Thursday, November 6, 2008

Thoughts for the Day - 7th November 2008 (Friday)


Nature is a preacher; life is a teacher. Knowledge is not to be derived from books alone. Nature is to be accepted as a better instructor. By its forbearance, unselfish bounty, patience and serenity, Nature is continually proclaiming its inherent and true role of the preacher of spiritual truths. Consider, for instance, a tree. It offers shade and distributes fruits to whoever approaches it. It bears no feelings of hatred or vengeance even towards those who cause injury to it. It seeks no reward from those who benefit from it. Everyone should learn this lesson in selfless service from the tree.

Alam sekitar dan kehidupan ini berperan sebagai guru bagi kita semuanya. Pengetahuan tidak hanya diperoleh dari buku semata-mata. Nature (alam) merupakan instruktur yang jauh lebih bagus. Melalui kesabarannya, sikapnya yang tidak congkak serta penuh dengan ketenangan - alam sekitar secara terus-menerus menjalankan tugas atau perannya sebagai pembabar kebenaran spiritual. Cobalah lihat sebatang pohon sebagai contohnya. Ia menyediakan tempat berteduh dan juga membagi-bagikan buah-buahannya bagi siapapun juga. Ia tak memiliki perasaan benci maupun dendam terhadap orang-orang yang berusaha melukainya. Sebaliknya, ia juga tidak mengharapkan imbalan dari mereka yang memetik manfaat darinya. Hendaknya setiap orang belajar prinsip selfless service (pelayanan tanpa pamrih) sebagaimana yang diperlihatkan oleh pohon tadi.
-BABA

Wednesday, November 5, 2008

Thoughts for the Day - 6th November 2008 (Thursday)


The taste of the vast ocean can be found, complete and undiminished, in every drop of its waters. Though we consider the drop and the ocean as separate entities, the nature and taste of both is identical. Similarly, the Sarvaantaryaami Paramaatama (Omnipresent Divinity) and the gross form and the name which He assumes and through whom He is worshipped and realised are not separate entities; they are identical.

Rasa dari lautan yang maha luas akan selalu sama di setiap tetesan airnya. Walaupun kita menganggapnya sebagai entitas yang berbeda, namun sifat dan rasanya adalah sama adanya. Demikian pula, Sarvaantaryaami Paramaatma (Divinity yang Omnipresent) tidaklah berbeda dengan wujud dan nama yang selama ini dimanfaatkan oleh para bhakta sebagai media pemujaan dan penghormatan terhadap-Nya; keduanya bukanlah entitas yang berbeda, melainkan saling identik.
-BABA

Tuesday, November 4, 2008

Thoughts for the Day - 5th November 2008 (Wednesday)


Youngsters take great pains to acquire degrees for securing good jobs. But they hardly take any trouble to develop their character and personality. Good conduct and character are the most essential requisites for a man. They are the basis for spiritual life. If the spiritual aspect is neglected, man becomes an artificial, mechanical being with no genuine human quality in him. Many people today do not understand what is meant by spirituality. It is the knowledge of Divinity, which is man's true nature. Spirituality reveals the basic principle that is immanent in everything and sustains the entire Cosmos.

Para kaum muda dewasa ini rela bersusah-payah untuk meraih gelar (kesarjanaan) demi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Akan tetapi, mereka tidak begitu peduli untuk berusaha dalam mengembangkan karakter serta kepribadiannya. Padahal, good conduct (perilaku yang baik) serta karakter merupakan persyaratan utama yang sangat penting bagi manusia. Kedua-duanya merupakan dasar kehidupan spiritual. Apabila aspek spiritual diabaikan, maka manusia akan menjelma menjadi robot (yang serba artifisial), yang notabene tidak memiliki kualitas kemanusiaan di dalam dirinya. Banyak orang yang belum memahami arti/maksud dari spiritualitas. Pengertian sebenarnya dari spirituality adalah pengetahuan tentang Divinity, yang tiada lain adalah sifat asli manusia. Melalui spiritualitas, engkau akan mengetahui prinsip dasar dari segala-galanya, yang juga merupakan prinsip penopang keseluruhan alam semesta ini.
-BABA

Monday, November 3, 2008

Thoughts for the Day - 4th November 2008 (Tuesday)


How is Prema (love) to be cultivated? It can be done through two methods: (1) Consider the faults of others, however big, to be insignificant and negligible. Consider your own faults, however insignificant, to be big, and feel repentant. (2) Whatever you do with yourself or with others, do it remembering that God is Omnipresent. He sees, hears and knows everything.

Bagaimanakah caranya mengembangkan Prema (cinta-kasih)? Ada dua metode untuk melakukannya, yaitu: (1) Menganggap kesalahan yang dilakukan oleh orang lain - entah seberapa besarnya kesalahan itu - sebagai kesalahan yang sangat kecil dan bahkan bisa diabaikan. Sebaliknya, anggaplah kesalahan yang telah engkau perbuat, entah seberapa kecilnya, sebagai kesalahan yang sangat besar dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi. (2) Apapun juga yang sedang engkau kerjakan - baik secara sendirian maupun bersama-sama - lakukanlah tugas/pekerjaanmu itu dengan senantiasa ingat terhadap Omnipresent-Nya Tuhan. Ingatlah bahwa Beliau melihat, mendengar dan mengetahui segala-galanya.
-BABA

Sunday, November 2, 2008

Thoughts for the Day - 3rd November 2008 (Monday)


When an individual seeks fulfillment outside himself, he fails; if he seeks it within himself, he is successful in obtaining it. The divine principle within us is always accessible and always responsive. Pain is felt only as long as attachment or aversion to outer forms remains. Ultimate relief from pain can come only by the effacement of the ego, by the elimination of that which reacts to one thing as pain and to another as pleasure, and whose memory and conditioning sustains the recognition of the dualities of joy and grief.


Ketika seseorang mencari kepuasan/kesenangan di luar dari dirinya, maka sudah pasti ia akan gagal; sebaliknya apabila ia mencari sumber kebahagiaan di dalam dirinya sendiri, maka niscaya ia akan berhasil memperolehnya. Prinsip Ilahi yang terdapat di dalam diri kita masing-masing senantiasa terbuka dan siap untuk memberikan tanggapan. Rasa sakit hanya terasa selama kita masih melekat terhadap obyek-obyek di luar. Anihilasi rasa sakit hanya bisa terwujud dengan cara penyingkiran ego atau dengan perkataan lain, yaitu dengan jalan mengeliminasi sesuatu yang bereaksi terhadap senang dan tidak senang serta suka dan tidak suka (aspek dualisme dari kehidupan ini).

-BABA

Saturday, November 1, 2008

Thoughts for the Day - 2nd November 2008 (Sunday)


Paramatma (God) alone is Real. Paramatma is Truth and Love. Meditate on Him as Truth and as Love. Be always in Satsang, the company of His devotees. Through this Satsang, Viveka (discrimination) and Vairagya (detachment) will be implanted and increased. These in turn will strengthen the spirit and endow you with inner peace. Your mind will then merge in Paramatma.


Satu-satunya yang real (sejati) adalah Paramatma (Tuhan). Beliau adalah Kebenaran dan Cinta-Kasih. Bermeditasilah terhadap-Nya dalam wujud Kebenaran dan Cinta-Kasih. Senantiasalah berada di tengah-tengah Satsang, pergaulan para bhakta-bhakta-Nya. Melalui Satsang ini, maka Viveka (kemampuan diskriminatif) dan Vairagya (ketidak-melekatan) akan tertanam dan berkembang. Pada gilirannya, ia akan memperkuat semangatmu serta membekalimu ketenangan batin. Batinmu kelak akan bersatu di dalam Paramatma.

-BABA


Thoughts for the Day - 1st November 2008 (Saturday)


Human beings with different names and forms are just like waves on the ocean of Sath-Chith-Ananda; they are also the same Sath-Chith-Ananda. The essence is the same in all names and forms. The realization of this truth is spirituality. This is the message of the Upanishads. It does not matter if you cannot understand every word of the Upanishads. It is enough if you realize the truth that you are embodiments of the Divine.


Manusia dengan beragam nama dan rupa adalah bagaikan riak-riak gelombang di samudera Sath-Chith-Ananda; setiap orang adalah Sath-Chith-Ananda yang sama. Esensi yang sama terdapat di dalam semua nama dan rupa. Pencapaian kesadaran atas kebenaran inilah yang dinamakan sebagai spiritualitas. Inilah pesan yang terkandung di dalam kitab Upanishad. Tidaklah menjadi persoalan apabila engkau tidak memahami setiap kata-kata yang terdapat di dalam kitab itu. Yang jauh lebih penting adalah engkau menyadari kebenaran bahwa dirimu adalah perwujudan Divine (Ilahi).

-BABA