Sunday, June 14, 2009

Thought for the Day - 14th June 2009 (Sunday)


Every object in nature, every incident in time, is really speaking, teaching you a lesson. Lord Dakshinamurthy was one morning walking in slow steps along the beach. He saw the waves slowly, but systematically, carrying towards the shore a bit of straw, passing it on from one crest to another, until it was deposited on land! The sea is a broad expanse, it is deep and mighty. But, yet, it is constantly engaged in purging itself from all extraneous things. You too must therefore not permit even a small desire to enter the mind. Force it out of your being, so that it can do you no harm. Eternal vigilance is the price of peace and happiness.

Setiap benda di alam, setiap peristiwa pada suatu waktu, sebenarnya berbicara, mengajarkan engkau suatu pelajaran. Pada suatu pagi, Tuhan Dakshinamurthy berjalan-jalan di pantai. Beliau melihat jerami yang perlahan-lahan terbawa ombak ke daratan. Lautan adalah sebuah ruang yang luas, dalam dan menyimpan kekuatan dahsyat. Akan tetapi, lautan selalu membersihkan dirinya dari berbagai benda. Demikian juga engkau seharusnya tidak memperbolehkan keinginan sekecil apapun memasuki pikiranmu. Keluarkanlah keinginan-keinginan dari dirimu, sehingga keinginan-keinginan tersebut tidak dapat membahayakanmu. Kewaspadaan abadi adalah harga dari kedamaian dan kebahagiaan.

-BABA

Saturday, June 13, 2009

Thought for the Day - 13th June 2009 (Saturday)


Bhakti (devotion) means Paripurna Prema (all-encompassing love). This love is motiveless. Love based on an ulterior motive cannot be real love. As a river seeks to join the ocean by a natural impulse, as a creeper winds itself naturally around a tree to climb upwards, the devotee's love is a spontaneous expression of the yearning to realize God, free from worldly desires of any kind. It proclaims that it needs no one except God. It is oblivious to all other things. It regards the Divine as the One that pervades everything. You must realise that the Divine is present in everything. Only when you can recognise the omnipresence of the Divine will you be able to experience the Divine.

Bhakti berarti Paripurna Prema (segalanya diliputi kasih). Kasih ini tidak didasarkan pada suatu motif tertentu. Kasih yang didasarkan pada motif yang tersembunyi bukanlah kasih sejati. Seperti sebuah sungai berusaha untuk menyatu dengan lautan dengan dorongan yang alami, seperti angin berhembus secara alami di sekitar pohon untuk naik ke atas, ungkapan kasih dari Bhakta (pemuja) merupakan ekspresi spontan dari kerinduan untuk menyadari keberadaan Tuhan, bebas dari segala keinginan-keinginan duniawi. Hal ini menyatakan bahwa segala kebutuhan kita tidak seorang pun dapat memenuhinya kecuali Tuhan. Engkau harus menyadari bahwa Tuhan berada dalam segala hal. Hanya ketika engkau dapat menyadari bahwa Tuhan ada dimana-mana, engkau mampu merasakan Ketuhanan tersebut.

-BABA

Friday, June 12, 2009

Thought for the Day - 12th June 2009 (Friday)


God is said to be a stealer of hearts! The whole world is God's. All of you belong to Him, though you may not know it. Therefore, He can take anything from anyone. He is the Master of the ether, wind, fire, water and earth; He can change the sky into the earth and the earth into the sky. He can also take hold of the hearts of people and fill them with Love. Once people taste the sweetness of His Love, they will not desire anything else. That is why He is called Chittha Chora (stealer of hearts). Pray to Him, "O God! Enter my heart too and fill it with Love, so that I may love all your children, in all lands. Never covet what belongs to others. Do not talk about others but, if you must, talk only of the good in them.

Tuhan disebut dengan pencuri hati! Seluruh dunia ini adalah milik Tuhan. Engkau semua adalah milik-Nya, meskipun engkau mungkin tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, Beliau dapat mengambil apapun dari siapapun. Beliau adalah Master dari eter, angin, api, air dan bumi; Beliau dapat mengubah langit menjadi bumi dan bumi menjadi langit. Beliau juga dapat menguasai hati manusia dan mengisi mereka dengan kasih. Setelah seseorang merasakan manisnya Kasih Tuhan, mereka tidak akan menginginkan hal yang lain. Itulah sebabnya Beliau disebut dengan Chittha Chora (pencuri hati). Berdoalah kepada-Nya,”O Tuhan! Masuklah ke dalam hatiku dan penuhi hati ini dengan Kasih, sehingga Aku dapat mencintai semua anak-anak mu, di segala tempat. Jangan pernah mendambakan apa yang dimiliki oleh orang lain. Jangan membicarakan orang lain tetapi, jika engkau harus membicarakannya, katakanlah hanya yang baik tentang mereka.

-BABA

Thursday, June 11, 2009

Thought for the Day - 11th June 2009 (Thursday)


There is only one important thing that you have to take note of - give up the delusion that the Divine is in some remote place. Have the faith that you are God. When you have the faith that you are Divine, you will never go astray. You will pursue the right path. Believe that God is in every human being. Have the firm faith that Divinity is present in every human form. Perform right actions befitting the human form. Eschew selfishness, and the attachments and hatred arising from it. The way to get rid of selfishness is adoration of God.

Hanya ada satu hal penting yang harus diperhatikan – melepaskan khayalan bahwa Tuhan berada jauh di tempat terpencil. Milikilah keyakinan bahwa engkau adalah Tuhan. Ketika engkau mempunyai keyakinan bahwa engkau adalah Tuhan, engkau tidak akan pernah tersesat. Engkau akan mengikuti jalan yang benar. Percayalah bahwa Tuhan ada dalam diri setiap manusia. Milikilah keyakinan yang kuat bahwa ketuhanan berada dalam setiap wujud manusia. Laksanakan tindakan-tindakan benar sesuaikan dengan wujud manusia. Hindari sifat mementingkan diri sendiri, dan keterikatan dan kebencian yang timbul darinya. Cara untuk menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri adalah pemujaan terhadap Tuhan.

-BABA

Wednesday, June 10, 2009

Thought for the Day - 10th June 2009 (Wednesday)


There is no action in the world which is devoid of consequence. This is the law of nature. For instance, when a finger is cut by a knife, immediately the finger starts bleeding. The result of the cut is instantaneous. However, when you sow a seed, it becomes a sapling after some days. But to bear fruit, it takes some years. Thus, every action has a consequence, but the time interval between action and result varies. One who is aware of this truth is unlikely to commit any wrong deeds because he knows that good deeds produce good results and bad deeds lead to bad consequences. Recognition of the law of Karma will make men lead proper lives.

Tidak ada perbuatan di dunia ini yang tanpa akibat. Ini adalah hukum alam. Sebagai contoh, ketika jari terpotong oleh pisau, segera jari tersebut mengeluarkan darah. Hasil yang seketika akibat jari yang terpotong. Namun, ketika engkau menabur benih, ia menjadi tunas-tunas muda setelah beberapa hari. Tetapi untuk berbuah, diperlukan waktu beberapa tahun. Dengan demikian, setiap perbuatan memiliki konsekuensi, tetapi interval waktu antara perbuatan dan hasil bervariasi. Seseorang yang menyadari kebenaran ini tidak mungkin untuk melakukan perbuatan yang salah sebab ia mengetahui bahwa perbuatan baik menimbulkan hasil yang baik dan perbuatan buruk mengakibatkan konsekuensi buruk. Pengakuan terhadap hukum Karma ini akan membuat manusia menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya.

-BABA

Tuesday, June 9, 2009

Thought for the Day - 9th June 2009 (Tuesday)


It is conduct that is most important for every person. Conduct is determined by the state of the mind. Instead of giving way to the promptings of the senses, every action should be done as a sacred offering to the Divine. One should be indifferent to censure or praise. Such equanimity can come only from unwavering faith in God. Lacking this faith and filled with the conceit that he is the doer of everything, man gets immersed in sorrow and trouble. The one who boasts about his achievements should equally recognise that he is the author of his misfortunes. He cannot claim to be the doer and at the same time deny responsibility for the consequences of his actions. Hence, in all your actions whether good or bad, do your duty, leaving the results to God.

Berikut adalah pengertian terpenting tentang perbuatan/tindakan yang dilakukan oleh setiap orang. Bahwa perbuatan manusia itu ditentukan oleh keadaan pikiran. Daripada memberikan jalan kepada indera dengan cepat, setiap perbuatan/tindakan seharusnya dilakukan sebagai persembahan suci kepada Tuhan. Seseorang seharusnya bersikap biasa saja apakah ia dipuji ataupun dikritik. Ketenangan hati seperti ini hanya di dapat dari keyakinan yang kuat kepada Tuhan. Sikap kurang yakin terhadap Tuhan dan penuh dengan kesombongan bahwa dia adalah pelaku dari segalanya, manusia tenggelam dalam penderitaan dan kesulitan. Seseorang yang menyombongkan diri tentang keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapainya seharusnya menyadari dengan sama bahwa dia juga pelaku dari kemalangannya itu. Manusia tidak dapat menyatakan dirinya sebagai pelaku dan pada saat yang sama menolak tanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi dari perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya. Oleh karena itu, dalam segala perbuatanmu apakah itu baik atau buruk, lakukan kewajibanmu, serahkan hasilnya kepada Tuhan.

-BABA

Monday, June 8, 2009

Thought for the Day - 8th June 2009 (Monday)


The world is today suffering from disorder and violence because people have lost Atma-Vishwasa (faith in the Self). They are fostering attachment to the body and ignoring the Spirit. Man should not follow the senses which are wayward, the body which is perishable, or the mind which is fickle. He must follow the conscience, which tells him what is right or wrong. Man has to rise above the animal nature. He has to express his divine potencies. For this, man has to acquire knowledge of the Divine Self. Atma is the all-pervading Universal Consciousness. It is immanent in everyone. Only as long as this consciousness is present in the human body, it is called Shivam (auspiciousness). Once the consciousness leaves the body, it becomes Shavam (a corpse).

Dunia saat ini mengalami kekacauan dan kekerasan karena orang-orang telah kehilangan Atma – Vishwasa (keyakinan pada Atma). Mereka memelihara keterikatan pada badan dan mengabaikan Spirit (Atma). Manusia seharusnya tidak menuruti indera yang sulit dikendalikan, tubuh yang mudah rusak, atau pikiran yang berubah-ubah. Manusia harus mengikuti hati nurani, yang mengatakan kepadanya apa yang benar atau salah. Manusia harus meningkat di atas sifat binatang. Dia harus mengekspresikan potensi ketuhanan yang ada dalam dirinya. Oleh karenanya, manusia harus memperoleh pengetahuan tentang Ketuhanan. Atma meliputi seluruh kesadaran universal, yang tetap ada pada setiap orang. Hanya sepanjang kesadaran ini ada di dalam tubuh manusia, hal ini disebut Shivam. Begitu kesadaran tersebut meninggalkan tubuh, ia menjadi Shavam (mayat).

-BABA