Most men spend the lifetime allotted to them or earned by them in the partaking of rich but harmful food and drink and indulge in glamorous but more harmful pastimes. What a pathetic waste of precious stuff! Though belonging to the animal genus, man has much more than his fellow beings in physical, mental, and moral equipment. He has memory, language, conscience, reverence, awe, wonder, and an inexplicable sense of discontent, the precursor of detachment. He has the glorious chance of visualising his identity with the Mystery that is manifested as this universe. But he is so sunk in ignorance that he behaves as though he is an animal like the rest and wallows in grief and vice. It is as if fire has forgotten its capacity to burn or water its nature to wet; man has forgotten his nature to reach out into Godhood, his capacity to seek and secure the truth of the universe of which he is a part, his capacity to train himself by virtue, justice, love, and sympathy to escape from the particular to the universal. Man can indeed attain the consummation and climax of merging with the unchanging that is behind all this change.
-- Divine Discourse, Jul 02, 1966
Uncontrolled living habits, unrestrained social behaviour—these are extolled as signs of freedom. It is only freedom to slide into the animal from which man has risen.
Kebanyakan manusia menghabiskan masa hidupnya yang diberikan atau diperolehnya hanya untuk menikmati makanan dan minuman yang mewah namun merusak, serta hiburan yang tampak menarik tetapi justru lebih membahayakan. Betapa menyedihkan pemborosan atas kehidupan yang begitu berharga ini! Walaupun dalam sudut pandang biologis, manusia memang termasuk kerajaan hewan (animal kingdom atau animal genus), ia memiliki jauh lebih banyak kemampuan dibandingkan makhluk lainnya, baik secara fisik, mental, maupun moral. Manusia memiliki ingatan, bahasa, hati nurani, rasa hormat, kekaguman, rasa takjub, dan juga suatu ketidakpuasan batin yang sulit dijelaskan, yang sebenarnya menjadi awal dari sikap tanpa keterikatan. Manusia memiliki kesempatan luar biasa untuk memvisualisasikan identitasnya dengan Misteri yang termanifestasi sebagai alam semesta ini. Namun manusia begitu tenggelam dalam ketidaktahuan sehingga manusia berperilaku seolah-olah ia adalah binatang seperti yang lain dan berkubang dalam kesedihan dan keburukan. Keadaan ini bagaikan api yang lupa bahwa sifatnya adalah membakar, atau air yang lupa bahwa sifatnya adalah membasahi. Manusia telah melupakan hakikat dirinya: mencapai sifat ketuhanan, kemampuannya dalam mencari dan memahami kebenaran alam semesta yang menjadi bagiannya, serta melatih dirinya melalui kebajikan, keadilan, kasih, dan simpati agar dapat melampaui keterikatan pribadi menuju kesadaran universal. Sesungguhnya manusia mampu mencapai puncak tertinggi kehidupannya, yaitu bersatu dengan Yang Abadi dan Tidak Berubah di balik seluruh perubahan dunia ini.
-- Wacana Swami, 02 Juli 1966
Pola hidup yang tidak terkendali dan perilaku sosial tanpa batas sering dipuji sebagai kebebasan. Padahal itu hanyalah kebebasan untuk jatuh kembali ke tingkat kebinatangan, dari mana manusia sebenarnya telah berkembang.
No comments:
Post a Comment