Monday, May 18, 2009

Thought for the Day - 18th May 2009 (Monday)


Little children are trained to walk, by means of a walker, which they hold and push along. The Pranava (the sound of "Om") is such a contraption, with the three wheels of 'A', 'U' and 'M'. Holding it, man can learn to use the two feet of Bhakti (Devotion) and Vairagya (Detachment). If he gives up his hold on the Omkara, he plumps down on the ground helplessly. If he walks on with the help of the Pranava Japa (repetition of "Om"), he can certainly realize the glory of the Brahman (God), which is the very substance of the Universe.

Sedikit anak yang dilatih berjalan dengan menggunakan alat bantu berjalan, yang mereka pegang dan dorong bersama. Pranava (suara “Om”) adalah suatu alat, dengan tiga roda dari ‘A’, ‘U’ dan ‘M’. Memegangnya, manusia dapat belajar untuk menggunakan dua kaki dari Bhakti (Pengabdian) dan Vairagya (melepaskan keterikatan). Jika manusia melepaskan pegangannya pada Omkara, ia akan terjatuh dan menderita. Jika ia berjalan dengan bantuan dari Pranava Japa (pengulangan dari “Om”), ia pasti dapat mewujudkan kemuliaan dari Brahman (Tuhan), yang merupakan substansi dari alam semesta.

-BABA

Sunday, May 17, 2009

Thought for the Day - 17th May 2009 (Sunday)


The root cause of all difficulties experienced by man is forgetfulness of his spiritual reality and identification with his body. The body is only the vesture of the Indwelling Spirit. By immersing himself in body-consciousness, man develops egoism and possessiveness, which in turn give rise to many other vices. He forgets his inherent divinity and fails to use the senses and organs he is endowed with in the right way. Your senses are God-given gifts. They should be used only for sacred purposes and should not be misused. Entertain only sacred thoughts and engage yourselves only in sacred deeds. Thereby, you will be sanctifying your lives. There is only one royal road to realizing God. It is the path of Divine love. You have come from the Divine and your destiny is to merge in the Divine.

Penyebab utama dari berbagai kesulitan yang dialami oleh manusia adalah melupakan  kenyataan spiritual dan mengidentifikasi dirinya dengan badan jasmaninya. Tubuh adalah tempat tinggalnya Atma.  Dengan membenamkan dirinya dalam tubuh kesadaran, manusia mengembangkan keakuan dan keinginan yang amat besar untuk memiliki sesuatu, yang pada gilirannya menimbulkan sifat-sifat buruk. Manusia melupakan akan ketuhanan yang menjadi sifatnya dan menggunakan indera dan tubuhnya yang telah diberkati dengan cara yang benar. Indera-mu adalah hadiah pemberian dari Tuhan. Hal tersebut harus digunakan untuk tujuan-tujuan suci dan tidak boleh disalahgunakan.  Milikilah pikiran yang suci dan libatkan diri kalian hanya di dalam perbuatan-perbuatan yang suci. Dengan demikian, engkau akan menyucikan hidupmu.  Hanya ada satu jalan menuju Tuhan. Ini adalah jalan kasih Tuhan. Engkau datang dari Tuhan dan tujuannya adalah untuk menyatu dengan Tuhan.

 

-BABA

Saturday, May 16, 2009

Thought for the Day - 16th May 2009 (Saturday)


Oil is present within the sesame seed. Ghee is present in every drop of milk. Fragrance is latent in every flower. A fruit is imbued with sweet juice. In every piece of wood, fire is latent. In the same manner, the Divine is immanent in the entire cosmos in a subtle form as Chaitanya (Consciousness) . The cosmos is the visible manifestation of the invisible Supreme Self. The Divine shines effulgently in every man as Sath-Chith-Ananda (Being-Awareness- Bliss). While the Divine is in such close proximity to him, man in his ignorance goes about seeking God outside himself.

Minyak terdapat dalam biji wijen. Ghee terdapat dalam setiap tetesan susu. Keharuman tersembunyi dalam setiap bunga. Buah dikaruniai dengan sari buah yang manis. Api terpendam dalam setiap bagian dari kayu. Dengan cara yang sama, Ketuhanan tetap ada dalam seluruh alam semesta sebagai wujud yang sulit dipisahkan sebagai Chaitanya (Kesadaran). Alam semesta ini merupakan manifestasi yang terlihat dari Atma yang tidak terlihat. Ketuhanan bersinar dengan cemerlang dalam setiap manusia sebagai Sath-Chith-Ananda (memperoleh kebahagiaan sejati). Walaupun Ketuhanan sedemikian dekatnya dengan manusia, manusia dengan ketidaktahuannya mencari Tuhan di luar dirinya.

-BABA

Friday, May 15, 2009

Thought for the Day - 15th May 2009


One may have listened to a number of spiritual discourses, but one should not be content with mere listening only to forget them later. One must enquire as to how much one has been transformed by attending these discourses. One must try to put into practice at least one or two of the teachings, get rid of worldly attachments gradually and progress on the path towards the Divine. In due course, divinity will surely blossom in the heart. If, on the contrary, one goes on multiplying one's worldly concerns and desires, one will go down to the animal level. One must be content with what one has and put it to good use with faith in the Lord. 

Seseorang mungkin telah mendengarkan sejumlah wacana-wacana spiritual, tetapi seseorang seharusnya tidak semata-mata puas dengan hanya mendengarkan wacana-wacana spiritual untuk kemudian melupakan hal tersebut. Seseorang harus menanyakan pada dirinya tentang berapa banyak yang telah diubah dengan menghadiri ceramah-ceramah tersebut. Seseorang harus mencoba mempraktekkan setidaknya satu atau dua dari ajaran-ajaran tersebut, membebaskan keterikatan duniawi secara berangsur-angsur dan bertahap menuju kearah Ketuhanan. Tepat pada waktunya, Ketuhanan akan mekar di dalam hati. Jika, sebaliknya, seseorang terus mengarahkan perhatian-perhatian dan keinginan-keinginan duniawinya, seseorang akan turun ke tingkat binatang. Seseorang harus puas dengan apa yang dimilikinya dan menanamkan dengan baik keyakinan pada Tuhan.

-BABA

Thursday, May 14, 2009

Thought for the Day - 14th May 2009 (Thursday)


The mansion called life must be built on strong foundations, the pursuit of artha (wealth) and kama (fulfillment of desires) must be regulated by the yardstick of Dharma. Dharma fosters those who foster it. The strongest foundation is ever-present Faith in the Almighty. Some may ask, "If He is Almighty, why then is he not patent?" Well, He reveals Himself only to the person who has the yearning, not the one who puts questions out of impudence or ignorance. He will be patent only in the pure heart that is not clouded by egoism or attachment to worldly objects.
 
Rumah besar yang disebut kehidupan harus dibangun dengan pondasi yang kuat, pencarian artha (kekayaan) dan kama (pemenuhan keinginan) harus diatur sesuai dengan ketentuan Dharma. Dharma membantu perkembangan mereka yang membantu perkembangannya. Pondasi yang paling kuat adalah Keyakinan pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Beberapa orang mungkin bertanya,”Jika Beliau Maha Kuasa, mengapa Beliau tidak nyata?’ Beliau menampakkan diri-Nya hanya untuk orang-orang yang mempunyai kerinduan, dan bukan terhadap mereka yang - oleh karena kebodohan batinnya - masih bersikap ragu-ragu. Beliau akan nyata hanya dalam hati yang murni yang tidak ditutupi oleh keakuan atau keterikatan akan objek-objek duniawi.
 
-BABA

Wednesday, May 13, 2009

Thought for the Day - 13th May 2009 (Wednesday)


You have no need to run about in search of God, for, you are yourself God. God resides in your heart. He is the All-pervasive motive force. Have firm faith in this truth. Like fire in the matchstick, divinity is latent in man. The fire in the stick becomes manifest when it is struck against the side of the box. So too, when the Jivi (individual) Deva (God), the flame of Jnana (Wisdom) shines brilliantly.

Engkau tidak perlu melakukan pencarian Tuhan kemana-mana, sebab, engkau sendiri adalah Tuhan. Tuhan berada dalam hatimu. Beliau adalah kekuatan yang meresapi segalanya. Milikilah keyakinan yang kuat dalam kebenaran ini. Seperti api dalam batang korek api,  Ketuhanan terpendam pada manusia. Api  di dalam batang korek api menunjukkan sifatnya ketika batang tersebut tergores pada tepi dari kotak korek api tersebut. Demikian pula, ketika Jivi (individu) bersentuhan dengan Dewa (Tuhan), nyala api dari Jnana (kebijaksanaan) bersinar dengan cemerlang.

 

-BABA

Tuesday, May 12, 2009

Thought for the Day - 12th May 2009 (Tuesday)


In the Bhagavad Gita, Lord Krishna calls upon Arjuna to regard himself as an instrument of the Divine. Every human being is indeed an instrument of God. As such, he should carry out his duties, leaving the results to God. Men have to do their duties; success or failure is determined by the Divine. Do not esteem yourself as the doer. Develop the conviction that the Indwelling Spirit in you is directing you and enabling you to act.

Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna mengatakan kepada Arjuna untuk menganggap dirinya sebagai instrument dari Tuhan. Setiap manusia merupakan instrument dari Tuhan. Karena itu, dia seharusnya menyelesaikan tugas-tugasnya, menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Manusia harus melaksanakan tugas-tugasnya; keberhasilan atau kegagalan ditentukan oleh Tuhan. Jangan menganggap dirimu sebagai pelaku. Kembangkanlah keyakinan bahwa Atma yang berada dalam dirimu mengarahkanmu dan memungkinkanmu untuk bertindak.

 

-BABA