Thursday, March 5, 2015

Thought for the Day - 5th March 2015 (Thursday)


Spiritual practices should be done consistently with an ever expanding heart full of devotion and spiritual wisdom. There is no distinction between devotion to God (bhakthi) and spiritual wisdom (jnana). Just as materialisation (sa-guna) becomes formless (nir-guna), devotion becomes spiritual wisdom. I don’t agree that dedicated action (karma), devotion, and spiritual wisdom are separate. Dedicated activity is devotion and devotion is spiritual wisdom. So too, the individual soul (jiva), the Atma, and the Supreme Lord (Parameswara) are not separate; they are one and the same. Therefore, every single deed of yours must be full of the spirit of selfless service (seva), divine love (prema), and spiritual wisdom (jnana). Your life’s activities must be saturated with dedicated action, devotion to God (bhakthi), and spiritual wisdom. This is verily the yoga of the Supreme (Purushothama-yoga).
Praktik spiritual harus dilakukan secara konsisten dengan hati yang penuh pengabdian dan kebijaksanaan spiritual. Tidak ada perbedaan antara pengabdian kepada Tuhan (Bhakthi) dan kebijaksanaan spiritual (jnana). Sama seperti materialisasi (sa-guna) menjadi tak berwujud (nir-guna), pengabdian menjadi kebijaksanaan spiritual. Aku tidak setuju bahwa tindakan pengabdian (karma), devosi, dan kebijaksanaan spiritual terpisah. Tindakan pengabdian adalah devosi dan devosi adalah kebijaksanaan spiritual. Demikian juga, jiwa individu (jiva), Atma, dan Tuhan Yang Maha Esa (Parameswara) tidak terpisah; mereka adalah satu dan sama. Oleh karena itu, setiap perbuatan yang engkau lakukan harus penuh dengan semangat pelayanan tanpa pamrih (seva), kasih ilahi (prema), dan kebijaksanaan spiritual (jnana). Aktivitas kehidupanmu harus dipenuhi dengan tindakan yang berdedikasi, pengabdian kepada Tuhan (Bhakthi), dan kebijaksanaan spiritual. Inilah yang disebut dengan Yoga Tertinggi (Purushothama-yoga). (Prema Vahini)
-BABA

Wednesday, March 4, 2015

Thought for the Day - 4th March 2015 (Wednesday)

People may have performed a variety of Vedic rites and sacrifices; they might even expound the contents of vedas and scriptures; they may be endowed with prosperity, own vast wealth and heaps of grain. But without moral character, they cannot earn a place in the Kingdom of God. Virtues are the most effective means for purifying the inner consciousness, for they prompt the person to discover what to do and how to do it. Only those who have earned good destiny can claim their excellence in discrimination. Adherence to virtues and discrimination is the raft that will ferry you across the ocean of flux and fear (bhava sagara). The person of virtues is automatically granted a place in the Kingdom of the Liberated. Whatever residual activity the virtuous person is engaged in, the impact of that activity will not impinge them. They will merge in Brahman, the embodiment of Supreme Bliss.
Orang-orang mungkin telah melakukan berbagai ritual Weda dan pengorbanan; mereka bahkan mungkin menjelaskan isi Weda dan berbagai kitab suci; mereka dapat diberkati dengan kemakmuran, kekayaan, dan bertumpuk-tumpuk beras. Tetapi tanpa karakter yang baik, mereka tidak bisa mendapatkan tempat di Kerajaan Tuhan. Kebajikan adalah cara yang paling efektif untuk memurnikan kesadaran batin, karena mereka mendorong orang untuk menemukan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Hanya mereka yang telah mendapatkan takdir yang baik dapat menyatakan keunggulan mereka dalam diskriminasi. Kepatuhan terhadap kebajikan dan diskriminasi adalah rakit yang akan mengangkutmu melintasi lautan perubahan yang terus-menerus dan ketakutan (bhava sagara). Orang dengan sikap yang baik secara otomatis diberikan tempat di Kerajaan Tuhan dan dibebaskan. Apapun sisa aktivitas  yang dilakukan oleh orang-orang yang baik, dampak dari kegiatannya tidak akan melanggar mereka. Mereka akan menyatu dengan Brahman, perwujudan Kebahagiaan Tertinggi. (Sutra Vahini, Ch 1)

-BABA

Tuesday, March 3, 2015

Thought for the Day - 3rd March 2015 (Tuesday)

A matchstick produces fire. Where is the fire? Is it in the matchstick or the matchbox? Fire is latent in both and it is ignited when the stick and box come in contact. Similarly effulgence latent in the heart and the mind emerges as Divinity when the heart and the mind act in unison. Just as the same fire is latent in the matchbox and matchstick, the effulgence encased in the mind and the heart is the same. If the matchstick is dipped in water, no fire emanates from it, as the matchstick loses its capacity to aflame. Similarly, the human mind sunken in materialistic desires, loses its capacity to radiate the Divine Atmic splendour. When the matchstick is dried in the sun, it regains its original capacity. Similarly, the human mind steeped in sensual pleasures, regains its original potency and radiates divine effulgence when it is dried in the sun of detachment (Vairagya).
Sebuah batang korek api menghasilkan api. Dimana apinya? Apakah dalam batang korek api atau dalam kotak korek api? Api laten pada keduanya dan menyala ketika batang korek api dan kotak korek api bersentuhan. Demikian pula cahaya laten dalam hati dan pikiran muncul sebagai Divinity ketika hati dan pikiran bertindak serentak. Sama seperti api yang sama laten dalam kotak korek api dan korek api, cahaya yang terbungkus dalam pikiran dan hati adalah sama. Jika batang korek api dicelupkan ke dalam air, tidak ada api yang berasal dari itu, karena batang korek api kehilangan kemampuannya untuk menyala. Demikian pula, pikiran manusia yang tenggelam pada keinginan materialistis, kehilangan kemampuannya untuk memancarkan keindahan Atmic Ilahi. Ketika batang korek api dikeringkan di bawah sinar matahari, maka batang korek api mendapatkan kembali kapasitas aslinya. Demikian pula, pikiran manusia tenggelam dalam kesenangan sensual, mendapatkan kembali potensi aslinya dan memancarkan cahaya ilahi bila dikeringkan di bawah sinar matahari tanpa kemelekatan (Vairagya). (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan 1993, Ch 6)

-BABA

Monday, March 2, 2015

Thought for the Day - 2nd March 2015 (Monday)


A piece of mysorepaak (an Indian delicacy made of gram flour) has sweetness, weight, and shape; the three cannot be separated from the other. Each little part of it has all these three aspects. When it is placed on the tongue, taste is recognised, weight is lessened, and shape is modified - all at the same time. So too, the individual soul (jiva), the Atma, and the Supreme Lord (Parameswara) are not separate; they are one and the same. “I am the worshiper. The world is the offering. God is the Master who is worshiped.” Hold this vision high before the mind’s eye every day and lead your life accordingly. Then your life is one long unbroken service to the Lord. Over time, the feeling of I and You will soon disappear; all trace of self will be destroyed. Life then transmutes itself into a veritable devotion to the Lord (Hariparayana).
Sepotong mysorepaak (makanan India yang lezat yang terbuat dari tepung) memiliki rasa manis, berat, dan berbentuk (kotak); ketiganya tidak dapat dipisahkan dengan yang lainnya. Setiap bagian kecil dari itu mengandung ketiga aspek tersebut. Ketika ditempatkan di lidah, rasanya dikenali, beratnya berkurang, dan bentuknya dimodifikasi - semuanya pada waktu yang sama. Demikian juga, jiwa individu (jiva), Atma, dan Tuhan Yang Maha Esa (Parameswara) tidak terpisah; mereka adalah satu dan sama. "Saya adalah pemuja. Dunia adalah persembahan. Tuhan adalah Sang Master yang patut dipuja. "Peganglah visi yang tinggi ini di hadapan mata pikiran setiap hari dan menjalani hidup yang sesuai. Maka hidupmu adalah suatu pelayanan yang panjang yang tiada henti kepada Tuhan. Seiring waktu, perasaan Aku dan engkau akan segera hilang; semua jejak diri sendiri akan dihancurkan. Kehidupan kemudian mengubah dirinya menjadi pengabdian sejati kepada Tuhan (Hariparayana). (Prema Vahini, Ch 1)

-BABA

Sunday, March 1, 2015

Thought for the Day - 1st March 2015 (Sunday)

Today whatever good work we undertake in the world is being done in a casual manner without understanding its significance and imprinting its essence in our hearts. In the worldly aspect, we do several things either to attain a high position or reputation, or just for the sake of exhibition or in the hope of some material gain. Such types of effort are temporal and will yield only transitory benefits. Of the many things that we do daily, those intended to attain self-satisfaction are very few. Self-satisfaction will result only when we have confidence in our own Self. When there is Self-confidence and Self-satisfaction, you will be able to do Self-sacrifice, resulting in Self-realisation. Thus, immortality is the result of sacrifice (tyaga). It is for this reason that all the yajnas and other rituals in this country have been intended to symbolise sacrifice. They have a definite purpose of promoting divine strength.
Hari ini apapun pekerjaan yang baik yang kita lakukan di dunia ini, dilakukan sambil lalu tanpa memahami maknanya dan penanaman esensinya dalam hati kita. Dalam aspek duniawi, kita melakukan beberapa hal baik untuk mencapai posisi tinggi atau reputasi, atau hanya untuk kepentingan pertunjukan atau dengan harapan beberapa keuntungan materi. Usaha yang temporal seperti itu akan menghasilkan manfaat hanya sementara. Dari sekian banyak hal yang kita lakukan sehari-hari, sangatlah sedikit yang dimaksudkan untuk mencapai kepuasan diri. Kepuasan diri didapatkan hanya ketika kita memiliki keyakinan dalam diri kita sendiri. Ketika ada percaya diri dan kepuasan diri, engkau akan dapat melakukan pengorbanan diri, sehingga tercapailah realisasi Atma. Dengan demikian, keabadian adalah hasil dari pengorbanan (tyaga). Inilah alasannya, semua Yajna dan ritual lainnya di negeri ini telah dimaksudkan untuk melambangkan pengorbanan. Mereka memiliki tujuan yang pasti untuk meningkatkan kekuatan ilahi. (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan 1974, Ch 1-13)

-BABA

Saturday, February 28, 2015

Thought for the Dayy - 28th February 2015 (Saturday)

When rains come, earth and sky are one in the sheety downpour. It is indeed a beautiful and inspiring scene, an imagery by which creation itself is teaching you to become one with the Creator. Learn three lessons: the impermanence of created things, your role as a servant, and God as the Master. The game called life is played with these - the process of creation, the created, the Creator. Rejoice that the Lord continues to place in your hands newer ways to serve Him and exult in the chance you receive. This attitude will give you immeasurable joy; to lead a life suffused with this joy is indeed bliss. Whatever is done from sunrise to sunset must be consecrated, as if it is the worship of the Lord. Just as care is taken to pluck only fresh flowers and to keep them clean and unfaded, so too, continuous and persistent effort should be made to perform deeds that are pure and unsullied.
Ketika hujan jatuh, bumi dan langit adalah satu dalam lembaran hujan lebat. Sungguh suatu pemandangan yang indah dan inspiratif, sebuah citra dimana ciptaan sendiri mengajarkan engkau untuk menjadi satu dengan Sang Pencipta. Belajarlah tiga pelajaran ini: ketidakkekalan makhluk, peranmu sebagai seorang abdi, dan Tuhan sebagai Sang Guru. Permainan yang disebut hidup dimainkan dengan ini - proses penciptaan, ciptaan, dan Sang Pencipta. Bersukacitalah bahwa Tuhan secara terus-menerus menempatkan di tanganmu cara baru untuk melayani-Nya dan bersuka-cita-lah pada kesempatan yang engkau terima. Sikap ini akan memberimu sukacita yang tak terhingga; untuk menjalani hidup yang diliputi dengan sukacita yang merupakan kebahagiaan sejati. Apa pun yang dilakukan dari matahari terbit sampai terbenam harus disucikan, seolah-olah itu adalah memuja Tuhan. Sama seperti perawatan diambil untuk memetik hanya bunga-bunga segar dan agar tetap bersih dan tidak layu, demikian juga, secara terus menerus dan upaya gigih harus dilakukan untuk melakukan perbuatan yang murni dan tak ternoda. (Prema Vahini, Ch 1)

-BABA

Friday, February 27, 2015

Thought for the Day - 27th February 2015 (Friday)


People commit the great fault of identifying themselves with the body. They accumulate a variety of things for the upkeep and comfort of the body, even when the body becomes weak and decrepit with age! Can death be postponed? When Yama’s (God of death) warrant comes, all must depart. Position, pride, and power - all vanish before death. Knowing this, strive day and night, with purity of body, mind and spirit, to realise the Higher Self. The body must be preserved as a vehicle for this service. But remember, you are not this body; this body cannot be you! Until the realisation of the purpose for which the human body is given, it is your duty to watch over it vigilantly and protect it from injury and disablement. Just as woollen clothes help withstand the rigour of the cold gales during winter and are discarded in summer, the material body is no longer essential when the cold gales of material life don’t affect you.
Orang-orang melakukan kesalahan besar mengidentifikasi diri dengan badan jasmani. Mereka mengumpulkan berbagai hal untuk pemeliharaan dan kenyamanan badan, bahkan ketika badan menjadi lemah dan jompo karena usia! Bisakah kematian ditunda? Ketika  Dewa Yama (Dewa kematian) datang, semuanya harus berangkat. Posisi, kebanggaan, dan kekuasaan - semuanya lenyap sebelum kematian. Mengetahui hal ini, engkau hendaknya berusaha siang dan malam, dengan kemurnian badan, pikiran, dan jiwa, untuk mewujudkan Sang Atma. Badan harus dipertahankan sebagai kendaraan untuk pelayanan ini. Tetapi ingatlah, engkau bukanlah badan ini; badan ini bukan untukmu! Sampai realisasi tercapai apa tujuan badan manusia diberikan, adalah merupakan tugasmu untuk menjaganya dan melindunginya dari cedera dan cacat. Sama seperti pakaian wol membantu menahan kerasnya angin kencang yang dingin selama musim dingin dan dibuang di musim panas, badan tidak lagi penting ketika angin kencang dingin kehidupan tidak mempengaruhimu. ( Prema Vahini, Ch 1)

-BABA