Oblivious to Jnana (higher knowledge), man lives in ignorance in a dream world of illusions. Immersed in this sleeping state, he forgets his nature. One may be a president, an emperor or a prime minister, but in the sleeping state, he is not conscious of his position. In the dreams he experiences in this state, he considers them to be real and feels that these are his true state. In that dream state, a poor man may think he is an emperor (or a President). But the moment he wakes up, he is conscious of his real position and status. Likewise, man in his dream state of ajnana (ignorance), forgetting his true form of Satchitananda, identifies himself with a country, a profession or a physical form. It is this ignorance that envelops man in delusion. Just as one cannot see the rice when it is covered by husk, or see the water underneath a layer of moss, or the sun covered by a cloud, a man enveloped in ignorance is unable to see his true self. Hence, it is that the Upanishads have exhorted man to wake up from his sleep of ignorance and realise his true nature. When the husk is removed, the rice is visible. It was there in the paddy. But because of the husk covering it, it could not be seen.
- Divine Discourse, Apr 04, 1992
The enquiry which begins with Koham (Who am I) should end with Soham (I am Divine). Only then human life has real significance and fulfilment.
Karena tidak menyadari Jnana (pengetahuan yang lebih tinggi), manusia hidup dalam ketidaktahuan dalam sebuah dunia mimpi khayalan. Tenggelam dalam keadaan tidur ini, manusia lupa pada hakikat dirinya yang sejati. Seseorang mungkin adalah seorang presiden, atau seorang kaisar atau seorang perdana mentri, namun dalam keadaan tidur, ia tidak sadar pada kedudukan dan jabatannnya. Dalam dunia mimpi yang dialaminya, manusia menganggap bahwa keadaan di dalam mimpi adalah nyata dan merasakan bahwa itu adalah dirinya yang sebenarnya. Dalam dunia mimpi, seorang yang miskin bisa berpikir bahwa ia adalah seorang kaisar atau seorang presiden. Namun pada saat ia terbangun, ia menyadari keadaan dan posisinya yang sebenarnya. Sama halnya, manusia dalam keadaan mimpi ajnana (ketidaktahuan), ia melupakan wujudnya yang sejati yaitu Satchitananda, mengidentifikan dirinya dengan sebuah bangsa, sebuah profesi atau sebuah bentuk fisik. Ketidaktahuan inilah yang menyelubungi manusia dalam khayalan. Seperti halnya seseorang tidak bisa melihat beras ketika ditutupi oleh sekam, atau melihat air karena tertutup oleh lumut, atau matahari yang tertutup oleh awan, manusia tertutupi oleh ketidaktahuan sehingga tidak mampu untuk melihat hakikat dirinya yang sejati. Oleh karena itu, dalam Upanishad telah menyerukan manusia agar terbangun dari tidurnya dan menyadari hakikat dirinya yang sejati. Ketika sekam disingkirkan maka beras akan dapat dilihat. Sesungguhnya bulir beras sudah itu ada dalam padi, namun karena sekam menutupinya maka beras itu tidak bisa terlihat.
- Divine Discourse, Apr 04, 1992
Penyelidikan yang dimulai dengan _Koham_ (siapakah aku) harus diakhiri dengan _Soham_ (aku adalah Tuhan). Hanya dengan demikian hidup manusia memiliki makna dan pemenuhan yang sejati.
No comments:
Post a Comment