manik ke arah ibu jari (Brahman), menyentuh ujung jari Brahman. Ketika manik-manik itu lewat, penggabungan ditekankan dengan setiap manik-manik dan setiap nafas, karena, sementara jari belajar dan mengajarkan pelajaran, lidah juga mengulangi mantra atau Nama, dengan pranava (suara utama OM). Japamala (rosario/tasbih) sangat berguna untuk pemula dalam sadhana, tetapi, seiring kemajuanmu, japa (pelantunan) harus menjadi nafas hidupmu dan karenanya, rotasi manik-manik menjadi tidak berguna dan tidak lagi menarik bagimu! Selalu, setiap saat, di semua tempat, Hari (Tuhan) direnungkan. Itulah tahap yang hendaknya dibawa oleh japamala-mu. (Divine Discourse, May 10, 1969)

-BABA

 

Monday, December 28, 2020

Thought for the Day - 27th December 2020 (Sunday)

Transcend anekatwa bhava (the feeling of multiplicity) and cultivate ekatwa bhava (the feeling of oneness), that will end strife, grief, pain and pride. See all as expressions of the same God, as appearances on the same screen, and as bulbs lit by the same current, though of manifold colours and wattage. Feel that you and they are able to talk and walk, and think and act because of the God within. Differences that strike you while you cast your eyes are illusory; you have not yet developed the vision that makes you apprehend the unity which is the truth of all the seeming diversity, that is all! The fault is in you, not the world. The world is One; but, each takes it to mean what pleases one most! The world is One, but, each sees it from one’s own angle and so, it appears as if it has multiple faces. 



Melampaui anekatwa bhava (perasaan keberagaman) dan meningkatkan ekatwa bhava (perasaan kesatuan), akan mengakhiri perselisihan, duka cita, rasa sakit, dan kesombongan. Melihat semuanya sebagai ungkapan dari Tuhan yang sama, sebagai penampakan di atas layar yang sama, dan sebagai bola lampu yang diterangi oleh arus yang sama, meskipun dengan berbagai jenis warna dan tegangan. Rasakan bahwa engkau dan mereka adalah mampu untuk berbicara dan berjalan, serta berpikir dan bertindak karena ada Tuhan yang bersemayam di dalam diri. Perbedaan yang mempengaruhimu ketika engkau mengarahkan pandanganmu adalah ilusi; engkau belum mengembangkan pandangan yang membuat engkau memahami kebenaran dari semua keberagaman yang nampak, itu saja! Kesalahan ada di dalam dirimu dan bukan di dunia. Dunia adalah Satu; namun, masing-masing mengartikannya sebagai apa yang paling menyenangkannya! Dunia adalah Satu, namun masing-masing melihatnya dari sudut pandangnya sendiri dan sehingga dunia kelihatan memiliki banyak sisi. (Divine Discourse, May 10, 1969)

-BABA

 

Thought for the Day - 26th December 2020 (Saturday)

When Christ was born, three kings came to see the infant. One of them declared that the child would be a lover of God. The second one said that he would be the beloved of God. The third one declared that he was God. A lover of God is a messenger of God. The one whom God loves is a ‘Son of God’. When one experiences both of these, he becomes one with God - ‘Father and Son are one’. Therefore, at the outset you must prepare yourselves to be messengers of God. This means that you should live up to the message of God. The message calls for service to all. Compassion, morality and integrity are essential elements in the message. In propagating this message faith in God should be promoted. Love should be the watchword. The absence of love gives rise to hatred. Today there is no unity among the people. Without unity how can there be bliss? Without bliss how can anyone experience God? 



Ketika Kristus lahir, tiga raja datang untuk melihat bayi itu. Salah satu dari mereka menyatakan bahwa anak itu akan menjadi kesayangan Tuhan. Yang kedua berkata bahwa dia akan menjadi yang dikasihi Tuhan. Yang ketiga menyatakan bahwa dia adalah Tuhan. Seorang kesayangan Tuhan adalah utusan Tuhan. Orang yang Tuhan kasihi adalah 'Anak Tuhan'. Ketika seseorang mengalami keduanya, dia menjadi satu dengan Tuhan - 'Ayah dan Anak adalah satu'. Karena itu, sejak awal engkau harus mempersiapkan diri untuk menjadi utusan Tuhan. Ini berarti bahwa engkau harus hidup sesuai dengan pesan Tuhan. Pesan tersebut adalah melayani semuanya. Welas asih, moralitas, dan integritas adalah elemen penting dalam pesan ini. Dalam menyebarkan pesan ini, keyakinan kepada Tuhan harus ditingkatkan. Cinta-kasih harus menjadi sebuah semboyan. Ketiadaan cinta-kasih menimbulkan kebencian. Saat ini tidak ada kesatuan di antara orang-orang. Tanpa kesatuan, bagaimana bisa ada kebahagiaan? Tanpa kebahagiaan, bagaimana seseorang bisa mengalami Tuhan? (Divine Discourse, Dec 25, 1995)

-BABA

 

Thought for the Day - 25th December 2020 (Friday)

It was to teach mankind the greatness of divine love that Jesus came. He resolved on three tasks: one, to be filled with Divine love and to share it with others - this was the main purpose of his life; two, he should not succumb to praise or censure in carrying out his mission; three, to inspire in others the conviction that the Divinity within is omnipresent. Jesus considered spreading the gospel of love as his foremost task. He encountered many ordeals in carrying out his mission, but he regarded them all as challenges to be overcome. He was determined to treat pleasure and pain, and sickness and failure with equanimity. He could not bear to see anyone suffer. Every human being is potentially a messenger of God. Humanness demands that everyone should manifest the Divinity within him. Everyone should be a real messenger of God and strive to promote peace and security in the world. There is no other path to be followed. God's message is sacred and totally free from self-interest. 



Adalah untuk mengajarkan umat manusia kebesaran dari kasih Tuhan maka Jesus datang. Beliau menetapkan pada tiga tugas yaitu: pertama, untuk dipenuhi dengan kasih Tuhan dan berbagi kasih Tuhan kepada yang lainnya – ini adalah tujuan utama dari hidupnya; kedua, beliau seharusnya tidak mengalah pada pujian atau celaan dalam menjalankan misinya; ketiga, untuk menginspirasi yang lain tentang keyakinan bahwa Tuhan yang bersemayam di dalam diri ada dimana-mana. Jesus menganggap bahwa menyebarkan ajaran kasih adalah tugasnya yang paling utama. Beliau banyak mengalami cobaan berat dalam menjalankan misinya, namun beliau menganggap semuanya itu sebagai tantangan yang harus diatasi. Beliau memiliki keteguhan hati dalam memperlakukan kesenangan dan kepedihan, dan rasa sakit serta kemalangan dengan ketenangan. Beliau tidak tahan melihat siapapun yang menderita. Setiap manusia adalah memiliki potensi sebagai pembawa pesan Tuhan. Nilai kemanusiaan menuntut setiap orang seharusnya mewujudkan sifat ketuhanan di dalam dirinya. Setiap orang seharusnya menjadi pembawa pesan Tuhan yang sejati dan berusaha untuk mengembangkan kedamaian serta keamanan di dunia. Tidak ada jalan lain yang diikuti. Pesan Tuhan adalah suci dan sepenuhnya bebas dari kepentingan diri. (Divine Discourse, Dec 25, 1995)

-BABA

 

Thought for the Day - 24th December 2020 (Thursday)

One day, young Jesus went to a lonely hilltop. Jesus was sitting and meditating on God all the while. After some time, he returned. As he was returning, he ran into a group of worried men on the coast of the sea of Galilee. When Jesus enquired, they said that they were fishermen and that for quite some time they were unable to catch any fish in their nets. Jesus said, “Follow me; are there any waters that do not have fish?” He took them to the middle of the sea and asked them to cast their nets at a particular spot. To their utter astonishment and great joy, the fishermen found that their nets were full with fish. This event created a lot of faith in the minds of the fishermen. Faith is indispensable for humanity. Where there is faith, there is love. Where there is love, there is truth; Where there is truth, there is peace; Where there is peace, there is bliss; Where there is bliss, there is God. 



Pada suatu hari, Jesus muda pergi ke sebuah puncak bukit yang sunyi. Jesus duduk dan meditasi pada Tuhan sepanjang waktu. Setelah beberapa lama, beliau turun. Pada saat beliau turun, beliau bertemu dengan sekelompok orang yang cemas di tepi laut Galilee. Ketika Jesus bertanya, mereka berkata bahwa mereka adalah nelayan dan untuk beberapa waktu mereka tidak mampu untuk mendapatkan ikan di dalam jaring mereka. Jesus berkata, “Ikuti aku; apakah ada air yang tidak ada ikan di dalamnya?” Jesus membawa mereka ke tengah laut dan meminta para nelayan untuk melapaskan jaring mereka pada titik tertentu. Mereka sangat terkejut dan gembira, para nelayan mendapatkan bahwa jaring mereka penuh dengan ikan. Kejadian ini menciptakan keyakinan yang mendalam di dalam benak para nelayan. Keyakinan adalah sangat diperlukan untuk manusia. Dimana ada keyakinan, disana ada cinta kasih. Dimana ada cinta kasih, disana ada kebenaran; dimana ada kebenaran, disana ada kedamaian; dimana ada kedamaian, disana ada kebahagiaan; dimana ada kebahagiaan, disana ada Tuhan. (Divine Discourse, Dec 25, 2002)

-BABA