Friday, December 12, 2008

Thoughts for the Day - 13th December 2008 (Saturday)


Channel the love that arises in you towards God. Dedicate your body to the Divine. This is the true mark of devotion. There are three constituents in man: the mind, the power of speech and the body. These three are called Trikaranas - the three active agencies in man. It is when all three are used for sacred purposes, that man becomes sanctified. Spirituality alone can purify the heart and mind of man. Morality helps to purify speech. Righteous deeds sanctify the body. It is through spirituality, morality and righteousness that the three instruments get purified. Only the one who has achieved this threefold purity can realize the Divine. If any of these instruments are impure, he cannot realize the Divine.

Salurkanlah cinta-kasihmu kepada Tuhan. Dedikasikanlah badan jasmanimu untuk Divine. Inilah pertanda devotion sejati. Di dalam diri seorang manusia, terdapat tiga jenis konstituen, yaitu: mind (pikiran), kekuatan speech (ucapan) dan body (aspek perbuatan). Ketiga-tiganya disebut sebagai Trikaranas. Kehidupan manusia akan mencapai pemurnian apabila Trikaranas diberdaya-gunakan untuk maksud/tujuan yang luhur. Spiritualitas adalah satu-satunya cara untuk memurnikan hati serta batin manusia. Moralitas berfungsi untuk membantu mensucikan ucapan, sedangkan perbuatan bajik berkaitan dengan aspek pemurnian badan jasmani. Dengan perkataan lain, Trikaranas mengalami pemurnian melalui Spiritualitas, Moralitas dan Kebajikan. Divine realisation hanya bisa tercapai oleh mereka yang telah mencapai pemurnian Trikaranas. Jikalau salah-satu instrumen tersebut belum suci & murni, maka ia tak akan bisa mencapai Divine.
-BABA

Thursday, December 11, 2008

Thoughts for the Day - 12th December 2008 (Friday)


Some say knowledge is valuable, but character is more valuable than knowledge. One may be a learned scholar, one may hold high positions of authority, one may be very wealthy or be an eminent scientist but if one has no character, all the other acquisitions are of no use at all. Sacrifice, love, compassion and forbearance are the sterling human qualities that should be fostered, shedding jealousy, hatred, ego and anger which are animal qualities.

Ada orang yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sangatlah berharga, namun sebenarnya (menurut Swami) yang jauh lebih berharga adalah karakter. Walaupun engkau mungkin adalah seorang sarjana terkemuka atau memangku jabatan tinggi, atau barangkali sebagai miliader atau bahkan seorang ilmuwan terkenal - semuanya itu tak ada gunanya jikalau engkau tak memiliki karakter (yang baik). Kualitas kemanusiaan yang perlu dijunjung tinggi adalah pengorbanan, cinta-kasih, welas-asih dan kesabaran. Sebaliknya, yang perlu engkau buang adalah sikap cemburu, benci, ego dan kemarahan - yang mana semuanya itu adalah pertanda kualitas kebinatangan.
-BABA

Wednesday, December 10, 2008

Thoughts for the Day - 11th December 2008 (Thursday)


It is only when attachment to the fruits of one's actions is discarded that the action becomes Yoga (a means to achieve Divine communion). Those who undertake service activities should overcome the sense of 'mine' and 'thine'; they should regard it as a privilege to serve others and look upon it as a form of worship of the Divine. They should consider service to society as the means of finding self-fulfillment in life. They should face whatever problems may arise with faith and courage, and carry on their service activities without fanfare, in a spirit of humility and dedication.

Apabila kemelekatanmu terhadap hasil atau buah perbuatanmu telah dapat dilepaskan, maka pada saat itu, perbuatanmu telah dikategorikan sebagai tindakan Yoga (cara untuk mencapai persekutuan dengan Sang Ilahi). Bagi mereka yang melakukan aktivitas pelayanan, maka terlebih dahulu mereka harus bisa memisahkan perasaan 'kepunyaanku' dan 'kepunyaanmu'; setiap bentuk aktivitas seva hendaknya dianggap sebagai suatu kesempatan untuk melayani orang lain serta menjadikannya sebagai salah satu bentuk pemujaan/ibadah terhadap Tuhan. Hendaknya engkau melihat pelayanan kepada masyarakat sebagai salah-satu cara untuk mencapai self-fulfillment (kepuasan diri) dalam kehidupan sekarang ini. Hadapilah segala bentuk permasalahan yang timbul dengan penuh keberanian dan keyakinan serta terus jalankan aktivitas pelayanan itu tanpa perlu harus digembar-gemborkan, yang terpenting adalah dilakukan dengan semangat kerendahan-hati dan penuh dedikasi.
-BABA

Tuesday, December 9, 2008

Thoughts for the Day - 10th December 2008 (Wednesday)


In the discipline of Bhakti (devotion), one has to stand the test at the hands of the Lord. He has to hold on to the Lord's name at all times and under all conditions, without the slightest trace of dislike or disgust, bearing the ridicule and the criticism of the world and conquering the feelings of shame and defeat.

Dalam menjalankan disiplin Bhakti (devotion), engkau harus siap untuk menjalani cobaan dari-Nya. Engkau harus memegang teguh nama-Nya di setiap saat dan segala kondisi tanpa berkeluh-kesah. Engkau harus tahan terhadap segala bentuk kritikan maupun cemoohan. Hendaknya engkau sanggup mengalahkan perasaan malu maupun perasaan minder lainnya.
-BABA

Monday, December 8, 2008

Thoughts for the Day - 9th December 2008 (Tuesday)


The primary requisite for man is to realize the divine potency in him that is the source of all the faculties and talents in him. This is true whether one is an atheist, a theist or an agnostic. No one in the world can survive without this energy. It may be called by different names. Names are not important. The energy is one. It is this divine energy which directs mankind on the right path. Men should strive to recognise the presence of the Divine in everything.


Manusia memiliki kewajiban untuk merealisasikan potensi (energi) Divine yang merupakan sumber daya bagi seluruh kemampuan dan talenta yang ada di dalam dirinya masing-masing. Kebenaran ini berlaku baik bagi mereka yang mengklaim dirinya atheist, theistic maupun golongan agnostic (yang skeptis terhadap eksistensi Tuhan). Tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa selamat/eksis tanpa adanya energi tersebut. Walaupun ia (energi) bisa disebut dengan berbagai macam nama, namun semua nama-nama tersebut tidaklah penting. Divine Energy bersifat Maha Esa, ia merupakan energi Ilahiah yang mengarahkan manusia untuk berjalan di atas jalan yang benar. Yang penting untuk engkau lakukan adalah berupaya untuk menyadari eksistensi Tuhan di dalam segala-galanya.

-BABA

Sunday, December 7, 2008

Thoughts for the Day - 8th December 2008 (Monday)


To reach the stage of a Jnani (Knower of the Supreme), the preliminary steps are Karma and Upasana (righteous action and worship). Without following the paths of Karma and Upasana and succeeding in them, one can not become a Jnani, just as a student cannot acquire a degree without passing out of school. Before one becomes an adult, one has to pass through the stages of childhood and youth. It is idle for any one to claim that he is a Jnani, unless he has gone through the prior disciplines. The mark of a Jnani is perennial joy. It is for realizing the oneness of divinity that the three stages of action, worship and knowledge have been laid down in the Vedas.


Untuk mencapai tingkat kesucian (Jnani), maka terlebih dahulu harus melalui langkah-langkah awal berupa Karma dan Upasana (tindakan bajik dan ibadah). Tanpa melalui kedua langkah tersebut, maka tidaklah mungkin untuk mencapai Jnani, seperti halnya seorang siswa tidak bisa mendapatkan gelar kesarjanaannya bila tanpa terlebih dahulu lulus dari sekolahnya. Sebelum seseorang menjadi dewasa, maka ia harus melalui dulu tahapan sebagai anak-anak dan remaja. Orang yang belum melalui disiplin-disiplin tersebut namun sudah mengklaim dirinya sebagai jnani; maka orang seperti ini sebenarnya sedang mengucapkan omong-kosong. Pertanda seorang Jnani adalah bliss yang ada pada dirinya. Untuk mencapai oneness of divinity, maka kitab Veda telah memberikan ketiga tahapan action (tindakan), worship (ibadah) dan knowledge (kebijaksanaan) (Red: Dalam Buddhisme dikenal sebagai: Sila – Samadhi – Panna).

-BABA

Thoughts for the Day - 8th December 2008 (Monday)


To reach the stage of a Jnani (Knower of the Supreme), the preliminary steps are Karma and Upasana (righteous action and worship). Without following the paths of Karma and Upasana and succeeding in them, one can not become a Jnani, just as a student cannot acquire a degree without passing out of school. Before one becomes an adult, one has to pass through the stages of childhood and youth. It is idle for any one to claim that he is a Jnani, unless he has gone through the prior disciplines. The mark of a Jnani is perennial joy. It is for realizing the oneness of divinity that the three stages of action, worship and knowledge have been laid down in the Vedas.


Untuk mencapai tingkat kesucian (Jnani), maka terlebih dahulu harus melalui langkah-langkah awal berupa Karma dan Upasana (tindakan bajik dan ibadah). Tanpa melalui kedua langkah tersebut, maka tidaklah mungkin untuk mencapai Jnani, seperti halnya seorang siswa tidak bisa mendapatkan gelar kesarjanaannya bila tanpa terlebih dahulu lulus dari sekolahnya. Sebelum seseorang menjadi dewasa, maka ia harus melalui dulu tahapan sebagai anak-anak dan remaja. Orang yang belum melalui disiplin-disiplin tersebut namun sudah mengklaim dirinya sebagai jnani; maka orang seperti ini sebenarnya sedang mengucapkan omong-kosong. Pertanda seorang Jnani adalah bliss yang ada pada dirinya. Untuk mencapai oneness of divinity, maka kitab Veda telah memberikan ketiga tahapan action (tindakan), worship (ibadah) dan knowledge (kebijaksanaan) (Red: Dalam Buddhisme dikenal sebagai: Sila – Samadhi – Panna).

-BABA