Thursday, August 13, 2020

Thought for the Day - 8th August 2020 (Saturday)

 Selfless action is the ideal to be aimed at. But now, everything is measured by the result, the gain that accrues. If you fan a person out of love, when you stop, the person cannot blame you, but when the paid servant stops, the master takes him to task. In the first case, the act is done without selfish desire (in the nishkama way); there is no aim to seek gain. The desire for gain is like the poisonous fangs; when they are pulled out, the snake of karma is rendered harmless. The correct discipline to acquire the desireless (nishkama) attitude is dedication, and that is possible only when you have intense faith in God. That faith becomes steady through spiritual effort. Now, spiritual effort is like the snacks one eats; the main dishes are all of the world, from the world. However, the spiritual must be the major portion of the food. 



Perbuatan yang tidak mementingkan diri sendiri adalah ideal yang menjadi tujuan. Namun saat sekarang, segala sesuatu diukur dengan hasil, dan keuntungan yang didapat. Jika engkau mengipasi seseorang dari kasih, ketika engkau berhenti maka orang tersebut tidak bisa menyalahkanmu, namun ketika pelayan yang dibayar berhenti mengipasi maka majikannya akan menyuruhnya kembali. Dalam kasus pertama, perbuatan dilakukan tanpa adanya keinginan pribadi (dalam cara nishkama); tidak ada tujuan keuntungan yang dicari. Keinginan untuk mendapatkan keuntungan adalah seperti taring yang beracun; ketika taring itu dicabut maka ular dari karma menjadi tidak berbahaya. Disiplin yang benar untuk memiliki sikap tanpa keinginan (nishkama) adalah dengan dedikasi, dan ini hanya mungkin jika engkau memiliki keyakinan pada Tuhan yang kuat. Keyakinan itu menjadi mantap melalui usaha spiritual. Sekarang, usaha spiritual adalah seperti makanan ringan yang dimakan, hidangan utama adalah seluruh dunia, dari dunia. Bagaimanapun, spiritual harus menjadi bagian utama dari makanan. (Divine Discourse, Sep 15, 1963)

-BABA


No comments: