Thursday, May 28, 2009

Thought for the Day - 28th May 2009 (Thursday)


Service should not be done in a spirit of condescension or to achieve some selfish objective. Not recognising the sacredness and purifying power of service, people hesitate to embark on social service. It should not be imagined that one is promoting the well-being of the nation by one's service activities. One should realise that ultimately one is only bettering oneself by rendering service. Service should proceed from an awareness of what one owes to society. Gratitude demands that one should serve society which is the source of all benefits enjoyed by man. Men without gratitude are worse than wild animals. What is required for service is not money and materials; a loving heart is the first requisite. All service done without a heart filled with love is useless.

Pelayanan seharusnya tidak dilakukan dengan maksud untuk pamer atau untuk memperoleh tujuan-tujuan yang mementingkan diri sendiri. Tanpa menyadari kesucian dan kekuatan pemurnian dari  pelayanan, manusia tergesa-gesa mengambil bagian dalam pelayanan sosial. Pelayanan ini seharusnya tidak diartikan bahwa ia sedang  meningkatkan kesejahteraan bangsa. Manusia seharusnya menyadari bahwa sesungguhnya yang ia lakukan hanyalah menyucikan diri sendiri melalui pelayanan. Pelayanan seharusnya ditingkatkan menjadi kesadaran bahwa mereka berhutang kepada masyarakat. Rasa syukur mewajibkan seseorang untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan sumber dari semua manfaat yang dinikmati oleh manusia. Manusia yang tidak memiliki rasa syukur lebih buruk dibandingkan dengan binatang. Yang diperlukan untuk melakukan pelayanan bukanlah uang dan materi; hati yang penuh kasih adalah syarat utama. Seluruh pelayanan yang dilakukan tanpa hati yang penuh kasih adalah sia-sia.

 

-BABA

Wednesday, May 27, 2009

Thought for the Day - 27th May 2009 (Wednesday)


The most important cause for bondage to the world is giving too much freedom to the mind. For example, when an animal is tethered to a post, it will not be able to roam over various fields, destroy the crops and cause loss and harm to others, and thereafter get beaten for the mischief done by it. Hence, the mind must be bound by certain regulations and limits. As long as man lives a disciplined life, bound by certain rules and regulations, he will be able to earn a good reputation and lead a happy and fruitful life. Once he crosses these limits, he will go astray.

Yang menyebabkan keterikatan pada dunia adalah memberikan terlalu banyak kebebasan pada pikiran. Sebagai contoh, ketika seekor binatang ditambatkan pada sebuah tiang, maka binatang itu tidak akan mampu menjelajah lebih dari bidang tersebut, merusak tanaman dan menyebabkan kerugian dan menyakiti orang lain, dan sesudah itu mendapatkan pukulan  karena kerusakan yang telah dilakukannya.  Karenanya, pikiran harus terikat oleh peraturan dan batas-batas tertentu. Sepanjang kehidupannya, manusia menerapkan hidup yang disiplin, terikat oleh aturan-aturan dan peraturan-peraturan tertentu, maka ia akan memperoleh nama baik dan menjalankan hidupnya dengan bahagia  dan bermanfaat. Ketika ia melintasi batas ini, ia akan tersesat.

 

-BABA

Tuesday, May 26, 2009

Thought for the Day - 26th May 2009 (Tuesday)


From ancient times, various terms have been used to describe the Divine, but no one has been able to demonstrate the true nature of the Divine. The Divine is present in all things, and all forms are His. How can such an omnipresent Divine be described or demonstrated? Can anyone declare that something is Brahman (God) and something else is not Brahman? What is the form of the Divine? If you wish to see the Divine, the form you envisage will be only a caricature. Consider your own form as the manifestation of the Divine. Esteem yourself as divine. Respect others. Love yourself and love others. This is true worship. 

Dari zaman dahulu, berbagai terminologi telah digunakan untuk menggambarkan Ketuhanan, tetapi tidak ada seorangpun yang telah mampu menunjukkan sifat sejati Tuhan. Ketuhanan hadir dalam segala hal, dan semua wujud adalah Beliau. Bagaimana mungkin kita dapat menggambarkan atau menunjukkannya? Dapatkah seseorang menyatakan bahwa sesuatu adalah Brahman (Tuhan) dan yang lainnya bukan? Bagaimana wujud dari Tuhan? Jika engkau menghendaki melihat Tuhan, wujud yang engkau bayangkan hanya penggambaran yang kurang jelas. Anggaplah wujudmu sendiri sebagai penjelmaan Tuhan. Muliakan dirimu sebagai Tuhan. Hormati orang lain, cintai dirimu dan cintai orang lain. Hal ini adalah pemujaan yang benar.
-BABA


Monday, May 25, 2009

Thought for the Day - 25th May 2009 (Monday)


Caught in the coils of the creation, man is blind to the fact that he is part of the Divine Creator. Identifying himself with the physical sheath in which he is encased, he is blind to the unity of all beings in the One Universal Absolute. Man has written and studied countless texts on spiritual discipline and discovery, and confounded the confusion indulging in dialectical rivalries and argumentation. But, he who has put at least a page or two of these tomes into practise, is rendered silent and innocent of any desire for fame or victory. He is happy in the depths of his being. He ploughs the field of his heart, sows the seeds of love and reaps the harvest of fortitude and equanimity.

 

Terkait dengan ciptaan yang begitu rumit, manusia tidak bisa melihat kenyataan bahwasanya ia sendiri adalah bagian dari Sang Pencipta itu. Menyelediki dirinya dengan hanya pakaian fisik yang membungkusnya, tentu manusia tidak bisa melihat kesatuan semua makhluk dalam suatu kebenaran yang sesungguhnya. Manusia telah menulis dan belajar naskah-naskah yang tak terbilang jumlahnya dalam kaitannya dengan disiplin dan penemuan spiritual, lalu ia tersesat dalam kebingungan dalam persaingan dan argumentasi. Akan tetapi, ia yang telah mempraktekkan setidaknya satu atau dua halaman dari buku–buku yang ia baca tersebut, dengan menyerahkannya dalam diam dan tanpa berpikir panjang atas keinginan untuk kemasyuran atau ketenaran, maka ia akan mengalami kebahagiaan. Ia yang membajak ladang hatinya, menabur benih kasih dan memetik hasil panen dari ketabahan dan ketenangan hati.

 

-BABA

Sunday, May 24, 2009

Thought for the Day - 24th May 2009 (Sunday)


The cosmos is the creation of the Divine. It is surcharged with energy. This energy is not localised at a particular point in space or time. Though this energy is all-pervading, man is unable to recognise its divine nature. As he cannot recognise it, he presumes that it does not exist. Electrical energy flows continuously in the wires. But, its presence is recognized only when a bulb is fitted and switched on. Likewise, though God is omnipresent. His divine effulgence will shine only in those who adore Him with a pure heart.

Alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, yang dipenuhi dengan energi. Energi ini tidak berada pada titik tertentu dalam ruang atau waktu. Walaupun energi ini meliputi segalanya, manusia tidak mampu mengenali sifat illahi ini. Karena manusia tidak dapat mengenalinya, manusia mengira bahwa hal tersebut tidak ada. Energi listrik mengalir terus-menerus dalam kabel listrik. Tetapi, keberadaannya baru dapat diakui ketika sebuah bola lampu dicoba dan dinyalakan. Demikian pula, walaupun Tuhan ada dimana-mana, cahaya ketuhanan-Nya akan bersinar hanya kepada mereka yang memuja-Nya dengan hati yang murni.

-BABA

Thought for the Day - 23rd May 2009 (Saturday)


You must realize that your service activities are done for the sake of your own spiritual purification and uplift. All actions should be done with a view to purify the mind and remove all the dross from it. It is wrong to think that through actions alone you can attain liberation or redeem your lives. Actions have to be done solely for the purification of the Chitta (consciousness). Without purity of consciousness, life cannot be spiritualized. Human birth is the result of Karma (action). Right action leads to Dharma (Righteousness). Through Dharma, the Divine has to be realized.

Engkau harus menyadari bahwa kegiatan pelayanan dilaksanakan dengan tujuan pemurnian dan peningkatan spiritualmu sendiri. Semua perbuatan seharusnya dilaksanakan dengan suatu pandangan untuk memurnikan pikiran dan menghilangkan hal-hal yang tidak berguna lagi. Adalah salah untuk berpikir bahwa melalui perbuatanmu sendiri engkau dapat mencapai pembebasan atau menyelamatkan hidupmu. Perbuatan harus dilaksanakan hanya untuk pemurnian Chitta (kesadaran). Tanpa kemurnian kesadaran, spiritualitas tidak akan bisa diwujudkan. Kelahiran manusia adalah hasil dari Karma (perbuatan). Kebajikan membawa kita menuju Dharma. Melalui Dharma, Ketuhanan dapat disadari.

-BABA

Friday, May 22, 2009

Thought for the Day - 22nd May 2009 (Friday)


Men should lead selfless lives. This may seem difficult. But, in reality, there is nothing easier than this. It is selfishness that creates all kinds of difficulties for man. Selfless love gives no room for any evil. Selfless love may meet with opposition from one's kith and kin and from worldly persons. But one should not be deterred by such opposition. Love should be cherished as one's life breath. Make love the basis for all your actions. The love of God should be free from any desire for favours.

Manusia seharusnya menjalankan kehidupan tanpa mementingkan diri sendiri. Ini mungkin kelihatannya sulit. Tetapi, pada kenyataannya, tidak ada apapun lebih mudah dari hal ini.  Hal tersebut adalah egoisme (keakuan) yang membuat segala macam  kesulitan pada manusia. Kasih tanpa mementingkan diri sendiri tidak memberikan ruang bagi kejahatan. Kasih tanpa mementingkan diri sendiri mungkin mengalami tantangan dari kenalan dan sanak famili dan orang-orang lainnya. Tetapi seseorang seharusnya tidak dihalangi dengan berbagai tantangan. Kasih seharusnya disimpan dalam hati sebagai suatu nafas kehidupan. Buatlah kasih sebagai dasar dari seluruh tindakanmu. Kasih Tuhan seharusnya bebas dari keinginan-keinginan untuk mendapatkan imbalan.

 

-BABA