According to Indian culture, there are four Purusharthas (objectives) of man’s life, namely, Dharma, Artha, Kama and Moksha (righteousness, wealth, desire, and liberation). Not only in India, but these goals of life are prevalent in other countries also. Some say that Purusharthas are meant only for men and not women. Purusha does not mean man. It refers to the Atma and consciousness. Consciousness does not distinguish between men and women. The real Purusha is the Atma which is the same in all. It is generally thought that Dharma refers to charity. But this is not correct. Those deeds that help man to attain Divinity come under Dharma. The actions that induce bliss in the heart, manifest non-duality and advocate oneness constitute Dharma. The innermost feelings that reflect Divinity come under Dharma. Everyone must practice this Dharma. In fact, human life is destined for this very purpose. Man should realise the truth that he is born to manifest Divinity. Dharma does not refer to the stages of life like grihastha (householder stage) or sanyasa (renunciant stage). These are related to the world and not to the Atma. Man forgets his inherent humanness and gets caught up in worldly and mundane problems in his day-to-day life. As a result, his life remains disoriented to the Supreme Principle.
-- Divine Discourse, May 01, 1997
Life is best spent and human effort best directed when awareness of the Atma principle is sought to be attained.
Menurut budaya Bharat, terdapat empat Purushartha (tujuan utama kehidupan manusia), yaitu Dharma, Artha, Kama, dan Moksha (kebajikan, kekayaan, keinginan, dan pembebasan). Tujuan-tujuan kehidupan ini bukan hanya dikenal di India, tetapi prinsip serupa juga dapat ditemukan dalam berbagai peradaban di dunia. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa Purushartha hanya diperuntukkan bagi laki-laki dan bukan perempuan. Kata Purusha tidak berarti laki-laki, melainkan menunjuk pada Atma dan kesadaran murni. Kesadaran tersebut tidak membedakan laki-laki dan perempuan. Purusha yang sejati adalah Atma yang sama dan hadir di dalam semua makhluk. Banyak orang menganggap bahwa Dharma hanya berarti kegiatan amal atau memberi sedekah. Pandangan ini belum sepenuhnya tepat. Segala perbuatan yang membantu manusia menyadari dan mewujudkan sifat Ketuhanannya termasuk dalam Dharma. Tindakan yang menghadirkan kebahagiaan batin, menumbuhkan tanpa dualitas dan memupuk kesadaran akan kesatuan merupakan wujud Dharma. Perasaan terdalam yang memancarkan sifat-sifat Ilahi juga termasuk Dharma. Setiap manusia harus menjalankan Dharma ini, karena sesungguhnya tujuan kelahiran manusia adalah untuk mengungkapkan dan mewujudkan Keilahian yang ada dalam dirinya. Dharma tidak terbatas pada tahapan kehidupan seperti grihastha (tahap kehidupan berumah tangga) atau sanyasa (tahap pelepasan keduniawian). Tahapan tersebut berkaitan dengan peran seseorang di dunia, bukan dengan hakikat Atma. Manusia melupakan kemanusiaan dan sifat Ilahi yang melekat pada dirinya karena terlalu tenggelam dalam masalah-masalah duniawi dan persoalan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, kehidupan menjadi kehilangan arah dan jauh dari tujuan dan prinsip tertinggi.
-- Wejangan Sai, 01 Mei 1997
Hidup digunakan dengan sebaik-baiknya dan usaha manusia terarah dengan sebaik-baiknya ketika kesadaran pada prinsip Atma diupayakan tercapai.
No comments:
Post a Comment