Saturday, May 14, 2011

Thought for the Day - 14th May 2011 (Saturday)

The Divine is the only kith and kin of the Yogis (spiritually advanced souls). They know no other. They do not entertain any other urge, attachment, or desire. God is their all in all. They will not be affected by grief or joy, failure or success. They experience only one unbroken, unchallenged stream of bliss. For those firmly established in this state, the world and its ups and downs appear trivial and illusory. They counter the pulls of the senses and face the fascinations of the world without any agitation of mind. They are also vigilant against the temptations held before them by the senses, and turning them aside, they approach the Divine and seek strength and solace there. Their actions, thoughts, and words reveal the vision they have experienced. This is the Paramartha Drishti, the Supravision, where all the five elements are present as the Divine itself and all beings, man, beast, bird, and worm are emanations from God and therefore fully Divine.

Tuhan adalah satu-satunya sanak dan kerabat bagi para Yogi. Mereka tahu tidak ada yang lain, selain Tuhan. Mereka tidak menyimpan dalam hati keinginan atau keterikatan yang lainnya. Tuhan adalah segala-galanya bagi mereka. Mereka tidak akan dipengaruhi dengan kesedihan atau kebahagiaan, kegagalan atau kesuksesan. Mereka hanya mengalami kebahagiaan sejati yang tiada putusnya. Bagi mereka yang sudah mantap pada keadaan seperti ini, dunia dan pasang surutnya nampak sebagai ilusi. Mereka menarik indera dan pikiran mereka dari pergulatan dunia ini. Mereka juga waspada terhadap godaan yang mempengaruhi indera, dan berpaling darinya, serta mendekati Tuhan dan mencari kekuatan dan pelipur lara pada-Nya. Tindakan, pikiran, dan kata-katanya mengungkapkan visi yang telah mereka alami. Inilah Drishti Paramartha, Supravision, dimana kelima unsur yang ada pada Tuhan dan semua makhluk, manusia, binatang, burung, dan cacing merupakan pancaran dari Tuhan.

-BABA

Thought for the Day - 13th May 2011 (Friday)

Prakriti (Nature) is the basis of everything in the universe. It is the basis of creation and existence. Men and women, beasts and birds, trees and plants, are all inseparable from nature. In this endless creation, the active element is the Purusha, the Lord. This truth has to be experienced, so that it will not slip away from consciousness, and the discipline needed for this is repetition of the Divine Name and meditation. This Prakriti is like a sea. When the sea becomes slightly rough, ships turn into hollow reeds. You can never cross this sea by your own effort, alone. The Lord’s grace is essential. So pray for that raft of Divine grace, and when you secure it, you can reach the shore in a trice.

Prakriti adalah dasar dari segala sesuatu di alam semesta. Prakriti merupakan dasar dari penciptaan dan kehidupan. Pria dan wanita, binatang dan burung, pohon dan tanaman, semuanya tidak terpisahkan dari alam. Dalam penciptaan yang tiada henti ini, elemen yang aktif adalah Purusha, yaitu Tuhan. Kebenaran ini harus dialami, sehingga tidak akan luput dari kesadaran, dan disiplin yang diperlukan untuk mencapai ini adalah pengulangan Nama Tuhan dan meditasi. Prakriti ini dapat diibaratkan seperti laut. Ketika laut diterpa badai, kapal akan berputar-putar. Engkau tidak akan bisa melintasi laut ini dengan usahamu sendiri, sendirian. Berkat Tuhan sangatlah penting. Maka berdoalah untuk mendapatkan ‘rakit’ berkat Tuhan, dan ketika engkau aman, engkau dapat mencapai daratan dalam sekejap mata.

-BABA

Thursday, May 12, 2011

Thought for the Day - 12th May 2011 (Thursday)

Education sans wisdom, wisdom bereft of discrimination, action without discretion, erudition lacking sagacity, power not justified by credentials, statements not based on truth, music wanting in melody, adoration not sustained by devotion, a person devoid of common sense and character, a student not endowed with humility - these serve no useful purpose. In addition to knowledge derived from the sacred texts, one should earn wisdom through experience. Knowledge without personal experience is futile.

Pendidikan tanpa kebijaksanaan, kebijaksanaan yang telah kehilangan diskriminasi (kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk), tindakan tanpa kebijaksanaan, pengetahuan tanpa kebijaksanaan, kekuasaan tanpa kepercayaan, pernyataan yang tidak didasarkan pada kebenaran, musik tanpa melodi, pemujaan yang tidak diikuti dengan Bhakti (pengabdian),seseorang yang tidak memiliki akal sehat dan karakter, siswa yang tidak memiliki sifat rendah hati – semuanya ini tidaklah bermanfaat. Selain pengetahuan yang berasal dari kitab-kitab suci, seseorang harus mendapatkan kebijaksanaan melalui berbagai pengalaman. Pengetahuan tanpa pengalaman adalah sia-sia.

-BABA

Wednesday, May 11, 2011

Thought for the Day - 11th May 2011 (Wednesday)

Dwell always on noble thoughts. When air fills a balloon, it takes the form of the balloon. The mind assumes the form of the objects with which it is attached. If it gets fixed on petty things, it becomes petty; if on grand things, it becomes grand. The camera takes a picture of whatever it is pointed at; so take care before you click. Discriminate before you develop attachment. When you develop attachment towards family, wealth, properties, etc., you will come to grief when these decline. But if you develop attachment towards God, you will grow in love and splendour.

Selalulah berpikir mulia. Ketika udara mengisi sebuah balon, udara memenuhi balon dan berbentuk balon. Pikiran mengasumsikan bentuk objek seperti yang melekat pada pikiran. Jika kita memikirkan hal-hal yang remeh, maka demikianlah jadinya; jika kita memikirkan hal-hal yang mulia, maka mulialah jadinya. Kamera mengambil gambar apa pun yang ditetapkan; jadi berhati-hatilah sebelum engkau melakukan “klik”. Engkau harus menggunakan kemampuan untuk membedakan sebelum engkau mengembangkan keterikatan. Ketika engkau mengembangkan keterikatan terhadap keluarga, kekayaan, benda-benda material, dll, engkau akan mengalami kesedihan ketika semuanya sudah tidak bersamamu lagi. Tetapi jika engkau mengembangkan keterikatan terhadap Tuhan, engkau akan berkembang dalam cinta-kasih dan kemuliaan.

-BABA

Tuesday, May 10, 2011

Thought for the Day - 10th May 2011 (Tuesday)

It is pure love that bestows liberation. You should endeavour to attain this holistic love. To attain liberation, people undertake all sorts of spiritual practices, but love is the undercurrent of all spiritual endeavours. Bhakti (devotion) is a spiritual practice based on love. Devotion is not merely singing Bhajans or performing sacred rituals. True devotion is a direct flow of selfless and unconditional love from your heart to God. In the spiritual practices that people undertake, there is some amount of selfishness. Offer your love to God devoid of the least trace of selfishness or desire. The annihilation of desire is verily liberation.

Hanya cinta-kasih yang murni yang dapat memberikan pembebasan. Engkau seharusnya berusaha untuk mencapai cinta holistik ini. Untuk mencapai pembebasan, orang melakukan segala macam praktek-praktek spiritual, tapi cinta-kasih merupakan landasan dari semua usaha-usaha spiritual. Bhakti merupakan praktek spiritual yang didasarkan atas cinta-kasih. Bhakti bukan hanya sekedar menyanyikan lagu bhajan ataupun melakukan berbagai macam ritual. Bhakti yang sejati adalah aliran cinta-kasih yang murni, tanpa pamrih, dan tanpa syarat langsung dari hatimu pada Tuhan. Dalam praktek-praktek spiritual yang orang-orang lakukan, ada sejumlah keegoisan. Persembahkanlah cinta-kasihmu pada Tuhan tanpa sedikitpun ada jejak keegoisan atau keinginan untuk mengharapkan sesuatu. Menghilangkan keinginan ini merupakan pembebasan yang sebenarnya.

-BABA

Monday, May 9, 2011

Thought for the Day - 9th May 2011 (Monday)

The recognition of one's innate Divinity and the regulation of one's daily life in accordance with that Truth are the guiding stars for those who are caught in the currents and cross currents of strife and struggle. Without that Atma Jnana (spiritual awareness), life becomes a meaningless farce, a mockery. It is the acquisition of that awareness that makes life earnest, sweet and fruitful.

Pengakuan tentang Ketuhanan seseorang dan aturan-aturan tentang kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan Kebenaran tersebut merupakan panduan bagi mereka yang tersesat dalam gelombang pergulatan duniawi. Tanpa Atma Jnana (kesadaran spiritual) tersebut, hidup bagaikan sebuah lelucon. Inilah hasil dari kesadaran yang membuat hidup benar-benar bermanfaat.

-BABA

Thought for the Day - 8th May 2011 (Sunday)

Godhead expressed itself initially as the five elements: the sky, the wind, the fire, the water and the earth. All creation is but a combination of two or more of these in varying proportions. The characteristic natures of these five elements are: sound, touch, form, taste and smell, cognized by the ear, the skin, the eye, the tongue and the nose. Now, since these are saturated with the divine, one has to use them reverentially and with humility and gratitude. Use them intelligently, to promote the welfare of others and yourself; use them with moderation and in the loving service of the community.

Ketuhanan pada awalnya diungkapkan sebagai lima unsur: langit, angin, api, air dan bumi. Seluruh ciptaan hanyalah merupakan kombinasi dari dua atau lebih unsur-unsur ini dalam berbagai perbandingan. Karakteristik dari kelima unsur tersebut adalah: suara, sentuhan, wujud, rasa, dan bau, yang dapat dirasakan oleh telinga, kulit, mata, lidah, dan hidung. Karena semuanya ini dipenuhi dengan yang ilahi, seseorang harus menggunakannya dengan kerendahan hati dan rasa syukur. Gunakanlah dengan baik, untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain dan diri sendiri; gunakanlah dengan tidak berlebihan dan dalam pelayanan penuh kasih pada masyarakat.

-BABA