Thursday, June 11, 2009

Thought for the Day - 11th June 2009 (Thursday)


There is only one important thing that you have to take note of - give up the delusion that the Divine is in some remote place. Have the faith that you are God. When you have the faith that you are Divine, you will never go astray. You will pursue the right path. Believe that God is in every human being. Have the firm faith that Divinity is present in every human form. Perform right actions befitting the human form. Eschew selfishness, and the attachments and hatred arising from it. The way to get rid of selfishness is adoration of God.

Hanya ada satu hal penting yang harus diperhatikan – melepaskan khayalan bahwa Tuhan berada jauh di tempat terpencil. Milikilah keyakinan bahwa engkau adalah Tuhan. Ketika engkau mempunyai keyakinan bahwa engkau adalah Tuhan, engkau tidak akan pernah tersesat. Engkau akan mengikuti jalan yang benar. Percayalah bahwa Tuhan ada dalam diri setiap manusia. Milikilah keyakinan yang kuat bahwa ketuhanan berada dalam setiap wujud manusia. Laksanakan tindakan-tindakan benar sesuaikan dengan wujud manusia. Hindari sifat mementingkan diri sendiri, dan keterikatan dan kebencian yang timbul darinya. Cara untuk menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri adalah pemujaan terhadap Tuhan.

-BABA

Wednesday, June 10, 2009

Thought for the Day - 10th June 2009 (Wednesday)


There is no action in the world which is devoid of consequence. This is the law of nature. For instance, when a finger is cut by a knife, immediately the finger starts bleeding. The result of the cut is instantaneous. However, when you sow a seed, it becomes a sapling after some days. But to bear fruit, it takes some years. Thus, every action has a consequence, but the time interval between action and result varies. One who is aware of this truth is unlikely to commit any wrong deeds because he knows that good deeds produce good results and bad deeds lead to bad consequences. Recognition of the law of Karma will make men lead proper lives.

Tidak ada perbuatan di dunia ini yang tanpa akibat. Ini adalah hukum alam. Sebagai contoh, ketika jari terpotong oleh pisau, segera jari tersebut mengeluarkan darah. Hasil yang seketika akibat jari yang terpotong. Namun, ketika engkau menabur benih, ia menjadi tunas-tunas muda setelah beberapa hari. Tetapi untuk berbuah, diperlukan waktu beberapa tahun. Dengan demikian, setiap perbuatan memiliki konsekuensi, tetapi interval waktu antara perbuatan dan hasil bervariasi. Seseorang yang menyadari kebenaran ini tidak mungkin untuk melakukan perbuatan yang salah sebab ia mengetahui bahwa perbuatan baik menimbulkan hasil yang baik dan perbuatan buruk mengakibatkan konsekuensi buruk. Pengakuan terhadap hukum Karma ini akan membuat manusia menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya.

-BABA

Tuesday, June 9, 2009

Thought for the Day - 9th June 2009 (Tuesday)


It is conduct that is most important for every person. Conduct is determined by the state of the mind. Instead of giving way to the promptings of the senses, every action should be done as a sacred offering to the Divine. One should be indifferent to censure or praise. Such equanimity can come only from unwavering faith in God. Lacking this faith and filled with the conceit that he is the doer of everything, man gets immersed in sorrow and trouble. The one who boasts about his achievements should equally recognise that he is the author of his misfortunes. He cannot claim to be the doer and at the same time deny responsibility for the consequences of his actions. Hence, in all your actions whether good or bad, do your duty, leaving the results to God.

Berikut adalah pengertian terpenting tentang perbuatan/tindakan yang dilakukan oleh setiap orang. Bahwa perbuatan manusia itu ditentukan oleh keadaan pikiran. Daripada memberikan jalan kepada indera dengan cepat, setiap perbuatan/tindakan seharusnya dilakukan sebagai persembahan suci kepada Tuhan. Seseorang seharusnya bersikap biasa saja apakah ia dipuji ataupun dikritik. Ketenangan hati seperti ini hanya di dapat dari keyakinan yang kuat kepada Tuhan. Sikap kurang yakin terhadap Tuhan dan penuh dengan kesombongan bahwa dia adalah pelaku dari segalanya, manusia tenggelam dalam penderitaan dan kesulitan. Seseorang yang menyombongkan diri tentang keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapainya seharusnya menyadari dengan sama bahwa dia juga pelaku dari kemalangannya itu. Manusia tidak dapat menyatakan dirinya sebagai pelaku dan pada saat yang sama menolak tanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi dari perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya. Oleh karena itu, dalam segala perbuatanmu apakah itu baik atau buruk, lakukan kewajibanmu, serahkan hasilnya kepada Tuhan.

-BABA

Monday, June 8, 2009

Thought for the Day - 8th June 2009 (Monday)


The world is today suffering from disorder and violence because people have lost Atma-Vishwasa (faith in the Self). They are fostering attachment to the body and ignoring the Spirit. Man should not follow the senses which are wayward, the body which is perishable, or the mind which is fickle. He must follow the conscience, which tells him what is right or wrong. Man has to rise above the animal nature. He has to express his divine potencies. For this, man has to acquire knowledge of the Divine Self. Atma is the all-pervading Universal Consciousness. It is immanent in everyone. Only as long as this consciousness is present in the human body, it is called Shivam (auspiciousness). Once the consciousness leaves the body, it becomes Shavam (a corpse).

Dunia saat ini mengalami kekacauan dan kekerasan karena orang-orang telah kehilangan Atma – Vishwasa (keyakinan pada Atma). Mereka memelihara keterikatan pada badan dan mengabaikan Spirit (Atma). Manusia seharusnya tidak menuruti indera yang sulit dikendalikan, tubuh yang mudah rusak, atau pikiran yang berubah-ubah. Manusia harus mengikuti hati nurani, yang mengatakan kepadanya apa yang benar atau salah. Manusia harus meningkat di atas sifat binatang. Dia harus mengekspresikan potensi ketuhanan yang ada dalam dirinya. Oleh karenanya, manusia harus memperoleh pengetahuan tentang Ketuhanan. Atma meliputi seluruh kesadaran universal, yang tetap ada pada setiap orang. Hanya sepanjang kesadaran ini ada di dalam tubuh manusia, hal ini disebut Shivam. Begitu kesadaran tersebut meninggalkan tubuh, ia menjadi Shavam (mayat).

-BABA

Sunday, June 7, 2009

Thought for the Day - 7th June 2009 (Sunday)


Love should come from within, not enforced from the outside. Love must be spontaneous. The attitude of petitioning God for favours should be given up. Love of God should not be based on seeking favours in exchange for prayers and offerings to God. Love is the most important element. Through love alone can you unify the world. It is the absence of love that is the cause of hatred. It is this hatred that undermines human nature.

Kasih seharusnya datang dari dalam diri, bukan dari luar. Kasih harus spontan. Perilaku selalu memohon kebaikan dari Tuhan seharusnyalah ditiadakan. Kasih pada Tuhan seharusnya tidak didasarkan pada apa yang engkau dapat sebagai hasil dari doa-doa dan persembahan kepada Tuhan. Kasih adalah elemen yang paling penting. Melalui kasih itu sendiri engkau dapat mempersatukan dunia. Ketiadaan kasih menyebabkan kebencian. Kebencian ini dapat merusak sifat manusia

-BABA

Saturday, June 6, 2009

Thought for the Day - 6th June 2009 (Saturday)


Dhrishti (sight) decides attachment, sorrow, passion, etc. You are the noblest being ever created, and so, you have to develop the vision that sees no high or low, that sees all as suffused with divinity, and therefore, not different from one another. Adi Shankara declared, "Make your Dhrishti charged with Jnana (wisdom); then, the seen will appear in its true light as Brahman". The God in you is in each of them, too. Do not imagine the others to be distinct, they are only you, in so many different forms. The world is filled with your kith and kin; all are sparks from the same flame.

Dhristi (penglihatan) menentukan keterikatan, kesedihan, hawa nafsu, dll. Engkau adalah mahluk paling mulia yang pernah diciptakan, dengan demikian, engkau seharusnya mengembangkan pandangan tidak ada perbedaan dimana-mana, melihat segalanya diliputi oleh Ketuhanan, dan oleh karena itu, tidak ada perbedaan satu dengan yang lainnya. Adi Shankara menyatakan,”Buatlah Dhrishtimu diisi dengan Jnana (kebijaksanaan); kemudian, yang terlihat akan muncul dalam kebenaran yang bercahaya sebagai Brahman”. Tuhan yang juga berada di dalam setiap orang. Jangan membayangkan yang lainnya berbeda, mereka adalah engkau, dalam berbagai wujud yang berbeda. Dunia ini dipenuhi dengan teman dan kaum kerabat; semuanya merupakan percikan dari api yang sama.

-BABA

Friday, June 5, 2009

Thought for the Day - 5th June 2009 (Friday)


Brahman is the immovable Totality, the Eternal, the True, the Pure and the Attributeless. Just as the road, though itself stationary, enables the car to move over it, the Brahman principle is the basis for the existence and activities of Jivis (individual beings). In fact, there is only One that appears as two. Look outward, it is Jivi; look inward, it is God. The outer vision makes you forget; the inner makes you remember. When man seeks to rise to the divinity which is his reality, he struggles to recollect and experience his true nature. When he grovels in the lower levels of consciousness and is enmeshed in the world, he is caught in the coils of forgetfulness. Removing selfish desires and expanding one's urge to love and serve is the most effective way to merge in the Supreme Consciousness.

Brahman itu tidak Bergerak, Abadi, Benar, Murni, dan tanpa Atribut. Sama seperti sebuah jalan, meskipun tidak dapat bergerak dengan sendirinya, jalan ini memungkinkan mobil bergerak melewatinya, prinsip Brahman adalah dasar untuk keberadaan dan aktivitas dari Jivi (mahluk individu). Dalam kenyataannya, hanya ada satu yang muncul sebagai dua. Lihatlah diluar dirimu, itu adalah Jivi; lihatlah dalam dirimu, itu adalah Tuhan. Pandangan seperti ini membuatmu lupa, batinmulah yang membuatmu ingat. Ketika manusia berusaha bangkit menuju sifat Ketuhanan yang merupakan sifat sejatinya, manusia berjuang untuk mengingat kembali dan mengalami kebenaran sejatinya. Ketika manusia merendahkan dirinya pada tingkat yang lebih rendah dari kesadarannya dan terperangkap dalam keduniawian, maka dia menjadi lupa tentang siapa dia yang sebenarnya.Menghilangkan keinginan-keinginan yang mementingkan diri sendiri dan mengembangkan keinginan untuk mengasihi dan melayani merupakan cara yang paling efektif untuk menyatu dengan Kesadaran Tertinggi.

-BABA