Friday, December 19, 2008

Thoughts for the Day - 20th December 2008 (Saturday)


Is the Sadhaka (spiritual aspirant) serving God or is God serving the Sadhaka? The service that the Sadhaka is doing is trivial. Offering to God what God has provided is like offering to the river its own water. The truth is that it is God who is rendering service to the devotee. All the capacities given by God should be used in the service of the Divine. There is no need to go in quest of God. In fact, God is all the time searching for the genuine and steadfast devotee. The Sadhaka is approaching God for the fulfilment of his desires. He is after petty and transient benefits. He does not seek to understand the nature of true love or the Divinity that underlies everything.

Pertanyaannya adalah apakah Sadhaka (aspiran spiritual) sedang melayani Tuhan ataukah justru sebaliknya, Tuhan yang sedang melayani para sadhaka? Jenis pelayanan yang diberikan oleh Sadhaka pada umumnya tidaklah seberapa. Mempersembahkan kepada Tuhan sesuatu yang sudah diberikan oleh-Nya dapatlah diibaratkan seperti mempersembahkan air kembali kepada sungai. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa justru Tuhan yang sedang memberikan pelayanan kepada para bhakta. Segala bentuk kemampuan/ketrampilan yang telah diberikan oleh Tuhan haruslah diberdaya-gunakan untuk pelayanan kepada-Nya. Engkau tidak perlu mencari-cari keberadaan Tuhan. Sebenarnya Beliau sendiri yang justru masih terus mencari bhakta sejati dan yang memiliki keyakinan mantap. Sebaliknya, apabila terdapat sadhaka yang mendekati Tuhan, pada umumnya mereka hanya ingin agar keinginan-keinginannya dikabulkan. Mereka cenderung hanya mengejar manfaat yang bersifat sementara. Ia tidak berupaya untuk mencoba memahami tentang cinta-kasih sejati maupun prinsip Divinity yang melatar-belakangi segala sesuatunya.
-BABA

Thursday, December 18, 2008

Thoughts for the Day - 19th December 2008 (Friday)


How pure is the heart that is full of Bhakti (devotion) to God and Prema (love) towards all beings! Selfless service is possible only by such persons; the rest only prattle about it and pretend to be impelled by it. Only those who are well established in the faith that all are children of God and that He is the Inner Motive Force of every being, can include themselves in that class of Sevaks (people rendering selfless service).

Sungguh mulia bhakta yang hatinya penuh dengan bhakti (devotion) terhadap Tuhan dan Prema (cinta-kasih) terhadap sesamanya! Selfless service (pelayanan tanpa pamrih) hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang seperti ini; yang lain hanya sekedar bergumam dan berpura-pura adanya. Hanya diri mereka yang betul-betul memiliki keyakinan baru layak disebut sebagai anak-anak Tuhan dan bahwa Tuhan memang telah menjadi energi pendorong di dalam dirinya masing-masing. Dengan demikian, bhakta seperti ini layak dikategorikan ke dalam kelas para sevaka (yang memberikan pelayanan tanpa-pamrih).
-BABA

Wednesday, December 17, 2008

Thoughts for the Day - 18th December 2008 (Thursday)


Young people today are totally oblivious to the importance of dedicating their lives to great ideals. It is up to the parents to endeavour to make their children lead purposeful lives. Teachers, on their part, should set an example and inculcate in their wards right values. Only a lighted lamp can serve to light other lamps. If teachers lack idealism how can they inspire their students to lead ideal lives? People talk about the spiritual life, but rarely practise it. They often act contrary to it. The reason is the lack of virtues. Without good qualities, all other attributes are useless. It is like pouring water in to a pot full of holes.

Kaum muda dewasa ini sama sekali buta tentang pentingnya menerapkan idealisme luhur dalam kehidupannya sehari-hari. Para orang-tua ikut bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak-anaknya agar menjalani kehidupan yang bermakna. Sementara itu, para guru harus menjadi contoh suri teladan dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan di dalam diri anak didiknya. Hanya lilin yang sedang menyala baru bisa menyalakan lilin lainnya. Jikalau para guru tidak memiliki nilai-nilai idealisme di dalam dirinya, maka bagaimana mungkin mereka bisa memberi inspirasi kepada anak-didiknya untuk menjalani kehidupan yang ideal? Banyak orang yang membicarakan tentang kehidupan spiritual, namun sangat sedikit yang mempraktekkannya. Sebaliknya mereka justru menjalani kehidupan yang bertentangan. Penyebabnya adalah oleh karena mereka tidak memiliki virtues (niat yang luhur). Tanpa adanya kualitas diri yang baik, maka semua atribut lain menjadi tak ada gunanya. Bagaikan menuang air ke dalam pot yang penuh dengan lubang!
-BABA

Tuesday, December 16, 2008

Thoughts for the Day - 17th December 2008 (Wednesday)


Delusion comes only to those who lose their bearings. Egoism is the greatest factor in making people forget the basic Truth. Once the ego dominates man, he slips from the ideal and precipitates himself from the top of the ladder in quick falls from step to step, down to the bottom. Egoism breeds schism, hatred and attachment.

Delusi hanya akan menghampiri mereka yang kehilangan kontrol (atas dirinya sendiri). Egoisme adalah faktor utama yang mengakibatkan orang-orang melupakan kebenaran hakiki. Selama ego masih mendominasi, maka yang bersangkutan sangat rentan untuk terjatuh dalam perjalanan spiritualnya. Egoisme menimbulkan fanatisme, kebencian dan kemelekatan.
-BABA

Monday, December 15, 2008

Thoughts for the Day - 16th December 2008 (Tuesday)


Everyone should realise that to attain oneness with divinity is the goal of human life. Hence it is everyone's duty to develop faith in the Divine. With the growth of faith, if one leads a life devoted to Dharma (righteousness), Sathya (truth) and Neethi (justice), he will be achieving the purpose of life. When we practise Dharma, the Divinity in us will manifest itself spontaneously. The man who does not follow Dharma is a burden on the earth. It is more important to earn the grace of God than earn all the wealth in the world. Develop the love of God and realise the bliss that is beyond all words.


Setiap orang hendaknya menyadari bahwa tujuan hidup sebagai manusia adalah untuk mencapai persekutuan (persatuan) dengan Divinity. Oleh sebab itu, setiap orang berkewajiban untuk mengembankan keyakinan terhadap Divine. Seiring dengan tumbuhnya keyakinan, apabila engkau menjalani kehidupan yang didedikasikan kepada Dharma (nilai kebajikan), Sathya (kebenaran) dan Neethi (keadilan), maka engkau akan mencapai tujuan kehidupan ini. Apabila engkau mempraktekkan Dharma, maka Divinity yang ada di dalam dirimu juga akan termanifestasikan secara spontan. Mereka yang tidak mengikuti Dharma adalah beban bagi dunia ini. Jauh lebih penting bagimu untuk mendapatkan Rahmat Tuhan daripada seluruh kekayaan duniawi lainnya. Kembangkanlah cinta-kasih terhadap-Nya dan realisasikan bliss yang tiada duanya.

-BABA

Sunday, December 14, 2008

Thoughts for the Day - 15th December 2008 (Monday)


Man thinks that the more he has of worldly goods the happier he will be. But, as desires grow, disappointments and troubles also increase. There should be a limit to our desires, attachments and ambitions. The world is suffering from numerous troubles because people do not keep their desires under check. Nature has prescribed limits for everything - for the temperature of the body, the capacity of the eye to tolerate light or for the ear to listen to sound. When these limits are crossed, harm is caused to the organs concerned. All actions in life should be governed by the limits applicable to each of them. When desires are controlled, genuine happiness is experienced.


Manusia banyak yang beranggapan (salah) bahwa apabila dia semakin banyak memiliki harta-benda duniawi, maka ia akan semakin berbahagia. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa apabila keinginan (duniawi) semakin bertambah banyak, maka yang justru akan semakin meningkat adalah ketidak-puasan dan persoalan-persoalan lainnya. Hendaknya engkau menerapkan batasan terhadap keinginan-keinginanmu, kemelekatan serta ambisimu juga. Dunia mengalami penderitaan dan kekacauan sebagai akibat manusia tidak mengendalikan keinginannya. Alam telah memberikan batasan terhadap segala sesuatu – misalnya: panas/suhu tubuh kita, kapasitas mata untuk melihat intensitas cahaya yang terbatas, kemampuan telinga untuk mendengar frekuensi tertentu, dan sebagainya... Ketika batasan-batasan itu tidak diindahkan, maka yang terjadi adalah kerusakan terhadap organ-organ bersangkutan. Nah, demikian pula, setiap bentuk tindakan dalam kehidupan ini haruslah berada dalam batasan-batasan yang wajar. Apabila engkau sanggup mengendalikan keinginanmu, maka kebahagiaan sejati akan menjadi milikmu.

-BABA

Saturday, December 13, 2008

Thoughts for the Day - 14th December 2008 (Sunday)


Whatever activity one may be engaged in, one must, as spontaneously as one breathes, always be aware of this: " I am born to serve God and to realise my true self". All actions - eating, walking, studying, serving, etc. should be performed in the faith that they take one to the Divine Presence. Everything should be done in a spirit of dedication to the Lord.


Apapun juga aktivitas yang engkau lakukan dan bagaikan nafas yang dilakukan secara spontan, engkau harus senantiasa menyadari bahwa "Aku terlahir untuk melayani Tuhan dna untuk merealisasikan jati diriku yang sejati." Segala bentuk tindakan – makan, berjalan, belajar, seva dan sebagainya – hendaknya dilakukan dengan penuh keyakinan bahwa tindakan-tindakan tersebut akan mengantarkanmu menuju kepada Divine. Segalanya harus dilaksanakan dengan semangat dedikasi terhadap-Nya.

-BABA