Sunday, January 19, 2020

Thought for the Day - 10th January 2020 (Friday)

“Eating” doesn’t mean placing food on the tongue and tasting it; it is worthwhile only when food is chewed, swallowed, digested, assimilated into blood stream, and transformed into muscle and bone, into strength and vigour. So too, spiritual understanding must permeate and invigorate all moments of life. It must be expressed through all the organs and senses (karmendriyas and jnanendriyas). One must pace up steadily and reach this high stage. Mere accumulation of learning is not spiritual wisdom (jnana). Only good conduct (sat-guna) is spiritual wisdom. In order that one might do selfless service, a little eating (bhoga) has to be gone through. Such eating is part of the sacrifice (yajna). To make this body-machine function, the fuel of food has to be used. Food is not sacrifice, but it makes sacrifice possible. Therefore, eating food must not be laughed at as catering to greed or as feeding of the stomach. It must be understood as part of worship. 


“Makan” tidak berarti menempatkan makanan di lidah dan merasakannya; makan menjadi berfaedah hanya ketika makanan dikunyah, ditelan, dicerna, diserap ke dalam aliran darah dan diedarkan pada otot dan tulang, menjadi kekuatan dan tenaga. Begitu juga, pemahaman spiritual harus diresapi serta memperkuat seluruh bagian kehidupan. Spiritual harus diungkapkan melalui seluruh organ dan indria (karmendriya dan jnanendriya). Seseorang harus melangkah dengan mantap dan mencapai tahapan yang tertinggi ini. Akumulasi pembelajaran saja bukanlah kebijaksanaan spiritual (jnana). Hanya tingkah laku yang baik (sat-guna) adalah kebijaksanaan spiritual. Dalam upaya seseorang dapat melakukan pelayanan tanpa mementingkan diri sendiri, sedikit makan (bhoga) harus dilakukan. Makan seperti itu adalah bagian dari korban suci (yajna). Untuk membuat mesin tubuh ini berfungsi maka bahan bakar berupa makanan harus digunakan. Makanan bukanlah pengorbanan, namun memungkinkan pengorbanan. Maka dari itu, menikmati makanan harusnya tidak dipandang rendah seperti menyediakan makanan bagi ketamakan atau sebagai memberi makan bagi perut. Ini harus dipahami sebagai bagian dari ibadah. (Prema Vahini, Ch 12)

-BABA

No comments: