Even when Dharmaja’s wife was humiliated in the open court, he fixed his unwavering mind on Krishna. Even when Ashvatthama slaughtered the innocent Upapandavas, he continued thinking of God with a steady, pure, and unagitated mind. Bhima was bound hand and foot, and thrown into a river with venomous snakes. In such situations too, Dharmaja maintained his equipoise. This was because he was able to transcend both joys and sorrows and attain the non-dual principle of Godhead. It is only by the perception of the fundamental Truth that one develops a steady mind. The intellect transcends the mind, and the purity of the intellect is therefore reflected in the mind. It does not suffice if we confine ourselves merely to meditation or chanting in the name of sadhana. The cultivation of purity of the heart is the true sadhana we must undertake. In fact, purity of the heart is itself the attainment of wisdom, and it is in this state of wisdom that the mind remains unwavering. Dharmaja had attained this state. There are innumerable such devotees in this world. But there are others too whose equipoise is disturbed by the joys and sorrows of the world. To overcome this fickle nature of the mind, one has to realise one’s divine nature that fosters equanimity.
-- Divine Discourse, Oct 5, 2000
God will not be reflected in a mind full of likes, dislikes and desires, or a mind that is disturbed with impure thoughts.
Bahkan ketika istri Dharmaja dihina di hadapan seluruh sidang kerajaan, ia tetap memusatkan pikirannya dengan teguh kepada Krishna. Bahkan ketika Ashvatthama membunuh Upapandava yang tidak bersalah, Dharmaja tetap menjaga pikirannya tetap suci, tenang, dan tidak terguncang sambil terus mengingat Tuhan. Bahkan ketika Bhima diikat tangan dan kakinya lalu dilemparkan ke sungai yang dipenuhi ular berbisa, Dharmaja tetap mempertahankan keseimbangan batinnya. Hal ini terjadi karena Dharmaja telah melampaui suka dan duka serta mencapai kesadaran akan prinsip Ketuhanan yang tanpa dualitas. Hanya dengan menyadari Kebenaran yang mendasar maka seseorang dapat mengembangkan pikiran yang teguh dan tidak mudah tergoyahkan. Kecerdasan (buddhi) berada lebih tinggi daripada pikiran (manas), dan kemurnian dari kecerdasan akan tercermin dalam pikiran. Tidaklah cukup jika kita hanya membatasi diri pada meditasi, pengulangan Nama Tuhan (japa), atau pelayanan (seva) sebagai praktik sadhana. Sadhana yang sejati yang harus kita jalankan adalah usaha dalam menyucikan hati. Sesungguhnya, kemurnian hati itu sendiri merupakan kebijaksanaan sejati (jnana). Dalam keadaan kebijaksanaan seperti inilah pikiran menjadi mantap dan tidak mudah terguncang. Dharmaja telah mencapai keadaan tersebut. Ada banyak bhakta agung di dunia yang memiliki keteguhan batin seperti itu. Namun, ada juga orang yang ketenangannya mudah hilang karena kegembiraan maupun penderitaan duniawi. Untuk dapat mengatasi sifat pikiran yang berubah-ubah ini, seseorang harus menyadari hakikat Ilahinya sendiri, yang melahirkan ketenangan batin.
-- Wejangan Sai, 5 Oktober 2000
Tuhan tidak akan terpantul dalam pikiran yang dipenuhi oleh suka dan tidak suka, atau pikiran yang yang tercemar oleh ketidakmurnian.
No comments:
Post a Comment