Thursday, December 4, 2008

Thoughts for the Day - 5th December 2008 (Friday)


Only a person who has the attitude of Kshama (forbearance) can be considered to be endowed with sacred love. This cannot be learned from textbooks; nor can it be acquired from preceptors. It is only when we face problems and difficulties that this quality of forbearance and forgiveness has scope for taking root. When one is confronted with problems and difficulties, one should not get upset and become a victim of depression, which is a sign of weakness. Instead, one must confront the situation with an attitude of tolerance and forgiveness, without getting agitated or giving rise to anger, hatred and revengeful thoughts.

Prasyarat seseorang untuk disebut sebagai orang yang memiliki cinta-kasih suci & murni adalah ia yang memiliki sikap Kshama (forbearance = kesabaran). Attitude seperti ini tidak bisa dipelajari dari buku-buku teks; dan ia juga tidak bisa diperoleh dari para preceptor (guru). Sikap seperti itu hanya bisa terlatih ketika engkau sedang menghadapi permasalahan dan kesulitan. Ketika engkau sedang berhadapan dengan persoalan hidup, maka janganlah engkau jengkel dan membiarkan dirimu menjadi korban depresi; sebab bila hal tersebut yang terjadi, maka itu adalah pertanda bahwa engkau masih lemah. Sebaliknya, hendaknya engkau menghadapi situasi yang ada dengan semangat toleransi dan siap untuk memaafkan. Engkau tidak perlu harus menjadi marah, benci maupun timbul keinginan untuk balas-dendam.
-BABA

Wednesday, December 3, 2008

Thoughts for the Day - 4th December 2008 (Thursday)


Where there is Love, there is Peace. Where there is Peace, there is Truth. Where there is Truth, there is Bliss. Where there is Bliss, there is God. To promote love, the first requisite is faith. It is only when you believe that one is your mother that you develop love towards her. If you do not regard her as your mother, you will not have that love for her. First of all, strengthen your faith. Without faith all kinds of worship and all spiritual disciplines are of no use; they are a waste of time. Then cultivate love. Everything grows out of love. That love will reveal to you your true self. That love will confer bliss on you. Therefore, eschew hatred; develop love.

Dimana terdapat cinta-kasih, maka di sana akan terdapat kedamaian. Dimana terdapat kedamaian, maka di situ terdapat kebenaran. Dimana terdapat kebenaran, maka di sana terdapat bliss. Dan apabila terdapat bliss, maka Tuhan akan terealisasikan. Untuk mempromosikan cinta-kasih, maka persyaratan pertama adalah keyakinan. Apabila engkau yakin bahwa seseorang adalah benar ibumu, maka barulah cinta-kasihmu akan dicurahkan terhadapnya. Namun sebaliknya, apabila engkau tidak menganggapnya sebagai ibumu, maka tentunya cinta-kasih seperti itu tidak akan ada. Jadi, sebagai langkah pertama, engkau harus memperkokoh keyakinamu. Tanpa adanya keyakinan, maka segala bentuk ibadah maupun praktek spiritual lainnya menjadi tak ada gunanya; semuanya itu hanya buang-buang waktu saja. Setelah adanya keyakinan, kembangkanlah cinta-kasih. Segala sesuatu tumbuh & berkembang berkat cinta-kasih. Jati dirimu yang sebenarnya akan dapat diketahui melalui cinta-kasih. Melalui cinta-kasih, bliss akan menjadi milikmu. Oleh sebab itu, hentikanlah kebencian dan kembangkanlah cinta-kasih.
-BABA

Tuesday, December 2, 2008

Thoughts for the Day - 3rd December 2008 (Wednesday)


Swimming up the river is a bit hard, but every stroke takes one nearer to the goal and not farther. For overcoming the strain, one must have the raft called Dhyana (meditation). Through Dhyana, the weaknesses of the physical frame can be overcome, the waywardness of the mind can be controlled and the progress towards the seat of the Grace is made easy. One can thus attain Divinity.

Berenang melawan arus sungai memang agak sulit, namun setiap kayuhan tanganmu akan membawamu semakin mendekati tujuan. Agar usahamu menjadi lebih ringan, maka engkau bisa menggunakan perahu yang disebut sebagai Dhyana (meditasi). Melalui Dhyana, kelemahan badan jasmani bisa diatasi; demikian pula, mind yang tidak stabil akan dapat dikendalikan. Dengan demikian, Rahmat Ilahi akan semakin dekat dan pada akhirnya engkau akan mencapai Divinity.
-BABA

Monday, December 1, 2008

Thoughts for the Day - 2nd December 2008 (Tuesday)


Realize that you have within you the source of power, wisdom and joy. Assert that you are unconquerable and free, that you cannot be tempted or frightened in to wrong. So long as a trace of body consciousness persists in you, the search for God must continue. Do not get caught in the sticky tangles of the external world. Do not harden your heart through greed and hate. Instead, soften it with love. Cleanse it through pure habits of living and thinking. Make it your shrine, wherein you install and worship God. Then, you can enter the sacred precincts of Moksha (Liberation).

Sadarilah bahwa di dalam dirimu terdapat sumber kekuatan, kebijaksanaan dan kebahagiaan. Milikilah pandangan yang teguh bahwa engkau tak bisa terkalahkan dan bebas, bahwa engkau tidak akan mudah dijebak untuk menyeleweng ke jalan yang salah. Selama kesadaran badan jasmaniah masih ada di dalam dirimu, maka selama itu pula engkau harus senantiasa berusaha untuk mencari Tuhan. Janganlah engkau terperosok ke dalam perangkap duniawi. Janganlah engkau membiarkan hatimu menjadi keras oleh karena faktor keserakahan dan kebencian. Melainkan, cobalah untuk membuatnya menjadi lunak melalui cinta-kasih. Bersihkanlah hatimu dengan cara mengembangkan kebiasaan-kebiasaan hidup serta pikiran yang suci dan murni. Jadikanlah hatimu sebagai altar dimana engkau bisa menempatkan dan memuja Tuhan. Dengan demikian, maka engkau berhak untuk memasuki halaman Moksha.
-BABA

Thoughts for the Day - 1st December 2008 (Monday)


All that you speak is a reflection of inner thoughts. All that you do is a reflection of inner action. Hence, to act according to your inner impulse is Dharma (right conduct). To speak what you feel inside is Sathya (truth). To contemplate on what you experience in your heart is Shanti (peace). To understand properly the promptings of the heart is Ahimsa (non-violence). Consideration for all emanating from the heart is Prema (love). The five values are thus reflections of feelings emanating from the heart. Being truly human means having complete harmony between thought, word and deed. If there is divergence between thought, word and deed, what is the outcome? Fruitless action.

Segala sesuatu yang engkau ucapkan adalah refleksi dari inner thoughts. Segala sesuatu yang engkau lakukan adalah refleksi dari inner action. Dengan demikian, apabila engkau bertindak sesuai dengan inner impulse (dorongan hati nurani), maka perbuatan itu merupakan Dharma (kebajikan). Mengucapkan hal-hal yang engkau rasakan di dalam (hati) adalah Sathya (Kebenaran). Berkontemplasi terhadap hal-hal yang engkau rasakan adalah Shanti (kedamaian). Memahami secara benar dorongan hati nurani adalah Ahimsa (tanpa-kekerasan). Bertenggang-rasa terhadap segala sesuatu yang muncul dari dalam adalah Prema (cinta-kasih). Kelima nilai-nilai (kemanusiaan) tersebut merupakan refleksi dari perasaan yang muncul dari hati nurani. Manusia sejati adalah mereka yang memiliki keharmonisan dalam pikiran, ucapan dan perbuatannya. Apa jadinya jikalu terjadi penyimpangan antara pikiran, ucapan dan perbuatan? Tiada lain adalah fruitless action (perbuatan yang tak ada manfaat/faedahnya).
-BABA

Saturday, November 29, 2008

Thoughts for the Day - 30th November 2008 (Sunday)


God is no partial benefactor. He gives the fruit from every tree according to the seed. If you had planted the seed of a sour variety of mango, then why lament that the fruit that you got is not sweet? Do good and aspire to get the fruit of goodness - that is pardonable. At least, it is not as bad as doing evil deeds and blaming God for its consequences.


Tuhan tidaklah bersikap berat-sebelah. Beliau memberikan buah sesuai dengan benih/biji yang ditanamkan. Jikalau anda telah menanam benih mangga yang asam, maka mengapa pula engkau mengeluh bahwa buah yang engkau panen kemudian ternyata tidak manis? Berbuatlah kebajikan dan beraspirasilah untuk mendapatkan buah kebajikan – nah tindakan ini masih bisa diterima (dengan akal sehat). Setidaknya, hal itu masih jauh lebih baik dibandingkan mereka yang melakukan kejahatan lalu menyalahkan Tuhan atas konsekuensi-konsekuensi yang dialaminya.

-BABA

Friday, November 28, 2008

Thoughts for the Day - 29th November 2008 (Saturday)


Every aspirant who seeks the Eternal through the path of Bhakthi (devotion) should strive to acquire these characteristics: He must (1) keep away from the turmoils, the cruelties, the falsehoods of this world; (2) practise truth, righteousness, love and peace; (3) discard as worthless both praise and blame, appreciation and derision, prosperity and adversity; (4) keep steady faith in his own Innate Reality; and (5) dedicate himself to spiritual uplift.

Bagi para aspiran spiritual yang berniat untuk mencapai realisasi dengan melalui jalan Bhakti (devotion), maka ia harus berupaya untuk melatih (diri) melalui cara-cara sebagai berikut: (1) Menjauhi segala bentuk kekacauan, kekejaman, kebohongan yang ada di dunia ini; (2) mempraktekkan kebenaran, kebajikan, cinta-kasih dan kedamaian; (3) tidak terpengaruh oleh dualisme seperti pujian dan celaan, keberhasilan dan kegagalan; (4) memiliki keyakinan yang mantap terhadap aspek dirinya yang sejati (Atma); dan (5) berdedikasi terhadap kemajuan spiritual.
-BABA