Wednesday, June 3, 2026

Thought for the Day - 3rd June 2026 (Wednesday)



In this worldly life, love manifests in several forms, such as the love between mother and son, husband and wife, and between relatives. This love based on physical relationships arises out of selfish motives and self-interest. But the love for the Divine is devoid of any trace of self-interest. This is called bhakti. One characteristic of this love is to give and not to receive. Secondly, love knows no fear. Thirdly, it is only for love’s sake and not for a selfish motive. All these three angles of love jointly connote prapatti (Surrender). When one revels in this attitude of prapatti, one experiences the bliss of the Divine. For this, the prime requisite is kshama (forbearance). Only a person who has this attitude of kshama can be considered to be endowed with sacred love. This cannot be learned from textbooks. Nor can it be acquired from preceptors nor from anyone else. It is to be cultivated by oneself in times of difficulties, trials and tribulations that one is forced to meet. When you are confronted with problems and difficulties, you should not get upset and become victims of depression, which is a sign of weakness. In such a situation, you should bring tolerance and an attitude of forgiveness into play and should not get agitated, giving rise to anger, hatred and a revengeful attitude. You are embodiments of strength and not weakness.


-- Divine Discourse, Jan 01, 1994

The quality of kshama (forbearance) is the greatest power in a human being. If one loses this quality, he becomes demonic


Dalam kehidupan duniawi ini, kasih mewujud dalam berbagai bentuk, seperti kasih antara ibu dan anak, suami dan istri, maupun di antara kerabat. Namun kasih yang didasarkan pada hubungan fisik muncul dari motif pribadi dan kepentingan diri. Sebaliknya, kasih kepada Tuhan sama sekali tidak mengandung kepentingan diri. Kasih seperti inilah yang disebut bhakti. Karakteristik pertama dari kasih sejati adalah memberi dan bukan untuk menerima. Karakteristik kedua dari kasih sejati adalah tidak mengenal rasa takut. Karakteristik ketiga dari kasih sejati adalah mengasihi demi kasih itu sendiri dan bukan karena niat mementingkan diri sendiri. Ketiga aspek ini bersama-sama membentuk apa yang disebut prapatti atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika seseorang hidup dalam semangat prapatti, ia akan mengalami kebahagiaan Ilahi. Namun untuk mencapai pengalaman ini, ada satu prasyarat, yaitu kshama (ketabahan). Hanya orang yang memiliki sikap kshama dapat diberkati dengan kasih yang suci. Kualitas ini tidak dapat dipelajari hanya dari buku, tidak dapat diperoleh dari guru, dan tidak dapat diberikan oleh orang lain. Kshama harus dikembangkan sendiri melalui pengalaman hidup, terutama saat menghadapi kesulitan, cobaan, penderitaan, dan kekecewaan. Ketika engkau menghadapi masalah dan kesulitan, jangan menjadi sedih dan menjadi korban dari depresi, karena itu adalah tanda dari kelemahan. Sebaliknya, dalam situasi seperti itu munculkan toleransi, dan sikap memaafkan. Jangan biarkan kesulitan berubah menjadi kemarahan, kebencian, atau keinginan untuk membalas. Engkau adalah perwujudan kekuatan, dan bukan kelemahan.


-- Wejangan Sai, 01 Januari 1994

Kualitas dari kshama (ketabahan) adalah kekuatan terbesar yang dimiliki manusia. Ketika seseorang kehilangan kualitas ini, ia menjadi jahat dan kejam.

No comments: