Tuesday, April 7, 2015

Thought for the Day - 7th April 2015 (Tuesday)


Difficulties, troubles and worries come in the natural course as a consequence of past actions. Human birth is the result of Karma (past actions); there can be no escape from its consequences. As is your action, so is the reaction. When you stand before a mirror and offer salutation, your salutation gets reflected to you. If you address harsh words to the mirror, the harshness again comes back in the same manner. It is evident that the fruits of our actions are determined by the nature of our actions. Man is an image of God. ‘God appears in human form (Daivam maanusha rupena)’ declares the scriptures. God does not come down as Avatar to relieve specific individuals of their troubles and sorrow, and to confer joy and happiness on them. God takes a human form from time to time to show humanity how human lives can be divinised.
Kesulitan, masalah, dan kekhawatiran muncul dalam perjalanan alami sebagai konsekuensi dari tindakan masa lalu. Kelahiran manusia adalah hasil dari Karma (tindakan masa lalu); tidak ada seorangpun yang dapat melarikan diri dari konsekuensinya. Bagaimanapun tindakanmu, demikianlah reaksinya. Ketika engkau berdiri di depan cermin dan memberikan salam/penghormatan, salam/penghormatanmu akan tercermin kepadamu. Jika engkau berbicara kata-kata kasar ke cermin, dengan cara yang sama, kata-kata kasar akan kembali padamu. Jelaslah bahwa buah dari tindakan kita ditentukan oleh sifat dari tindakan kita. Manusia adalah bayangan Tuhan. Dalam kitab suci disampaikan 'Tuhan muncul dalam wujud manusia (Daivam maanusha rupena)’. Tuhan tidak turun sebagai Avatar untuk meringankan individu tertentu dari masalah dan penderitaan mereka, dan untuk memberikan sukacita dan kebahagiaan pada mereka. Tuhan mengambil wujud manusia dari waktu ke waktu untuk menunjukkan bagaimana manusia menjalankan kehidupannya agar bisa menjadi divine. (Divine Discourse, 3 Sep 1988)
-BABA

Monday, April 6, 2015

Thought for the Day - 6th April 2015 (Monday)


Because Nature is a reflection of the Divine, its laws cannot be transgressed by anyone. Human beings are gifted this birth to realise their own true nature. Instead of seeking to understand the truth about the cosmos, people lose it in the pursuit of material possessions. They do not realise that the human body made up of five basic elements, is bound to perish. This temporary and perishable body should be regarded only as a means for realising the eternal Reality. The body should be considered as an iron safe, in which the precious jewels of good qualities and good actions are kept. It is these qualities that should be cherished. If today, the state of the world appears deplorable, it is because people's actions and conduct are not good. People should return to the ways of righteousness and lead a good and godly life.
Karena Alam adalah refleksi dari Ilahi, hukumnya tidak bisa dilanggar oleh siapapun. Manusia diberikan kelahiran ini untuk menyadari sifat sejati mereka sendiri. Alih-alih ingin memahami kebenaran tentang kosmos, orang-orang tersesat dalam pengejaran harta benda. Mereka tidak menyadari bahwa badan manusia terdiri dari lima elemen dasar, yang akan mati. Badan fisik yang bersifat sementara dan fana ini hendaknya digunakan sebagai sarana untuk mewujudkan Realitas yang kekal. Badan hendaknya dianggap sebagai lemari penyimpanan yang aman, di mana permata berharga dengan kualitas yang baik dan perbuatan baik disimpan disana. Kualitas ini yang harus dihargai. Jika saat ini, keadaan dunia kelihatan menyedihkan, itu karena tindakan dan perilaku masyarakat yang tidak baik. Orang-orang harus kembali ke cara-cara kebenaran dan menjalani kehidupan yang baik dan saleh. (Divine Discourse, 3 Sep 1988)

-BABA

Sunday, April 5, 2015

Thought for the Day - 5th April 2015 (Sunday)


Every object in Nature and every individual around you is constantly teaching you lessons of various sorts, every moment of your life. Recognise this truth. Marvellous, sacred and beautiful is Nature. Human beings, in deep involvement with mundane concerns, and in their insane conceit, regard themselves as the Master of Nature. Nature is your best teacher. It is Nature that presides over every aspect of your life and provides you with all nourishment. It can bless or punish you, its sway is extensive. God considers all things in creation as equal and He is immanent in all of them. Hence, do not regard God and Nature as distinct entities. They are inseparably interrelated like the object and its image. Ancient Indian scriptures regarded and worshipped every object in Nature as a divine manifestation. From a stone to a diamond, from an ant to an elephant, from a simple person to a sage, everything and every being was considered worthy of worship.
Setiap saat dalam hidupmu, setiap objek di alam dan setiap individu di sekitarmu terus mengajarkan kepadamu pelajaran dari berbagai macam. Sadarilah kebenaran ini. Alam semesta itu mengagumkan, suci, dan indah. Manusia, dengan keterlibatan yang mendalam dengan masalah duniawi, dan kesombongan mereka, menganggap diri mereka sebagai Master Alam semesta. Alam merupakan guru terbaik. Alam sangat mempengaruhi, memimpin setiap aspek kehidupanmu dan memberikan kepadamu semua makanan, memberkati atau menghukum-mu. Tuhan menganggap segala sesuatu dalam penciptaan sebagai sama dan Beliau imanen dalam semuanya. Oleh karena itu, janganlah menganggap Tuhan dan Alam sebagai entitas yang berbeda. Mereka tak terpisahkan seperti objek dan bayangannya. Kitab Suci India kuno menghormati dan menyembah setiap objek di alam sebagai manifestasi Tuhan. Dari batu sampai berlian, dari seekor semut sampai dengan gajah, dari orang sederhana sampai pada orang bijak, semuanya patut dihormati. (Divine Discourse, 3 Sep 1988).

-BABA

Saturday, April 4, 2015

Thought for the Day - 4th April 2015 (Saturday)

Love can be cultivated through two methods: Always consider the faults of others, however big, to be insignificant and negligible. Always consider your own faults, however insignificant and negligible, to be big, and feel sad and repentant. Through this path, you avoid developing bigger faults and defects and acquire the virtues of brotherliness and forbearance. Next, whatever you do, with yourself or with others, do it remembering that God is omnipresent. He sees and hears and knows all. Remember that God hears every word; discriminate between the true and the false and speak only the truth. Discriminate between right and wrong and do only the right. Endeavour every moment to be aware of the omnipotence of God. The body is the temple of the individual, so whatever happens in that temple is the concern of the individual. So too, the world is the body of the Lord, and all that happens in it, good or bad, is His concern.
Cinta-kasih dapat dikembangkan melalui dua metode: Selalu menganggap kesalahan orang lain, betapapun besarnya, sebagai kesalahan yang tidak berarti dan dapat diabaikan. Selalu menganggap kesalahanmu sendiri, walaupun tidak berarti dan dapat diabaikan, itu akan menjadi besar, dan engkau hendaknya merasa sedih dan menyesal. Melalui jalur ini, engkau menghindari mengembangkan cacat dan kesalahan yang besar dan memperoleh kebajikan persaudaraan dan kesabaran. Selanjutnya, apa pun yang engkau lakukan, dengan diri sendiri atau dengan orang lain, engkau hendaknya melakukannya dengan mengingat bahwa Tuhan ada di mana-mana. Dia melihat dan mendengar dan mengetahui semuanya. Ingatlah bahwa Tuhan mendengar setiap kata; membedakan antara yang benar dan yang palsu dan berbicara hanya kebenaran. Membedakan antara yang benar dan salah dan hanya melakukan yang benar. Setiap saat, engkau hendaknya berusaha keras untuk menyadari kemahakuasaan Tuhan. Badan ini adalah kuil individu, sehingga apapun yang terjadi pada kuil ini menjadi perhatian individu. Demikian juga, dunia adalah badan Tuhan, dan semua yang terjadi di dalamnya, baik atau buruk, adalah merupakan perhatian-Nya. (Prema Vahini, Ch 19)


-BABA

Thought for the Day - 3rd April 2015 (Friday)


Three types can be recognised among those who seek to do good deeds and tread the path of self-realisation - those who are too frightened by troubles, losses, and difficulties to even begin the endeavour; they are of the lowest type. The next are those who, after having undertaken the journey and gone some distance, are depressed and defeated by obstacles and disappointments and give up in the middle; they are of the middling type. Lastly, those who steadfastly adhere to the path with calmness and courage, whatever the nature of the travail or however hard the road; these are, of course, of the highest type. This steadfastness, faith and constancy, is the characteristic of the devotee. You may be deluded by attachment to this illusory world and attracted by temporal joy, but never barter away the means of achieving permanent and complete happiness. And carry on your spiritual duties with full devotion.
Tiga tipe dapat dikenali di antara mereka yang berusaha untuk melakukan perbuatan baik dan menapaki jalan realisasi diri. Yang pertama, mereka yang terlalu takut dengan masalah, kerugian, dan kesulitan bahkan untuk memulai usaha tersebut; mereka adalah merupakan tipe yang terendah. Selanjutnya adalah mereka yang setelah melakukan perjalanan dan pergi agak jauh, mengalami depresi dan dikalahkan oleh rintangan dan kekecewaan dan menyerah di tengah jalan; mereka adalah tipe yang di tengah-tengah. Yang terakhir, mereka yang gigih mengikuti jalan dengan ketenangan dan keberanian, apapun sifat penderitaan atau kerasnya jalan yang dilalui; ini adalah tipe yang tertinggi. Ketabahan, keyakinan, dan keteguhan ini, adalah karakteristik para bhakta. Engkau mungkin terpedaya oleh keterikatan dunia maya ini dan tertarik dengan sukacita yang bersifat sementara, tetapi jangan pernah menukarnya untuk mencapai kebahagiaan permanen dan sempurna, laksanakanlah kewajiban spiritualmu dengan penuh pengabdian. (Prema Vahini, Ch 17 and 18)


-BABA

Thursday, April 2, 2015

Thought for the Day - 2nd April 2015 (Thursday)


We know a great deal about the cosmos. Physical sciences discovered much using the instruments of human mind and the eye. The eye and mind describe and analyze things as they are, as they see at that moment. However the objects they see are subject to constant flux and change. We have the least awareness about the truth that doesn’t change. That unchanging principle is Brahman, the Eternal Divine Principle, on which the manifest Universe is based. Do not hesitate to accept this fact or doubt it just because your eye or mind cannot perceive it. A person who sees the dry stump of a tree at night is afraid that it may be a ghost or a bizarre human being. It is neither, though it is perceived as either. The reason for this misperception is ‘darkness’. Darkness imposes on something, something else that is not there. Similarly false perception (maya) veils and renders Divine (Brahman) as unreal.
Kita mengetahui banyak tentang alam semesta. Ilmu fisika menemukan banyak instrumen pada pikiran dan mata manusia. Mata dan pikiran menggambarkan dan menganalisis hal-hal seperti apa yang mereka lihat, karena mereka melihat pada saat itu. Namun objek yang mereka lihat tergantung pada perubahan yang terjadi. Kita memiliki kesadaran tentang kebenaran yang tidak berubah. Prinsip yang tidak berubah itu adalah Brahman, Prinsip Ketuhanan yang Abadi, yang didasarkan pada Alam Semesta. Janganlah ragu untuk menerima kenyataan ini atau ragu hanya karena matamu dan pikiranmu tidak bisa melihatnya. Seseorang yang melihat kayu kering pohon di malam hari merasa ketakutan mengira itu sebagai hantu atau manusia gaib. Sesungguhnya tidaklah demikian. Alasan untuk kesalahan persepsi ini adalah 'kegelapan'. Kegelapanlah yang menyebabkan hal tersebut, sesuatu yang lain yang sesungguhnya tidak ada. Demikian pula persepsi yang salah (maya) menyelubungi dan membuat Ilahi (Brahman) sebagai yang tidak nyata. (Divine Discourse, 18 March 1999)

-BABA

Wednesday, April 1, 2015

Thought for the Day - 1st April 2015 (Wednesday)


Every aspirant who seeks the Divine through the path of devotion should strive to keep away from the turmoil, cruelties, and falsehoods of this world and practice truth, righteousness, love, and peace. Those who seek union with God and the welfare of the world should discard as worthless both praise and blame, appreciation and derision, prosperity and adversity. They should courageously keep steady faith in their own innate reality and dedicate themselves to spiritual uplift. No one, including a Maha-purusha (Avatar), can ever escape criticism and blame. But such people do not bend, but hold on to truth. Those who indulge in criticism or blame later wade through unbearable trouble and then realise the real nature of great ones and start to praise them. Their weakness and ignorance is the root-cause for such criticism. So, keep away from doubters and ignorant people and desist from discussing your beliefs with them.
Setiap aspiran (peminat spiritual) yang mencari Tuhan melalui jalur pengabdian harus berusaha untuk menjauhkan diri dari kekacauan, kekejaman, dan kebohongan dunia ini dan mempraktikkan kebenaran, kebajikan, cinta-kasih, dan kedamaian. Mereka yang mencari kesatuan dengan Tuhan dan kesejahteraan dunia harus mengabaikan semua pujian dan celaan, apresiasi dan cemoohan, kemakmuran dan kesulitan. Mereka hendaknya dengan keteguhan hati menjaga keyakinan yang mantap dalam realitas bawaan mereka sendiri dan mendedikasikan diri untuk meningkatkan spiritual. Tidak ada seorangpun, termasuk Maha-purusha (Avatar), dapat melarikan diri kritik dan kesalahan. Tetapi orang-orang tersebut tidak berbelok, tetapi berpegang pada kebenaran. Mereka yang memberikan kritik atau menyalahkan orang lain nantinya akan mengarungi kesulitan yang tak tertahankan dan kemudian menyadari sifat alami dari orang-orang besar dan mulai memuji mereka. Kelemahan dan kebodohan mereka adalah penyebab akar kritik tersebut. Jadi, jauhkanlah diri dari orang yang ragu-ragu dan orang-orang yang bodoh dan berhentilah dari mendiskusikan keyakinanmu dengan mereka. (Prema Vahini, Ch. 17)

-BABA