Suppose an elderly person travels in a train with his children; he has the tickets for all of them. And he tells them not to get down anywhere in the middle of the journey, but wait for him to get down. The children get attracted by the several eatables that are sold on the platform in some stations en route, and have a strong desire to get down and buy them. But they restrain themselves from getting down, as they may be in trouble if the train starts and they are left behind. Since the father didn't get off for long, they became impatient and tried to get off at some stations. The eldest of the children tells them, "As per father's command, we cannot get down as we like." God is the father of all. All are His children proceeding on the journey of life. God has told us, "Follow My command, do not get down anywhere you like." The pity is, no one follows His commands in the world. They behave according to their whims and fancies. Those who travel by train would have seen goods wagons bearing a painted mark like "Return 5-98." This indicates that the wagon should be returned to the workshop on the due date for attention. It is only the station master who knows this and takes action. In the case of humanity, God is the Master who knows when each one has to return. Only the Master has to worry about it. God is the supreme authority, and everything happens according to His will.
-- Divine Discourse, Apr 28, 1998
The fundamental factor in spiritual life is the suppression of desire, the surrender of the individual will to the Divine Will, which will elevate thoughts, words and deeds into acts of worship.
Bayangkan seorang ayah yang sudah lanjut usia sedang bepergian dengan kereta api bersama anak-anaknya; ia memegang tiket untuk seluruh keluarganya dan berpesan kepada mereka, “Jangan turun di tengah perjalanan. Tunggulah sampai Ayah turun.” Di beberapa stasiun, anak-anak itu melihat berbagai makanan dan jajanan yang menarik dijual di peron. Mereka sangat ingin turun untuk membeli. Namun mereka menahan diri karena khawatir kereta akan berangkat kembali dan mereka tertinggal. Karena sang ayah belum juga turun, mereka mulai gelisah dan mencoba turun di beberapa stasiun. Namun anak yang paling tua mengingatkan mereka, “sesuai dengan perintah Ayah, kita tidak boleh turun sesuka hati.” Demikian pula, Tuhan adalah Ayah bagi seluruh umat manusia. Semua adalah anak-anak-Nya yang sedang menempuh perjalanan kehidupan. Tuhan telah memberikan petunjuk: “Ikutilah perintah-Ku, jangan berhenti sesuka hatimu.” Sayangnya, tidak ada satupun yang mengikuti petunjuk Tuhan di dunia. Mereka lebih memilih mengikuti keinginan, hawa nafsu, dan kesenangan sesaat. Orang yang sering bepergian dengan kereta pernah melihat gerbong barang yang bertuliskan tanda seperti “Return 5-98”. Tanda itu menunjukkan bahwa gerbong tersebut harus dikembalikan ke bengkel pada waktu yang telah ditentukan untuk diperiksa dan dirawat. Hanya kepala stasiun yang mengetahui jadwal tersebut dan mengambil tindakan yang diperlukan. Demikian juga dalam kehidupan manusia. Tuhanlah Sang Penguasa yang mengetahui kapan setiap orang harus kembali kepada-Nya. Hanya Tuhan yang mengetahui waktunya. Oleh karena itu, segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak-Nya.
-- Wejangan Sai, 28 April 1998
Faktor mendasar dalam kehidupan spiritual adalah mengendalikan keinginan dan menyerahkan kehendak pribadi kepada Kehendak Ilahi. Dengan demikian, pikiran, perkataan, dan perbuatan akan terangkat menjadi bentuk pemujaan kepada Tuhan.
No comments:
Post a Comment