Once, an old friend of a king came to meet him. The king was glad to see his old friend and chatted with him affectionately. This man was very aged and carried a stick with him for support. The king questioned his friend as to how he was leading his life. His friend replied that in old age one needed some support, and the stick was his support. The old man asked the king whether he was serving his people well, to which the king reacted that he was a king and could never be a servant. The old man wished to teach the king a practical lesson. So, he dropped his stick to salute the king. As he could not bend down to pick up the stick, the king at once bowed down, picked up the stick, and gave it to his friend. Then the old man said, “You say you are not a servant. But right now you have served me. So, you are my servant.” All have to serve one another at some point in time. To say that one is not a servant is ignorance. The spirit of service is present in everybody, but it varies from person to person depending on the state of his mind.
- Divine Discourse, 30 April 1997
The Sri Sathya Sai Organisations must take up seva as sadhana, must see Me as Sarvantaryami (inner motivator of all), and do seva as puja.
Pada suatu hari, seorang teman lama seorang raja datang berkunjung untuk menemuinya. Raja merasa senang melihat kembali teman lamanya dan berbincang-bincang dengannya penuh keakraban. Orang ini sudah tua dan membawa tongkat sebagai alat bantu jalan. Sang raja menanyakan temannya terkait bagaimana dia menjalani hidupnya. Temannya kemudian menjawab bahwa di usia lanjut seseorang membutuhkan beberapa penopang, dan tongkat adalah penopangnya. Orang tua itu kemudian menanyakan raja terkait apakah sang raja melayaninya rakyatnya dengan baik, raja menjawab dengan nada tegas bahwa ia adalah seorang raja dan tidak mungkin menjadi seorang pelayan. Orang tua itu ingin mengajarkan sang raja sebuah pelajaran yang praktis. Jadi, orang tua itu menjatuhkan tongkatnya untuk memberikan hormat pada sang raja. Karena ia tidak mampu membungkuk untuk mengambil kembali tongkatnya, sang raja segera membungkuk mengambil tongkat itu dan menyerahkan kembali pada temannya. Kemudian orang tua itu berkata, “anda mengatakan bahwa anda bukanlah seorang pelayan. Namun saat sekarang anda telah melayani saya. Jadi, anda adalah pelayan saya.” Pada suatu waktu semuanya harus melayani satu sama lain. Dengan mengatakan bahwa seseorang bukanlah pelayan merupakan tanda ketidaktahuan. Semangat melayani ada dalam diri setiap orang, namun tingkat dan wujudnya berbeda-beda sesuai dengan keadaan pikiran masing-masing.
- Divine Discourse, 30 April 1997
Organisasi Sri Sathya Sai hendaknya menjadikan seva sebagai sadhana, memandang Aku sebagai Sarvantaryami (penggerak batin semuanya), dan melakukan seva sebagai puja.
No comments:
Post a Comment