You declare that you have surrendered, but that is just a verbal statement. If you sit in a car, you go along with it; on a cycle, you move with it; on a horse, you go wherever the horse takes you. But, in this case, you say, and perhaps you believe that you have placed yourselves in My hands, and so, you are going along the path I have laid down. But, your mind and your heart are not fully in Me and so, the surrender is only in name. As a sign of this deed of surrender and in order to sustain it, nothing more is enjoined than constant remembrance of the Name. No regimen of exhausting Sadhana (spiritual discipline) is prescribed. Smarana (remembrance) is enough. You have sung Bhajans extolling the Names which summarise the Glory all through the night. But this is only an appetiser. Bhajan must become an unbroken stream of bliss on your tongues and in your hearts; it must confer on you the uninterrupted awareness of Soham — of the Unity of I and He, of ‘This’ with ‘That’. It is called Akhanda Hamsa Japa—uninterrupted repetition of the Hamsa mantra, Soham. It will ensure freedom from anxiety, fear and grief.
- Divine Discourse, Feb 21, 1974
The state of constant remembrance of God can come only through long practice; it will not be acquired suddenly. So, strive for it steadily.
Anda menyatakan bahwa anda telah berserah diri, namun itu hanya pernyataan lisan saja. Jika anda duduk di dalam mobil maka anda bergerak bersamanya; jika anda duduk di atas sepeda, anda bergerak dengannya; jika anda duduk di atas kuda, anda pergi kemanapun kuda itu membawamu. Namun dalam hal ini anda berkata dan mungkin percaya bahwa anda telah menaruh diri anda di tangan-Ku, dan sehingga anda bisa berjalan di jalan yang telah Aku tetapkan. Namun, pikiran dan hati anda tidak sepenuhnya ada bersama-Ku, dan sehingga kata berserah diri hanya sebatas sebutan saja. Sebagai tanda dari tindakan berserah diri ini dan upaya dalam menjaganya, tidak ada lagi yang diperintahkan selain senantiasa mengingat nama suci Tuhan. Tidak ada program Sadhana (latihan spiritual) melelahkan yang ditetapkan. Smarana (mengingat) adalah cukup. Anda telah melantunkan Bhajan memuliakan nama suci Tuhan sepanjang malam. Namun ini hanyalah hidangan pembuka saja. Bhajan harus menjadi aliran kebahagiaan yang tiada terputus di lidah dan hatimu; bhajan harus menganugerahkan padamu kesadaran yang tidak terputus pada Soham – kesatuan antara aku dan Tuhan, antara ‘ini’ dengan ‘Itu’. Inilah yang disebut dengan Akhanda Hamsa Japa – pengulangan tanpa henti mantra Hamsa, Soham. Ini akan menjamin kebebasan dari kecemasan, ketakutan dan kesedihan.
- Divine Discourse, Feb 21, 1974
Keadaan mengingat Tuhan secara terus menerus hanya bisa melalui latihan panjang; hal ini tidak bisa di dapat secara tiba-tiba. Jadi, berusahalah untuk mencapainya dengan tekun dan mantap.
No comments:
Post a Comment