Thursday, May 21, 2009

Thought for the Day - 21st May 2009 (Thursday)


Through right action, one achieves purity of heart, which leads to the acquisition of Jnana (wisdom). It is only when attachment to the fruits of one's actions is discarded that the action becomes Yoga (Divine communion). One should overcome the sense of 'mine' and 'thine'. When one embarks on service activities, one should regard it as a privilege to serve others and look upon it as a form of worship of the Divine. One should consider service to society as the means of finding self-fulfilment in life. One should face whatever problems may arise, with faith and courage, and carry on one's service activities without fanfare, in a spirit of humility and dedication.

Melalui tindakan yang benar, seseorang mencapai kemurnian hati, yang mengarah ke akuisisi jnana (kebijaksanaan). Hanya ketika keterikatan terhadap buah dari tindakan seseorang tersebut dihilangkan maka tindakan menjadi Yoga (komuni Ketuhanan). Seseorang seharusnya mengatasi rasa ‘milikku’ dan ‘kepunyaanmu’. Ketika seseorang memulai aktivitas pelayanan, seseorang seharusnya menganggap hal itu sebagai suatu kehormatan untuk melayani orang lain dan melihat hal itu sebagai suatu bentuk pemujaan terhadap Tuhan. Seseorang seharusnya menganggap pelayanan kepada masyarakat sebagai sarana untuk mencari pemenuhan diri dalam kehidupan. Seseorang seharusnya menghadapi apapun permasalahan yang mungkin muncul, dengan keyakinan dan keteguhan hati, dan melakukan salah satu kegiatan pelayanan tanpa gembar-gembor, dalam semangat kerendahan hati dan pengabdian.

 

BABA

Thought for the Day - 20th May 2009


Thyaga (the spirit of sacrifice) is essential for rendering dedicated service. Getting rid of bad qualities is true sacrifice; it is also Yoga (spiritual communion). Realize that whoever you may be serving, you are indeed serving the Divine in various human forms. Those who serve have to cherish this sublime and sacred feeling. They must strive to see God in everyone.

Thyaga (semangat pengorbanan) adalah hal-hal yang mendasar untuk memberikan pelayanan.  Menghilangkan sifat-sifat yang tidak baik adalah pengorbanan yang sebenarnya; ini juga Yoga. Sadarilah bahwa siapapun dapat engkau layani, engkau akan benar-benar melayani Tuhan dalam wujud manusia.  Mereka yang melayani harus memiliki kasih yang mulia dan perasaan yang suci. Mereka harus berusaha keras untuk melihat Tuhan dalam setiap orang.

 

-BABA

Tuesday, May 19, 2009

Thought for the Day - 19th May 2009 (Tuesday)


Pure and selfless love towards all living beings, considering everyone as embodiments of the Divine, with no expectation of reward, is true Love. With this attitude, when one regards divinity as present in all beings, he experiences true love. Whatever be the vicissitudes one may face, whatever be the personal sorrows and privations one may undergo, true love will remain unaffected. Today, the moment a difficulty arises, love turns into hatred. True love is the sweet fruit that grows out of the fragrant flower of good deeds. Love rules without recourse to the sword. It binds without laws. Only one who has such true love can be described as human, for, divine love is the basic quality of a true human being.

Kemurnian dan kasih tanpa mementingkan diri sendiri kepada semua makhluk hidup, menganggap semua orang sebagai perwujudan Tuhan, tanpa mengharapkan balasan, adalah kasih sejati. Dengan sikap ini, ketika seseorang memandang ketuhanan hadir pada semua makhluk, ia mengalami kasih sejati. Apapun perubahan yang mungkin dihadapi seseorang, apapun penderitaan-penderitaan dan kekurangan-kekurangan yang mungkin dialami oleh seseorang, kasih sejati tetap tidak terpengaruh. Dewasa ini, ketika kita mengalami kesulitan, kasih berubah menjadi kebencian. Kasih sejati adalah buah yang manis yang tumbuh karena bunga yang semerbak dari perbuatan baik. Kasih dapat mengendalikan tanpa bantuan pedang. Ia mengikat tanpa undang-undang, hanya seseorang yang mempunyai kasih sejati dapat digambarkan sebagai manusia, karena kasih Tuhan adalah kualitas dasar dari manusia sejati.

-BABA

Monday, May 18, 2009

Thought for the Day - 18th May 2009 (Monday)


Little children are trained to walk, by means of a walker, which they hold and push along. The Pranava (the sound of "Om") is such a contraption, with the three wheels of 'A', 'U' and 'M'. Holding it, man can learn to use the two feet of Bhakti (Devotion) and Vairagya (Detachment). If he gives up his hold on the Omkara, he plumps down on the ground helplessly. If he walks on with the help of the Pranava Japa (repetition of "Om"), he can certainly realize the glory of the Brahman (God), which is the very substance of the Universe.

Sedikit anak yang dilatih berjalan dengan menggunakan alat bantu berjalan, yang mereka pegang dan dorong bersama. Pranava (suara “Om”) adalah suatu alat, dengan tiga roda dari ‘A’, ‘U’ dan ‘M’. Memegangnya, manusia dapat belajar untuk menggunakan dua kaki dari Bhakti (Pengabdian) dan Vairagya (melepaskan keterikatan). Jika manusia melepaskan pegangannya pada Omkara, ia akan terjatuh dan menderita. Jika ia berjalan dengan bantuan dari Pranava Japa (pengulangan dari “Om”), ia pasti dapat mewujudkan kemuliaan dari Brahman (Tuhan), yang merupakan substansi dari alam semesta.

-BABA

Sunday, May 17, 2009

Thought for the Day - 17th May 2009 (Sunday)


The root cause of all difficulties experienced by man is forgetfulness of his spiritual reality and identification with his body. The body is only the vesture of the Indwelling Spirit. By immersing himself in body-consciousness, man develops egoism and possessiveness, which in turn give rise to many other vices. He forgets his inherent divinity and fails to use the senses and organs he is endowed with in the right way. Your senses are God-given gifts. They should be used only for sacred purposes and should not be misused. Entertain only sacred thoughts and engage yourselves only in sacred deeds. Thereby, you will be sanctifying your lives. There is only one royal road to realizing God. It is the path of Divine love. You have come from the Divine and your destiny is to merge in the Divine.

Penyebab utama dari berbagai kesulitan yang dialami oleh manusia adalah melupakan  kenyataan spiritual dan mengidentifikasi dirinya dengan badan jasmaninya. Tubuh adalah tempat tinggalnya Atma.  Dengan membenamkan dirinya dalam tubuh kesadaran, manusia mengembangkan keakuan dan keinginan yang amat besar untuk memiliki sesuatu, yang pada gilirannya menimbulkan sifat-sifat buruk. Manusia melupakan akan ketuhanan yang menjadi sifatnya dan menggunakan indera dan tubuhnya yang telah diberkati dengan cara yang benar. Indera-mu adalah hadiah pemberian dari Tuhan. Hal tersebut harus digunakan untuk tujuan-tujuan suci dan tidak boleh disalahgunakan.  Milikilah pikiran yang suci dan libatkan diri kalian hanya di dalam perbuatan-perbuatan yang suci. Dengan demikian, engkau akan menyucikan hidupmu.  Hanya ada satu jalan menuju Tuhan. Ini adalah jalan kasih Tuhan. Engkau datang dari Tuhan dan tujuannya adalah untuk menyatu dengan Tuhan.

 

-BABA

Saturday, May 16, 2009

Thought for the Day - 16th May 2009 (Saturday)


Oil is present within the sesame seed. Ghee is present in every drop of milk. Fragrance is latent in every flower. A fruit is imbued with sweet juice. In every piece of wood, fire is latent. In the same manner, the Divine is immanent in the entire cosmos in a subtle form as Chaitanya (Consciousness) . The cosmos is the visible manifestation of the invisible Supreme Self. The Divine shines effulgently in every man as Sath-Chith-Ananda (Being-Awareness- Bliss). While the Divine is in such close proximity to him, man in his ignorance goes about seeking God outside himself.

Minyak terdapat dalam biji wijen. Ghee terdapat dalam setiap tetesan susu. Keharuman tersembunyi dalam setiap bunga. Buah dikaruniai dengan sari buah yang manis. Api terpendam dalam setiap bagian dari kayu. Dengan cara yang sama, Ketuhanan tetap ada dalam seluruh alam semesta sebagai wujud yang sulit dipisahkan sebagai Chaitanya (Kesadaran). Alam semesta ini merupakan manifestasi yang terlihat dari Atma yang tidak terlihat. Ketuhanan bersinar dengan cemerlang dalam setiap manusia sebagai Sath-Chith-Ananda (memperoleh kebahagiaan sejati). Walaupun Ketuhanan sedemikian dekatnya dengan manusia, manusia dengan ketidaktahuannya mencari Tuhan di luar dirinya.

-BABA

Friday, May 15, 2009

Thought for the Day - 15th May 2009


One may have listened to a number of spiritual discourses, but one should not be content with mere listening only to forget them later. One must enquire as to how much one has been transformed by attending these discourses. One must try to put into practice at least one or two of the teachings, get rid of worldly attachments gradually and progress on the path towards the Divine. In due course, divinity will surely blossom in the heart. If, on the contrary, one goes on multiplying one's worldly concerns and desires, one will go down to the animal level. One must be content with what one has and put it to good use with faith in the Lord. 

Seseorang mungkin telah mendengarkan sejumlah wacana-wacana spiritual, tetapi seseorang seharusnya tidak semata-mata puas dengan hanya mendengarkan wacana-wacana spiritual untuk kemudian melupakan hal tersebut. Seseorang harus menanyakan pada dirinya tentang berapa banyak yang telah diubah dengan menghadiri ceramah-ceramah tersebut. Seseorang harus mencoba mempraktekkan setidaknya satu atau dua dari ajaran-ajaran tersebut, membebaskan keterikatan duniawi secara berangsur-angsur dan bertahap menuju kearah Ketuhanan. Tepat pada waktunya, Ketuhanan akan mekar di dalam hati. Jika, sebaliknya, seseorang terus mengarahkan perhatian-perhatian dan keinginan-keinginan duniawinya, seseorang akan turun ke tingkat binatang. Seseorang harus puas dengan apa yang dimilikinya dan menanamkan dengan baik keyakinan pada Tuhan.

-BABA