Thursday, November 13, 2008

Thoughts for the Day - 14th November 2008 (Friday)


The Vedas deal with rituals and worship, which imply a dualism between the worshipper and the object worshipped. Vedanta spells out the principle of Adwaitha (non-duality). It is interpreted in different ways, but the real basis of the Adwaithik principle is Ekaatma Bhaava, the feeling that there is only one Atma pervading everywhere and none else. "Adhwaita Darshanam Jnanam" (Wisdom lies in the perception of oneness). The Upanishads preach this oneness, based on the concept of unity in diversity.

Kitab suci Veda berhubungan dengan aspek ritual dan puja, dimana di situ ada implikasi tentang paham dualisme (antara pemuja dengan obyek yang dipuja). Sementara itu, kaum Vedanta mengajarkan tentang prinsip Adwaitha (non-dualisme). Walaupun diinterpretasikan dengan cara yang berbeda, namun sebenarnya landasan dari prinsip Adwaithik adalah Ekaatma Bhaava, yaitu bahwa hanya ada satu Atma yang mencakupi segalanya dan tiada yang lainnya. "Adhwaita Darshanam Jnanam" - Kebijaksanaan akan ditemukan dalam persepsi tentang oneness (persatuan/kemanunggalan), inilah yang diajarkan oleh kitab Upanishad yang didasarkan pada konsep unity in diversity (bhinneka tunggal ika).

-BABA

Wednesday, November 12, 2008

Thoughts for the Day - 13th November 2008 (Thursday)


Men who are devoted to Me are full of love. They always stand by Dharma or righteousness. They speak the truth. Their hearts melt with mercy. They are devoid of wrong conduct. They avoid sin. They will renounce everything gladly. They act in moderation. They are always engaged in doing good to others. They are not selfish. They are worried by no doubts. They do not lend their ears to flattery.

Mereka yang berbhakti kepada-Ku mempunyai jiwa yang penuh dengan cinta-kasih. Mereka akan selalu berpegang-teguh kepada Dharma atau nilai-nilai kebajikan. Ucapannya sarat dengan kebenaran. Welas-asih adalah nuansa hatinya. Mereka akan menjauhi perilaku/tindakan yang salah. Latihan ketidak-melekatan tidak akan terlalu sulit baginya. Mereka akan bersifat moderat. Mereka akan senantiasa berusaha untuk melayani sesama. Sifat mementingkan diri sendiri/congkak tidak ada di dalam kamusnya. Mereka tidak akan ragu-ragu dan tidak akan mudah terhasut oleh puji-pujian.
-BABA

Tuesday, November 11, 2008

Thoughts for the Day - 12th November 2008 (Wednesday)


If you earn the Grace of the Lord, even the decrees of destiny can be overcome. There are certain drugs that come with expiry dates, beyond which the drug loses its efficacy. The drug may still be sealed in the bottle but it will no longer be effective after that date. Similarly, the Lord's Grace can make decrees of destiny inoperable. Just as you do not feel the severe pain in your body when the doctor administers an injection of morphine, the Grace of God allows you to endure difficulties without having to undergo the suffering.

Jikalau engkau mendapatkan rahmat Ilahi, maka yang dinamakan takdir/nasib tidak akan mempengaruhimu lagi. Sebagai contoh, pada setiap label obat-obatan kita melihat bahwa di sana tertera tanggal kadaluarsa, dimana apabila tanggal kadalurasanya sudah terlewati, maka keampuhan/kemanjuran obat itu sudah menjadi berkurang. Walaupun obat-obatan itu masih tersimpan rapat di dalam botol, namun ia sudah menjadi tidak efektif lagi (setelah tanggal kadaluarsanya habis). Nah, demikian pula halnya dengan Rahmat Tuhan, karunia-Nya akan meniadakan suratan takdir/nasib. Seperti halnya engkau tidak merasakan sakit di badanmu ketika dokter memberikan suntikan obat penawar sakit; maka demikian pula halnya dengan Rahmat Tuhan, engkau akan sanggup untuk mengatasi serangkaian cobaan/kesulitan tanpa harus merasakan penderitaan.
-BABA

Monday, November 10, 2008

Thoughts for the Day - 11th November 2008 (Tuesday)


How sad it is that human life, precious as a priceless diamond, has been treated as a worn out, worthless coin! There is no use repenting after having wasted one's time without meditating on God, or practising any other Sadhana (spiritual exercise) to realise Him. What is the use of digging a well for water when the house is already on fire? To begin contemplation on God during the end of one's life is like beginning to dig the well when the fire is already raging on.

Betapa sedihnya kehidupan manusia yang walaupun sangat berharga bagaikan intan mulia, namun ternyata diperlakukan secara tidak layak - bagaikan barang rongsokan ataupun koin yang tak berharga! Tidak ada gunanya bagimu untuk menyesal apabila sebagian besar kehidupanmu ternyata telah dihabiskan tanpa bermeditasi dan tanpa praktek Sadhana (latihan spiritual). Apalah gunanya menggali sumur untuk mencari air ketika rumahmu sudah dalam keadaan terbakar? Bila engkau baru memulai kontemplasi terhadap Tuhan menjelang akhir hayatmu, maka tindakan itu ibaratnya persis seperti orang yang baru mulai menggali sumur ketika bara api sudah membakar!
-BABA

Sunday, November 9, 2008

Thoughts for the Day - 10th November 2008 (Monday)


The Lord has endowed man with the body and so, every limb and organ is worthy of reverent attention. The body must be sanctified by the contemplation of His Glory. The ear must exult when it gets the opportunity to hear the wonderful story of His Life. The tongue must exult when it can praise Him. Or else, the tongue of man is as ineffective as that of frogs which croak day and night, sitting on the marshy bank. The human body has been given to you for a grand purpose - realising the Lord within. Learn how to use the faculties of the body, the senses, the intellect and the mind for achieving the goal and march on.


Tuhan telah membekali manusia dengan badan jasmani agar dengan demikian, setiap organ dan anggota badan ini bisa mendapatkan perhatian yang sepantasnya. Badan fisik hendaknya disucikan dengan melalui perenungan terhadap aspek kemuliaan-Nya. Telinga kita hendaknya bersuka-ria ketika ia mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan kisah-kisah menakjubkan dari kehidupanNya. Sementara itu, lidah kita juga hendaknya bersuka-cita ketika mendapatkan kesempatan untuk memanjatkan puji-pujian terhadap-Nya. Sebab jikalau tidak, maka lidah manusia sama tak ada faedahnya bagaikan katak yang berkuak-kuak siang dan malam sembari tetap duduk di tepian empang/rawa. Badan jasmani ini diberikan kepadamu untuk tujuan utama, yaitu merealisasikan Divinity yang ada di dalam dirimu. Pelajarilah cara-cara untuk memanfaatkan orang tubuhmu, panca indera, intellect serta mind (batin) demi untuk mencapai tujuan dan semakin majulah!

-BABA


Saturday, November 8, 2008

Thoughts for the Day - 9th November 2008 (Sunday)


There is no difference between a Jivanmuktha (self-realised person) and a Bhakta (devotee), for they are both beyond Ahamkara (ego). The hearts of such persons will be full of compassion and the urge to do good to the world. Such a Bhakta will have no desires, for desires are the products of feelings of 'I' and 'mine'. Only after they are uprooted does a person become a Bhakta.


Tiada perbedaan antara seorang Jivanmuktha (yang sudah tercerahkan) dengan seorang bhakta, sebab kedua-duanya sudah tidak lagi berada di bawah pengaruh Ahamkara (ego). Hati manusia luhur seperti ini penuh dengan kewelas-asihan dan senantiasa siap untuk berbuat kebajikan bagi dunia. Bhakta-bhakta ini tiada lagi memiliki keinginan, sebab keinginan tiada lain merupakan hasil produk dari perasaan 'Aku' dan 'milikku'. Seseorang baru layak untuk disebut bhakta setelah semua bentuk keinginan (duniawi) dicabut sampai ke akar-akarnya.

-BABA


Friday, November 7, 2008

Thoughts for the Day - 8th November 2008 (Saturday)


What is required is the transformation of the heart. All bad thoughts and feelings should be expelled from the heart. We should whole-heartedly participate in Bhajans. It should not be a mechanical ritual. Once your heart is filled with sacred thoughts and feelings, they will be reflected in your Bhajan-singing. Through your singing, you should give joy to all the participants.

Yang dibutuhkan saat ini adalah transformasi hati nurani. Segala bentuk pikiran dan perasaan jelek haruslah diusir dari dalam hatimu. Kita harus sepenuh hati berpartisipasi dalam bhajan. Janganlah melakukan bhajan yang bersifat mekanis ritual belaka. Apabila hatimu sudah dipenuhi oleh pikiran dan perasaan yang suci & murni, maka semuanya itu akan tercermin dalam nyanyian bhajanmu. Melalui nyanyianmu, hendaknya engkau berbagi kebahagiaan dengan semuanya.
-BABA