Thursday, June 4, 2009

Thought for the Day - 4th June 2009 (Thursday)


When you perform any action, you seldom think about the long-term consequences. You are preoccupied with the concerns of the moment. But when you are finally confronted with the results, you become frightened. Whether the results are pleasant or unpleasant, they are inescapable. If sugar is dissolved in water, even if you think it is poison, it will only do you good. But if poison is added to water and you drink it, thinking that it is sugarcane juice, it will be fatal. The results are based on your actions and not on your fancies.

Ketika engkau melaksanakan setiap tindakan, engkau jarang berpikir tentang konsekuensi-konsekuensi jangka panjang dari tindakan tersebut. Engkau asyik dengan perhatian yang sesaat. Tetapi ketika akhirnya engkau berhadapan dengan akibatnya, engkau menjadi takut. Apakah akibatnya tersebut menyenangkan atau tidak menyenangkan, hal itu tidak dapat dielakkan. Jika gula dilarutkan dalam air, sekalipun jika engkau berpikir air gula tersebut racun, maka itu akan tetap menjadi baik untukmu. Tetapi jika racun ditambahkan dalam air dan engkau meminumnya, berpikir bahwa hal tersebut adalah air gula, maka akibatnya akan fatal. Hasil didasarkan pada tindakan-tindakanmu dan bukan pada khayalanmu.

 

-BABA

Thought for the Day - 3rd June 2009


Why does man wail when he arrives into the world, whimper throughout his life and groan out, into the beyond, lamenting that his sojourn here was a waste of years? Man does so, because he is unaware of his glory, of his high destiny! He is the Divine poured into the human mould. It is the privilege of man alone, to be able to become aware of this precious truth! This is the message of the Upanishads to man, echoed in scriptures, and in the declarations of countless saints. Yet, man turns a deaf ear to it, perhaps, due to his own misfortune created by his own misdeeds in past lives. What an inexhaustible source of bliss lies within you! You only have to develop the mind that will respond to the call, that will recognise the Truth.

Mengapa manusia meratap ketika ia lahir di dunia, merengek selama hidupnya dan mengeluhkan hal-hal yang tidak berguna, menyesal dan menganggap persinggahan di dunia merupakan hal yang sia-sia? Manusia berbuat seperti ini, karena ia tidak menyadari keutamaannya, tidak sadar akan takdir mulianya! Manusia adalah unsur-unsur Tuhan yang tertuang dalam bentuk manusia. Merupakan sebuah perjalanan suci dari manusia itu sendiri untuk menyadari kebenaran yang sangat berharga ini. Ini adalah pesan dari Upanishad yang digaungkan oleh kitab-kitab suci, yang di deklarasikan oleh orang-orang suci yang tidak terhitung banyaknya. Namun manusia tidak menghiraukannya, mungkin ini merupakan kemalangan oleh tingkah laku mereka sendiri yang tidak benar yang telah dilakukan di kehidupannya yang lalu. Sadarilah bahwa terdapat sumber abadi yang tiada habis dalam dirimu. Engkau hanya perlu untuk mengembangkan kesadaran untuk menindaklanjuti panggilan ini, kesadaran untuk mengenali kebenaran ini.

 

-BABA

Tuesday, June 2, 2009

Thought for the Day - 2nd June 2009 (Tuesday)


There are three stages of wisdom: Jnana, Sujnana and Vijnana. Knowledge that is gained by the analysis of the objective world is Jnana. When this knowledge is further studied and practised to serve the best interests of the individual society, it becomes Sujnana, or beneficial wisdom. The intentions and urges that arise from the purified consciousness saturated with Divine qualities is Vijnana, the Highest Wisdom. Intelligence, intellect, intuition - these three govern the thoughts and actions of man. One leads to another.

Ada tiga tahapan kebijaksanaan: Jnana, Sujnana dan Vijnana. Pengetahuan yang diperoleh dari proses analisis terhadap aspek duniawi secara objektif adalah Jnana. Ketika pengetahuan ini selanjutnya dipelajari dan dipraktekkan untuk melayani kepentingan masyarakat dengan baik, maka pengetahuan itu menjadi Sujnana, atau kebijaksanaan yang memberi manfaat. Pengetahuan dengan maksud dan keinginan yang kuat yang timbul dari kesadaran murni yang dipenuhi dengan sifat-sifat Ketuhanan adalah Vijnana, Kebijaksanaan tertinggi. Kecerdasan, akal, intuisi – ketiganya ini mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia. Ketiganya saling berkaitan erat satu dengan yang lainnya

-BABA

Monday, June 1, 2009

Thought for the Day - 1st June 2009


During summer, the land gets heated up and is rendered uncultivable. As soon as there is rainfall, saplings sprout and the land looks green. From where did the sprouts come? From the seeds sowed in the earth. If there had been no seeds at all, the sprouting would never have occurred. Likewise, Karma (past deeds) is the seed for human birth. Your present life is a reaction, resound and reflection of your past actions. Therefore, you are advised, "Be good, see good and do good."

Selama musim panas, lahan menjadi panas dan tidak digarap. Segera setelah ada hujan, tunas-tunas muda tumbuh dan lahan terlihat hijau. Dari mana datangnya tunas muda  tersebut? Dari benih-benih yang ditaburkan di bumi. Jika tidak ada benih sama sekali, tunas muda tersebut tidak akan pernah tumbuh. Demikian juga, Karma (perbuatan masa lampau) adalah benih untuk kelahiran manusia. Hidupmu di masa kini adalah suatu reaksi, merupakan cerminan tindakanmu sebelumnya. Dengan demikian, engkau disarankan,”Jadilah yang baik, lihatlah hal-hal yang baik, dan berbuatlah yang baik.”

 

-BABA

Sunday, May 31, 2009

Thought for the Day - 31st May 2009 (Sunday)


Where is righteousness? It is in your conduct, thoughts, words and deeds. Righteousness dwells in your heart. When the impulses arising from the heart are expressed in words, that is Sathya (Truth). To translate those words into action is Dharma (Righteousness). For all these, Love is the primary requisite. Love in action is righteousness. Love in speech is Truth. Love in thought is Peace. Love in understanding is Non-violence. When you realise that God is in everyone, you will practise non-violence. God is one, though He may be worshipped in different forms and by different names - Rama or Krishna, Allah or Jesus, Hari or Sai.

Dimanakah kebajikan? Kebajikan adalah tingkah lakumu, pikiran, perkataan dan perbuatan. Kebajikan berada dalam hatimu. Ketika dorongan-dorongan timbul dari hati yang diekspresikan dalam kata-kata, ini adalah Sathya (kebenaran). Menerjemahkan kata-kata itu dalam tindakan adalah Dharma (Kebajikan). Untuk semua hal tersebut, kasih adalah syarat utama. Kasih dalam tindakan adalah kebajikan. Kasih dalam kata-kata adalah kebenaran. Kasih dalam pikiran adalah kedamaian. Kasih dalam pengertian adalah tanpa kekerasan. Ketika engkau menyadari Tuhan dalam setiap orang, engkau akan mempraktekkan tanpa kekerasan. Tuhan adalah satu, meskipun Beliau dipuja dalam berbagai bentuk dan nama yang berbeda -  Rama atau Krishna, Allah atau Yesus, Hari atau Sai.

 

-BABA

Saturday, May 30, 2009

Thought for the Day - 30th May 2009 (Saturday)


Saturate every breath of yours with love. Love knows no fear. Fear drags man into falsehood, injustice and evil. Love does not crave for praise. Only those who have no Love in them itch for reward and reputation. Love is its own reward. When you are eager to place offerings before the Lord, let it be love instead of mere material objects. Love is no merchandise; do not bargain about its cost. Let it flow clear from the heart, as a stream of Truth, a river of wisdom. Let it not emanate from the head, nor from the tongue. Let it emerge, full and free, from the heart.

Penuhi setiap nafasmu dengan kasih. Kasih tidak mengenal takut. Ketakutan membawa manusia ke dalam kebohongan, ketidakadilan, dan kejahatan. Kasih tidak mengharapkan pujian. Hanya mereka yang tidak mempunyai Kasih memiliki keinginan untuk mendapatkan penghargaan dan nama baik. Kasih itu sendiri merupakan suatu bentuk  penghargaan. Ketika engkau berkeinginan untuk melakukan persembahan kepada Tuhan, biarlah hal tersebut karena kasih bukan semata-mata objek materi. Kasih bukanlah sebuah barang dagangan, jangan mengadakan tawar-menawar. Biarlah hal tersebut mengalir dari hati, sebagai arus dari kebenaran,  sungai dari kebijaksanaan. Biarlah hal tersebut bukan berasal dari kepala, bukan juga dari lidah. Biarlah hal tersebut muncul, sepenuhnya dari hati.

 

-BABA

Friday, May 29, 2009

Thought for the Day - 29th May 2009 (Friday)


One may claim to have surrendered all his wealth, power and position to God. But, when one truly surrenders, one realizes one's relationship with God saying, "I am in You, You are in me." The sense of separation between God and the individual should vanish. Devotion does not consist merely in offering worship in various ways. It means offering oneself to the Lord with dedication and unsullied love. You have come from the Divine who is the embodiment of love. Hence, base your life on that love.

Seseorang mungkin menyatakan untuk menyerahkan seluruh kekayaannya, kekuasaan dan jabatan kepada Tuhan. Tetapi, ketika seseorang benar-benar menyerahkannya, seseorang  menyadari adanya suatu hubungan dengan Tuhan dan berkata.”Aku dalam diri-Mu, Engkau dalam diriku.” Pemisahan antara Tuhan dengan individu haruslah dihilangkan. Ketaatan pada Tuhan tidak hanya melakukan persembahyangan dalam berbagai cara. Hal ini berarti mempersembahkan diri kepada Tuhan dengan pengabdian dan kasih tanpa cacat. Engkau telah datang dari Tuhan yang merupakan perwujudan kasih. Oleh karena itu, engkau hidup berdasarkan atas kasih.

 

-BABA